... Kerajinan Jarum DIY dari Sumatera Barat: 7 Ide Kreatif untuk Dicoba!

Kerajinan Jarum Tradisional dari Sumatera Barat - Eksplorasi Kreatif dan Kesenian DIY

Randang paku Dharmasraya

Randang paku merupakan masakan tradisional khas Kabupaten Dhamasraya. Proses pembuatannya hampir sama dengan rendang daging, tetapi keunikan kuliner ini adalah bahan bakunya yang berupa ikan dan sayur paku (pakis). Paku merupakan tumbuhan semak yang tumbuh di kaki bukit bersuhu lembap.

Kabupaten Dhamasraya yang berada di pinggir Sungai Batanghari membuat masyarakatnya mudah mendapatkan ikan. Untuk membuat randang paku, bumbu yang diperlukan antara lain, santan, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, daun salam, daun kunyit, daun jeruk, daun ruku-ruku.

Semua bahan dimasak sekitar enam jam sampai kering serupa abon. Hingga saat ini, proses memasak randang paku masih tradisional menggunakan tungku dan kayu bakar.

Karya Seni Tinggi

Dilansir dari laman Indonesia.go.id, pembordir kerancang harus memperhitungkan tarikan benang ke kain sebagai bahan dasarnya. Jika tarikan benang terlalu tegang, maka kain disekitar kerancang akan mengkerut.

Namun jika tarikan benang tidak tegang, maka jalinan kerancang tidak padat dan rapat, sehingga rentan putus. Hal ini karena ketegangan benang bordir tidak sama. Produk yang dihasilkan oleh para perajin bahkan dinilai sebagai karya seni tinggi.

Bordir ini biasanya dijahit langsung pada wadah kain seperti mukena, kerundung, baju kurung dan baju koko. Selain itu, ada juga yang dibordir pada alaas meja, taplak piring dan gelas.

Motif kerancang biasanya terinspirasi dari tumbuhan, hewan, kaligrafi, dll. Sementara itu teknik yang digunakan yakni kerancang kursi, pahat, silang, sapu, papan, dll.

Peralatan dan bahan [ sunting | sunting sumber ]

Teknologi pembuatan sulaman Koto Gadang masih menggunakan teknologi tradisional. [15] Peralatan utama untuk menyulam dikenal dengan nama pamedangan. Ukurannya yakni 200 x 60 cm. Pamedangan terbuat dari kayu pada bagian kerangkanya. Keempat kayu dirangkaikan menjadi empat persegi panjang dengan paku. Tinggi pamedangan yakni sekitar 30 cm mengikuti ukuran standar yang memudahkan bagi penyulam untuk duduk bersimpuh ataupun meluruskan kakinya di bawah pamedangan pada saat menyulam. [16] [17]

Untuk menyulam kain yang berukuran kecil, seperti saputangan, bunga baju, dan sarung bantal maka digunakan alat bernama ram. [18] Ram berbentuk bundar dengan diameter berkisar 20 cm sampai 50 cm. Ram terbuat dari dua buah besi ataupun kayu yang dibentuk melingkar dengan menggunakan alat pengunci. [19]

Peralatan utama dalam menyulam berikutnya yakni kelos. Kelos berfungsi untuk menggulung benang. Kelos terbuat dari batang kulit manis dengan panjang berkisar 15 cm sampai 20 cm. Jumlah kelos bergantung pada banyak warna benang yang akan digunakan. [20]

Adapun alat bantu dalam membuat sulaman yakni karton manila atau kertas minyak untuk membuat pola, kertas karbon untuk memindahkan pola, jarum jahit untuk membuat aneka tusukan pada kain, dan gunting untuk memutus benang. Kesederhaan peralatan membuat proses pembuatan sulaman Koto Gadang menjadi lama dan rumit serta membutuhkan kepiawaian atau keahlian dari penyulam karena semata-mata mengandalkan pekerjaan tangan dan bukan mesin. [16] [21]

Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan untuk menyulam yakni kain dan benang. Kain yang digunakan yakni semua jenis kain seperti katun, linen, sutra, atau wol. [16] Ukuran kain yang standar adalah dua meter untuk panjang dan lebar yang bervariasi dari 50 cm hingga 75 cm, tetapi ukuran lebar yang standar adalah 50 cm. [22] Adapun benang sulam dapat berupa benang mauline dan benang katun. [23]

Pengerjaan [ sunting | sunting sumber ]

Pekerjaan membuat sulaman melalui beberapa tahap yakni membuat pola, memindahkan pola, memasang kain pada pamedangan, membuat sulaman, membuat renda, dan memasang renda. Setiap tahap dikerjakan oleh masing-masing orang karena orang yang ahli membuat sulaman kadang kurang mahir membuat renda. Oleh karena itu, pengerjaan sulam jarang sekali yang dilakukan oleh satu orang saja. Untuk selendang, pengerjaannya bisa melibatkan dua atau tiga orang. [24]

Pola dibuat di atas karton manila atau kertas minyak menggunakan pensil atau pena. Biasanya, karton manila lebih sering digunakan karena karena dapat digunakan berulang-ulang dibandingkan kertas minyak. Ukuran kertas yang digunakan untuk pola yakni mengikuti ukuran kain untuk memudahkan proses pemindahan pola ke dasar kain. Namun, secara umum, pola yang dibuat hanya untuk setengah kain. Jika kain yang akan disulam berukuran 200 x 60 cm, berarti ukuran pola dibuat yakni sepanjang 100 x 60 cm dan yang setengahnya lagi dijiplak dari pola yang sudah jadi. Lamanya proses pembuatan pola bergantung pada kepiawaian perancang pola. [25] [26]


Tags: kerajinan dari

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia