Seni Benang Ratu Majapahit - Keindahan dalam Kerajinan Jarum dan Kerajinan Sendiri
Tata Rias Rakyat Majapahit
“Rambut wanita ini disanggul tetapi tidak menggunakan tusuk konde atau ornamen semacamnya.” (Berita Cina)
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh drg. Bambang Samodra dan Ade Satrio Prastyanto dalam purimajapahit. Tata rias zaman kerajaan Majapahit disebut Pahyas Wilwatiktapura.
Tata rias pada zaman Majapahit ini pada bagian wajah terdiri dari Pupur Menur (bedak dari bunga melati), Halis Luncip Candra Tanggal (bentuk alis seperti bulan sabit), Tilaka (tanda di dahi) dan Sipat Pupus Padu (garis kelopak mata yang berpadu di sudut mata).
Lalu pada bagian rambut terdiri dari Wahel Salaga ning Menur (untaian bunga melati pada rambut), Tajuk Anggrek Sasangka (hiasan bunga anggrek bulan), Gelung Kekendon (gelung miring kiri untuk wanita), serta Gelung Cacandyan (gelung mengerucut di ubun-ubun menyerupai candi).
Sahabat Kelana, itulah ulasan tentang pakaian yang dikenakan raja, permaisuri dan rakyat pada era Majapahit. Keluhuran budaya Indonesia sudah sangat memperhatikan mode berpakaian bahkan sampai detail tata rias rambut dan wajah semenjak era Majapahit.
The Majapahit Empire was short-lived, as its power began to shortly after Hayam Wuruk’s death. At the beginning of the 15th century AD, a war of succession that lasted for four years broke out. At the same time, Islam was spreading in the region, and many kingdoms were converting to this faith. Amongst these was the rising Sultanate of Malacca, founded by the last Raja of Singapura.
A map showing the Majapahit Empire during its heyday in the 14th century AD. (Wikimedia Commons)
Remaining as Hindu-Buddhists, the Majapahit Empire was unable to compete with its Muslim neighbors, and continued to disintegrate, finally collapsing in either 1478 or the early 16th century AD.
Featured image: The northeastern corner of an Indonesian national monument. In this section the Majapahit Empire is depicted including Gajah Mada at the nearest right. Jakarta, Indonesia. (Wikimedia Commons)
Tags: benang