Karya Seni Dengan Pendekatan Design Thinking - Inspirasi Desain untuk Kerajinan Sulaman
Apa itu design thinking?
Di internet, kamu akan menemui banyak definisi mengenai design thinking. Menurut “Interaction Design Foundation” misalnya, design thinking disebut sebagai proses yang dilakukan secara berulang untuk memahami pengguna, menantang asumsi, mendefnisikan ulang permasalahan, serta menciptakan solusi.
Sedangkan “Career Foundry” mengatakan, design thinking adalah sebuah ideologi maupun proses untuk memecahkan masalah kompleks yang menitikberatkan kepentingan pengguna. Sederhananya, design thinking merupakan pendekatan atau metode pemecahan masalah baik secara kognitif, kreatif, maupun praktis untuk menjawab kebutuhan manusia sebagai pengguna.
Meski memiliki banyak arti, ada empat karakteristik yang akan selalu kamu temui dalam design thinking.
Berbasis solusi atau people-centered
Kepentingan manusia sebagai pengguna adalah fokus paling utama dalam metode design thinking. Makanya, design thinking berperan mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi manusia dan menjawab masalah tersebut dengan solusi yang berguna dan efektif bagi mereka.
Dengan kata lain, design thinking sangat mengandalkan solusi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Pendekatan semacan ini akan menuntut menuntut seseorang untuk memunculkan sesuatu yang konstruktif demi mengatasi sebuah masalah.
Pemikiran berbasis solusi disimpulkan dalam penelitian Bryan Lawson, Profesor Arsitektur di Universitas Sheffield yang membandingkan proses pemecahan masalah oleh kelompok ilmuan VS kelompok desainer.
Lawson mengatakan, kelompok ilmuwan cenderung mengidentifikasi masalah (problem-based), sementara kelompok desainer lebih mengutakaman solusi masalah (solution-based). Jadi, solution-based dilakukan secara eksperimental demi menemukan solusi yang tepat.
Hands-on
Salah satu tahapan yang dilakukan dalam design thinking adalah prototype menuangkan ide menjadi produk nyata. Tahap ini memungkinkan pengujian langsung dari tim desain terhadap produk setengah jadi.
Proses dalam Design Thinking
Design thinking bukanlah istilah baru. Gagasan menggunakan pendekatan desain untuk pemecahan masalah secara kreatif sudah lama diperbincangkan para ahli sejak tahun 1960-an. Para ahli saling menyumbang pemikirannya sehingga terbentuklah konsep design thinking.
Ialah John E. Arnold yang pertama kali mengemukakan istilah design thinking dalam bukunya "Creative Engineering" pada 1959. Kemudian, pada 1965, L. Bruce Archer menimpali gagasan tersebut dengan mengemukakan bahwa proses desain perlu dilakukan secara sistematis.
Herbert Simon, seorang sosiolog sekaligus psikolog Amerika menyumbang pemikirannya melalui artikelnya berjudul The Sciences of The Artificial yang terbit pada 1969. Simon memperkenalkan 7 langkah menggunakan desain sebagai pendekatan kreatif untuk problem-solving.
Kelima tahapan ini tidak harus berurutan, tetapi juga dapat dilaksanakan secara non-linear. Artinya, dalam tahapan tertentu, kamu mungkin saja menemukan sebuah insight yang membuatmu harus memperbaiki hasil di tahapan lainnya.
Selain itu, kelima tahapan ini juga bisa dipindah/diganti urutannya, atau dilakukan secara bersamaan, dan diulang beberapa kali untuk membuka kesempatan solusi-solusi terbaik.
Lebih jelasnya, lihat bagan di bawah ini.
Tahapan Design Thinking
Empathize
Empathize dalam design thinking adalah tahap paling awal yang krusial. Meski kelima tahapan ini dapat dilakukan secara parallel, tetapi kebanyakan project memulai dengan tahapan ini.
Dalam tahap ini, kamu harus menaruh empati untuk mengenal pengguna dan memahami keinginan, kebutuhan, dan tujuan mereka. Tahap ini juga mengharuskan observer untuk meninggalkan sejenak asumsinya terhadap pengguna dan mulai memahami mindset pengguna.
3 Contoh Design Thinking
Seperti apakah penerapan contoh design thinking dalam bisnis? Mari belajar dari beberapa perusahaan besar ini:
1. Airbnb
Untuk memberikan customer experience terbaik, Airbnb terus meningkatkan kualitas pelayanan yang fokus pada manusia. Salah satunya lewat penguatan media visual.
2. Halodoc
Contoh design thinking dalam bisnis berikutnya, Halodoc. Ini adalah aplikasi kesehatan yang melayani konsultasi hingga pengiriman obat ke rumah.
Jonathan Sudharta, CEO Halodoc, waktu itu melihat bahwa masyarakat Indonesia sulit mengakses informasi kesehatan. Selain itu, waktu tunggu di rumah sakit pun juga lama.
“Jadi kita lihat di dunia kesehatan indonesia by default banyak tantangan untuk mengaksesnya. Waktu saya lihat itu saya merasa, bisakah saya memberikan kontribusi (dalam layanan kesehatan) dengan pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki.”
-Jonathan Sudharta, CEO Halodoc-
3. Sikat Gigi Elektrik Braun/Oral-B
Sikat gigi elektrik Braun/Oral-B adalah contoh design thinking produk. Perusahaan Procter and Gamble melihat bahwa kecemasan banyak orang bersumber dari cara menyikat gigi yang salah ataupun tidak bersih.
Berangkat dari masalah itu, Procter and Gamble pun mengemas solusi dalam bentuk sikat gigi elektrik. Selain memudahkan orang untuk menyikat gigi, sikat ini juga membersihkan lebih maksimal daripada yang manual.
Tags: kerajinan contoh