... 10 Ide Kerajinan DIY yang Inspiratif dari Sumatera: Panduan Langkah demi Langkah!

Kerajinan Seni Sumatera - Keajaiban Kreativitas Budaya

Kain Tenun Pandai Sikek

Pandai Sikek adalah nama daeran yang terletak diantara Bukittinggi dan Padang. Pandai Sikek terkenal dengan hasil kain tenunnya yang diberi nama tenunan Pandai Sikek. Pusat pengrajin tenun Pandai Sikek berada di Kecamatan Sepulu Koto, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kain tenun Pandai Sikek sangat mewah dan indah karena terbuat dari benang emas atau perak sepenuhnya. Tak heran jika tenun ini disebut sebagai ratunya kain tenun. Penggunaan benang emas dan perak menjadi ciri khas kain tenun Pandai Sikek.

Tidak ada yang mengetahui pasti kapan kain tenun ini mulai dibuat namun ada beberapa yang mengatakan kain tradisional in sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Diperkirakan masuknya komoditi benang emas dan sutera menjadi sejarah awak terciptanya kain songket ini.

Seni kriya Sumatera Utara

Berikut beberapa hasil seni kriya Sumatera Utara:

Ulos

Ulos merupakan sebutan bagi kain tenun dari Batak, Sumatera Utara. Ulos bercirikan motif geometris.

Ada berbagai jenis Ulos, di antaranya gorga. Gorga adalah selendang dengan jurai-jurai benang pada ujung-ujungnya.

Gorga digunakan sebagai perlengkapan busana adat Batak dan syal. Gorga sering pula ditemukan sebagai hiasan dinding.

Ukiran reret

Reret merupakan ukiran kayu dengan motif cecak. Ukiran reret oleh suk Batak dianggap bertuah karena dapat menolak bala atau musibah.

Ukiran reret terdepat pada pilar-pilar bangunan, kusen pintu dan jendela, serta dinding kayu.

Ukiran-ukiran reret dalam bentuk patung pun ditemukan. Banyak ukiran semacam ini dijual sebagai cenderamata.

Patung debata idup

Debata idup merupakan patung leluhur masyarakat Batak. Debata idup dibuat dalam berbagai posisi, sebagai jongkok, berdiri, dan duduk.

Debata idup dibuat dalam berbagai ukuran, dari kecil sampai besar.

Patung ini awalnya dibuat untuk keperluan upacara. Namun, sekarang debata idup juga dibuat untuk cenderamata dan dekorasi interior.

Anggita Muslimah Salah satu motif kain batik Garut, dalam acara Selisik Batik Pesisir, Pameran dan Pasar Batik di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Kerajinan Ukiran Khas Palembang

Ukiran Khas Palembang adalah salah satu kerajinan tangan yang mengagumkan dari Sumatera Selatan. Kerajinan ini menampilkan keahlian tinggi dalam mengukir kayu untuk menciptakan berbagai macam motif dan pola yang indah.

Ukiran Khas Palembang terkenal karena kehalusan detailnya, keanggunan desainnya, dan cerita yang terkandung di dalamnya.

Proses pembuatan Ukiran Khas Palembang dimulai dengan memilih kayu yang berkualitas tinggi, seperti kayu jati atau kayu mahoni.

Para pengrajin kemudian menggunakan berbagai alat ukir tradisional, seperti pahat dan gergaji, untuk membentuk dan mengukir kayu sesuai dengan motif yang diinginkan.

Motif yang ada pada Ukiran Khas Palembang sering kali terinspirasi oleh flora, fauna, mitologi, dan sejarah.

Motif-motif ini mencerminkan kekayaan budaya dan alam Sumatera Selatan. Selain itu, Ukiran Khas Palembang juga sering menggambarkan cerita-cerita tradisional atau simbol-simbol kehidupan masyarakat Palembang.

Keindahan Ukiran Khas Palembang tidak hanya terletak pada rancangan motifnya, tetapi juga pada warna dan pewarnaan yang digunakan.

Beberapa ukiran dihiasi dengan cat atau pewarna, sehingga memberikan nuansa yang lebih hidup dan menonjolkan detail ukiran.

Ukiran Khas Palembang memiliki nilai budaya yang tinggi dalam masyarakat Sumatera Selatan. Ukiran ini sering ditemukan pada bangunan tradisional, seperti rumah adat atau bangunan keagamaan, serta di dalam barang-barang hias dan furnitur.

Selain itu, Ukiran Khas Palembang juga menjadi salah satu bentuk seni yang sangat dihargai dan dijadikan koleksi oleh pecinta seni dan penggemar kerajinan tangan.

Kerajinan tangan Ukiran Khas Palembang dari Sumatera Selatan adalah hasil dari kepiawaian dan dedikasi para pengrajin dalam melestarikan warisan seni dan budaya mereka.

Keahlian mereka dalam mengukir kayu menghasilkan karya seni yang indah dan bernilai tinggi. Dengan kehalusan detail dan keindahan desainnya, Ukiran Khas Palembang menjadi simbol dari kekayaan budaya dan warisan tradisional Palembang yang terus hidup dan berkembang.

Jenis-Jenis Tanaman Purun

1. Purun Tikus

Bernama latin Eleocharis dulcis, purun tikus adalah jenis tanaman purun yang dikenal berfungsi sebagai sumber bahan organik dan biofilter yang mampu menyerap racun dari logam berat seperti besi (Fe), aluminium (Al), sulfat (SO), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd).

Dengan kemampuan tersebut, purun tikus mampu tumbuh pada kondisi tanah yang buruk dengan pH 3 dan menukar kandungan aluminium, kandungan sulfat larut tinggi, dan kandung besi larut.

2. Purun Danau

Mempunyai nama latin Lepironia articulata Retz. Domin., perbedaan jenis purun danau dengan purun tikus dan purun bajang adalah ukurannya yang jauh lebih besar, yang mana purun danau memiliki daun yang lebih keras menyerupai kayu dan berbuku dengan garis yang lebih jelas dibandingkan jenis purun lain.

Rongga pada bagian batang dari purun danau lebih mirip seperti batang bambu, dan bunga yang tidak terletak pada ujung batang seperti jenis purun tikus ataupun purun bajang.

3. Purun Bajang

Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Harsono (2013) mengemukakan bahwa purun bajang sedikit berbeda dengan jenis purun tikus dan purun danau, yakni dilihat dari segi sifat fisis dan mekanis.

Ditemukan bahwa purun bajang relatif lebih licin dibandingkan jenis tanaman purun lainnya. Kendati demikian purun bajang masih bisa dimanfaatkan dalam usaha anyaman walaupun harus diperhatikan bahwa purun bajang memiliki nilai kuat tarik yang signifikan rendah, sehingga harus dilakukan proses pengeringan tanpa penumbukan.

Kawa daun Pariangan

Kawa daun biasa disajikan dalam tempurung kelapa dibelah dua menyerupai mangkuk, mengingat zaman dahulu tidak tersedia gelas sebagai tempat minum. Kawa daun juga dapat dinikmati dengan gula dan berbagai kudapan.

Pariangan yang berada di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, merupakan salah satu tempat untuk mencoba minuman kawa daun. Untuk membuat kawa daun, daun kopi dikeringkan dan dijadikan bubuk untuk kemudian diseduh.

Prof. Gusti menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejak awal memang tidak mengonsumsi biji kopi untuk minuman. Baru pada akhir abad ke-18, seorang saudagar dari Amerika datang dan membeli biji kopi. Kejadian ini akhirnya menyadarkan masyarakat bahwa biji kopi memiliki nilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


Tags: kerajinan dari

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia