Apa Itu Benang Merah - Mengungkap Makna dan Kecantikan Dibalik Jahitan dan Karya DIY
Awal Mula Mitos Teori Benang Merah
Mitos Cina
Benang merah merupakan bagian dari legenda Yue Lao, dewa perjodohan yang tinggal di bulan. Dikenal dengan gelar “Dewa Jodoh.”
Yue Lao bertugas menjodohkan manusia di dunia serta mengurus lika-liku percintaan mereka.
Dalam legenda ini, beliau mengikat benang merah yang tak terlihat di sekitar pergelangan kaki pasangan yang ditakdirkan untuk bersama.
Di sisi lain, dalam budaya Jepang, benang merah ini dikaitkan di jari kelingking.
Mitos Jepang
Sementara dalam mitos Jepang, cerita benang merah ini lebih kompleks karena berasal dari cerita rakyat tradisional.
Kisah dimulai dengan seorang anak lelaki yang berjalan di malam hari dan bertemu dengan seorang lelaki tua yang membawa sebuah buku pernikahan dan sebuah tas berukuran besar.
Sang lelaki tua mengatakan bahwa ia hanya perlu menggunakan benang merah dalam tas tersebut untuk mengikat dua orang yang ditakdirkan untuk menikah.
Awalnya, anak lelaki itu tidak percaya, namun ia dibawa oleh lelaki tua itu ke sebuah desa dan menunjukkan seorang gadis muda yang ditakdirkan untuk menjadi istri anak lelaki tersebut.
Meskipun awalnya anak lelaki itu menolak dan bahkan melempar sang gadis dengan batu, bertahun-tahun kemudian ia menikahi seorang gadis yang ternyata adalah gadis muda itu.
Saat mengangkat cadar pengantin, sang lelaki melihat luka di dekat alis gadis tersebut, yang ternyata berasal dari lemparan batu yang ia lakukan saat masih kecil.
Cerita tersebut membuat sang lelaki percaya bahwa itu adalah takdir, mengingatkan akan pertemuannya dengan lelaki tua yang ia temui di masa lalu.
Asal usul Red String Theory
ilustrasi sepasang kekasih (pexels.com/Jasmin Wedding Photography)
1. Mitologi Jepang
Konsep benang merah pertama kali muncul dalam mitologi Jepang, yang mengaitkannya dengan ikatan takdir atau pertemuan yang sudah ditentukan sejak awal. Dalam mitos Jepang, dikatakan bahwa dewa cinta dan pernikahan, disebut "Akai Ito" (benang merah), mengikat jari-jemari orang-orang yang sudah ditakdirkan untuk bertemu sebagai pasangan hidup.
2. Kepercayaan Tiongkok
Di Tiongkok, terdapat konsep serupa yang disebut "Yuanfen", yang berarti hubungan takdir atau nasib. Konsep ini juga mencakup keyakinan bahwa orang-orang yang berhubungan oleh Yuanfen atau benang merah ini akan bertemu dalam kehidupan mereka.
3. Pengaruh Budaya Populer
Selain akar-akar mitologis dan kepercayaan tradisional, Teori Benang Merah juga mempengaruhi budaya populer di berbagai negara Asia Timur dan kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui media, sastra, dan film. Konsep ini sering diadaptasi dalam cerita cinta atau hubungan penting antar karakter dalam karya fiksi.
Editor’s picks
Secara umum, Teori Benang Merah mencerminkan keyakinan akan ikatan takdir atau hubungan yang lebih besar daripada kebetulan semata. Meskipun tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, konsep ini tetap memiliki daya tarik yang kuat juga.
Di mana sebenarnya bentuk visualisasi bagaimana hubungan antar individu dapat dianggap sebagai bagian dari rencana semesta atau nasib yang sudah ditentukan. Seperti istilah yang berkembang di Indonesia, banyak yang mengatakan "kalau jodoh pasti gak kemana" yang ternyata relate juga dengan ini.
Apa itu Teori Benang Merah?
Dewa mengaitkan benang merah di setiap jari para kekasih sejati agar mereka suatu saat nanti dapat bertemu dan saling jatuh cinta, meskipun benang merah tersebut tidak kasat mata.
Menurut teori ini, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, seberapa banyak problema dalam kehidupan mereka, atau seberapa terpisah oleh ruang dan waktu, mereka akan dipertemukan oleh takdir cepat atau lambat.
Benang ini bisa meregang atau kusut, tetapi tidak akan pernah putus, menandakan bahwa hubungan yang sudah ditentukan ini akan selalu menemukan jalannya.
Inilah mengapa terkadang ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, pasangan yang tetap bersama meskipun sering bertengkar, atau dua orang yang bertemu dalam situasi tak terduga namun menjadi kekasih seumur hidup.
Semua ini bisa jadi karena mereka terhubung oleh benang merah takdir.
Cara untuk mengetahui jumlah trombosit normal
Jumlah keping darah dapat digunakan sebagai deteksi dini serta mendiagnosis berbagai penyakit atau kondisi yang dapat menyebabkan masalah pada penggumpalan darah.
Oleh karena itu, penting bagi Anda memiliki jumlah trombosit normal untuk menghalau penyakit yang mungkin akan menghampiri Anda.
Satu-satunya cara untuk memastikan jumlah trombosit Anda normal atau tidak yaitu dengan pemeriksaan darah lengkap (tes CBC—complete blood count).
Jumlah keping darah ini juga penting diketahui selama pasien melakukan kemoterapi dan terapi radiasi. Pasalnya, kedua prosedur tersebut dapat menghambat produksi keping darah dalam sumsum tulang.
Jika jumlah keping darah tak terpantau dengan baik, pasien yang menjalani kemoterapi bisa saja mengalami masalah perdarahan atau pembekuan darah.
Selain mengetahui jumlah trombosit dalam tubuh, tes pemeriksaan darah lengkap juga membantu dokter untuk mengetahui:
- Jumlah sel darah merah
- Ukuran rata-rata sel darah merah
- Hematokrit (persentase darah dalam sel darah merah)
- Total hemoglobin (protein pada sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen)
- Jumlah hemoglobin dalam setiap sel darah merah
- Jumlah hemoglobin relatif terhadap ukuran sel dalam setiap sel darah merah (MCHC)
- Jumlah sel darah putih
Memaknai Red String Theory
ilustrasi sepasang kekasih (pexels.com/Rodrigo Souza)
Memaknai Red String Theory sering kali terkait dengan memahami hubungan antar individu sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan atau pilihan semata. Berikut adalah beberapa cara untuk memaknainya:
1. Hubungan takdir
Teori ini mengajukan bahwa orang-orang yang kita temui dalam hidup kita tidaklah acak, melainkan sudah ditentukan oleh nasib atau takdir. Ini dapat memberikan rasa, makna, dan tujuan dalam hubungan-hubungan kita. Baik itu hubungan romantis, persahabatan, atau profesional.
2. Ikatan emosional
Benang merah juga dapat dimaknai sebagai ikatan emosional yang kuat antara individu-individu tertentu. Ini bisa mencerminkan kedalaman hubungan, saling pengertian, dan dukungan yang kuat di antara mereka.
3. Ketabahan dan keterhubungan
Konsep benang merah juga dapat mengilustrasikan ketabahan dalam hubungan, bahwa meskipun terjadi jarak atau rintangan, ikatan tersebut tetap kuat dan tidak terputus.
4. Pertemuan kembali
Dalam beberapa interpretasi, Teori Benang Merah juga menyarankan bahwa meskipun orang-orang mungkin terpisah untuk sementara waktu, mereka akan dipertemukan kembali di masa depan karena benang merah takdir mereka.
5. Pilihan dan kebebasan
Meskipun ada keyakinan tentang nasib, Teori Benang Merah tidak mengabaikan pilihan individu dalam membentuk hubungan mereka. Ini lebih menggarisbawahi bahwa ada aspek-aspek kehidupan yang kita tidak dapat kendalikan secara langsung, tetapi kita masih memiliki kebebasan dalam cara kita merespons dan membangun hubungan tersebut.
Tags: benang