"Kerajinan Tak Tersembuh - Apa Yang Harus Dilakukan?"
Material Umum Digunakan Kemasan Produk
1. Standing Pouch
Jenis kemasan produk yang pertama kali ini adalah standing pouch, dimana material yang digunakan pada bahan ini biasanya adalah berbahan plastik. Umumnya kemasan yang satu ini digunakan untuk membungkus produk seperti minyak goreng, sambung detergen, bubuk kopi, kosmetik, dan lain sebagainya.
Penggunaan kemasan produk dengan bahan ini banyak dipilih karena dinilai mampu menjaga isi didalam produk tersebut untuk bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
2. Botol
Untuk jenis kemasan produk yang satu ini umumnya digunakan untuk produk minuman atau produk kecantikan yang berbentuk cair. Dan jenis kemasan ini juga dirasa mampu menjaga ketahanan dari produk tersebut, cocok untuk disimpan dalam jangka waktu cukup lama.
3. Box
Untuk material ini biasanya dipakai untuk makanan, namun beberapa juga bisa digunakan untuk produk non-makanan seperti sepatu, baju, jaket, peralatan dapur, alat elektronik, dan lain sebagainya. Material ini juga bisa dipakai sebagai kemasan produk kerajinan tinggal menyesuaikan ukuranya saja.
4. Tube
Untuk material kemasan terakhir kali ini adalah Tube yang umum dipakai sebagai wadah produk kecantikan. Selain kemasan tube ini mudah ditemukan, juga memiliki banyak sekali ukuran yang cocok banget untuk pemiliki usaha kecantikan.
Cukup sekian dulu ulasan kali ini mengenai tips memilih kemasan produk kerajinan. Nah untuk anda yang mungkin sedang mencari produk kerajinan tangan atau handcraft, coba deh kunjungi Moselo, disana tersedia banyak sekali produk kerajinan yang dijual dengan harga terjangkau.
Selain itu, untuk anda yang kebetulan punya usaha kerajinan tangan juga boleh kok untuk join di Moselo dengan memilih kategori sesuai dengan usaha yang anda miliki.
Tips Memilih Kemasan Produk Kerajinan, Pentingnya Sebuah First Impression
Menentukan kemasan produk kerajinan memang bukanlah perkara gampang, karena nantinya produk kemasan ini juga memiliki pengaruh cukup besar dalam penjualan. Pasalnya kemasan menjadi hal pertama yang dilihat dari seseorang atau calon konsumen sebelum akhirnya membeli barang anda.
Maka dari itu, anda harus paham penting sebuah first impression sebelum memutuskan untuk menjual hasil karya anda. Untuk itu, dibawah ini akan dibahas mengenai tips memilih kemasan produk kerajinan yang perlu anda ketahui para pelaku usaha kreatif.
Apakah Jurnal yang Ditolak Bisa Disubmit Kembali?
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan dosen dan peneliti ketika berhadapan dengan jurnal ditolak, adalah bisa tidaknya di submit ulang? Jawabannya adalah bisa, akan tetapi dengan catatan tambahan dan ada di dua kondisi berikut:
1. Submit Ulang di Jurnal yang Sama
Jika Anda merasa sudah memilih jurnal terbaik dari yang terbaik, misalnya jurnal tersebut terindeks Scopus dengan peringkat Q1. Maka besar kemungkinan Anda enggan beralih ke jurnal internasional lain.
Jangan submit ulang di jurnal yang sama tanpa revisi, karena dijamin akan langsung ditolak dan menunjukan Anda tidak profesional. Selain itu membuat Anda membuang waktu dua kali, karena harus menghadapi penolakan dua kali berturut-turut.
2. Submit ke Jurnal Lain
Pilihan lain jika kondisi Anda kesulitan dan tidak memungkikan melakukan revisi. Maka naskah artikel bisa dibiarkan apa adanya dan kemudian mencari jurnal internasional maupun jurnal nasional lain.
Pada tahap ini, Anda bisa mencari jurnal yang terindeks di database bereputasi akan tetapi memilih peringkat di bawah jurnal sebelumnya. Tujuannya agar peluang artikel diterima lebih besar.
Namun, kondisi lain yang bisa dilakukan adalah merevisi artikel yang ditolak di jurnal sebelumnya. Baru kemudian di submit ke jurnal lain yang kualitasnya nyaris sama. Misalnya jurnal pertama terindeks Scopus di peringkat Q1 maka bisa mencari jurnal Q2 atau Q3.
Itulah penjelasan mengenai bagaimana menghadapi jurnal ditolak, yang tentu perlu disikapi dengan bijak dan dewasa. Jika memang masih diberi kesempatan revisi maka silakan dilakukan. Apabila tidak berkenan, Anda bisa beralih ke jurnal lain.
Jika memiliki pertanyaan atau ingin sharing pengalaman sesuai isi dalam artikel ini. Jangan ragu menuliskannya di kolom komentar dan membuka diskusi. Klik juga tombol share untuk membagikan artikel ini ke rekan dosen lainnya. Semoga bermanfaat!
Salah Lapor SPT? Tenang, SPT Salah Bisa Dibetulkan
Pertanyaan yang sering muncul dalam melaporkan SPT, adalah bila salah lapor SPT apakah SPT tersebut dapat dihapus kembali untuk diperbaiki? Apa yang perlu dilakukan apabila terdapat kesalahan dalam pelaporan SPT?
Setiap wajib pajak pribadi, termasuk di dalamnya adalah karyawan perusahaan yang bekerja dan setiap bulan menerima gaji dan dipotong pajak penghasilan PPh 21, berkewajiban untuk melaporkan SPT Tahunan setiap tahunnya.
Periode yang dilaporkan adalah untuk periode pajak sebelumnya. Misalnya pada tahun 2023, Anda berkewajiban untuk menyampaikan SPT Tahunan untuk Periode Pajak Tahun 2022. SPT Tahunan ini perlu dilaporkan maksimal tanggal 31 Maret untuk SPT Tahunan Pribadi, dan maksimal 30 April untuk SPT Tahunan Badan.
Pelaporan Keuangan yang Tidak Akurat
Pelaporan keuangan yang tidak akurat berasal dari praktik pembukuan yang salah, yaitu human error atau manipulasi yang disengaja mendistorsi kondisi keuangan sebenarnya dari suatu bisnis.
Kekeliruan penyajian ini dapat timbul karena pencatatan yang tidak memadai, kegagalan merekonsiliasi akun, atau manipulasi angka yang disengaja untuk menyajikan gambaran keuangan yang lebih baik.
Konsekuensi dari pelaporan keuangan yang tidak akurat sangatlah besar. Stakeholders, termasuk investor, kreditor, dan manajemen, mengandalkan laporan keuangan untuk membuat keputusan yang tepat.
Jika laporan-laporan ini tidak dapat diandalkan, hal ini dapat menyebabkan investasi yang salah arah, keputusan kredit yang tidak tepat, dan kesalahan langkah strategis. Kredibilitas bisnis terganggu, berpotensi memicu kerugian finansial dan merusak hubungan dengan pemangku kepentingan utama.
Otoritas pengatur dapat mengenakan sanksi jika menyampaikan laporan keuangan yang tidak akurat, sehingga bisnis dapat terkena dampak hukum.
Selain itu, pelaporan keuangan yang tidak akurat mengikis kepercayaan dan transparansi, yang penting untuk menjaga reputasi positif di pasar.
Pada akhirnya, dampak dari pelaporan keuangan yang tidak akurat, yang dipicu oleh pembukuan yang di tidak sesuai standar, tidak hanya berdampak pada perbedaan angka, namun juga berdampak pada fondasi integritas bisnis dan kesuksesan jangka panjang.
Tags: kerajinan yang tidak bisa