... Cara Sulam Kain Songket Palembang dengan Benang Berwarna: Panduan DIY

Kain Songket Palembang - Keindahan Sulaman dengan Benang Berwarna

Cara Pembuatan Kain Songket

Pada dasarnya, baik kain songket maupun tenun ikat tidak berbeda jauh. Keduanya sama-sama dibuat dengan menganyam dua jenis bening yang lajurnya dibuat vertikal dan horizontal melalui bantuan alat dan bilah-bilah kayu.

Hanya saja, pada songket, ada teknik tambahan berupa penyukitan atau teknik cukit, yakni ada bagian benang yang sebelum dianyamankan ke jalur yang lain diangkat dan setengah dipelintir terlebih dahulu menggunakan sebuah alat. Namun, teknik ini tidak berpengaruh besar pada tekstur songket.

Yang paling membedakan songket dengan jenis kain tenun biasa tak lain pada jenis benang yang dipakai. Pada songket, selalu ada benang emas atau benang perak yang terhias pada permukaan kain. Benang emas dan perak ini merupakan benang yang berasal dari kepompong ulat sutera. Hal inilah yang membuat kain songket sangat mahal.

Demikianlah informasi tentang sejarah dan persebaran kain songket serta bagaimana pembuatan kain tenun Songket. semoga bermanfaat.

Sejarah Kain Songket Palembang

Sejarah kain songket tidak terlepas dari legenda kerajaan Sriwijaya. Pada jaman kerajaan Sriwijaya meninggalkan sebuah warisan yaitu kain tenun yang biasa disebut songket. Kain songket merupakan kain khas dari masyarakat daerah Sumatra Selatan.

Bukti dari kain songket sudah ada sejak jaman kerajaan sriwijaya yaitu adanya arca yang menggunakan kain songket. Menurut sebagian masyarakat Sumatra, kain songket ini dipengaruhi oleh perdagangan tiongkok yang membawa benang sutra oleh pedagang India.

Ada juga benang perak untuk mempercantik. Semua benang tersebut di tenun menggunakan pola yang rumit dengan alat tenun. Menenun merupakan kegiatan turun temurun pada masyarakat sumatra selatan.

Belajar menenun secara singkat akan sangat sulit, maka dari itu masyarakat sumatra selatan mengajarkan anak anak mereka terutama kaum perempuan untuk belajar menenun sejak kecil.

Kain songket ini memiliki kualitas yang bagus dan dapat bertahan selama berpuluh puluh tahun, biasanya kain songket warisan turun temurun. Hingga saat ini kain songket masih bisa kita temukan, dikarenakan kain ini diwariskan secara turun temurun. Maka dari itu keberadaannya masih tetap dijaga dan dilestarikan.

Motif Kain Songket Palembang

  • Motif Bunga Melati

Motif dari bunga melati memiliki makna atau filosofi yang melambangkan kesucian, budi pekerti yang luhur dan juga sopan santun. Biasanya kain songket dengan motif bunga melati ini digunakan oleh putri yang belum menikah.

  • Motif Bunga Mawar

Motif bunga mawar memiliki filosofi yaitu menolak marabahaya dan juga dijauhkan dari hal hal yang tidak baik. Kain songket dengan motif bunga mawar ini biasanya digunakan pada saat cukur bayi dan juga untuk selimut bayi.

  • Motif Bunga Tanjung

Motif bunga tanjung memiliki filosofi yaitu keramahan. Kain songket dengan motif bunga tanjung ini biasanya digunakan untuk menyambut tamu yang datang dan menyimbolkan sebagai ucapan selamat datang.

  • Motif Pucuk Rebung

Motif pucuk rebung ini memiliki filodofi yaitu harapan masa depan yang baik dan cerah. Rebung sendiri berarti bambu yang kuat, kokoh dan tidak goyah oleh apapun. Motif pucuk rebung ini biasanya digunakan pada bagian kepala.

Baca Juga

Motifnya pun bukan sembarang dibuat. Setiap motif memiliki ciri khas sendiri dan memiliki tujuan dalam pembuatannya. Beberapa motif bahkan hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu atau mengikuti aturan tertentu.

Menurut pelestari kain tradisional dan penggiat budaya Palembang, Mirza Indah Dewi, S.Pd atau akrab disapa dengan panggilan Iin, Sumsel terutama Palembang kaya akan ragam kain tradisionalnya.

“Penggunaan kata kain sendiri untuk orang Palembang asli lebih sering disebut sewet kain ( sewet ) songket menurut salah satu versi berasal dari kata "tusuk " dan "cukit " yang berubah "sukit" kemudian menjadi "sungki " dan perkembangan selanjutnya akhirnya menjadi "songket"," kata putri dari maestro penari Sumsel , Hj Masayu Anna Kumari ini dalam Webinar Bincang Pusaka 14 yang di gelar Komunitas Sahabat Cagar Budaya Palembang dengan judul Songket , Motif Kuno dan Penggunaannya, Sabtu (11/9).

Dalam kesempatan tersebut Iin juga menampilkan dan mengenalkan jenis dan motif songket kuno koleksi keluarganya milik Hj Masayu Anna Kumari yang merupakan peninggalan dari buyut Hj Masayu Anna Kumari.

Iin sendiri merupakan generasi ke 5 yang ikut menjaga dan melestarikan songket- songket kuno tersebut .

Menurut Iin, songket sudah dikenal sejak zaman Sriwijaya dan zaman Kesultanan Palembang Darussalam, pada masa ini kekayaan emas cukup berlimpah, sehingga emas digunakan untuk bahan dasar benang kain Songket.

Sejak kapan songket mulai ada di Palembang, tentunya memerlukan analisis yang lebih mendalam.

"Salah satu pendapat mengatakan bahwa songket sudah dikenal sejak zaman Sriwijaya, pendapat ini didukung oleh motif-motif yang terdapat dalam kain songket Palembang yang menggunakan binatang sebagai bagian dari motif, tentunya masa ini adalah sebelum Islam berkembang di Palembang dan zaman Kesultanan Palembang Darussalam, karena motif-motif pada masa tersebut lebih dominan ke motif tumbuh-tumbuhan dari pada binatang," katanya.


Tags: benang sulam

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia