"Seni Membuat Huruf Sunda - Keindahan dan Kreativitas"
Wujud Aksara Sunda
Berdasarkan dari pedoman modifikasi yang sudah disebutkan di atas, kini disusunlah abjad aksara Sunda Baku beserta dengan ejaannya seperti batasan teknis seperti di bawah ini :
a. Silaba dan Vokal Mandiri
1. Ukuran badan aksara adalah 4:4, kecuali pada silaba /ra/ adalah 4:2, /nya/ adalah 4:6. dan pada vokal mandiri /i/, /o/, dan /u/ adalah 4:3.
2. Sudut yang dibentuk oleh 2 (dua) garis, berada dalam kisaran antara 45°-75°.b. Penanda Bunyi
1. Ukuran badan aksara adalah 2:2, kecuali “pamaeh” adalah 6:2.2. Perbandingan ukuran badan aksara antara penanda bunyi dengan silaba dan vokal mandiri adalan 1:2 dari 4:4.
3. Sudut yang dibentuk oleh 2 garis, berada dalam kisaran antara 45°-75°.c. Angka
1. Ukuran badan aksara adalah 4:4, kecuali angka 4 adalah 4:2. 2. Sudut yang dibentuk oleh 2 (dua) garis, berada dalam kisaran antara 45°-75°.3. Penulisan angka diapit oleh masing-masing 1 (satu) garis vertikal dengan ukuran panjang 6 dari ukuran perbandingan 4:4.
Abjad
Berbeda dengan aksara Latin dan aksara Arab yang abjadnya satu huruf (fonem), abjad aksara Sunda dan jenis aksara lain yang merupakan pengembangan dari aksara Palawa/Pra-Nagari berdasarkan satu suku kata (silabial). Dalam abjad aksara Sunda dibedakan antara Aksara Ngalagena, Vokal Mandiri, Penanda Bunyi, dan Angka .
“Aksara Ngalagena adalah lambang bunyi yang dapat dipandang sebagai fonem konsonan, tanpa tanda-tanda yang menyatakan fonem vokal”.
“Vokal Mandiri adalah lambang bunyi fonem vokal yang berdiri sendiri, umumnya digunakan pada posisi awal kata atau sukukata”.

5. Aksara Cacarakan (Sunda-Jawa)
Aksara Cacarakan sebenarnya merupakan aksara yang diadopsi masyarakat Sunda dari aksara Jawa Modern yang biasa disebut Carakan berdasarkan urutan abjad aksara “ha-na-ca-ra-ka-da-dst“. Istilah cacarakan itu sendiri apabila dilihat dari sudut tata bahasa Sunda merupakan kata bentukan yang berdasarkan proses reduplikasi dengan dwipurwa yang ditambah akhiran -an. Proses dwipurwa dapat menimbulkan tiga pengertian, yaitu:
(1) Menunjukkan “Saling” (Misalnya sasalaman, yang artinya saling bersalaman).
(2) Menunjukkan “Intensitas” (Misalnya leuleumpangan, yang artinya berjalan terus-menerus).
(3) Menunjukkan “Peniruan” (Misalnya gugunungan, yang artinya dibentuk seperti gunung.
Keadaan ini bisa disaksikan pada naskah-naskah dari sekitar pertengahan abad ke-19. Pada masa itu, naskah-naskah Sunda banyak yang ditulis dengan menggunakan aksara Pegon. Pada masa itu, naskah-naskah Sunda dapat dibedakan antara naskah yang dihasilkan oleh para penulis keluaran sekolah (pemerintah) dan naskah yang ditulis oleh kalangan pesantren.
“Naskah yang ditulis dengan aksara Pegon hampir dapat dipastikan muncul dari kalangan pesantren, sedangkan naskah yang ditulis dengan aksara Cacarakan muncul dari kalangan “menak” terpelajar.
Dalam perkembangan selanjutnya, aksara Cacarakan digunakan dalam surat-menyurat administrasi pemerintahan. Hal ini antara lain dapat dilihat dalam surat-surat kepemilikan suatu lahan yang dikeluarkan sekitar awal abad ke-20. Meskipun pemakaian jenis aksara ini cukup meluas, namun dari segi bentuk aksara Cacarakan itu sama dengan aksara Carakan, jadi hasil kreasi orang Sunda sendiri sedikit sekali, hanyalah berupa pengurangan 2 lambang konsonan (dh, th) dan penambahan lambang penanda bunyi (eu).

Tags: kerajinan