... 5 Tips Menemukan "Benang Merah Takdir" dalam Kerajinan Jarum dan DIY

Benang Merah Takdir - Filosofi di Balik Karya Sulaman dan Kerajinan DIY

Benang merah takdir

Oleh Justino Djogo, MA, MBA

Kepulangan Prabowo dari pengungsian politik di Yordania awal tahun 2000an pasca jatuhnya pak Harto, disambut aneka tanya dan sindiran publik. Menurut beberapa sumber terpercaya, Gus Dur, Taufik Kiemas dan juga Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil meyakinkan Prabowo kembali ke pangkuan Bumi Pertiwi.

Pelan tapi pasti Prabowo mulai menjahit kembali benang kusut karir militer yang berakhir secara tak menggembirakan dan mulai merajut helai demi helai benang merah perjuangan politiknya.

Secara implisit para pengkritiknya menamakan momen ‘pengembaraan’ politik dan mengembalikan citra heroik sebagai prajurit pun datang.

Singkatnya, ketika ada perusahaan raksasa nasional yang bangkrut dan hampir saja dilelang ke konsorsium perusahaan asing, muncullah Prabowo di Istana Wapres RI untuk bertemu Jusuf Kalla, dengan segudang hasrat untuk menyelamatkan perusahaan tersebut. Daripada jatuh ke tangan asing, mending kembali ke pundak anak negeri sendiri. Jiwa heroik dan nasionalismenya Prabowo jelas kelihatan.

Takdir pun menyirami ladang dedikasi Prabowo, seiring didapuk menjadi Ketua HKTI. Kita bisa panggil beliau Jenderal Petani, Komando Para Nelayan.

Pengembaraan Politik Prabowo

Seiring detak jantung demokrasi yang memacu lahirnya banyak parpol, Prabowo pun mendirikan Partai Gerindra. Saya tidak mengatakan ini sebagai akibat kekalahannya dalam konvensi Golkar tahun 2004, namun saya pandang ini sebagai pintu gerbang takdir Prabowo yang mengantarnya 20 tahun kemudian di tahun 2024 ini menjadi pemenang (masih versi quick count) Pilpres 2024.

Lagi-lagi takdir yang berpihak pada pak Prabowo. Karena sampai sebulan sebelum pendaftaran ke KPU, beliau tidak dapat memutuskan siapa cawapresnya. Toh akhirnya kita tahu siapa cawapresnya yang meskipun diselimuti sejuta misteri dan polemik terkait cawapresnya, toh takdir memenangkan Prabowo, meskipun masih sebagai hasil quick count.

Benang merah dan takdir pertemuan

Menurut tradisi, setiap orang memilikinya seutas benang merah yang tak terlihat diikat ke jari kelingking. Utas ini tetap melekat pada tubuh kita sejak kita dilahirkan, karena para dewa bertanggung jawab untuk memasangnya pada jari dengan busur setiap kali seorang anak dilahirkan.

Jadi, dari hari-hari pertama kita, utas sudah menjadi bagian dari kita, dan tidak akan pernah terlepas atau dihancurkan. Itu menemani kita sepanjang lintasan hidup kita, kurang lebih tegang.

Jadilah dekat atau jauh, bahkan jika Anda tinggal di sisi lain dunia, benang merah sampai di sana dan tetap selalu terikat pada orang itu. Ini adalah perwujudan dari tautan yang sangat penting dalam kehidupan kita dan yang ada bahkan sebelum kita menyadarinya dan yang terkandung dalam cerita mitos tentang seorang kaisar.

  • Mungkin Anda tertarik: "15 film romantis untuk merefleksikan cinta"

Apa itu Teori Benang Merah?

Dewa mengaitkan benang merah di setiap jari para kekasih sejati agar mereka suatu saat nanti dapat bertemu dan saling jatuh cinta, meskipun benang merah tersebut tidak kasat mata.

Menurut teori ini, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, seberapa banyak problema dalam kehidupan mereka, atau seberapa terpisah oleh ruang dan waktu, mereka akan dipertemukan oleh takdir cepat atau lambat.

Benang ini bisa meregang atau kusut, tetapi tidak akan pernah putus, menandakan bahwa hubungan yang sudah ditentukan ini akan selalu menemukan jalannya.

Inilah mengapa terkadang ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, pasangan yang tetap bersama meskipun sering bertengkar, atau dua orang yang bertemu dalam situasi tak terduga namun menjadi kekasih seumur hidup.

Semua ini bisa jadi karena mereka terhubung oleh benang merah takdir.

Awal Mula Mitos Teori Benang Merah

Mitos Cina

Benang merah merupakan bagian dari legenda Yue Lao, dewa perjodohan yang tinggal di bulan. Dikenal dengan gelar “Dewa Jodoh.”

Yue Lao bertugas menjodohkan manusia di dunia serta mengurus lika-liku percintaan mereka.

Dalam legenda ini, beliau mengikat benang merah yang tak terlihat di sekitar pergelangan kaki pasangan yang ditakdirkan untuk bersama.

Di sisi lain, dalam budaya Jepang, benang merah ini dikaitkan di jari kelingking.

Mitos Jepang

Sementara dalam mitos Jepang, cerita benang merah ini lebih kompleks karena berasal dari cerita rakyat tradisional.

Kisah dimulai dengan seorang anak lelaki yang berjalan di malam hari dan bertemu dengan seorang lelaki tua yang membawa sebuah buku pernikahan dan sebuah tas berukuran besar.

Sang lelaki tua mengatakan bahwa ia hanya perlu menggunakan benang merah dalam tas tersebut untuk mengikat dua orang yang ditakdirkan untuk menikah.

Awalnya, anak lelaki itu tidak percaya, namun ia dibawa oleh lelaki tua itu ke sebuah desa dan menunjukkan seorang gadis muda yang ditakdirkan untuk menjadi istri anak lelaki tersebut.

Meskipun awalnya anak lelaki itu menolak dan bahkan melempar sang gadis dengan batu, bertahun-tahun kemudian ia menikahi seorang gadis yang ternyata adalah gadis muda itu.

Saat mengangkat cadar pengantin, sang lelaki melihat luka di dekat alis gadis tersebut, yang ternyata berasal dari lemparan batu yang ia lakukan saat masih kecil.

Cerita tersebut membuat sang lelaki percaya bahwa itu adalah takdir, mengingatkan akan pertemuannya dengan lelaki tua yang ia temui di masa lalu.


Tags: benang

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia