Seni Membuat Benang Layangan Besar - Panduan DIY untuk Karya Sulaman yang Indah
Cara Membuat Layang-Layang
Cara membuat layang-layang – Halo para penghobi layang-layang, kali ini kita akan membahas tentang cara membuat layang-layang.
Layang-layang atau WAU merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubung dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas diseluruh dunia sebagai alat permainan.
Diketahui juga bahwa layang-layang memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing, atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif. Namun di beberapa daerah layang-layang biasanya digunakan untuk media rekreasi.
Sungguh senang dan indah melihat layang layang berterbangan diantara awan yang menghiasi langit biru yang cantik. Terdapat kebanggaan tersendiri disaat layang-layang yang kita buat sendiri mengudara dengan anggun di langit biru.
Di tahun 2019 ini, mungkin layang-layang kurang seramai tahun sebelumnya. Namun, hobi dan kesenangan membuat atau pun bermain layang layang tidak akan pernah hilang. Masyarakat pedesaan biasanya masih sering memainkan permainan ini terutama anak-anak maupun dewasa untuk mengisi waktu luang.
Perkenalkan, Punca Media
Sebelum kita ke Jenis Kemasan Produk, kami kenalkan dulu chanel youtube PUNCA MEDIA. Disini Anda dapat melihat inspirasi dari para pengusaha dari mulai merintis usaha, mencari modal, melewati masa sulit hingga sukses seperti saat ini. Terima kasih.
Langlayangan
situs/riauonline.co.id
Buat kamu yang berasal dari Jawa Barat tentunya sudah sangat familiar dengan kata langlayangan. Biasanya saat masuk musim kemarau atau usum halodo tiba, sebagian anak-anak masyarakat sunda sering memanfaatkan waktu luang mereka dengan bermain layang-layang, atau jika tidak mereka akan ikut mengejar layang-layang putus yang biasa di sebut moro langlayangan.
Kegiatan bermain layang-layang ini biasanya dilakukan di sore hari saat cuaca tidak terlalu terik sampai menjelang magrib. Saat bermain, beberapa dari pemain langlayangan ada yang menggunakan benang gelasan untuk digunakan dalam ajang adu langlayangan, jika tidak, pemain hanya akan menggunakan benang biasa atau kenur.
Benang Layangan
Seperti ada benda yang menusuk ingatan ibunya, seketika ia kaget mendengar ucapan itu. Ingatan yang selama ini berusaha ia pendam sedalam mungkin agar tak seorang pun dapat mencium baunya. Namun, kini ingatan itu seakan mulai mekar kembali, setiap sore. Menjadi sekawanan mawar hitam yang tumbuh di taman.
“Baiklah, Nak! Barangkali sudah waktunya untuk kau tahu tentang kehidupan di masa lalu yang belum pernah ibu ceritakan. Anakku, pasti kau masih bertanya-tanya mengapa kita seakan tidak memiliki sanak famili dari garis ibu selain keluarga paman Junetmu. Meski ibu pernah menyebut satu persatu nama saudara kita, tapi kau tak pernah bertemu dan berkunjung ke rumahnya. Mungkin kau masih meragukan hal itu. Tapi percayalah, Nak, ibu tak sampai hati bila membohongi putranya sendiri.”
Ibunya pun mulai bercerita:
Nak, dulu di kampung, pria seusiamu sudah belajar mengelola sawah, membajak, memacul, mengaliri air di malam hari serta mahir menyabit rumput. Tapi kau tidak melewati fase itu karena peristiwa yang akan kau dengar ceritanya. Mungkin dengan begitu akan sedikit menebus kesalahan masa lalu kami pada anak cucu.
Waktu itu musim kemarau. Kami bertiga setiap sore bermain layangan di lapangan kecamatan. Kami menyebutnya lapangan lao’ 3 songai karena memang lapangan tersebut berada di sebelah selatan sungai dari tempat kami tinggal. Sore itu, ibu, Sam, dan paman Junetmu berangkat ke lapangan bersama kakekmu dan Paman Bahar, ayah Sam. Kebetulan tempat mereka menyabit rumput searah dengan tempat kami bermain layangan. Kami berpisah sebelum sampai di jembatan yang menghubungkan antara penduduk jeh 4 songai dan lao’ songai.
1 Songai = Sungai
2 Arek = Celurit
3 Lao’ songai = Lao’ (selatan) songai lao’ songai (selatan sungai)
Tags: benang yang