Kreasi Cantik - Pandan Berduri dalam Kesenian Sulam dan DIY
Pandan duri
Pandan duri, pandan tikar, pandan samak, atau pandan pudak (Pandanus tectorius) adalah sejenis tumbuhan serupa pohon, anggota suku Pandanaceae. Ia tersebar di seluruh pantai-pantai dan pulau-pulau di kawasan Asia Selatan dan Timur sampai ke Polinesia. [2]
Pandan memiliki berbagai varietas. Oleh sebab itu, penduduk lokal yang umumnya mengenali varietas tersebut memberinya nama yang berbeda-beda, dan bahkan membudidayakan sebagian besar tumbuhan tersebut untuk berbagai tujuan yang berlainan. [3] Varietas-varietas tertentu disukai karena daunnya yang lembut dan kuat untuk dianyam sebagai tikar, yang lain digemari karena bunga jantannya (Jw., pudak) yang berbau wangi dapat digunakan untuk mengharumkan ruangan, pakaian, atau minyak wangi. [4] Ada pula varietas yang buahnya dapat dimakan [3] [5]
Awal Pemanfaatan Kerajinan Pandan
Seiring berjalannya waktu, anyaman Serasan mulai diminati oleh masyarakat luas sebagai produk dekoratif. Anyaman ini mulai digunakan sebagai bagian dari furnitur dan gaya hidup modern.
Pada mulanya, anyaman Serasan hanya dibuat oleh masyarakat Pulau Serasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, anyaman Serasan mulai dikenal oleh masyarakat luas dan mulai diminati sebagai produk dekoratif.
Hal ini tidak terlepas dari keindahan dan keunikan anyaman Serasan. Anyaman Serasan memiliki motif yang beragam, mulai dari motif sederhana hingga motif yang rumit. Motif-motif ini terinspirasi dari kekayaan budaya dan alam setempat.
Selain motifnya yang unik, anyaman Serasan juga memiliki kualitas yang tinggi. Anyaman ini dibuat dengan menggunakan bahan baku yang berkualitas dan dikerjakan oleh para pengrajin yang terampil.
Seiring meningkatnya permintaan akan anyaman Serasan, para pengrajin di Pulau Serasan mulai mengembangkan usahanya. Mereka mulai memproduksi berbagai macam produk anyaman Serasan, mulai dari tikar, tas, topi, hingga hiasan rumah.
Pemerintah Kabupaten Natuna terus berupaya untuk mengembangkan kerajinan anyaman Serasan. Pemerintah memberikan berbagai macam pelatihan kepada para pengrajin untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas produksi mereka. Pemerintah juga berupaya untuk mempromosikan anyaman Serasan kepada masyarakat luas.
Dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, diharapkan anyaman Serasan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Natuna.
Pengenalan [ sunting | sunting sumber ]
Pohon atau perdu yang bercabang lebar, tinggi 3-7 m, kadang-kadang berbatang banyak. Sering dengan akar tunjang dari sekitar pangkal batang dan akar udara dari cabangnya, akar-akar ini dengan jerawat dan tudung akar yang besar dan menyolok. [6]
Daun berbentuk pita, 70-250 × 3-9 cm, kaku, hijau kebiruan dan berlilin, bertulang daun sejajar, dengan duri tempel pada tepi daun dan sisi bawah ibu tulang daun, berujung meruncing. Daun-daun berkumpul rapat di ujung ranting, dalam 3 baris yang tersusun spiral, duduk, dengan pangkal memeluk batang, meninggalkan bekas bentuk cincin bila rontok. Berumah dua (dioesis), perbungaannya berupa tongkol, tongkol bunga jantan menggantung, panjang 25–60 cm, dengan 10-20 cabang samping, terselubung dalam seludang putih-kuning yang berbau harum. Tongkol bunga betina menyendiri, berbentuk bongkol bulat, bergaris tengah lk. 5 cm. [6]
Manfaat [ sunting | sunting sumber ]
Varietas atau forma yang berbeda-beda menghasilkan manfaat yang berlainan pula. Umumnya varietas atau kultivar P. tectorius yang dibudidayakan di Jawa adalah untuk diambil daunnya sebagai bahan anyaman. [9] [10] Di wilayah Pasifik, ratusan varietas dikenali oleh penduduk pulau-pulau di sana, sebagiannya bermanfaat sebagai bahan anyaman, dan sebagian lagi dipujikan buahnya yang enak. [3]
Beberapa varietas yang disebut-sebut Heyne, di antaranya: [4]
- Pandan samak (P. tectorius var. samak (Hassk.) Warb.), barangkali merupakan jenis pandan yang paling penting di Jawa sebagai penghasil bahan anyaman (topi, tikar, dll.). Nama-nama lainnya, di antaranya, pandan tikar (Ind.), pandan abu (Sumbar), pandan kapur atau pandan putih (Tnr., karena daunnya keputih-putihan berlapis lilin), pandan cucuk (Banten, cucuk: duri), pandan samak (Sd.), pandan jaksi (Sd.) atau jeksi (Jw.).
- Pandan sari, dari Kedu, sebagai bahan anyaman halus. Juga untuk menutup tepian anyaman. [9]
- Pandan jaran (Jw. jaran: kuda), untuk anyaman kasar. Kurang disukai karena daunnya agak kaku, dan warnanya bebercak kekuningan. [9]
- Pandan bĕtok, dari Blora, untuk anyaman kasar.
- Pandan kali, dari Yogyakarta, untuk anyaman kasar.
- Pandan tebu, untuk anyaman, dari Bawean.
- Pandan pudak atau pandan tak berduri (P. tectorius var. laevis Warb.), dipakai sebagai bahan anyaman halus (tempat rokok, tempat sirih, tikar halus). Bunga jantannya (Jw., pudak) dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan dan pakaian, meskipun tak berapa tahan lama. Nama-nama lainnya, di antaranya, pandan pudak, pandan pudak emprit (Btw., Sd., Jw.), pandan lengis (Bl.), pandang puda (Mak., Bug.), pandan kasturi (Ambon), pandan puteri, pandan putih (Mink.), dan lain-lain.
- Pandan menjalar, yang disebut oleh Rumphius dengan nama Pandanus repens, [11] dan dipersamakan oleh Merrill dengan Pandanus sabotan Blanco dari Filipina. [4] Daun-daun pandan ini dimanfaatkan untuk membuat tudung, dan tikar kasar. Di Ternate dan Banda tumbuhan ini disebut kokoya, di Ambon disebut leut, dan di Seram dinamai rune. [11]
Tags: kerajinan dari