Keindahan Seni Ukir dalam Kerajinan Rajutan dan DIY
Fungsi Teknik Ukir
Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika seni ukir masuk ke dalam kelompok seni rupa. Menariknya sampai saat ini daya minat masyarakat terhadap seni ukir cukup banyak. Hal ini tak lepas dari perkembangan seni ukir yang semakin beragam.
Banyak orang menggunakan seni ukir sebagai sarana dekoratif. Namun sebenarnya selain memiliki fungsi dekoratif, seni ukir juga memiliki beberapa fungsi lain lho. Di bawah ini merupakan ulasan terkait dengan beberapa fungsi dari seni ukir.
1. Fungsi Hias
Fungsi dari seni ukir yang pertama adalah sebagai hiasan. Hal ini karena teknik ukir bisa diterapkan pada berbagai macam benda. Contohnya adalah pada furniture, gerabah hingga hiasan dinding atau yang lainnya.
2. Fungsi Ekonomis
Dalam seni ukir akan ditemukan kecantikan tersendiri. Karena kecantikan inilah yang menjadikan seni ukir kerap diaplikasikan pada barang-barang kerajinan. Barang kerajinan yang sudah memiliki seni ukir di dalamnya ternyata mendapatkan minat yang cukup besar.
Dari tingkat peminatan yang cukup besar inilah yang bisa membuat kerajinan seni ukir memiliki nilai jual. Itu artinya seni ukir adalah salah satu karya seni yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis.
Para penduduk lokal di sekitaran tempat wisata kerap menjadikan seni ukir daerah setempat dalam bentuk souvenir. Karena souvenir seni ukir memiliki nilai jual tersendiri. Maka hal tersebut bisa dimanfaatkan sebagai mata pencaharian masyarakat setempat.
3. Fungsi Simbolik
Teknik ukir juga memiliki fungsi simbolik di dalamnya. Sampai saat ini seni ukir sudah menyebar ke setiap daerah yang ada di Indonesia. Teknik ukir yang dimiliki oleh setiap daerah selalu memiliki perbedaan dan juga ciri khas masing-masing.
Contohnya adalah seni ukir dari daerah Bali dan Toraja memiliki ciri khasnya tersendiri. Hal ini juga berlaku untuk daerah lain seperti dari daerah Jepara dengan seni ukir dari Suku Asmat Papua yang juga memiliki perbedaan ciri khas seni ukir.
Sejarah Seni Ukir Di Indonesia
Di Indonesia seni ukir dikenal sejak zaman batu muda (Neolitikum), yaitu sekitar tahun 1500 SM.
Motif dan pengerjaannya pun masih sangat sederhana, yaitu bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan.
Bahan utama dalam pembuatannya adalah tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit dan tanduk hewan.
Beralih pada zaman perunggu yakni sekitar 500-300 SM, ukiran yang dibuat oleh manusia pun terus mengalami perkembangan.
Tidak hanya dari segi model, tetapi bahan yang digunakan mengalami perubahan yaitu menggunakan perak, emas, perunggu, dsb.
Sedangakan motif yang berkembang dan digunakan pada zaman perunggu adalah motif mender, tumpal, pilih berganda, topeng, hingga binatang dan manusia.
- Motif meander ditemukan ditemukan pada nekara perunggu dari gunung merapi dekat Bima.
- Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT).
- Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu dari kerinci, Sumatera.
- Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba, Nusa Tenggara. Dan pada kapak perunggu dari danau sentani, Irian Jaya, pada motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang sedang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kekuatan jahat
- Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.
Untuk zaman modern seperti sekarang ini seni ukiran dapat kita temukan di berbagai tempat dan benda bersejarah lainnya, seperti, masjid, klenteng, batu nisan, alat musik, dan lain sebagainya.
Tags: kerajinan contoh