Karya Kerajinan Jarum dan DIY yang Menginspirasi dari Seluruh Dunia
Tantangan Ekspor Karya Seni Indonesia
Meskipun terlihat mudah, ada berbagai macam tantangan melakukan ekspor kerajinan dari Indonesia contohnya saja seperti masalah persaingan. Semakin banyaknya pebisnis yang tertarik, akan semakin sengit persaingan untuk menembus pasar luar negeri.
Persaingan ini mulai dari persaingan mutu hingga persaingan harga. Di negara lain seperti China dan Hongkong, mereka bisa memberikan harga sangat murah, bahkan dengan harga sesuai dengan pesanan pembeli.
Selain itu minimnya informasi yang berkaitan dengan pasar Eropa juga menjadi tantangan tersendiri untuk pengusaha kerajinan khas Indonesia. Padahal, jika dilihat-lihat, produk dari Indonesia bisa bersaing dengan produk dari negara lain.
Kebanyakan pebisnis hanya berfokus pada produk, namun tidak berfokus pada kelas produk. Sehingga pasar yang disasar hanya menengah ke bawah, tidak bisa masuk ke pasar menengah ke atas.
Peraturan yang berkaitan dengan sertifikasi juga menjadi hambatan tersendiri. Di Eropa, peraturan yang berkaitan dengan sertifikasi seperti memastikan lingkungan tetap terjaga ini sangat ketat. Karena negara tersebut sangat memperhatikan berbagai isu lingkungan.
Menembus pasar internasional memang tidak semudah seperti kelihatannya. Tetapi, dengan menambah informasi dan pengetahuan, hingga terus meningkatkan mutu, kerajinan khas Indonesia tentu saja bisa semakin dikenal.
Upaya Pemerintah
Pemerintah lewat Kementerin Perdagangan melakukan serangkaian seminar web untuk meningkatkan peluang ekspor ke berbagai negara di dunia. Salah satu seminar webnya mengambil tema Mendorong Ekspor Produk Kerajinan Tangan ke Pasar Jepang” yang digelar secara virtual pada Rabu, 30 Juni 2021. Pada kesempatan ini diundang pembicara yang merupakan importir produk-produk kerajinan Asia ke Jepang yang sekaligus Direktur Utama dari PT Kasana Internasional Kreatif, Yoshio Yokobor.
Seminar web tersebut menyampaikan mengenai berbagai informasi yang diharapkan membuat para pelaku usaha kerajinan bisa menangkap informasi mengenai tren yang berkembang di masyarakat Jepang, referensi konsumen di Jepang, regulasi yang berlaku, serta standar produk agar dapat dijual di negara bersangkutan. Sehingga, akhirnya para pelaku usaha dapat mengembangkan strategi untuk bisa memasuki pasar internasional khususnya negara Jepang itu sendiri.
Dalam seminar web tersebut, terungkap banyak peluang produk ekspor ke Jepang seperti fesyen. Indonesia rutin mengekspor topi renda dan penutup kepala lainnya, wig sintetis (synthetic wigs dan wigs), janggut palsu (false beards), alis dan bulumata palsu dari rambut manusia (eyebrows and eyelashes of human hair).
Business matching melibatkan lima pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor untuk produk fesyen dan tujuh pelaku UKM berorientasi ekspor untuk produk kerajinan tangan binaan BBPPEI dan BHMTC.
Distribusi logistic pun tergaggu akibat adanya pembatasan dan control yang ketat. Program Indonesian SEA dicanangkan oleh pemerintah sebagai penjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Pemerintah akan berupaya mendata keberadaan muatan apa saja yang akan diekspor, terkhusu muatan yang berasal dari para pengusaha UKM. Akan diklasifikasikan juga muatannya seperti apa, berapa banyak container yang akan digunakan, Pelabuhan tujuan ekspornya ke Pelabuhan mana.
Nantinya terdapat juga sebuah media komunikasi untuk memperlancar kegiatan tersebut yaitu Shipping Enterprises Alliance Communication Media (SEACOMM). Media komunikasi tersebut akan digunakan sebagai jembatan antara pengusaha pelayaran dan produsesn terkait ketersediaan ruang muat di atas kapal.
Tips Meningkatkan Ekspor Kerajinan Khas Indonesia
Untuk meningkatkan pengiriman produk kerajinan tangan ke luar negeri, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Marketplace
Mendirikan sebuah marketplace yang khusus untuk menampung kerajinan tangan dari Indonesia. Agar warga dari luar negeri lebih mudah melakukan pembelian kerajinan tangan, pembuatan marketplace khusus ini bisa dilakukan.
Selain itu, pembuatan marketplace yang menampung barang dari luar negeri akan membuat berkurangnya makelar-makelar atau broker dalam kegiatan jual beli.
2. Modal
Adanya kemudahan peminjaman modal. Sekarang ini, pemerintah memang sudah memberikan kemudahan untuk peminjaman modal.
Namun tetap saja, untuk mencairkan modal tersebut, dibutuhkan berbagai macam syarat yang membuat pengusaha UKM kesulitan. Padahal, jika mereka diberi modal yang cukup, kerajinan khas Indonesia lebih mudah menembus pasar.
3. Asah Kemampuan Ekspor
Semakin mengasah kemampuan di bidang ekspor. Perdagangan luar negeri sekarang lebih mudah ditembus secara online, namun pengetahuan ini tidak diperoleh secara instan.
Tentu saja dibutuhkan pengalaman dan banyak membaca informasi yang berhubungan dengan ekspor produk ke luar negeri.
Dampak Pandemi dan Peluang Pertumbuhan
Pandemi COVID-19 memberikan berbagai dampak bagi seluruh lapisan masyarakat. Industri kerajinan juga terdampak akibat penyakit menular lewat tetesan ini. Dampaknya banyak terasa pada biaya logistijk yang meningkat.
Contohnya adalah hambatan proses pengurusan sertifikat layak fungsi, masih berlakunya sistem verifikasi legalitas kayu yang meningkatkan biaya, stabilitas harga dan pasokan kayu, kelangkaan bahan baku rotan, dan masalah bahan-bahan penunjang produk kerajinan seperti mur, baut, dan juga kain tekstil.
Pelaku UKM mebel dan angkota HIMKI menyebutkan bahwa terjadinya peningkatan biaya muat barang sebesar 500% pada 2020. Di mana sebelum pandemic, biaya muat berkisar 2.800 dolar AS unuk mengirim barang ke Jerman. Sedangkan saat pandemic ini, harganya naik menjadi 12.800 dolar AS untuk mengirimkan barang ke Jerman dan membutuhkan sekitar 20.000 dolar AS untuk mengirimkan barang ke Amerika Serikat.
Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia menyatakan bahwa tetap optimis dengan kondisi pemulihan sekarang ini. Ia menuturkan bahwa industry ini masih memiliki peluang yang besar dan akan terus mengalami pertumbuhan.
Ia juga percaya bahwa dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah selagi memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia dapat menjadikan Indonesia sebagai pemimpin pasar untuk industri kerajinan di Asia Tenggara.
Peluang ini juga sejalan dengan hasil penelitian Research And Markets yang menyebutkan bahwa infusti furnitur dan kerjinan global akan tumbuh sebesar 18,9% atau menjadi 671,07 miliar dolar AS yang sebelumnya sebesar 564,17 miliar dolar AS.
Semangat Bangkit
Pandemi memang membuat banyak permasalahan kompleks, namun di satu sisi juga memberikan peluang yang besar bagi industri. Industri kerajinan sendiri masih memiliki banyak peminat dan banyak sekali yang bisa dilakukan oleh para pengrajin.
Dengan banyaknya peluang di masa depan, para pengrajin bisa meningkatkan standar dan kualitas produk selaras dengan meningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah juga berupaya mendorong agar ekspor kerajinan dapat menjadi komoditas yang membuat neraca perdagangan Indonesia surpus dan menciptakan cadangan devisa bagi negara.
Selayaknya sebuah perahu naga, pemerintah dan para pengrajin harus bahu-membahu menggenjot perekonomian dan ekspor demi kapal industry kerajinan bisa tetap menglaju pada kecepatan yang tinggi.
Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.
Tags: kerajinan contoh mancanegara