... Kerajinan Jarum DIY dari Sumatera Barat: 7 Ide Kreatif untuk Dicoba!

Kerajinan Jarum Tradisional dari Sumatera Barat - Eksplorasi Kreatif dan Kesenian DIY

Kerupuk Jangek

Kerupuk merupakan cemilan yang paling pas untuk menemani makan makanan apapun. Mulai dari bakso, soto, nasi goreng, mie ayam, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu warga Minang mengeluarkan satu produk kerupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Kalau olahan kulit rebus atau kikil banyak ada di makanan khas Jawa terkenal, seperti gudeg, soto mie Bogor, mie kocok, cungkring, dan masih banyak lagi.

Di Sumatera Barat ada kerupuk jangek, cemilan ini juga menjadi oleh-oleh khas Sumatera Barat yang unggulan. Cara pembuatannya cukup mudah, bahan-bahannya yaitu kulit kerbau atau sapi, garam, minyak goreng, dan panas matahari.

Pertama jemur kulit sampai kering dan bersih, kemudian rebus sampai teksturnya empuk dan bulu-bulunya berkurang. Selanjutnya, potong kecil-kecil dan taburi dengan garam. Terakhir jemur potongan kulit selama 3 sampai 7 hari sampai benar-benar kering, baru kemudian digoreng di minyak panas.

Kain Tenun Pandai Sikek

Pandai Sikek adalah nama daeran yang terletak diantara Bukittinggi dan Padang. Pandai Sikek terkenal dengan hasil kain tenunnya yang diberi nama tenunan Pandai Sikek. Pusat pengrajin tenun Pandai Sikek berada di Kecamatan Sepulu Koto, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kain tenun Pandai Sikek sangat mewah dan indah karena terbuat dari benang emas atau perak sepenuhnya. Tak heran jika tenun ini disebut sebagai ratunya kain tenun. Penggunaan benang emas dan perak menjadi ciri khas kain tenun Pandai Sikek.

Tidak ada yang mengetahui pasti kapan kain tenun ini mulai dibuat namun ada beberapa yang mengatakan kain tradisional in sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Diperkirakan masuknya komoditi benang emas dan sutera menjadi sejarah awak terciptanya kain songket ini.

Sulaman Koto Gadang

Sulaman Koto Gadang adalah teknik kerajinan tangan menghias kain dengan benang yang dikerjakan secara tradisional oleh masyarakat Koto Gadang, salah satu nagari di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sulaman ini dihasilkan dari pengetahuan masyarakat Koto Gadang dalam membentuk jalinan benang di atas kain yang diwariskan secara turun-temurun. Pengerjaannya sama sekali tidak menggunakan teknologi mesin, melainkan menggunakan peralatan sederhana dan bergantung pada keterampilan tangan. [1]

Di antara teknik sulaman Koto Gadang yang masih digunakan saat ini yakni teknik sulaman "suji caia" dan "kapalo samek". Sulam suji caia menampilkan permainan gradasi warna benang yang saling menyatu (bahasa Minang: caia, artinya cair) sehingga menghasilkan bentuk bunga yang tampak hidup. [4] Adapun sulam kapalo samek (dari bahasa Minang, artinya kepala peniti) karena dalam pembuatannya benang dikait dan ditarik sampai ujung peniti sehingga menghasilkan bentuk bulat di atas kain. [5]

Pengetahuan dan keterampilan membuat sulaman Koto Gadang diwariskan secara turun-temurun, umumnya dari ibu ke anak perempuan. Saat ini, masih banyak ditemukan perempuan Koto Gadang yang menekuni sulaman dan bahkan menjadikannya sebagai mata pencaharian tambahan. Kekhasan sulaman Koto Gadang terletak dari proses pembuatan, motif, dan detail pengerjaan. Oleh karena itu, sulaman ini memiliki nilai jual yang relatif tinggi, hingga mencapai jutaan rupiah per helainya. [6] [7] Namun, rumitnya pengerjaan membuat sulaman Koto Gadang bisa membutuhkan waktu penyelesaian hingga dua bulan. [8]

Kue Sapik

Namun pada kenyataannya dua makanan tersebut berbeda. Dari bentuknya kue semprong berbentuk gulungan, sementara kue sapik berbentuk segitiga. Kedua makanan tersebut sering ada dalam momen perayaan Idul Fitri ataupun acara besar lainnya seperti arisan, pengajian, atau nikahan.

Kue Sapik bisa Anda jadikan sebagai buah tangan karena rasanya yang enak dan lezat. Sesampinya di rumah Anda bisa berikan oleh-oleh khas Sumatera Barat ini kepada kerabat ataupun tetangga sekitar. Kue Sapik banyak tersedia di seluruh toko oleh-oleh Sumatera Barat. Silahkan minta driver dari layanan rental bus Padang murah untuk mengantarkan ke pusat oleh-oleh Padang terkenal.

Kerancang, Kerajinan Bordir yang dibawa Belanda ke Sumatera Barat

Bekas tentara itu berasal dari Kalkutta, India dan memilih pergi Ke Pariaman daripada kembali ke daerah asal mereka saat Rafless mengakhiri kekuasaannya di Sumbar tahun 1822.

Dalam buku karya A.Wachid, Hajjah Rosma dan Nukilan Bordir Sumatera Barat tahun 1997, kerajinan bordir mulai berkembang di Sumbar tahun 1960. “Masa kejayaannya dicapai pada 1970 hingga awal 1990. Dan kerajinan yang terkenal itu adalah kerancang,” tulis buku itu.

BacaJuga

Inilah Bujang jo Gadih Bukittinggi 2024

Kabar Duka, Mantan Ketua PWI Bukittinggi Anasrul Tutup Usia

Bordir kerancang sangat unik karena merupakan kreasi bordir halus yang menggunakan metode lubang-lubang pada kain yang dibordir. “Untuk membordir, pada dasarnya semua kain bisa digunakan untuk kerancang, asalkan tidak kain yang berbahan sutra asli,” jelas buku tersebut.

Penggunaan bukan sutra asli untuk bordir kerancang karena proses meregangkan kain dalam kerancang. Hal ini dikhawatirkan merusak kain dan hasilnya tidak maksimal.


Tags: kerajinan dari

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia