... 7 Inspirasi Kerajinan Tangan Kreatif dari Sulawesi Selatan: Panduan DIY

Kerajinan Jarum Tradisional - Keindahan Sulawesi Selatan dalam Seni DIY

E. Upacara Tradisional Daerah Sulawesi Selatan

Orang Makassar, Bugis dan Toraja mengenal upacara yang berhubungan dengan daur hidup dan yang umum. Misalnya, pada masa kehamilan orang Makassar mengenal ritual adat yang dinamakan dengan annyampa' sanro dan a'bayu minnya'. Begitupula orang bugis mengenal makkatenni sanro, mappanre to mengindeng, dan maccera wettang yang prinsipnya sama dengan yang diselenggarakan masyarakat Makassar.

Adapun orang Toraja sedikit berbeda karena mereka tidak mengenal ritual adat pada saat kehamilan dan kelahiran. Namun, orang Toraja terkenal dengan penyelenggaraan adat upacara kematian. Upacara adat kematian orang Toraja disebut dengan Rambu Solo'. Ada beberapa tingkatan dalam perayaan Rambu Solo' tergantung status sosial orang yang mati. Dalam perayaan Rambu Solo' terdapat bermacam-macam kegiatan seperti mapasilaga tedong (adu kerbau), sisemba (adu kaki), tari-tarian, musik, dan pemotongan kerbau khas Toraja.

Adapun upacara yang bersifat umum yang dirayakan masyarakat Sulawesi Selatan di antaranya, maccera tappareng, pa'jukukang, tudang ade, ma'rimpa salo. Beragam upacara tersebut pada prinsipnya diselenggarakan masyarakat untuk mengucap rasa syukur atas kesejahteraan yang mereka terima.

Mengenal Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan

Kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan secara umum termasuk ke dalam kategori kebudayaan masyarakat pantai. Hal ini ditandai dengan kegiatan perdagangan yang menonjol dan adanya pengaruh agama Islam yang kuat. Kebudayaan ini dihasilkan oleh masyarakat Makassar dan Bugis yang merupakan penduduk mayoritas yang terdapat di Sulawesi Selatan. Adapun suku Toraja mempunyai ciri kebudayaan yang berkembang dari kegiatan perladangan berkat kecerdikan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan.

Bahasa Bugis (bahasa Ugi) digunakan oleh orang-orang Bugis. Beberapa dialek dalam bahasa Bugis misalnya Bone, Pangkep, Camba, Sinjai, Sidrap, Wajo, Soppeng, Sawitto, Barru, dan Luwu. Suku Makasar menggunakan bahasa Mangasara (Mangasarak) dengan persebaran sebagian besar di wilayah Pangkep, Gowa, Maros, Jeneponto, Bantaeng, Takalar, dan Makasar. Cara pengucapan bahasa mangasara terdiri atas beberapa dialek, antara lain dialek Gowa (Gowa, Lakiung), Turatea(Jeneponto), Maros, dan Pangkep. Bahasa Mangasara ini terdiri atas beberapa sub bahasa, yaitu bentong, konjo pesisir, konjo pegunungan (kajang), dan selayar.

Suku Toraja menggunakan bahasa Toraja yang terdiri atas beberapa sub bahasa yaitu bahasa Tae', Toala', dan Torajasa'dan. Bahasa Tae'digunakan di daerah Masamba sampai ujung selatan Luwu Utara, sedangkan bahasa Torajasa'dan digunakan untuk Tana Toraja dan sebagian Luwu Utara.

Kaya Seni, 8 Cendera Mata asal Sulawesi Selatan Ini Wajib Diborong

beautiful-indonesia.umm.ac.id

Setiap daerah tentu memiliki ciri khas masing-masing, tidak terkecuali Sulawesi Selatan. Ada banyak destinasi wisata alam yang bisa dikunjungi. Selain itu, warisan budaya leluhur yang masih terjaga menjadikan Sulawesi Selatan kaya akan destinasi wisata budaya.

Apalagi beberapa suku yang mendiami provinsi tersebut juga beragam menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu destinasi wisata yang lengkap serta unik.

Ketika sedang berwisata pasti ingin mencicipi makanan khas ataupun sekedar ingin tahu hasil kebudayaan daerahnya. Bukan hanya kelezatan kulinernya, berbagai kerajinan tangan yang unik bisa kamu temui di Sulawesi Selatan.

Kebetulan kamu sedang liburan di Sulawesi Selatan atau berencana menghabiskan liburan akhir tahun di sana? Berikut ini cinderamata yang bisa kamu beli sebelum pulang.

Kerajinan Tenun Ikat

Tenun ikat juga merupakan bagian integral dari Kearifan Lokal Sulawesi Selatan. Tenun ikat adalah warisan budaya yang dijaga dari generasi ke generasi. Setiap pola dan warna yang digunakan dalam tenun ikat memiliki arti dan filosofi tersendiri, seringkali terkait dengan sejarah, mitologi, atau nilai-nilai kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar. Proses pembuatan tenun ikat membutuhkan tidak hanya keterampilan tinggi tetapi juga kesabaran dan ketekunan, menjadikannya simbol ketahanan dan ketekunan masyarakat Sulawesi Selatan.

Kearifan Lokal Sulawesi Selatan tercermin dalam setiap benang kain ikat. Setiap potong kain adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi para pengrajin lokal, menjadikan setiap potong kain ikat sebagai cerminan dari keunikan dan keindahan budaya Sulawesi Selatan. Bahkan, proses pembuatan tenun ikat itu sendiri adalah bagian dari warisan budaya yang terjaga, dengan teknik tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kerajinan tenun ikat bukan hanya sebuah kerajinan tangan tetapi juga identitas yang kuat bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Melalui tenun ikat, nilai-nilai tradisional seperti kesabaran, ketekunan, dan ketahanan terus ditanamkan dan dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, industri tenun ikat secara signifikan berkontribusi pada ekonomi lokal, menjadi bagian integral dari penghidupan di wilayah tersebut.

Dalam pasar global yang semakin terhubung, tenun ikat Sulawesi Selatan semakin dihargai dan diminati. Hal ini tidak hanya karena keindahannya secara visual tetapi juga karena cerita dan makna yang terkandung dalam setiap pola dan warna. Oleh karena itu, kerajinan tenun ikat bukan hanya produk budaya lokal tetapi juga jendela bagi dunia untuk memahami dan menghargai Kearifan Lokal Sulawesi Selatan.

C. Pakaian Tradisional Daerah Sulawesi Selatan

Anak laki-laki mengenakan pakaian terdiri atas tope, songkok pute passapu, lipa'sabbe, waju kasa, dan pakambang, sedangkan anak perempuan mengenakan jempang, tope, waju ponco/waju pella-pella/waju rawang, lipa' sabbe, waju bella dada. Pakaian dewasa sehari-hari untuk bangsawan laki-laki berupa lipa'sabbe, waju bella dada, dan jase tutu, untuk perempuan mengenakan waju bodo, dan lipa' sabbe. Pakaian orang biasa untuk laki-laki mengenakan lipa'wenang dan waju, sedangkan wanita mengenakan lipa' dan waju ponco.

Pada saat upacara adat anak bangsawan laki-laki mengenakan pakambang, lipa'sabbe, songko' pamiring, tope, serta songkok pute, sedangkan untuk perempuan mengenakan pakambang, lipa'sabbe, waju rawang, dan waju ponco'. Sedangkan untuk anak orang biasa laki-laki mengenakan lipa' dan songkok guru, dan perempuan mengenakan lipa'sabbe dan waju ponco'.

Pakaian pria dewasa untuk upacara mengenakan lipa'sabbe, waju jase tutu, dan songkok pamiring ulaweng. Pakaian yang dikenakan oleh Bissu yaitu songkok guru/ songkok to-Bone, baju model jase tutu, rok panjang untuk ketua Bissu serta passapu dan baju kurung panjang smpai mata kaki dengan belah dada pada bagian dada untuk para anggota Bissu.

Pakaian sehari-hari untuk anak laki-laki yaitu salawik, lipa', lipa'sabbe, passapu, dan songkok guru, sedangkan anak wanita memakai jempang, salawik, lipa', baju rawang, dan lipa'sabbe. Pakaian untuk orang dewasa laki-laki memakai lipa'sabbe, songkok guru, dan jase tutu, sedangkan untuk wanita dewasa memakai baju bodo dan lipa'sabbe.

Pakaian yang dikenakan saat upacara anak laki-laki bangsawan memakai songkok gaduk, songkok biring, sedangkan anak wanita mengenakan waju assusun. Untuk pria dewasa laki-laki mengenakan lipa'sabbe, jase tutu, dan songkok guru, sedangkan perempuan memakai baju rawang, waju kasa, lipa'sabbe.


Tags: kerajinan dari lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia