Keajaiban Benang Sutra - Asal Usulnya dan Peranannya dalam Kerajinan Tangan
Ulat Sutra, Hewan Imut-Imut Penghasil Benang Mewah
Ulat Sutra (Bombyx Mori L.) adalah sejenis serangga atau ngengat penghasil benang berkualitas. Umumnya, masyarakat memanfaatkan fauna ini dalam pembuatan kain sutra. Sebab bernilai ekonomis tinggi, banyak orang yang tertarik membudidayakan hewan berfamili Bombycidae tersebut.
Secara umum, teknik pembudidayaan ngengat sutra pertama kali berasal dari masyarakat Cina. Di sana, teknik ini bahkan sudah ada sejak tahun 200 SM dan terus berkembang ke hampir seluruh negara.
Di Indonesia sendiri, teknik pembudidayaan Bombyx mori L. masuk sejak abad ke-10. Sedang di Korea, India dan Jepang, manfaat dari ulat tersebut mulai pada tahun 300 SM.
Meski begitu, tahukah Anda jika fauna ini ternyata memiliki manfaat lain di luar fungsinya sebagai penghasil benang? Agar tidak salah, simak pembahasan mengenai ulat sutra di bawah ini.
Apa Itu Kain Songket
Kain songket adalah salah satu jenis tenunan tradisional yang berasal dari Sumatera, Indonesia. Apabila dilihat dari asal katanya, istilah “songket” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Palembang, “songsong” dan “teket”, yang berarti “tenun” dan “sulam” masing-masing. Ini mengacu pada proses pembuatan tenunan Songket dengan mengaitkan dan menyisipkan benang emas.
“Istilah tersebut kemudian diserap menjadi “sungkit” dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang memiliki arti “menyulam”.”
“Dalam teori lain, kata songket mungkin berasal dari istilah “songka”, yaitu jenis songkok khas Palembang, di mana tradisi menenun dengan benang emas pertama kali dimulai.”
Songket termasuk dalam keluarga tenunan brokat dan dibuat dengan tangan menggunakan benang emas dan perak. Benang logam yang tertenun pada kain akan menghasilkan efek kemilau yang cemerlang. Bahan dasar yang biasa digunakan untuk membuat Songket adalah sutra, katun, dan kombinasi antara katun dan sutra.
Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring
Songket seringkali dikaitkan dengan Kemaharajaan Sriwijaya sebagai sumber asal tradisi songket. Banyak jenis Songket yang populer berasal dari lokasi-lokasi yang pernah berada di bawah pengaruh Kemaharajaan Sriwijaya, salah satunya adalah Palembang yang dipercayai sebagai ibukota Kemaharajaan Sriwijaya pada masa lampau dan terletak di Sumatera Selatan.
Selain Palembang, beberapa daerah di Sumatera juga menjadi produsen Songket terbaik, seperti daerah Minangkabau atau Sumatra Barat seperti Pandai Sikek, Silungkang, Koto Gadang, dan Padang. Selain Sumatra, Songket juga diproduksi di Bali, Lombok, Sambas, Sumba, Makassar, Sulawesi, dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Jenis-jenis kain sutra
Dalam dunia industri, kain sutra cukup mendapat perhatian sebagai bahan baku pakaian berkelas. Teksturnya yang halus dan berkilau menghasilkan tampilan yang bagus jika dibuat sebagai pakaian.
Ada tiga jenis kain sutra berdasarkan lokasi prosuksinya, yaitu kain sutra import, lokal dan kain sutra liar.
Kain sutra import
Sutra import, yaitu kain sutra yang ditenun oleh mesin sehingga menghasilkan permukaan kain yang rapi dan halus. Beberapa jenis kain yang biasa kita kenali seperti sutra super T54, sutra super T56, Organdi, Abote, sutra kaca kotak, Sifon, sutra salur (kombinasi anyaman sutra super dengan organik), sutra krepe, sutra kembang (anyaman didesain dengan struktur doby).
Kain sutra lokal
Kain Sutra Lokal merupakan kain sutra buatan dalam negeri yang dibuat dengan cara manual, ditenun degan alat tradisional (Alat Tenun Bukan Manusia).
Beberapa contoh kain sutra lokal yaitu kain sutra polos, sutra granita (anyaman yang didesain dengan struktur doby) dan sutra salur.
Kain sutra liar
Kain Sutra Liar, adalah kain sutra yang dihasilkan dari ulat yang dibudidayakan secara liar. Ulat-ulat sutra ini dibiarkan hidup dialam bebas untuk kemudian diambil kepompongnya ketia sudah memasuki masa metamorfosis.
Biasanya ulat-ulat ini hidup di pohon jambu mete, kedondong, mahoni dll.
Serat yang dihasilkan oleh ular yang memakan daun mahoni disebut attacus, berwarna coklat secara alami. Sedangkan jenis serat yang dihasilkan dari ulat yang makan daun kedondong disebut criccula, berwarna kuning keemasan.
Proses Pembuatan Kain Sutra
Kain sutra yang mempunyai karakter lembut, halus dan berkilau ini mempunyai proses yang panjang dalam membuatnya. Kilau indah yang muncul pada kain sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga yang terdapat dalam serat kain sehingga mampu membiaskan cahaya dari segala sudut.
Dalam proses pembuatannya yang panjang dan sulit itulah membuat kain ini mempunyai harga yang tinggi selain hasil yang didaptkannyapun begitu sempurna. Untuk menghasilkan 1 kg kain sutra maka dibutuhkan 70 kg daun murbei dan 10 kepompong ulat sutra. Benang sutra diambil dari larva yang belum menetas, dan pada umumnya larva dibunuh dengan cara direndam dalam air panas atau ditusuk dengan jarum. Benang ulat sutra tersebut mempunyai ketebalan sebesar 10 nanometer dan panjang sekitar kurang lebih 30-40% dari panjang aslinya.
Dalam proses pembuatan kain sutra terdapat dua cara:
Menggunakan ATM (Alat Tenun Mesin.
Menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin)
Kain sutra yang dihasilan dengan mengunakan proses ini akan memberikan kain tenunan yang terasa agak kasar, tebal dan cepat kusut. Namun permukaannya masih terasa lembut. Dan pada kenyataannya, kain sutra yang dihasilkan dengan ATBM mempunyai harga yang lebih mahal disbanding dengan ATM, hal ini dianggap karena memberikan cita rasa tradisional dan tentunya memiliki seni yang lebih tinggi pula.
Tags: dari benang