Seni Kalung Benang Hitam - Panduan dan Inspirasi DIY untuk Pekerjaan Sulam
Bayi Usia 3–6 Bulan
Busana yang digunakan: Ambet, kutang, popok.
Cara pemakaian:
- Ambet dipakaikan pada bagian perut bayi.
- Popok yang terbuat dari sobekan kain panjang, dililitkan pada tubuh bayi dari pinggang hingga ujung kaki.
- Kutang, yakni baju tanpa lengan, dipakaikan dengan tali di bagian belakang tubuh bayi.
Kelengkapan/perhiasan yang digunakan: Suweng/anting-antingan kecil
Anak perempuan, biasa diberi lubang pada kedua kuping sebelah bawah. Di dalam bahasa Sunda dikenal dengan nama ditindik. Kedua kuping ini dilubangi dengan jarum yang sudah diikat benang. Sebelumnya, kuping diberi kunir dan minyak kelapa yang dioleskan pada titik di mana kuping akan ditindik. Jarum ditusukkan pada kuping dan benangnya ditalikan, sehingga menyerupai lingkaran kecil.
Gunanya agar lubang tindik tidak merapat kembali. Setiap hari diolesi dengan kunir yang di beri minyak kelapa agar tidak infeksi. Menindik bayi dilakukan pada usia tiga bulan. Lubang tindikan ini apabila sudah sembuh, diberi suweng (giwang) bundar kecil (Sd = pelenis) atau anting-anting kecil.
Anting ini selain berfungsi sebagai hiasan, juga menjaga agar Iubang tindikan tidak merapat kern bali. Anting-anting dan suweng merupakan hiasan untuk wanita seumur hidup.
Kalung
Apabila anak dirasakan sering sakit-sakitan, maka anak tersebut biasanya diberi kalung khusus yang sudah diberi jampi-jampi.
Fungsi kalung dan gelang ini adalah menjaga kesehatan dan terhindar dari gangguan mahluk halus.
Referensi [ sunting | sunting sumber ]
- ^Monier-Williams (1899), Sanskrit-English Dictionary, London: Oxford University Press
- ^ ab Drs. I Made Sila, M.Pd (2021), Nilai-nilai Ketuhanan dalam Pemanfaatan Benang Tridatu, Denpasar: Universitas Dwijendra
- ^ abc I Putu Suyatra, ed. (19 November 2017). "Ini Makna, Tujuan dan Cara Penggunaan Benang Tri Datu". Bali Express (dalam bahasa Indonesia). Jawa Pos. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Mei 2019 . Diakses tanggal 8 Oktober 2023 . Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ abc I Putu Suyatra, ed. (19 November 2017). "Non Hindu Pakai Tri Datu karena Suka Warnanya, Berharap Aura Positif". Bali Express (dalam bahasa Indonesia). Jawa Pos. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Mei 2019 . Diakses tanggal 8 Oktober 2023 . Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Redaksi (30 Januari 2017), Makna Gelang TriDatu, Denpasar: Denpasar Kota , diakses tanggal 6 Oktober 2023
Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
2. Pakaian Pengantin Pria Bengkulu
Jika pengantin wanita tampil mempesona dengan baju bertabur yang dihiasi sulaman benang emas, para laki-laki Bengkulu tampil gagah dengan jas tutup berwarna merah, hitam atau biru yang diserasikan dengan pakaian pengantin wanita. Pakaian ini biasanya terbuat dari kain beludru, wol atau sarung lipat.
Jas tutup yang dikenakan oleh pengantin pria Bengkulu dihiasi dengan taburan hiasan emas. Sebagai padanannya, pengantin pria ini mengenakan celana panjang yang juga diberi hiasan bertaburan emas. pada bagian pinggang, dihiasi sarung yang terbuat dari kain satin yang disebut dengan Kain Segantung .
Kain ini dikenakan untuk membuat kesan gagah kepada pengantin pria yang memakainya. Ikat pinggang yang disebut dengan pending dililitkan sebagai aksesoris sekaligus sebagai pengikat kain sarung dan celana agar lebih erat.
Penampilan pengantin pria ini dilengkapi dengan aksesoris yang indah, seperti kalung khas yang disebut kalung sribulan dan kalung emping dan keris yang diselipkan di bagian pinggang. Untuk hiasan kepala, pengantin pria ada pula yang mengenakan sunting atau mahkota. Mereka juga mengenakan gelang.
Pada dasarnya pakaian pengantin pria Bengkulu ini hampir mirip dengan pakaian pengantin adat lainnya. Bedanya jas dan celana pengantin pria Bengkulu adalah adanya hiasan taburan yang berbentuk lempengan bulat berwarna emas sebesar koin.
Pemakaian [ sunting | sunting sumber ]
Benang tridatu yang tersusun dari tiga warna sering dipakai dalam upacara keagamaan (yadnya) Hindu Bali, mulai dari upacara kepada para dewa (dewa-yadnya) hingga upacara antarmanusia (manusa-yadnya) seperti pernikahan. Dalam upacara dewa-yadnya, benang tridatu dipakai sebagai sarana menuntun Istadewata atau manifestasi Tuhan, sementara dalam upacara manusa-yadnya, benang tridatu dipakai sebagai selempang dalam suatu prosesi yang disebut pawintenan (inisiasi). [3]
Sebagai gelang, tridatu digunakan sebagai identitas dari umat Hindu khususnya di Bali. Pemakaiannya pun harus di pergelangan tangan, atau di leher (sebagai kalung) dan tidak boleh di kaki karena dianggap sebagai pelecehan. [3] Di kalangan umat Hindu Bali, pemakaian benang tridatu sebagai pengingat akan peran Tuhan sebagai pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu), dan pelebur (Siwa). [2]
Seiring perubahan zaman, saat ini gelang tridatu tidak hanya dipakai untuk tujuan keagamaan saja, tetapi juga tren atau fesyen. Bahkan umat non-Hindu pun ada yang memakai benang tersebut dengan alasan tertentu. [4] Ada yang memakainya karena tertarik dengan kombinasi warna dan sekadar mengikuti gaya umat Hindu Bali, ada pula yang memakainya karena meyakini adanya aura positif dari gelang tersebut, meskipun ia sendiri bukan penganut Hindu. [4]
Kain Khusus Dalam Pakaian Adat Bengkulu
Selain nama-nama pakaian tradisional di atas di dalam pakaian adat Bengkulu ada kain yang menjadi kain batik khas dari provinsi yang menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia ini. Orang Bengkulu menyebutnya Kain Besurek dan Kain Kagangga. Kain ini punya keunikan karena motifnya yang istimewa dan punya makna.
Berdasarkan sejarahnya, Kain Besurek punya kaitan erat dengan datangnya Sentot Alibasyah, seorang panglima perang pengikut Pangeran Diponegoro, yang waktu itu datang ke Bengkulu.
Makna Kain Besurek yaitu kain yang mempunyai tulisan. Hal ini terlihat pada motif kainnya yang dipenuhi dengan berbagai tulisan kaligafi Arab.
Mulanya Kain Besurek difungsikan sebagai pakaian yang dikenakan pada upacara adat Bengkulu. Tetap seiring zaman Kain Besurek dikenakan pada acara resmi pemerintah dan pakaian pelengkap sehari-hari.
Perkembangan zaman pun membuat motif kainnya berkembang. Sekarang kain ini tidak hanya bermotif tulisan Arab saja, ada pula motif bulan, bunga-bungaan seperti melati, bunga cengkeh, bunga cempaka, burung punai dan burung kuau.
Kain kagangga berasal dari Tanah Rejang, salah satu wilayah yang berada di Bengkulu. Mengingat asal daerahnya, motif yang ada pada motif kain kagangga pun berupa aksara Rejang. Motif pada Kain Kagangga banyak menyoroti keanekaragaman alam Indonesia, misalnya motif bunga Rafflesia Arnoldi.
Karena keunikan dan proses pembuatannya yang masih tradisional, kain tradisional ini dibanderol dengan harga tinggi. Peminat kain kagangga ini kabarnya hanya berasal dari golongan menengah ke atas.
Itu dia pakaian adat Bengkulu dengan keunikannya yang tak ada dua. Keunikan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia ini menjadi hal yang wajib kita jaga. Jadi, jangan ragu mengenakan pakaian adat untuk acara-acara istimewamu. Kamu akan tetap terlihat menawan dalam balutan pakaian tradisional ini kok.
Tags: benang hitam