Seni Kreatif - Mengenal Bahan-bahan di Balik Keindahan Gelang Tridatu
Benang Tridatu dalam Upacara Agama Hindu
Penggunaan benang Tri Datu sering ditemukan dalam upakara dan upacara agama Hindu. Dalam upacara Bhuta Yadnya, benang Tri Datu dipakai pemogpog atau pelengkap atas kekurangan persembahan yang dilaksanakan. Pada pelaksanaan upacara Rsi Yadnya, benang Tri Datu yang digunakan sebagai selempang pada tubuh yang di diksa atau winten sebagai pawitra dari nabe kepada sisya. Sedangkan pada upacara Manusa Yadnya, benang Tri Datu digunakan sebagai lambang panugrahan. Dalam upacara Dewa Yajna, benang Tri Datu difungsikan sebagai sarana nuntun Ida Sang Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Selain itu, benang Tri Datu juga digunakan sebagai alat atau media penghubung antara pemuja dan yang dipuja.
Memakai benang pawitra berwarna Tri Datu juga bermakna pengikatan diri terhadap norma-norma agama. Walau begitu, pemakaian gelang Tridatu khas Bali memang tidak terbatas hanya boleh dikenakan untuk umat Hindu saja. Para penganut agama lain juga diperbolehkan untuk mengenakan gelang ini, hanya saja harus memperhatikan cara mengenakannya yang tidak bisa sembarangan. Salah satunya dilarang mengenakan gelang Tridatu di pergelangan kaki, karena bisa menjadi salah satu bentuk pelecehan terhadap simbol agama bagi masyarakat Hindu. Sumber:
denpasarkota.go.id
undwi.ac.id
sonora.id
BRIDA Bali Didorong Tingkatkan Ekosistem Inovasi Berbasis Riset, Maksimalkan Peran OPD
Ketiga warna benang yang digunakan dalam pembuatan gelang tridatu menjadi manifestasi Ida Sang Hyang Widhi. Tiga warna benang tersebut melambangkan kesucian Tuhan dalam manifestasinya, yaitu sebagai Brahma (pencipta) yang dilambangkan dengan warna merah, Wisnu (pemelihara) yang dilambangkan dengan warna hitam, dan Dewa Siwa (pelebur) yang dilambangkan dengan warna putih.
Selain itu, gelang tridatu juga melambangkan Tri Kona yang merupakan tiga perjalanan hidup di dunia, yaitu lahir, hidup dan mati. Dengan mengenakan gelang tridatu, diharapkan manusia akan semakin mawas diri tentang perjalanan hidup dan selalu ingat akan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
Gelang tridatu memiliki sejarah tersendiri, sehingga sangat spesial bagi masyarakat Hindu di Bali. Gelang tridatu muncul pada abad ke-14 dan 15 ketika berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit dengan Dalem Waturenggong sebagai rajanya.
Kala itu, Raja Gelgel melakukan penyerangan ke Nusa Penida dengan mengirim Ki Patih Jelantik untuk melawan Ki Dalem Bungkut. Kekalahan Ki Dalem Bungkut membuat membuat ia terpaksa melakukan kesepakatan dengan Raja Gelgel.
Keributan ini membuat Ratu Gede Mecaling memutuskan untuk melindungi umat Hindu yang masih taat dan berbakti pada leluhur. Sedangkan bagi yang sudah lalai dan melanggar berbakti kepada leluhur akan dihukum oleh Ratu Gede Mecaling.
Gelang tridatu dibuat untuk menandai warga yang taat dan bakti kepada leluhur, sehingga tidak dikenakan hukuman. Sejak saat itu gelang tridatu dipercaya merupakan anugerah untuk menjauhkan diri dari bahaya.
Sedangkan, dalam kitab kuno lontar agastya parwa, gelang tridatu digunakan sebagai sarana perlindungan dari kekuatan negatif. Tujuannya agar manusia bisa terhindar dari hal-hal negatif dan bisa berpikir lebih bijaksana.
Keistimewaan gelang tridatu juga terdapat pada jalinan benangnya yang tidak dibuat secara sembarangan. Jalinan benang tridatu dapat dikatakan benar bila ukuran benangnya sama dan dijalin saling ikat, dan tidak terlepas begitu saja.
Gelang Kerang
Siapa sangka kerang juga cocok sebagai aksesoris, apalagi jika kamu membeli gelang ini untuk oleh-oleh. Gelang kerang sendiri terbuat dari kerang-kerang laut yang sudah dirangkai sedemikian rupa. Kerang-kerang yang didapat juga masih mempertahankan warna asli atau bahkan sudah ada yang dimodifikasi.
tentunya gelang jenis datu ini sangat cantik jika dipadupadankan dengan outfit yang kamu pakai. Bukan hanya gelangnya saja, kamu bisa menggunakan kalung atau bahkan cincin yang terbuat dari kerang.
Tertarik? Kamu bisa membelinya di pusat oleh-oleh The Keranjang Bali dengan beragam pilihan warna dan berbagai harga yang kamu inginkan. Jangan lupa beli untuk oleh-oleh orang terkasih, ya!
Gelang Mote-mote
Mungkin sebagian orang masih asing dengan gelang mote-mote ini. Variasi yang dimiliki gelang mote-mote sendiri beragam. Ada gelang yang terdiri atas kawat dengan rangkaian mote dan bunga keramik atau mote-mote dengan variasi batu keramik. Apalagi jika kamu suka dengan desain yang artistik, gelang ini bisa menjadi pilihannya.
Itulah beberapa jenis, model, dan filosofi dari gelang khas Bali. Selain sebagai aksesoris, gelang juga dapat menjadi simbol. Kamu bisa membeli gelang sebagai oleh-oleh maupun simbol kepada orang yang tersayang. Pastikan kamu membeli jenis gelang Bali yang sesuai dengan keinginanmu, ya!
Semua dapat diperoleh dengan mudah hanya di tempat oleh-oleh The keranjang Bali. Tidak hanya itu saja, untuk penataan gelang display tertera dengan apik dan diberikan makna dari setiap jenis gelang. Jadi, kamu tidak perlu bingung lagi dan pastinya pengunjung bisa teredukasi!
Tempat yang disediakan The Keranjang Bali juga sangat nyaman. Fasilitas tempat juga lengkap, mulai dari kids area, mushola yang dapat menampung sampai 300 orang, bahkan tempat khusus yang dapat dijadikan berbagai event atau event catering dengan kapasitas 300 orang yang sudah termasuk LED, lighting, dan sound system.
The Keranjang Bali yang beralamat di Jalan bypass Ngurah Rai No. 97/ Jalan Raya Tuban No. 92 Kuta Bali (5 menit dari Bandara). The Keranjang Bali buka hari senin s/d kamis jam 09.30-21.00, hari Jum’at jam 09.30-22.00, sedangkan hari Sabtu dan Minggu jam 09.00-22.00.
Penulis:
Tags: dari benang