Seni Membuat Benang Layangan Besar - Panduan DIY untuk Karya Sulaman yang Indah
Permainan Layang-Layang: Sejarah, Cara Membuat dan Manfaatnya
Permainan layangan atau layang-layang merupakan salah satu permainan tradisional yang dimainkan sudah sejak lama, tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan masih eksis dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa lainnya. Beberapa literatur menyebutkan kemunculan permainan layangan atau permainan layang-layang tidak terlepas dari China.
Catatan pertama menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari China sekitar 2500 Sebelum Masehi. Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, lalu menimbulkan pendapat lain mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan nusantara. Dikatakan bahwa layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17 yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Cara Membuat Layang-Layang Untuk Anak
1. Letakkan bambu secara menyilang.
2. Ikat bambu dengan menggunakan benang.
3. Ikat keempat ujung bambu dengan benang.
4. Letakkan ikatan bambu di atas kertas koran. Jiplak.
5. Tambahkan 2 cm untuk garis gunting.
6. Gunting kertas koran tepat di atas garis.
7. Rekatkan kertas koran sampai menutupi bambu.
8. Tambahkan ekor pada bagian bawah layang-layang dengan menggunakan guntingan kertas koran.
9. Buat lubang di tengah, yaitu dekat dengan penyilangan bambu.
10. Masukkan benang dan ikat ke titik persilangan.
11. Ikatkan ujung yang lain ke ujung bawah rangka, layangan siap diterbangkan. Untuk menerbangkan layangan pertama kali, anak memerlukan bantuan orang dewasa, berikut cara menerbangkan layangan yang bisa kamu ajarkan kepada anak.
Cara Memainkan Layangan
Layangan yang prima menjadi faktor utama keberhasilan menerbangkan layangan. Sebelum menerbangkan layangan, pastikan layangan dalam kondisi baik, tidak sobek, juga tidak basah. Kemudian perhatikan detail lainnya, apakah tali atau benang dan kayu layangan sudah terikat dengan baik atau belum, karena jika tidak terikat baik, layangan dapat mudah lepas saat dimainkan.
Bantu anak terbangkan layangan. Ketika anak akan menerbangkan layangan, ia perlu seseorang yang menolongnya. Ini bisa orangtua, keluarga, atau temannya. Ia membutuhkan seorang yang dapat membantunya untuk memegang sambil meluncurkan layang-layang, dan anak yang menerbangkan layang-layang atau biasa disebut ‘penerbang’.
Si peluncur dengan layang-layang yang dipegangnya, harus berdiri berhadapan dengan arah angin, serta memberikan jarak sekitar 20 meter. Jika angin di belakang layang-layang, itu akan membuat layangan jatuh dan tidak bisa diterbangkan.
Lagi-lagi arah mata angin harus diperhatikan. Jika ingin mengakhiri permainan, berikan arahan kepada anak untuk terus meregangkan tali, dan hati-hati memantau ujungnya. Jika talinya terlepas, maka layangan bisa terjatuh dan hilang terbawa angin. Untuk menurunkan layangan, ajari anak untuk menarik tali atau melilitkan tali di gulungannya.Permainan yang melibatkan aktivitas fisik dapat membantu proses perkembangan dan memberikan berbagai manfaat.
Benang Layangan
Seperti ada benda yang menusuk ingatan ibunya, seketika ia kaget mendengar ucapan itu. Ingatan yang selama ini berusaha ia pendam sedalam mungkin agar tak seorang pun dapat mencium baunya. Namun, kini ingatan itu seakan mulai mekar kembali, setiap sore. Menjadi sekawanan mawar hitam yang tumbuh di taman.
“Baiklah, Nak! Barangkali sudah waktunya untuk kau tahu tentang kehidupan di masa lalu yang belum pernah ibu ceritakan. Anakku, pasti kau masih bertanya-tanya mengapa kita seakan tidak memiliki sanak famili dari garis ibu selain keluarga paman Junetmu. Meski ibu pernah menyebut satu persatu nama saudara kita, tapi kau tak pernah bertemu dan berkunjung ke rumahnya. Mungkin kau masih meragukan hal itu. Tapi percayalah, Nak, ibu tak sampai hati bila membohongi putranya sendiri.”
Ibunya pun mulai bercerita:
Nak, dulu di kampung, pria seusiamu sudah belajar mengelola sawah, membajak, memacul, mengaliri air di malam hari serta mahir menyabit rumput. Tapi kau tidak melewati fase itu karena peristiwa yang akan kau dengar ceritanya. Mungkin dengan begitu akan sedikit menebus kesalahan masa lalu kami pada anak cucu.
Waktu itu musim kemarau. Kami bertiga setiap sore bermain layangan di lapangan kecamatan. Kami menyebutnya lapangan lao’ 3 songai karena memang lapangan tersebut berada di sebelah selatan sungai dari tempat kami tinggal. Sore itu, ibu, Sam, dan paman Junetmu berangkat ke lapangan bersama kakekmu dan Paman Bahar, ayah Sam. Kebetulan tempat mereka menyabit rumput searah dengan tempat kami bermain layangan. Kami berpisah sebelum sampai di jembatan yang menghubungkan antara penduduk jeh 4 songai dan lao’ songai.
1 Songai = Sungai
2 Arek = Celurit
3 Lao’ songai = Lao’ (selatan) songai lao’ songai (selatan sungai)
Tags: benang yang