Kain Tapis Lampung - Keindahan dan Kreativitas dalam Seni Sulam Benang
Sentra Kain Tapis Lampung
Seiring dengan kian tingginya minat masyarakat terhadap eksistensi kain tapis Lampung yang dipadupadankan dengan berbagai busana hingga dijadikan sebagai kombinasi yang menghasilkan keindahan luar biasa, maka keberadaan pengrajin kain tapis Lampung pun kian dihargai sebagai sebuah warisan luhur yang harus dilestarikan.
Di Lampung sendiri, terdapat sebuah desa di Kabupaten Pesawaran yang dikenal sebagai sentra kain tapis Lampung, yakni di Desa Negeri Katon, Kecamatan Negeri Katon, Pesawaran.
Adalah Redawati, penggagas sekaligus koordinator Tapis Jejama yang menjadi tempat berhimpun bagi para pengrajin kain tapis di desa itu.
Eksistensi para pengrajin kain tapis di desa ini bahkan sudah berlangsung sejak tahun 1980 lalu dan sampai saat ini masih tetap lestari dan menjadi salah satu sumber penghasilan warga khususnya kaum perempuan di desa setempat.
Menurut Redawati, pada zaman dahulu, tak banyak pengrajin tapis di Desa Negeri Katon mengingat harga penjualan tapis cenderung murah meskipun hampir sebagian besar kaum perempuannya rata-rata memiliki keahlian membuat kain tapis.
"Waktu dulu masih murah sih tapisnya, upahnya saja hanya Rp5 ribu seminggu. Sekarang ibu-ibu di sini yang mengerjakan untuk sambilan (sampingan), jadi selesai masak dan beres-beres rumah baru buat tapis," kata Redawati.
Kain tapis di Desa Negeri Katon ini merupakan khas Pepadun, dan di Lampung sendiri ada dua kabupaten yang memproduksi tapis yaitu Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Pesisir Barat.
Bahan dan Alat Tenun Kain Tapis Lampung
Sama seperti kecenderungan motif kain tapis yang terus berkembang. Bahan dan alat tenun untuk membuat kain tapis Lampung juga terus berubah menyesuaikan perkembangan zaman, hal ini umumnya lebih mengacu kepada kepraktisannya mengingat proses pembuatan kain tapis Lampung membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Bahan-bahan seperti benang katun yang berasal dari tanaman kapas dan digunakan dalam pembuatan kain tapis.
Sedangkan benang emas digunakan dalam membuat ragam motif pada tapis dengan sistem sulam. Di masa lampau, sampai dengan tahun 1950, para pengrajin kain tapis masih menggunakan bahan-bahan yang mereka buat dari hasil olahannya sendiri, khususnya bahan tenun hal inilah yang membuat kain tapis Lampung jadi terasa lebih istimewa dan sarat makna.
Bahan-bahan dasar kain tenun tapis Lampung adalah tanaman kapas untuk membuat benang, kepompong ulat sutera sebagai sumber pembuatan benang sutera, lilin sarang lebah untuk meregangkan benang, tanaman akar serai wangi untuk pengawet benang, dan penggunaan daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur.
Pewarna kain tapis terbuat dari pewarna alami yang berasal dari tanaman yang terdiri dari buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal (warna merah), kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan (warna hitam), kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian (warna coklat), buah deduku atau daun talom (warna biru), dan kunyit serta kapur sirih (warna kuning).
Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan tenun tapis yaitu sesang, alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh merupakan alat untuk menenun kain tapis. Mattakh memiliki beberapa bagian yaitu terikan, cacap, belida, kusuran, apik, guyun, ijan atau penekan, sekeli, terupong atau teropong, amben, dan tekang.
Tags: dari benang yang lampu celup