... Benang Ratu Majapahit: Panduan Lengkap untuk Menyulam dan DIY

Seni Benang Ratu Majapahit - Keindahan dalam Kerajinan Jarum dan Kerajinan Sendiri

Memulai Misi Penaklukkan Nusantara

Purwadi dalam buku Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa (2007) menyebut bahwa jasa besar Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah meletakkan dasar-dasar politik kenegaraan Majapahit.

Naiknya Tribhuwana Tunggadewi ke singgasana Majapahit juga berimbas besar terhadap karier Gajah Mada. Sosok perwira muda ini langsung melejit berkat jasa-jasanya mengamankan negara, termasuk menyelesaikan pemberontakan Sadeng dan Keta yang masih menjadi bagian dari dampak kepemimpinan Jayanegara.

Berkat kesetiaannya terhadap negara juga kecakapannya, Gajah Mada langsung menjadi orang kepercayaan Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Pada 1334, Sri Ratu Tribhuwana menunjuk Gajah Mada untuk menempati posisi sebagai rakryan patih atau mahapatih alias perdana menteri menggantikan Arya Tadah yang undur diri karena sudah merasa tua.

Dikutip dari Sedjarah Indonesia Lama (1961) karya Pitono Hardjowardojo, saat dilantik menjadi mahapatih pada 1334, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Ia berikrar pantang merasakan kenikmatan duniawi sebelum berhasil mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.

Era Tribhuwana Wijayatunggadewi memang merupakan masa di mana Majapahit mulai melebarkan sayapnya hingga ke luar Jawa.

Tahun 1343, misalnya seperti dinukil dari buku ‎Sejarah Kebudayaan Bali (1998) yang disusun Supratikno Raharjo dan kawan-kawan, Kerajaan Majapahit menaklukkan Bali.

Berikutnya, giliran kerajaan-kerajaan di kawasan lain di luar Jawa yang ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada atas perintah Sri Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit

Dikutip dari Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota (2012) karya Inajati Adrisijanti, Raden Wijaya kemudian membuka hutan di dekat Sungai Brantas, tepatnya di daerah Mojokerto sekarang.

Terbentuklah suatu desa yang kemudian dikenal dengan nama Majapahit. Asal mula nama Majapahit berawal dari buah bernama maja. Buah yang rasanya pahit itu banyak terdapat di dalam hutan tempat Raden Wijaya dan pengikutnya berlindung untuk menyusun kekuatan kembali.

Raden Wijaya mulai bergerak, meminta dukungan dari berbagai pihak sekaligus mengumpulkan kekuatan untuk menyerang balik Jayakatwang sekaligus membalaskan dendam sang mertua, Raja Kertanegara.

Dengan dibantu jajaran pengikut setia seperti Arya Wiraraja, Nambi, Kebo (Mahisa) Anabrang, Lembu Sora, dan lainnya, Raden Wijaya mampu mengalahkan Jayakatwang berkat persekutuan dengan pasukan utusan dari Kekaisaran Mongol yang saat itu tiba di Jawa.

Usai itu, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 dengan pusat pemerintahan di Trowulan, Mojokerto. Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309 M).

Dari sinilah kemudian Kerajaan Majapahit berkembang pesat, dengan mula-mula menguasai bekas wilayah kekuasaan Singasari.

Raden Wijaya berhasil menanamkan pondasi yang kuat untuk Kerajaan Majapahit dan nantinya merengkuh masa kejayaan pada masa pemerintahan sang cucu, Hayam Wuruk.

The Majapahit Empire was short-lived, as its power began to shortly after Hayam Wuruk’s death. At the beginning of the 15th century AD, a war of succession that lasted for four years broke out. At the same time, Islam was spreading in the region, and many kingdoms were converting to this faith. Amongst these was the rising Sultanate of Malacca, founded by the last Raja of Singapura.

A map showing the Majapahit Empire during its heyday in the 14th century AD. (Wikimedia Commons)

Remaining as Hindu-Buddhists, the Majapahit Empire was unable to compete with its Muslim neighbors, and continued to disintegrate, finally collapsing in either 1478 or the early 16th century AD.

Featured image: The northeastern corner of an Indonesian national monument. In this section the Majapahit Empire is depicted including Gajah Mada at the nearest right. Jakarta, Indonesia. (Wikimedia Commons)


Tags: benang

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia