Kaligrafi Ukiran Kayu Jati Jepara - Keindahan Seni Sulam Kayu dalam Dunia Kerajinan dan DIY
Produk Masjid Mimbar Jati Minimalis
Bagi masjid yang baru dibangun tentu saja belum memiliki mimbar masjid minimalis untuk melaksanakan khutbah Jumat. Oleh karena itu kami hadir untuk melengkapi produk podium jati di dalam Masjid daerah anda bertempat. Mimbar Minimalis Ukir ini selain digunakan pada kegiatan kotbah shalat Jum’at, juga dapat digunakan untuk kegiatan dakwah di luar kegiatan khotbah.
Info Terbaru Mimbar Masjid Ukir Jepara
Produk mimbar minimalis dengan motif ukir ini memiliki bentuk yang cantik karena motif ukir juga termasuk kaligrafi senior yang memuat ayat Al-Qur’an. Juga dilengkapi meja kecil untuk menyiapkan catatan yang akan dikirimkan kepada jama’ah. Seni ukir kaligrafi yang dipahat di mimbar masjid jepara menjadi daya tarik khusus jamaah. Tulisan yang dibaca oleh kaum mukminin akan membuat pahala untuk dibaca.
Desain Mimbar Masjid Jati Minimalis Terkini
Mimbar jati Jepara menggunakan bahan melamin warna alami yang dipadukan padankan dengan warna emas. Ada yang meminta menggunakan warna kayu alami yang agak kecoklatan. Kesemuanya kami buat sesuai permintaan Anda sebagai pengurus masjid atau musholla.
#Update foto-foto produk terbaru dari Naga Furniture Jepara tahun 2024
Sejarah Seni Ukir Jepara
Legenda mengenai pelukis dan pengukir dari jaman Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit diceritakan secara turun-temurun di Kota Jepara. Sehingga masyarakat percaya bahwa sejarah awal seni ukir Jepara ada di Kota Jepara.
Pada konon dahulu, ada seorang ahli lukis dan ukir yang bernama Prabangkara. Ia dipanggil oleh sang raja untuk melukis istrinya tanpa busana sebagai wujud cinta sang raja.
Sebagai pelukis dan pengukir ia harus melukis hanya melalui imajinasinya saja tanpa melihat istri raja.
Prabangkara melakukan tugasnya dengan sempurna sampai ada kotoran cicak yang jatuh mengenai lukisan tersebut. Sehingga lukisan istri raja tersebut memiliki tahi lalat.
Raja sangat puas dengan hasil karya dari Prabangkara, namun saat raja melihat ada tahi lalat tersebut marahlah sang raja.
Raja menuduh bahwa Prabangkara melihat sang istri tanpa busana, karena tahi lalat tersebut sama dengan kenyataannya.
Akhirnya dihukumlah Prabangkara dengan diikat kemudian diterbangkan. Lalu ia jatuh di sebuah desa yang bernama Mulyoharjo.
Prabangkara lalu mengajarkan ilmu lukis dan ukirnya kepada masyarakat Jepara hingga sekarang. Ukiran Jepara sebenarnya sudah ada sejak jaman pemerintahan Ratu Kalinyamat. Di jaman ini kesenian ukir berkembang dengan sangat pesat.
Perkembangan seni ukir Jepara juga dipengaruhi oleh peranan Raden Ajeng Kartini yang melihat kehidupan para pengrajin seni ukir tidak segera beranjak dari kemiskinan. Akhirnya Raden Ajeng Kartini membantu dengan memanggilkan beberapa pengrajin dan bersama-sama membuat seni ukiran.
Hasil seni ukiran tersebut kemudian dijual ke Semarang dan Jakarta, sehingga seni ukir Jepara diketahui kualitasnya oleh masyarakat luas. Raden Ajeng Kartini juga memperkenalkan karya seni ukir Jepara ke luar negeri.
Tags: kayu ukiran kaligrafi