"10 Kerajinan Gerabah yang Menginspirasi"
Berkembang menjadi desa wisata
Kini Kasongan tak hanya memproduksi gerabah, tetapi sudah menjadi tujuan wisata. Di Desa Wisata Kasongan, tak sekadar produk kerajinan yang ditawarkan, wisatawan juga bisa praktik langsung mengolah tanah liat gerabah di rumah-rumah perajinnya. Wisatawan bisa membawa pulang produk kerajinan hasil buatannya.
Terdapat ratusan toko dan galeri seni yang memproduksi dan memajang aneka perabot dan hiasan yang berbahan dasar tanah liat di Kasongan. Harga yang dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan proses pembuatannya dan seberapa besar ukuran yang diinginkan.
Patung Loro Blonyo, salah satunya. Patung ini merupakan produk yang paling dicari oleh wisatawan yang berkunjung ke desa ini. Patung yang berbentuk sepasang pengantin berpakaian adat Jawa ini konon dapat mendatangkan aura keberuntungan.
Sentra kerajinan gerabah
Sapto Hudoyo seniman asal Yogyakarta, disebut-sebut sebagai orang yang membantu warga desa mengembangkan kerajinan di Kasongan pada 1970-an. Ia membina warga agar bisa membuat kerajinan yang lebih unik dan menarik sehingga bisa menambah nilai jual.
Hasil kerajinan dari gerabah yang diproduksi Kasongan umumnya berupa guci dengan berbagai motif (burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya), pot berbagai ukuran (dari yang kecil hingga seukuran bahu orang dewasa), cendera mata, pigura, hiasan dinding, dan berbagai macam perabotan.
Seiring waktu, produk gerabah yang dihasilkannya menjadi lebih bervariasi, meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya.
Produk gerabah Kasongan di Bantul terus berkembang hingga kini dan mampu menghasilkan produk-produk yang berkualitas. Karena keunggulan kualitasnya itu, gerabah kasongan mampu menembus pasar ekspor hingga ke Eropa dan Amerika.
Gerabah merupakan hasil kerajinan dengan prospek cukup baik untuk dikembangkan mengingat potensi pasar yang semakin luas pengunaannya seperti souvenir, patung guci, hiasan dinding, vas bunga, pot bunga, peralat an dapur dan lain sebagainya. Pemesan sebagian besar menginginkan gerabah yang masih polos. Pemesan yang akan melukis dan mengecat gerabahnya dan kemudian menjual langsung ke konsumen. Dengan cara ini pemesan akan mendapat keuntungan lebih besar. Pemasaran gerabah terbesar di Indonesia meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Surabaya dan Bali. Permintaan terbesar berasal dari pengusaha di Bali dalam bentuk suvenir.
Sementara itu, proses pembuatan gerabah yang selanjutnya yang membutuhkan perhatian adalah proses pembakaran. Proses ini cukup memb utuhkan waktu yang lama sekitar 1 hari (12 jam) pembakaran terus-menerus. Pada proses pembakaran ini para pengrajin biasanya menggunakan kayu bakar atau jerami. Bila dikonversi, dengan menggunakan bahan bakar tersebut, membutuhkan jumlah kayu bakar dan biaya yang cukup besar.
Tags: kerajinan contoh