Kaligrafi Ukiran Kayu - Seni Indah dalam Kerajinan Tusuk dan DIY
Alasan Kenapa Anda Mesti Menambahkan Hiasan Dinding Berupa Kaligrafi
Tentu ini ditujukan bagi Anda yang muslim ya, bahwa memasang hiasan dinding kaligrafi sepertinya sudah bukan ide baru lagi.
Kaligrafi sendiri adalah bentuk seni yang berupa tulisan arab. Di tulis dengan sedemikian rupa, sehingga bentuknya indah dan memberikan tulisan dengan nilai seni yang tinggi.
Karya seni ini memang sudah berkembang pesat dengan bentuk yang semakin menarik. Tidak heran jika banyak rumah bergaya desain mdeorn saat ini mengadospi hian dindingnya berupa kaligrafi.
Selain mendapatkan kesan indah yang tidak biasa, menambahkan hiasan dinding kaligrafi juga punya nilai religius.
Tentu tujuannya bukan untuk pamer, namun tidak ada salahnya jika tujuannya adalah untuk membuat tamu yang berkunjung jadi terkesan.
Termasuk juga membantu mereka ingat dengan nilai-nilai religiusitas yang tersampaikan secara tersirat memalui tulisan arab pada kaligrafi tersebut.
Nah, bicara soal modelnya, kaligrafi sendiri ada yang dibuat di atas kain, ada pula yang di atas kayu. Kali ini yang akan kita bahas adalah ukiran kaligrafi kayu yang lebih populer di pasaran.
Harapannya, hiasan dinding kaligrafi ini bisa Anda adopsi sebagai hiasan terbaik di rumah minimalis Anda.
Sejarah Seni Ukir Jepara
Legenda mengenai pelukis dan pengukir dari jaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit diceritakan secara turun-temurun di Kota Jepara. Sehingga masyarakat percaya bahwa sejarah awal seni ukir Jepara ada di Kota Jepara.
Pada konon dahulu, ada seorang ahli lukis dan ukir yang bernama Prabangkara. Ia dipanggil oleh sang raja untuk melukis istrinya tanpa busana sebagai wujud cinta sang raja.
Sebagai pelukis dan pengukir ia harus melukis hanya melalui imajinasinya saja tanpa melihat istri raja.
Prabangkara melakukan tugasnya dengan sempurna sampai ada kotoran cicak yang jatuh mengenai lukisan tersebut. Sehingga lukisan istri raja tersebut memiliki tahi lalat.
Raja sangat puas dengan hasil karya dari Prabangkara, namun saat raja melihat ada tahi lalat tersebut marahlah sang raja.
Raja menuduh bahwa Prabangkara melihat sang istri tanpa busana, karena tahi lalat tersebut sama dengan kenyataannya.
Akhirnya dihukumlah Prabangkara dengan diikat kemudian diterbangkan. Lalu ia jatuh di sebuah desa yang bernama Mulyoharjo.
Prabangkara lalu mengajarkan ilmu lukis dan ukirnya kepada masyarakat Jepara hingga sekarang. Ukiran Jepara sebenarnya sudah ada sejak jaman pemerintahan Ratu Kalinyamat. Di jaman ini kesenian ukir berkembang dengan sangat pesat.
Perkembangan seni ukir Jepara juga dipengaruhi oleh peranan Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin seni ukir tidak segera beranjak dari kemiskinan. Akhirnya Raden Ajeng Kartini membantu dengan memanggilkan beberapa pengrajin dan bersama-sama membuat seni ukiran.
Hasil seni ukiran tersebut kemudian dijual ke Semarang dan Jakarta, sehingga seni ukir Jepara diketahui kualitasnya oleh masyarakat luas. Raden Ajeng Kartini juga memperkenalkan karya seni ukir Jepara ke luar negeri.
Sejarah Seni Ukir Di Indonesia
Di Indonesia seni ukir dikenal sejak zaman batu muda (Neolitikum), yaitu sekitar tahun 1500 SM.
Motif dan pengerjaannya pun masih sangat sederhana, yaitu bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan.
Bahan utama dalam pembuatannya adalah tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit dan tanduk hewan.
Beralih pada zaman perunggu yakni sekitar 500-300 SM, ukiran yang dibuat oleh manusia pun terus mengalami perkembangan.
Tidak hanya dari segi model, tetapi bahan yang digunakan mengalami perubahan yaitu menggunakan perak, emas, perunggu, dsb.
Sedangakan motif yang berkembang dan digunakan pada zaman perunggu adalah motif mender, tumpal, pilih berganda, topeng, hingga binatang dan manusia.
- Motif meander ditemukan ditemukan pada nekara perunggu dari gunung merapi dekat Bima.
- Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT).
- Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu dari kerinci, Sumatera.
- Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba, Nusa Tenggara. Dan pada kapak perunggu dari danau sentani, Irian Jaya, pada motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang sedang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kekuatan jahat
- Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.
Untuk zaman modern seperti sekarang ini seni ukiran dapat kita temukan di berbagai tempat dan benda bersejarah lainnya, seperti, masjid, klenteng, batu nisan, alat musik, dan lain sebagainya.
Pengertian Seni Ukir Menurut Para Ahli
Untuk lebih memahami tentang seni ukir, mari sekarang kita merujuk kepada pendapat para ahli berikut ini.
1. Sudarmono dan Sukijo (1979)
Menurut Sudarmono dan Sukijo seni ukir adalah sebuah seni menggores atau memahat huruf dan gambar pada kayu, logam, batu sehingga menghasilkan bentuk timbul, cekung atau datar sesuai rencana.
2. Tiara (2017)
Seni ukir menurut Tiara adalah bentuk karya seni yang terbuat dari kayu yang digunakan sebagai hiasan suatu bangunan, tokoh, karakter, dan lainnya.
3. Fun-Fun (2017)
Pengertian seni ukir menurut Fun-Fun adalah sebuah karya seni yang terbuat diatas media kayu.
Tags: kayu ukiran kaligrafi