... Jual Tali Macrame Jogja: Temukan Panduan DIY dan Inspirasi Kerajinan Tangan di Yogyakarta

Seni Tali Macrame - Panduan Lengkap dan Sumber Terbaik di Jogja

Zenko Textile

Tokonya terletak di sebelah Utara jalan. Space parkir motor tersedia cukup lega di bagian depan toko. Parkir kendaraan roda empat juga bisa di bagian depan toko persis maupun di sebelah depan kanan-kirinya. Parkiran mudah diakses. Bagian depan toko tersedia tempat cuci tangan untuk memenuhi penerapan protokol kesehatan yang baik.Toko luas. Bersih. Tersedia tempat duduk sebagai ruang tunggu. Pelayanan cepat dan cekatan tetapi juga ramah. Aneka model dan jenis kain lengkap tersedia di sini. Apabila bingung belum menemukan jenis yang dicari, pagawai toko dengan sigap memandu dan mencarikan jenis yang dimaksudHarga bersaing murahnya. Bersahabat dengan kantong. Bagian kasir ada sekat pelindung yang memisahkan jarak antara petugas kasir dengan pembeli. Protokol kesehatan dilaksanakan dengan cermat di sini. Overall semuanya oke dan mantaps. Lhaslheskan.

langganan sejak lama..sejak toko masih di tempat lama. paling syuka krn harganya bisa dpt lebih murah klo dah langganan. bahkan gk perlu nawar klo dah biasa belanja, lgsg dikasih harga murah. pelayanannya bagus,ramah2. sampe ownernya jg ramah bgt.

Pelayanan sangat baik, harganya terjangkau. Jenis lainnya juga banyak pilihan.

pelayanan nya bagus,. kain nya bnyk yg murah bagus2 dan cantik² 😂😂 dan makasih minum gratis nya 😘

Langganan beli bahan disini karena murah bos

Sejarah Awal Makrame

Para sejarawan meyakini bahwa kesenian makrame pertama kali muncul sekitar abad ke-13 di kalangan para penenun Arab. Kata makrame sendiri sejatinya berasal dari bahasa Arab mucharam yang berarti kisi-kisi atau susunan.

Sebelum kemunculannya, kesenian dari simpul tali memang sudah ada, namun belum menjadi sesuatu yang praktikal dan dapat digunakan seperti hasil karya makrame yang kala itu bisa menjadi shawl hingga handuk.

Selanjutnya, kesenian makrame mulai dibawa ke tanah Eropa, utamanya oleh para pelayar bangsa Moor selama perjalanan mereka dari Afrika Utara. Para pelayar tersebut menyibukkan diri dengan makrame agar tidak bosan dalam mengarungi laut lepas selama kurun waktu yang lama.

Berbagai barang dan simpul yang lebih rumit berhasil mereka temukan. Makrame kemudian pertama kali diperkenalkan di Spanyol pada abad 15, kemudian Italia di abad ke-16.

Bikinnya mudah, Widiartati pun belajar mengkreasikan macrame secara otodidak nih

Doc Widiartati Adinegoro

Pertama kali membuat macrame, Widiartati belajar dari YouTube secara mandiri. Sambil melihat Youtube, dia memegang tali. Tali yang dia gunakan adalah tali pramuka bekas camping yang dipotong-potong. Memang, tali yang paling murah untuk membuat macrame adalah tali kur.

Editor’s picks

“Kebanyakan orang liat video tutorial terus tapi gak langsung dipraktekkin,” tutur Widiartati. “Lihat boleh, tapi sebaiknya sambil dicoba,” katanya, menambahkan.

Saat awal-awal membuat macrame, Widiartati pun tak luput dari banyak kesalahan. Seringkali kesalahan tersebut terjadi karena faktor lupa. Hingga akhirnya dia memotivasi diri-sendiri bahwa macramenya harus jadi apapun hasilnya.

Dia berkata, ”Mau jadinya kecil atau gimana, intinya harus jadi. Jangan sampai menggantung. Sebab, orang pasti akan lupa atau malah malas untuk memulai kembali apa yang sudah dia kerjakan sebelumnya.”

Dengan pengalamannya sekitar 1,5 tahun membuat sekaligus mengajar macrame, Widiartati menemukan bahwa untuk menguasai simpul-menyimpul diperlukan kemauan untuk terus menyimpul sehingga tangan akan hapal dengan sendirinya.

“Kalau kita bikin Macrame terus berhenti di tengah jalan, terus sambung lagi berhenti lagi, dst, kita gak akan inget-inget,” tegas Widiartati.


Tags: jual jogja

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia