Keajaiban Benang Sutra - Asal Usulnya dan Peranannya dalam Kerajinan Tangan
Kebiasaan dan Siklus Hidup Ulat Sutra
2. Fase Larva
Melansir jurnal Universitas Sumatera Utara, perkembangan ulat sutra dapat kita lihat dari fase instar. Durasi instar sendiri berlangsung selama 3-4 hari untuk instar I dan 2-3 hari untuk instar II.
Saat memasuki instar III, rentan waktu perubahan terjadi selama 3-4 hari. Sedang pada instar IV lamanya 5-6 hari, serta instar V berlangsung antara 6-8 hari.
Pada instar V, tidak terjadi pergantian kulit namun badan mereka berangsur-angsur transparan. Pada fase ini, larva sudah mulai mengeluarkan serat dan juga membuat kokon.
3. Fase Pupa
Jangka waktu pupa sendiri terjadi selama 9-14 hari. Saat keluar dari kokon, tungkai tambahan yang terdapat sepanjang perut ulat biasanya menghilang.
Pada bagian dadanya justru muncul tiga pasang tungkai baru yang tampak lebih langsing dan panjang. Selain itu, terdapat sayap dan sistem otot baru pada bagian tubuh ulat sutra.
4. Fase Imago
Kupu-kupu yang mereka hasilkan tidak dapat terbang dan kehilangan fungsi mulutnya. Maka dari itu, mereka biasanya tidak bisa makan atau mengonsumsi apapun juga.
Manfaat Ulat Sutra bagi Manusia
Manfaat ulat sutra sebagai penghasil benang tentu sudah tidak perlu kita bicarakan lagi. Terlepas dari hal tersebut, ternyata ngengat yang satu ini juga memiliki fungsi dan manfaat lain bagi manusia.
Melansir Buku Analisis Fenotip Ulat Sutera (2015), berikut beberapa manfaat Bombyx Mori L. yang jarang awam ketahui, di antaranya:
1. Olahan Obat Tradisional
Bombyx batryticatus adalah jenis ngengat yang banyak bermanfaat sebagai obat tradisional Cina. Obat ini masyarakat Cina percayai mampu mengobati masuk angin, mencairkan dahak, hingga meringankan kejang-kejang.
Selain menjadi ramuan obat, pemanfaatan ulat ini sebagai obat tradisional juga dilakukan dengan mengonsumsi secara langsung. Tentu tidak kita makan mentah, namun direbus terlebih dahulu.
2. Makanan Ringan
Masih dari Cina, spesies ulat yang satu ini cukup terkenal sebagai jajanan pasar. Mereka biasanya mengolah fauna ini dengan cara dibakar, lalu menjadi santapan atau makanan ringan.
Begitu pula di Korea, makanan dari ulat di negeri gingseng bernama Beondegi. Makanan ini adalah rebusan berbumbu rempah-rempah tertentu.
3. Merawat Kulit Wajah
Penggunaan kepompong sutra untuk merawat kulit wajah sudah banyak dipraktikkan oleh berbagai klinik kecantikan. Metode ini bahkan cukup populer di negara Thailand dan juga Jepang.
Merujuk berbagai sumber, kepompong sutra memiliki komposisi jaringan yang mirip dengan struktur kulit manusia. Selain itu, ia juga kaya akan asam amino dan pH yang baik bagi perawatan kulit wajah.
Taksonomi Ulat Sutra
Referensi:
Penulis: Yuhan Al Khairi
Sejarah Kain Songket
Secara historis, penenunan kain Songket dikaitkan dengan wilayah dan budaya Palembang dan Minangkabau yang berasal dari pulau Sumatera. Menurut Hikayat Palembang, asal mula Songket bermula dari kemahkotaan Sriwijaya. Bahan utama dari pembuatan kain songket biasanya adalah seperti sutra dan umumnya diproduksi oleh petani ulat sutra lokal.
Namun, untuk menghasilkan kualitas Songket yang lebih baik, masyarakat lokal juga mengekspor bahan sutra dari Tiongkok. Sementara itu, benang emas biasanya diproduksi oleh masyarakat setempat dengan memproses emas yang diambil dari beberapa daerah di pulau Sumatra.
Songket ditempa pada mesin tenun bingkai dan pola-pola rumit dibuat dengan menambahkan benang emas atau perak dengan menggunakan jarum.
Kain songket berasal dari Palembang dan menyebar ke wilayah yang dikuasai Sriwijaya, seperti Sumatra, Kepulauan Riau, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, dan sebagian Jawa. Ada dua versi cerita tentang asal muasal teknik menenun kain songket.
Menurut tradisi Kelantan, teknik ini berasal dari Chaiya, Thailand, yang merupakan bagian dari Sriwijaya, dan berkembang ke selatan hingga sampai ke Kelantan dan Terengganu pada abad ke-16.
Namun, menurut penenun Terengganu, teknik menenun ini pertama kali dikenalkan oleh pedagang Minangkabau, Palembang, dan India yang berlayar dari Palembang sejak zaman kejayaan Sriwijaya.
Menurut tradisi Indonesia, kain songket yang berlapis-lapis emas sering dikaitkan dengan kejayaan Sriwijaya, sebuah kerajaan perdagangan maritim yang makmur dan kaya yang berdiri pada abad 7 hingga 14 di Sumatra.
Hingga saat ini, tradisi songket tetap terjaga dan terpelihara dengan baik di Palembang, yang dikenal sebagai pusat produksi kain songket terkenal di Indonesia. Songket adalah kain mewah yang aslinya membutuhkan benang emas asli yang ditenun tangan menjadi kain yang indah.
Secara sejarah, tambang emas di Sumatera terdapat di Sumatra Selatan dan bagian dalam dataran tinggi Minangkabau. Ditemukannya benang emas di situs bekas Sriwijaya di Sumatra, bersama dengan batu merah delima yang belum dipoles, dan potongan lempeng emas, menunjukkan bahwa tenun lokal sudah menggunakan benang emas sejak abad ke-6 hingga ke-7 Masehi di Sumatra.
Tags: dari benang