Keajaiban Benang Sutra - Asal Usulnya dan Peranannya dalam Kerajinan Tangan
Ulat Sutra, Hewan Imut-Imut Penghasil Benang Mewah
Ulat Sutra (Bombyx Mori L.) adalah sejenis serangga atau ngengat penghasil benang berkualitas. Umumnya, masyarakat memanfaatkan fauna ini dalam pembuatan kain sutra. Sebab bernilai ekonomis tinggi, banyak orang yang tertarik membudidayakan hewan berfamili Bombycidae tersebut.
Secara umum, teknik pembudidayaan ngengat sutra pertama kali berasal dari masyarakat Cina. Di sana, teknik ini bahkan sudah ada sejak tahun 200 SM dan terus berkembang ke hampir seluruh negara.
Di Indonesia sendiri, teknik pembudidayaan Bombyx mori L. masuk sejak abad ke-10. Sedang di Korea, India dan Jepang, manfaat dari ulat tersebut mulai pada tahun 300 SM.
Meski begitu, tahukah Anda jika fauna ini ternyata memiliki manfaat lain di luar fungsinya sebagai penghasil benang? Agar tidak salah, simak pembahasan mengenai ulat sutra di bawah ini.
Manfaat Ulat Sutra bagi Manusia
Manfaat ulat sutra sebagai penghasil benang tentu sudah tidak perlu kita bicarakan lagi. Terlepas dari hal tersebut, ternyata ngengat yang satu ini juga memiliki fungsi dan manfaat lain bagi manusia.
Melansir Buku Analisis Fenotip Ulat Sutera (2015), berikut beberapa manfaat Bombyx Mori L. yang jarang awam ketahui, di antaranya:
1. Olahan Obat Tradisional
Bombyx batryticatus adalah jenis ngengat yang banyak bermanfaat sebagai obat tradisional Cina. Obat ini masyarakat Cina percayai mampu mengobati masuk angin, mencairkan dahak, hingga meringankan kejang-kejang.
Selain menjadi ramuan obat, pemanfaatan ulat ini sebagai obat tradisional juga dilakukan dengan mengonsumsi secara langsung. Tentu tidak kita makan mentah, namun direbus terlebih dahulu.
2. Makanan Ringan
Masih dari Cina, spesies ulat yang satu ini cukup terkenal sebagai jajanan pasar. Mereka biasanya mengolah fauna ini dengan cara dibakar, lalu menjadi santapan atau makanan ringan.
Begitu pula di Korea, makanan dari ulat di negeri gingseng bernama Beondegi. Makanan ini adalah rebusan berbumbu rempah-rempah tertentu.
3. Merawat Kulit Wajah
Penggunaan kepompong sutra untuk merawat kulit wajah sudah banyak dipraktikkan oleh berbagai klinik kecantikan. Metode ini bahkan cukup populer di negara Thailand dan juga Jepang.
Merujuk berbagai sumber, kepompong sutra memiliki komposisi jaringan yang mirip dengan struktur kulit manusia. Selain itu, ia juga kaya akan asam amino dan pH yang baik bagi perawatan kulit wajah.
Taksonomi Ulat Sutra
Referensi:
Penulis: Yuhan Al Khairi
Kain songket adalah kain tradisional yang ditempa dengan tangan menggunakan berbagai macam benang seperti benang emas, perak, sutera berwarna, benang sulam, benang katun berwarna, dll.
Proses penenunan dilakukan menggunakan alat panta yang terbuat dari kayu. Benang tambahan yang digunakan untuk menghias permukaan kain dikenal sebagai “songket” karena diproses dengan cara menyungkit benang dasar dalam membuat motif. Daerah Pandai Sikek dan Silungkang di Sumatra Barat terkenal sebagai produsen songket berkualitas.
Kain songket adalah bahan tenunan tradisional yang memerlukan benang emas asli. Biasanya digunakan sebagai pakaian oleh keluarga kerajaan seperti sultan, pangeran, dan bangsawan.
Motif atau ragam hias pada songket Minangkabau tidak hanya sekedar tampilan estetika. Motif pada songket memiliki makna dan tradisi tersendiri yang menjadi ciri khas budaya wilayah asal kain tersebut.
Motif-motif tersebut biasanya berupa bentuk-bentuk geometri, bentuk-bentuk tumbuhan, dan salur-salur, menunjukkan pentingnya alam bagi keberlangsungan hidup manusia. Ada juga motif-motif yang terinspirasi dari makanan khas Melayu, seperti serikaya, wajik, dan tepung talam, yang diyakini merupakan makanan favorit raja.
Kain songket memiliki berbagai motif tradisional yang menjadi ciri khas budaya daerah penghasil kerajinan ini. Beberapa contohnya adalah motif Saik Kalamai, Buah Palo, Barantai Putiah, Barantai Merah, Tampuak Manggih, Salapah, Kunang-kunang, Api-api, Cukie Baserak, Sirangkak, Silala Rabah, dan Simasam yang terkait dengan songket Pandai Sikek, Minangkabau.
Sementara 49 motif lain belum terdaftar, termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi Sriwijaya Football Club, Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain.
Tags: dari benang