Kasongan - Pusat Kreativitas Seni Kerajinan Jarum dan DIY yang Memikat
Berawal dari matinya seekor kuda
Saat menuju ke sentra kerajinan gerabah di Kasongan, kita akan melintasi gapura besar. Gapura itu diapit dua buah patung kuda.
Patung kuda itu punya kaitan erat dengan sejarah Kasongan. Konon, munculnya perajin gerabah di desa ini bermula dari kematian seekor kuda di tengah sawah pada masa kolonial.
Karena kuda yang mati tersebut milik orang Belanda, warga desa menjadi ketakutan. Sebab itu, pemilik tanah kemudian melepaskan tanahnya agar tidak dicari-cari oleh sang pemilik kuda. Tak lama berselang, hal serupa juga dilakukan oleh warga lain.
Warga yang kehilangan tanahnya kemudian memutar otak agar tetap memiliki mata pencaharian. Mereka mulai mengumpulkan tanah liat yang digunakan untuk membuat alat-alat dapur hingga mainan anak-anak.
Lokasi & Rute Menuju Desa Wisata Gerabah Kasongan
Desa Wisata Kasongan terletak di Kecamatan Bangunjiwo, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Desa ini berjarak sekitar 8 kilometer dari pusat kota Yogyakarta dan dapat diakses dengan mudah menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum.
Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Yogyakarta, Anda dapat mengikuti rute sebagai berikut:
Untuk perjalanan lebih nyaman kamu juga bisa sewa mobil di
Perjalanan dari pusat kota Yogyakarta menuju Desa Wisata Kasongan dapat memakan waktu sekitar 20-30 menit, tergantung pada kondisi lalu lintas. Namun, perjalanan akan terasa menyenangkan karena Anda akan melewati berbagai pemandangan yang menarik, seperti sawah dan hamparan hijau perkebunan.
Berkembang menjadi desa wisata
Kini Kasongan tak hanya memproduksi gerabah, tetapi sudah menjadi tujuan wisata. Di Desa Wisata Kasongan, tak sekadar produk kerajinan yang ditawarkan, wisatawan juga bisa praktik langsung mengolah tanah liat gerabah di rumah-rumah perajinnya. Wisatawan bisa membawa pulang produk kerajinan hasil buatannya.
Terdapat ratusan toko dan galeri seni yang memproduksi dan memajang aneka perabot dan hiasan yang berbahan dasar tanah liat di Kasongan. Harga yang dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga puluhan juta rupiah, tergantung tingkat kesulitan proses pembuatannya dan seberapa besar ukuran yang diinginkan.
Patung Loro Blonyo, salah satunya. Patung ini merupakan produk yang paling dicari oleh wisatawan yang berkunjung ke desa ini. Patung yang berbentuk sepasang pengantin berpakaian adat Jawa ini konon dapat mendatangkan aura keberuntungan.
Sejarah Desa Wisata Gerabah Kasongan
Pada awalnya, kerajinan gerabah di Desa Kasongan tidak sepopuler sekarang. Namun, pada tahun 1960-an, pengrajin gerabah di desa ini mulai menarik perhatian para wisatawan dan pembeli. Kerajinan gerabah dari Desa Kasongan mulai diakui dan diminati oleh banyak orang karena kualitas dan keunikan produknya.
Dalam perkembangannya, kerajinan gerabah di Desa Kasongan menjadi semakin populer dan banyak dijual di pasar-pasar di seluruh Indonesia. Hal ini terjadi karena kualitas dan keindahan produk gerabah yang dihasilkan oleh para pengrajin di desa ini.
Pada tahun 1970-an, desa ini mulai dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah di Yogyakarta. Banyak pengrajin gerabah di desa ini yang terus mengembangkan keterampilan mereka dan memproduksi produk gerabah yang semakin beragam dan berkualitas tinggi.
Bahkan, pada tahun 1997, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata secara resmi menetapkan Desa Wisata Kasongan sebagai destinasi wisata andalan di Yogyakarta. Desa ini menjadi tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan karena selain mengalami keindahan seni gerabah, mereka juga bisa menikmati suasana pedesaan yang tenang dan menenangkan.
Di Desa Wisata Kasongan, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan gerabah dan membeli berbagai produk gerabah dengan harga yang terjangkau. Banyak toko-toko dan galeri seni gerabah yang menawarkan berbagai macam produk berkualitas tinggi dan memukau.
Kerajinan gerabah di Desa Wisata Kasongan bukan hanya sekadar industri kreatif, tapi juga sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan dan dijaga. Dengan keindahan dan kualitas yang dimilikinya, kerajinan gerabah dari desa ini menjadi simbol kearifan lokal dan identitas budaya masyarakat Yogyakarta.
Blangkon
Jika kamu berkunjung ke keraton Yogyakarta dan daerah di Jawa Tengah lainnya kamu akan melihat para kaum pria mengenakan penutup kepala yang unik dan khas. Penutup kepala tersebut juga dapat kamu temui di berbagai tempat toko pakaian di Jogja. Lalu apa sebenarnya penutup kepala tersebut? Benda tersebut memiliki nama yaitu blangkon. Blangkon sudah ada sejak zaman kerajaan dan hanya dikenakan oleh kaum pria.
Blangkon juga kerap kali digunakan sebagai aksesoris penutup kepala dalam berpakaian adat. Namun tak sedikit pula yang mengenakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada awalnya blangkon tidak berbentuk topi bulat seperti saat ini melainkan berupa kain bermotif.
Kain tersebut kemudian akan diikatkan hingga menutupi kepala. Lama kelamaan masyarakat melakukan inovasi dengan membuat blangkon siap pakai sehingga lebih praktis dan cepat. Blangkon Jogja berbeda dengan blangkon yang ada di daerah lain dimana bagian belakang blangkon jogja memiliki “mondolan”.
Mondolan adalah tempat untuk menaruh rambut panjang yang umumnya dimiliki oleh orang-orang Jogja pada zaman dahulu. Menyimpan rambut pada “mondolan” dimaknai dengan manusia seharusnya pandai menyimpan rahasia terutama aib baik diri sendiri maupun orang lain.
Tags: kerajinan hasil