Memahami Penggunaan Benang Nilon dalam Kerajinan Layangan
1.Senar Monofilament
Sesuai dengan namanya saja tentu kita sudah tahu arti dari monofilament ini.Mono berarti tunggal, sedangkan filament berarti serabut. Dengan kata lain senar monofilament adalah senar yang memiliki serabut tunggal yang hanya terdiri dari satu serat tunggal saja.
Dalam sejarahnya senar ini mulai sedikit dikenalkan pada tahun 1938, dimana pada waktu itu sebuah perusahaan yang bernama DuPont mengumumkan sebuah penemuan tentang bahan nylon berupa superpolymer sintetik baru yang dapat dibuat menjadi serat tekstil kuat dan lebih elastis.
Baru kemudian pada tahun berikutnya DuPont mulai memproduksi senar monofilament nylon ini secara komersil.
Pada musim pertamanya dikenalkan secara komersil senar ini bisa dikatakan sangatlah berbeda dibandingkan dengan senar mono saat ini.
Kemudian Senar ini menjadi pilihan baru bagi para nelayan dan para pemancing saat itu karena kualitas jauh lebih baik dari yang pertama di pasarkan sehingga masih bertahan dipasaran hingga saat ini.
Adapun bahan dasar dari nylon ini adalah biji nylon (nylon chips). Senar ini dibagi lagi menjadi 3 jenis diantaranya adalah :
Festival Layangan
Dalam perlombaan layangan, beberapa kriteria penilaian harus dapat dipenuhi oleh peserta lomba jika ingin menjuarai sebuah event. Mulai dari kategori kombinasi warna, motif, kerapian, kestabilan mengudara, dan kreativitas peserta.
Pemuda Desa Sangau dan seluruh panitia penyelenggara dari berbagai daerah perlu diapresiasi upayanya dalam merawat dan menjaga permainan tradisional. Layang-layang menjadi salah satunya. Tentu saja, ini menjadi ajang nostalgia bagi pecinta layang-layang di masa kecil. Kini, mainan tersebut dapat Kawan wariskan kepada anak dan cucu kelak. komitmen dan kepedulian kitalah yang akan menjadi 'nafas panjang' bagi permainan tradisional nusantara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Permainan Layang-Layang: Sejarah, Cara Membuat dan Manfaatnya
Permainan layangan atau layang-layang merupakan salah satu permainan tradisional yang dimainkan sudah sejak lama, tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan masih eksis dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa lainnya. Beberapa literatur menyebutkan kemunculan permainan layangan atau permainan layang-layang tidak terlepas dari China.
Catatan pertama menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari China sekitar 2500 Sebelum Masehi. Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, lalu menimbulkan pendapat lain mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan nusantara. Dikatakan bahwa layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17 yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Layang-Layang, Permainan Tradisional Itu Masih Ada
Penggalan lirik lagu layang-layang karya A.T Mahmud tersebut nyaris jarang terdengar saat ini. Mirisnya, anak-anak lebih hafal lagu-lagu yang seharusnya tidak dinyanyikan di usia mereka.
Di tengah gempuran modernisasi, kabar baiknya adalah kini sudah mulai muncul kembali ke permukaan permainan tradisional. Belakangan ini, di area sekitar rumah Kawan mungkin saja sering mendengarkan suara dari permainan lato-lato yang sedang naik daun. Kondisi ini memunculkan angin segar bagi orang tua, sebab intensitas bermain gadget pun berkurang karena buah hati asyik bermain lato-lato bersama teman sepermainannya.
Bermain layangan tak kenal usia | Sumber: Dokumentasi pribadi
Beda cerita dengan pemuda di Desa Sangau, sebuah desa yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Ada beberapa pemuda yang menjaga kelestarian permainan tradisional dengan membuat perlombaan layang-layang dengan beragam motif dan jenis layangan. Kompetisi ini diadakan di lapangan perkebunan desa yang terhampar luas membelah jalan pedesaan.
Kawan yang dulu semasa kecil bermain layang-layang tentunya bisa membayangkan betapa bahagianya berlari kian kemari sembari menerbangkan layangan, bukan?
Tags: benang yang nilon