... Langkah-Langkah Membuat Noken dari Benang: Panduan DIY dan Kerajinan Tangan

Cara Membuat Noken dari Benang - Panduan Kreatif untuk Kerajinan Tangan

Cara Pembuatan Noken

Foto: Cara Membuat Noken Papua.jpg (Orami Photo Stock)

Untuk membuat noken sebetulnya cukup rumit karena masih dikerjakan secara manual dan tidak menggunakan mesin.

Serat kayu yang tersisa kemudian dikeringkan dan dipiliah-pilah. Lalu, serat tersebut ipintal secara manual untuk dijadikan benang atau tali yang kuat, yang terkadang diwarnai dengan pewarna alami.

Proses pembuatan ini bisa mencapai 1-2 minggu untuk noken sedang dan kecil.

Sementara noken ukuran besar membutuhkan waktu 3 minggu hingga 2-3 bulan. Meski demikian, hasil yang didapat memang sepadan.

Tas tradisional noken memang tidak mudah robek, kuat, dan tahan lama.

Jika Moms dan Dads ingin berkunjung dan melihat langsung proses pembuatannya, bisa kunjungi daerah Sauwadarek, Papua.

Noken yang dibuat oleh mama asli dari Papua dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Namun, seiring berkembangnya zaman, dikutip dari laman UNESCO, pembuatan dan penggunaan noken ini terus berkurang.

Faktor-faktor yang mengancam kelangsungan hidup dari noken antara lain:

  • Kurangnya kesadaran masyarakat sekitar.
  • Berkurangnya jumlah pengrajin.
  • Melemahnya transmisi tradisional.
  • Persaingan dari tas buatan pabrik.
  • Masalah dalam memperoleh bahan baku dengan mudah dan cepat.
  • Pergeseran nilai-nilai budaya noken.

Sayangnya juga, Papua belum memiliki lokasi terpusat untuk menjual noken asli Papua.

Pada kenuyataannya, sampai sekarang noken masih dijual di lapak-lapak sederhana atau dijual secara lesehan di trotoar.

Terlebih, saat ini serat kayu sudah sulit untuk ditemukan. Seiring dengan berkembangnya zaman, serat kayu sudah bisa digantikan dengan kain wol.

Filosofi Noken Papua

Bisa dibilang filosofi noken Papua memang asli buatan mama-mama di Papua.

Bukan hanya digunakan sebagai wadah untuk memindahkan barang ke tempat yang lain, Noken juga menjadi simbol kehidupan yang baik, kesuburan, dan perdamaian bagi tanah Papua.

Terutama bagi suku Mee/Ekari, Damal, Suku Yali, Dani, Suku Lani dan Bauzi yang tinggal di daerah Pegunungan Tengah Papua.

Memang kebudayaan yang turun menurun, noken hanya boleh dibuat oleh orang Papua.

Sejak kecil para wanita di Papua sudah harus belajar untuk membuatnya. Membuat noken melambangkan kedewasaan dari si wanita itu.

Dianggapnya, jika wanita Papua belum bisa membuat noken, maka dia belum dianggap dewasa dan itu adalah syarat pernikahan.

Ukuran, kegunaan, dan jenis noken berbeda untuk perempuan dengan laki-laki.

Dilansir dari laman Pemprov Papua, noken laki-laki berukuran lebih kecil (disebut mitutee) karena dipergunakan hanya untuk membawa barang pribadi seperti korek api atau rokok.

Sementara, noken wanita berukuran lebih besar (disebut Yatoo) karena biasanya digunakan untuk membawa hasil perkebunan, barang-barang belanjaan, atau bahkan menggendong anak.

Noken dipakai untuk menggendong anak karena ventilasi udaranya aman. Sebab, noken terbuat dari daun pandan dan daun-daun lainnya sehingga aman untuk bayi.

Noken rupanya bisa memperkuat otot bayi yang digendong sehingga jarang sakit.

Untuk tas yang berukuran sedang atau disebut Gapagoo digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan dalam jumlah sedang.

Noken Papua yang paling dikenal yaitu noken Raja Ampat dan noken Wamena.

Noken Raja Ampat sendiri dibuat dari tanaman pesisir yang lokasinya memang berasal dari Raja Ampat sendiri.

Noken Raja Ampat berbentuk kotak yang memiliki variasi warna unik dan dilengkapi dengan penutup.

Apa Itu Merajut?

Merajut (knitting) adalah teknik mengubah benang rajut menjadi kain, busana, popok, atau benda-benda bernilai pakai lainnya. Tak ada yang mengetahui secara persis tentang perkembangan sejarah merajut. Namun, ada beberapa penemuan yang dianggap berkaitan erat dengan sejarah merajut, yaitu sepasang kaos kaki berbahan katun dengan motif rajutan tangan dari tahun 1000 M di Mesir serta permadani rajut di kawasan Timur Tengah.

Kegiatan merajut dianggap identik dengan kaum wanita. Namun, pada awal masa perkembangannya, banyak kaum pria lebih dominan menjadi perajut. Para pemuda yang ingin jadi perajut harus lulus tes dan melewati proses magang terlebih dahulu agar bisa meraih gelar master. Semua perajut bergelar master wajib memastikan bahwa kualitas bahan dan motif rajutannya benar-benar baik karena kesalahan kecil bisa membuat gelarnya dicopot.

Awalnya, pakaian hasil rajutan di Eropa hanya digunakan di kalangan bangsawan istana dan prajurit perang. Ada jubah rajutan yang terbuat dari benang emas dan ada pula seragam tentara Jerman pada Perang Dunia II. Lama kelamaan seni merajut berkembang luas di kalangan masyarakat biasa, contohnya kebiasaan merajut sweater yang dilakukan masyarakat Pulau Aran serta kewajiban bagi para wanita untuk menguasai teknik merajut pada masa Ratu Victoria di Inggris. Seni merajut mulai berkembang di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Di era tersebut, para wanita Indonesia diajarkan cara merajut oleh noni Belanda.

Istilah Tentang Anatomi Rajutan dan Cara Membuat Simpul Awal

Beberapa istilah tentang anatomi rajutan yang wajib kamu pahami antara lain:

  • Slip knot: simpul awal sebelum memulai tusuk dasar.
  • Front loop: tusuk atau lubang yang menghadap Anda.
  • Back loop: tusuk atau lubang yang membelakangi Anda (terletak di balik front loop).
  • Yard end: ujung benang pendek
  • Yard ball: ujung benang lainnya yang terhubung dengan gulungan benang.

Selanjutnya, Anda bisa membuat simpul awal dengan mengikuti langkah-langkah ini:

Jika ingin menguji apakah simpul awal buatan Anda sudah benar atau belum, cobalah menarik salah satu ujung benang. Kalau Anda menarik yard ball, maka simpul akan mengencang. Sedangkan jika kamu menarik yard end, simpul akan mengendur.


Tags: dari benang cara membuat

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia