Kerajinan Seni Sumatera - Keajaiban Kreativitas Budaya
Lakuer (Leker)
Kerajinan tangan Lakuer, atau dikenal juga sebagai Leker, merupakan salah satu warisan budaya dari Sumatera Selatan yang memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.
Leker merupakan topi tradisional yang terbuat dari anyaman daun pandan atau ilalang, dengan bentuk yang melengkung dan berukuran kecil.
Proses pembuatan Leker dimulai dengan memilih daun pandan yang berkualitas tinggi, kemudian daun tersebut dipotong dan direndam dalam air untuk membuatnya lebih fleksibel.
Leker memiliki fungsi praktis sebagai pelindung dari sinar matahari dan angin, serta memberikan kesejukan pada kepala penggunanya.
Selain itu, Leker juga memiliki makna budaya yang dalam. Topi ini sering digunakan dalam acara-acara adat dan upacara tradisional, sebagai simbol status sosial atau tanda penghormatan terhadap leluhur.
Kerajinan tangan Lakuer dari Sumatera Selatan merupakan bukti keahlian tangan para pengrajin dalam menghasilkan karya seni yang unik dan bernilai tinggi.
Leker tidak hanya menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sumatera Selatan, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang budaya dan seni kerajinan tradisional Sumatera Selatan.
Jenis-Jenis Tanaman Purun
1. Purun Tikus
Bernama latin Eleocharis dulcis, purun tikus adalah jenis tanaman purun yang dikenal berfungsi sebagai sumber bahan organik dan biofilter yang mampu menyerap racun dari logam berat seperti besi (Fe), aluminium (Al), sulfat (SO), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd).
Dengan kemampuan tersebut, purun tikus mampu tumbuh pada kondisi tanah yang buruk dengan pH 3 dan menukar kandungan aluminium, kandungan sulfat larut tinggi, dan kandung besi larut.
2. Purun Danau
Mempunyai nama latin Lepironia articulata Retz. Domin., perbedaan jenis purun danau dengan purun tikus dan purun bajang adalah ukurannya yang jauh lebih besar, yang mana purun danau memiliki daun yang lebih keras menyerupai kayu dan berbuku dengan garis yang lebih jelas dibandingkan jenis purun lain.
Rongga pada bagian batang dari purun danau lebih mirip seperti batang bambu, dan bunga yang tidak terletak pada ujung batang seperti jenis purun tikus ataupun purun bajang.
3. Purun Bajang
Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Harsono (2013) mengemukakan bahwa purun bajang sedikit berbeda dengan jenis purun tikus dan purun danau, yakni dilihat dari segi sifat fisis dan mekanis.
Ditemukan bahwa purun bajang relatif lebih licin dibandingkan jenis tanaman purun lainnya. Kendati demikian purun bajang masih bisa dimanfaatkan dalam usaha anyaman walaupun harus diperhatikan bahwa purun bajang memiliki nilai kuat tarik yang signifikan rendah, sehingga harus dilakukan proses pengeringan tanpa penumbukan.
Batik tanah liek
Prof Gusti Asnan, ahli sejarah dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa batik di Sumatra dipengaruhi oleh orang Jawa yang berada di Minangkabau sebelum masuknya agama Islam. Seni membatik ini masuk sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa.
Seperti dilansir Kompas.com, salah satu pelopor pengembangan batik kuno di Kota Padang, Wirda Hanim, mengatyakan bahwa penamaan batik tanah liek ini karena proses pewarnaannya menggunakan tanah liek alias tanah liat. Warna asli tanah liat yang kuning kecokalatan menjadi warna dasar batik tersebut sebelum diberi motif.
Untuk corak batik tanah liek sendiri biasanya menggunakan motif untuk ukiran Rumah Gadang, seperti itiak pulang patang, kaluak paku, dan pucuak rabuang.
Kerajinan Perak dan Songket Koto Gadang
Koto Gadang adalah sebuah desa yang berada di Kabupaten Agam , Sumatera Barat. Desa ini terkenal dengan hasil kerajinan peraknya. Orang-orang di Koto Gadang sudah menjadi pengrajin perak sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Hasil kerajinan mereka tidak hanya menarik masyarakat daerah tetapi juga memikat warga Belanda yang tinggal di sana. Kerajinan yang dihasilkan berupa kalung, gelang, cincin, atribut pakaian, hingga miniature rumah adat Minang. Para wanita Belanda juga banyak yang memaikan kerajinan ini.
Keunikan kerajinan perak Koto Gadang adalah warnanya yang tidak mengkilat seperti warna putih susu dan juga teksturnya yang halus sehingga serasi jika digunakan bersama dengan kain songket.
Kerajinan perak Koto Gadang terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 1911 kerajinan ini banyak dilirik oleh bangsa Eropa. Saat ini jangkauan pasar Koto gadang sudah mencapai Malaysia, Singapura, dan negara-negara tetangga lainnya.
Selain hasil kerajinan peraknya. Koto Gadang juga terkenal dengan kain songketnya. Kain songket Koto Gadang merupakan yang terhalus di dunia. Bahkan baru-baru ini seorang warga Koto Gadang berhasil menggelar pameran kain songket Koto Gadang dan dari daerah Sumatera Barat lainnya di Moscow, Rusia.
Kawa daun Pariangan
Kawa daun biasa disajikan dalam tempurung kelapa dibelah dua menyerupai mangkuk, mengingat zaman dahulu tidak tersedia gelas sebagai tempat minum. Kawa daun juga dapat dinikmati dengan gula dan berbagai kudapan.
Pariangan yang berada di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, merupakan salah satu tempat untuk mencoba minuman kawa daun. Untuk membuat kawa daun, daun kopi dikeringkan dan dijadikan bubuk untuk kemudian diseduh.
Prof. Gusti menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejak awal memang tidak mengonsumsi biji kopi untuk minuman. Baru pada akhir abad ke-18, seorang saudagar dari Amerika datang dan membeli biji kopi. Kejadian ini akhirnya menyadarkan masyarakat bahwa biji kopi memiliki nilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Tags: kerajinan dari