Kecantikan dalam Keterampilan - Menyelami Dunia Menenun dan DIY
Makna Budaya Menenun bagi First Nations
Poin Utama
- Benda tenun adalah penghubung nyata antara penenun, negara dan leluhur.
- Tenun digunakan sebagai alat perhatian dan untuk koneksi sosial.
- Penenun dapat memiliki gaya tanda tangan yang mengidentifikasi pekerjaan mereka.
- Baik pria maupun wanita menenun.
Benda-benda anyaman sama beragamnya dengan penenun Bangsa Pertama yang menciptakannya. Setiap karya adalah objek penting yang membentuk ikatan yang terlihat antara penenun, negara, dan nenek moyang mereka.
Tenun dimulai dengan mengumpulkan dan menyiapkan sumber daya lokal seperti alang-alang, kulit kayu dan tanaman. Ini ditenun untuk membentuk pola untuk membuat benda-benda rumit seperti keranjang, mangkuk, tali dan jaring.
“Menenun hanyalah satu kata dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa ibu pertama ada banyak kata yang berbeda untuk itu,” kata Cherie Johnson. Dia adalah seorang wanita Gomeroi, artis dan pendidik dari NSW Utara.
“Bagian yang sangat penting tentang apa yang kita sebut menenun adalah pengetahuan budaya yang disimpan dalam benda-benda - mengetahui tanaman apa yang harus dipetik, jam berapa dalam setahun, dan juga apa yang tersedia untuk panen untuk dimakan dengan cara yang benar-benar berkelanjutan.”
ADELAIDE, AUSTRALIA: An Indigenous weaving workshop takes place in The Precinct Village an AFLW match. Credit: Kelly Barnes/AFL Photos/via Getty Images
Suku Sasak di Desa Sade
Kehidupan suku Sasak masih tradisional, keseharian meraka bisa kita saksikan secara langsung hingga saat ini. Jika berkunjung ke Pulau Lombok, kita bisa berkunjung ke kawasan cagar budaya Desa Sade yang ada di Lombok Tengah. Daerah ini dihuni oleh sekitar 700 jiwa warga Sasak yang masih memegang erat tradisi dan budaya suku Sasak.
Akses menuju Desa Sade juga sangat mudah. Dari kota Mataram, hanya dibutuhkan waktu tempuh selama 30 menit. Sementara itu, dari Bandara Internasional cukup membutuhkan waktu 20 menit. Desa Sade tidak berada di pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan, melainkan lokasinya berada di pinggir jalan besar dengan akses yang mudah.
Disini wisatawan bisa menyaksikan langsung cara hidup masyarakat Sasak yang masih tradisional, mulai dari bangunan rumahnya, cara berpakaian, dan mata pencaharian mereka. Pria Sasak umumnya bermatapencaharian sebagai petani, sementara kaum wanitanya bekerja sebagai penenun. Hasil tenunan ini kemudian dijual sebagai souvenir khas Pulau Lombok.
1. Rumah Bale
Di Desa Bale setidaknya terdapat 150 bangunan rumah yang disebut bale. Bale-bale ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana. Rumah adat suku Sasak ini terbagi menajdi 3 bale dengan fungsi berbeda, antara lain:
- Bale Bonter, yaitu rumah untuk tempat tinggal para petinggi suku.
- Bale Kodong, yaitu rumah untuk tempat tinggal pengantin baru serta orangtua untuk menghabiskan hidupnya.
- Balet Tani, yaitu rumah untuk tempat tinggal keluarga dan keturunannya.
2. Pembagian Bale
Pada bangunan bale terdapat dua jenis ruangan yang fungsinya berbeda. Pertama adalah bale bagian luar atau disebut juga ruang tamu, tempat ini biasa digunakan untuk menerima tamu dan kamar tidur. Bagian depan sebelah kanan digunakan oleh ayah dan ibu, sedangkan kiri digunakan untuk tempat tidur laki-lika serta terdapat rak untuk menyimpan benda pusaka.
Kepercayaan Suku Sasak
Keunikan dalam kegiatan sosial dari masyarakat Sasak salah satunya pada acara pernikahan. Biasanya mereka menikah dengan orang yang berasal dari desa yang sama.
Kebiasaan ini dilatarbelakangi kepercayaan apabila seorang pria menikahi gadis dari desa lain, maka harus membayarkan semacam mahar berupa beberapa ekor kerbau dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Uniknya, suku Sasak memiliki tradisi kawin lari saat akan menikah. Kawin lari terjadi hanya apabila seorang pria dan wanita sudah suka sama suka dan setuju untuk menikah. Adat ini dikenal dengan nama Merarik.
baca juga: Hutan Adat di Indonesia - Pengertian, Contoh Polemik & PemetaanKeesokan harinya, barulah keluarga pihak pria mengirim utusan kepada keluarga wanita untuk memberitahukan bahwa anaknya berada di tempat mereka. Pemberitahuan ini disebut Nyelabar.
Tempat si wanita berada harus tetap dirahasiakan dari keluarga pihak wanita. Pada saat Nyelabar, orang tua si pria tidak boleh ikut. Rombongan Nyelabar biasanya terdiri dari 5 orang. Mereka pergi ke tempat ketua adat setempat yang disebut Kliang sebagai bentuk penghormatan pada Kliang, sekaligus meminta izin.
Sebenarnya cara pernikahan yang biasa dengan meminta izin orangtua pun juga ada di suku Sasak, yakni disebut Redaq. Redaq adalah cara yang lebih terhormat dan pantas dilakukan. Namun, proses ini justru jarang ditemukan. Penyebabnya adalah adanya kemungkinan orangtua perempuan akan menolak pinangan pihak pria. Selain itu, Redaq juga membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan Merarik.
Tags: gambar