Seni Benang Ratu Majapahit - Keindahan dalam Kerajinan Jarum dan Kerajinan Sendiri
3. Daha (Kediri)
Lantaran berbagai polemik internal dan ancaman serangan dari Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, posisi Majapahit semakin terdesak pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi atau Brawijaya V (1468-1478).
Kala itu, pengaruh Islam memang sedang berkembang pesat di Jawa sehingga muncul Kesultanan Demak yang didirikan oleh seorang pangeran dari Majapahit bernama Raden Patah. Raden Patah adalah putra kandung Brawijaya V dari istri seorang wanita berdarah Cina bernama Siu Ban Ci.
Pada masa-masa genting inilah ibu kota Majapahit terpaksa dipindahkan dari Trowulan ke Daha yang merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri (Kediri) oleh Girindrawardhana atau Brawijaya VI (1478-1489).
Tahun 1517, pasukan Kesultanan Demak menyerang Daha yang membuat perekonomian Kerajaan Majapahit lumpuh. Serangan tersebut dipimpin oleh Pati Unus (1488-1521), Sultan Demak kedua yang merupakan menantu Raden Patah.
Satu dekade berselang, tahun 1527, Kesultanan Demak kembali menyerbu Daha, di bawah komando Sultan Trenggana di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana (1521-1546), penguasa Demak ketiga yang juga adik Pati Unus.
Serangan dari pasukan perang Kesultanan Demak kali ini benar-benar membuat Daha jatuh sekaligus menghancurkan Majapahit. Kerajaan pernah sangat perkasa di Nusantara ini akhirnya menuai keruntuhan untuk selama-lamanya.
The Rise of the Wealthy and Powerful Majapahit Empire
Raden Wijaya was crowned as the Majapahit Emperor, and the Empire began to expand slowly. Additionally, due to its strategic position on the spice trade route, the Majapahit Empire grew immensely wealthy by levying duties on goods shipped through its area of control. The golden age of the Majapahit Empire, however, is said to have been during the reign of Hayam Wuruk, the fourth ruler of the empire. Hayam Wuruk, who ruled from 1350 to 1389, was assisted by an equally formidable prime minister, Gajah Mada.
Terracotta head believed to be a representation of Gajah Mada, Trowulan, East Java, Indonesia (Wikimedia Commons)
During his premiership, Gajah Mada had successfully added Bali, Java and Sumatra to the Majapahit Empire. Although Gajah Mada died around 1364, the expansion of the empire continued. By 1365, the entire Malay Archipelago, with the exception of Sri-Vijaya and two of its colonies, were conquered by the Majapahit Empire. In 1377, Palembang, the capital of Sri-Vijaya, fell to Hayam Wuruk’s troops. The Kingdom of Singapura, an offshoot of Sri-Vijaya, was also later conquered. Nevertheless, this rival was not entirely destroyed, and its descendants would later return to cause trouble to the Majapahit Empire.
Tata Rias Rakyat Majapahit
“Rambut wanita ini disanggul tetapi tidak menggunakan tusuk konde atau ornamen semacamnya.” (Berita Cina)
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh drg. Bambang Samodra dan Ade Satrio Prastyanto dalam purimajapahit. Tata rias zaman kerajaan Majapahit disebut Pahyas Wilwatiktapura.
Tata rias pada zaman Majapahit ini pada bagian wajah terdiri dari Pupur Menur (bedak dari bunga melati), Halis Luncip Candra Tanggal (bentuk alis seperti bulan sabit), Tilaka (tanda di dahi) dan Sipat Pupus Padu (garis kelopak mata yang berpadu di sudut mata).
Lalu pada bagian rambut terdiri dari Wahel Salaga ning Menur (untaian bunga melati pada rambut), Tajuk Anggrek Sasangka (hiasan bunga anggrek bulan), Gelung Kekendon (gelung miring kiri untuk wanita), serta Gelung Cacandyan (gelung mengerucut di ubun-ubun menyerupai candi).
Sahabat Kelana, itulah ulasan tentang pakaian yang dikenakan raja, permaisuri dan rakyat pada era Majapahit. Keluhuran budaya Indonesia sudah sangat memperhatikan mode berpakaian bahkan sampai detail tata rias rambut dan wajah semenjak era Majapahit.
The Majapahit Empire: The Short Life of an Empire that Once Defeated the Mongols
The Mongols are perhaps best known as one of history’s greatest conquerors. As they extended their borders, numerous empires were destroyed and dynasties replaced. Perhaps less well-known is the Mongol (under Kublai Khan’s Yuan Dynasty of China) expedition to Java. This expedition ended in a Mongol defeat, and gave rise to one of the last major powers in the Southeast Asian region, the Majapahit Empire.
The story of the Majapahit Empire begins at the end of the 13th century AD in the Singhasari Kingdom with Raden Wijaya (the founder of the Majapahit Empire), and Jayakatwang (the last ruler of the Singhasari Kingdom). Raden Wijaya’s father-in-law was Kertanegara, whose throne was usurped by Jayakatwang. Raden Wijaya, however, was pardoned, and was given Trowulan in East Java. This site would later serve as the capital of the Majapahit Empire.
The Bajang Ratu Gate and Wringin Lawang, two examples of Majapahit Architecture, Trowulan, East Java, Indonesia (Wikimedia Commons)
According to the Chinese sources, prior to Jayakatwang’s treachery, Kertanegara had incurred the anger of Kublai Khan. Kertanegara had refused to pay tribute to the Yuan Dynasty, mistreated the Yuan envoy, and even challenged Kublai Khan. As a result, the Emperor decided to punish Kertanegara by dispatching 1000 ships to subdue his kingdom.
The Javanese sources, however, paint an alternate picture. Instead of depicting Kertanegara as refusing to pay tribute to the Mongols, the king is said to have been a friendly vassal. The expedition sent by Kublai Khan to Java was not meant to punish Kertanegara, but to aid Raden Wijaya. This is because Raden Wijaya had sent an urgent envoy to the Emperor requesting for aid against Jayakatwang. Furthermore, Raden Wijaya also promised to offer Kublai Khan the pick of the most beautiful princesses in the Singhasari Kingdom.
2. Trowulan
Pusat pemerintahan Majapahit bergeser sedikit pada masa kepemimpinan Sri Jayanegara (1309-1328), penerus takhta Raden Wijaya. Raja kedua Majapahit ini memindahkan ibu kota ke Trowulan yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Mojokerto sekarang.
Kitab perjalanan Cina bertajuk Yingyai Shenglan yang ditulis oleh seorang penjelajah bernama Ma Huan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 M adalah di Trowulan.
Dikutip buku terjemahan J.V.G Mills (1970), disebutkan bahwa kawasan itu merupakan kota yang sangat besar tempat raja bersemayam.
Sejumlah situs yang merupakan peninggalan peradaban Majapahit yang ditemukan di Trowulan juga semakin menguatkan peran tempat tersebut sebagai bekas ibu kota kerajaan yang pernah mengalami masa-masa yang amat jaya.
Trowulan menjadi pusat pemerintahan Majapahit dalam waktu yang cukup lama. Dari era Sri Jayanegara yang bertakhta sejak tahun 1309 hingga menjelang keruntuhan kerajaan ini pada abad ke-16 Masehi.
Para pemimpin ternama seperti Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, Ratu Suhita, hingga Bhre Kertabumi alias Brawijaya V pernah memimpin kerajaan dari Trowulan.
Tags: benang