Kain Tapis Lampung - Keindahan dan Kreativitas dalam Seni Sulam Benang
Makna Simbolik Kain Tapis
Kain tapis biasanya dikenakan pada acara resmi di Lampung, seperti pengambilan gelar, keagamaan, hingga ritual-ritual adat. Kain tapis juga termasuk perangkat dan dan bagian dari pusaka keluarga. Kain tapis mampu mencegah adanya kotoran luar sehingga masyarakat menganggap kain tapis sebagai lambang kesucian. Dilihat dari motif, kain tapis juga menunjukkan status sosial penggunanya. Motif dan warna kain dasar dipercaya sebagai cerminan kebesaran Sang Pencipta, jika dilihat secara utuh.
Awalnya, kain tapis bermotif kapal didesain untuk menghormati leluhur sebagai gambaran kehidupan manusia dari awal hingga akhirnya meninggal. Penggunaan kain tapis awalnya hanya untuk acara keagamaan saja. Simbol-simbol pada kain tapis diartikan sebagai penghubung dari berbagai makna pelaksanaan upacara adat di sepanjang kehidupan manusia. Dalam upacara adat, kain tapis sebagai pelengkap yang menggambarkan kesucian dan keagungan sebuah upacara adat.
Kain tapis juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat Lampung, namun harus tetap hati-hati dan tetap berada dalam aspek lokalitasnya. Pengerjaan kain tapis, memerlukan ketekunan, ketlitian dan kesabaran, sehingga terwujudlah kain tenun tapis yang indah dan kaya makna. Adanya kerja sama yang baik dapat mempersingkat proses pembuatan kain tapis.
Kain Tapis Lampung untuk Berbagai Prosesi dan Kelas Sosialnya
Tinggi dan luhurnya budaya Lampung kala itu juga membagi strata sosial pada kain tapis hingga pengguna dari kain tapis itu sendiri.
Kain tapis dibagi lagi berdasarkan jenis prosesi yang digelar, maka dari itu jenis kain tapis yang digunakan juga berbeda-beda pun dengan pengguna kain tapisnya dalam hal lapisan sosial dan statusnya di masyarakat adat dan keluarga.
Misalnya, untuk kain tapis yang memiliki motif Tapis Agheng, Tapis Kaca, dan Cucuk Pinggir dikenakan pada wanita atau istri tua.
Sedangkan untuk prosesi pernikahan, maka pengantin akan menggunakan kain tapis jenis Tapis Jung Sarat, Raja Tunggal, Dewasano, Raja Medal, Limar Sekebar, Ratu Tulang Bawang, dan Cucuk Semako.
Penggunaan kain tapis juga cukup ketat penggunaannya khusus bagi para penari misalnya, penari cangget (tarian menyambut tamu) tapis yang digunakan memiliki motif Tapis Balak, Bintang Perak, Pucung Rebung, Kibang, dan Lawek Linau.
Tiap motif, penggunaan serta penggunanya ini sudah diatur dalam adat itu sendiri baik secara tersirat maupun tersurat, sehingga penggunanya memang harus hati-hati dalam memilih dan menggunakan kain tapis yang sesuai dengan aturan adat karena ini menyangkut kepatuhan hingga sanksi yang diberlakukan oleh masyarakat adat Lampung.
40 Soal SBK Kelas 4 dan Kunci Jawaban (Kurikulum 2013)
Kumpulan bank soal SBK Kelas 4 SD dan kunci jawaban kurikulum 2013 (pilihan ganda, essay, uraian). Soal SD atau MI yang akan kami sampaikan kali ini yaiu soal mata pelajaraan Seni Budaya Keterampilan yang biasanya disingkat SBK kelas 4 SD. Ada beberapa kompetensi dasar (kisi kisi soal) yang kami gunakan sebagai dasar dalam penyusunan soal ini, antara lain :
1) Makna seni rupa terapan, 2) gambar ilustrasi dengan tema benda alam: buah-buahan, tangkai, kerang, dsb, 3) berbagai ragam lagu dan alat musik ritmis, 4) Mengidentifikasi gerak, busana, dan perlengkapan tari Nusantara daerah setempat, 5) peragaan tari Nusantara daerah setempat, 6) jenis karya kerajinan Nusantara, 7) karya kerajinan dengan memanfaatkan teknik atau motif hias Nusantara.
Bahan dan Alat Tenun Kain Tapis Lampung
Sama seperti kecenderungan motif kain tapis yang terus berkembang. Bahan dan alat tenun untuk membuat kain tapis Lampung juga terus berubah menyesuaikan perkembangan zaman, hal ini umumnya lebih mengacu kepada kepraktisannya mengingat proses pembuatan kain tapis Lampung membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Bahan-bahan seperti benang katun yang berasal dari tanaman kapas dan digunakan dalam pembuatan kain tapis.
Sedangkan benang emas digunakan dalam membuat ragam motif pada tapis dengan sistem sulam. Di masa lampau, sampai dengan tahun 1950, para pengrajin kain tapis masih menggunakan bahan-bahan yang mereka buat dari hasil olahannya sendiri, khususnya bahan tenun hal inilah yang membuat kain tapis Lampung jadi terasa lebih istimewa dan sarat makna.
Bahan-bahan dasar kain tenun tapis Lampung adalah tanaman kapas untuk membuat benang, kepompong ulat sutera sebagai sumber pembuatan benang sutera, lilin sarang lebah untuk meregangkan benang, tanaman akar serai wangi untuk pengawet benang, dan penggunaan daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur.
Pewarna kain tapis terbuat dari pewarna alami yang berasal dari tanaman yang terdiri dari buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal (warna merah), kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan (warna hitam), kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian (warna coklat), buah deduku atau daun talom (warna biru), dan kunyit serta kapur sirih (warna kuning).
Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan tenun tapis yaitu sesang, alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh merupakan alat untuk menenun kain tapis. Mattakh memiliki beberapa bagian yaitu terikan, cacap, belida, kusuran, apik, guyun, ijan atau penekan, sekeli, terupong atau teropong, amben, dan tekang.
Tags: dari benang yang lampu celup