Kecantikan dalam Keterampilan - Menyelami Dunia Menenun dan DIY
Proses pembuatan [ sunting | sunting sumber ]
Seorang warga menggunakan kain ikat di Kampung Adat Nualain.- ^ Ariani, Novi (2020-03-05). "Fungsi Kain Tenun NTT". Toko Tenun (dalam bahasa Inggris) . Diakses tanggal 2020-07-11 .
- ^"Vesam Etnik Nusantara – Tenun Nagekeo Motor Berkembangnya Ekonomi Kreatif Masyarakat". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-01 . Diakses tanggal 2017-03-13 .
- ^ Usfinit, Alexander Un D.V.K.: "Maubes-Insana: salah satu masyarakat di Timor dengan struktur adat yang unik". Penerbit Kanisius, 2003. ISBN 978-979-66-9484-5
- Halaman ini terakhir diubah pada 28 November 2023, pukul 11.17.
- Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons, ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut.
- Kebijakan privasi
- Tentang Wikipedia
- Penyangkalan
- Kode Etik
- Pengembang
- Statistik
- Pernyataan kuki
- Tampilan seluler
Suku Sasak di Desa Sade
Kehidupan suku Sasak masih tradisional, keseharian meraka bisa kita saksikan secara langsung hingga saat ini. Jika berkunjung ke Pulau Lombok, kita bisa berkunjung ke kawasan cagar budaya Desa Sade yang ada di Lombok Tengah. Daerah ini dihuni oleh sekitar 700 jiwa warga Sasak yang masih memegang erat tradisi dan budaya suku Sasak.
Akses menuju Desa Sade juga sangat mudah. Dari kota Mataram, hanya dibutuhkan waktu tempuh selama 30 menit. Sementara itu, dari Bandara Internasional cukup membutuhkan waktu 20 menit. Desa Sade tidak berada di pedalaman yang sulit dijangkau kendaraan, melainkan lokasinya berada di pinggir jalan besar dengan akses yang mudah.
Disini wisatawan bisa menyaksikan langsung cara hidup masyarakat Sasak yang masih tradisional, mulai dari bangunan rumahnya, cara berpakaian, dan mata pencaharian mereka. Pria Sasak umumnya bermatapencaharian sebagai petani, sementara kaum wanitanya bekerja sebagai penenun. Hasil tenunan ini kemudian dijual sebagai souvenir khas Pulau Lombok.
1. Rumah Bale
Di Desa Bale setidaknya terdapat 150 bangunan rumah yang disebut bale. Bale-bale ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana. Rumah adat suku Sasak ini terbagi menajdi 3 bale dengan fungsi berbeda, antara lain:
- Bale Bonter, yaitu rumah untuk tempat tinggal para petinggi suku.
- Bale Kodong, yaitu rumah untuk tempat tinggal pengantin baru serta orangtua untuk menghabiskan hidupnya.
- Balet Tani, yaitu rumah untuk tempat tinggal keluarga dan keturunannya.
2. Pembagian Bale
Pada bangunan bale terdapat dua jenis ruangan yang fungsinya berbeda. Pertama adalah bale bagian luar atau disebut juga ruang tamu, tempat ini biasa digunakan untuk menerima tamu dan kamar tidur. Bagian depan sebelah kanan digunakan oleh ayah dan ibu, sedangkan kiri digunakan untuk tempat tidur laki-lika serta terdapat rak untuk menyimpan benda pusaka.
Kepercayaan Suku Sasak
Keunikan dalam kegiatan sosial dari masyarakat Sasak salah satunya pada acara pernikahan. Biasanya mereka menikah dengan orang yang berasal dari desa yang sama.
Kebiasaan ini dilatarbelakangi kepercayaan apabila seorang pria menikahi gadis dari desa lain, maka harus membayarkan semacam mahar berupa beberapa ekor kerbau dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Uniknya, suku Sasak memiliki tradisi kawin lari saat akan menikah. Kawin lari terjadi hanya apabila seorang pria dan wanita sudah suka sama suka dan setuju untuk menikah. Adat ini dikenal dengan nama Merarik.
baca juga: Hutan Adat di Indonesia - Pengertian, Contoh Polemik & PemetaanKeesokan harinya, barulah keluarga pihak pria mengirim utusan kepada keluarga wanita untuk memberitahukan bahwa anaknya berada di tempat mereka. Pemberitahuan ini disebut Nyelabar.
Tempat si wanita berada harus tetap dirahasiakan dari keluarga pihak wanita. Pada saat Nyelabar, orang tua si pria tidak boleh ikut. Rombongan Nyelabar biasanya terdiri dari 5 orang. Mereka pergi ke tempat ketua adat setempat yang disebut Kliang sebagai bentuk penghormatan pada Kliang, sekaligus meminta izin.
Sebenarnya cara pernikahan yang biasa dengan meminta izin orangtua pun juga ada di suku Sasak, yakni disebut Redaq. Redaq adalah cara yang lebih terhormat dan pantas dilakukan. Namun, proses ini justru jarang ditemukan. Penyebabnya adalah adanya kemungkinan orangtua perempuan akan menolak pinangan pihak pria. Selain itu, Redaq juga membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan Merarik.
Sejarah dan perkembangan kerajinan tenun di Indonesia
diskominfo.kaltimprov.go.id Kain Tenun Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kain Tenun bermotif Songke menjadi daya tarik menggaet wisatawan Nusa tara dan mancanegara untuk belajar menenun, identitas, nilai, makna dibalik motif-motif, Senin, (15/8/2022). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)
| Jenis kain tenun | Asal daerah |
| Kain tenun Sambas | Kalimantan Barat |
| Kain tenun Donggala | Sulawesi Tengah |
| Kain tenun Gringsing | Bali |
| Kain Hinggi | Nusa Tenggara Timur |
| Kain tenun Toraja | Sulawesi Selatan |
| Kain tenun songket Sukarara | Nusa Tenggara Barat |
| Kain songket Palembang | Sumatera Selatan |
| Kain tapis | Lampung |
| Kain tenun Ulos | Sumatera Utara |
| Kain songket Minangkabau | Sumatera Barat |
| Kain tenun Troso Jepara | Jawa Tengah |
| Kain tentun Doyo | Kalimantan Timur |
Suka baca tulisan-tulisan seperti ini? Bantu kami meningkatkan kualitas dengan mengisi survei Manfaat Kolom Skola
Tags: gambar