... Kerajinan Jarum DIY dari Sumatera Barat: 7 Ide Kreatif untuk Dicoba!

Kerajinan Jarum Tradisional dari Sumatera Barat - Eksplorasi Kreatif dan Kesenian DIY

Mengenal Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional dari Sumatra Barat

Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional merupakan salah satu bidang yang termasuk dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud Ristek).

Menukil dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional meliputi teknologi tradisional, arsitektur tradisional, pakaian tradisional, kerajinan tradisional, kuliner tradisional, transportasi tradisional, dan senjata tradisional.

Tahun 2021 ini, ada enam keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional dari daerah Sumatera Barat yang masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Hasil [ sunting | sunting sumber ]

Selendang bersulam termasuk pakaian adat yang dipakai oleh seorang perempuan Koto Gadang. Pemakaian motif, warna, dan bahan selendang yang digunakan disesuaikan dengan status dan usia wanita yang memakai. Untuk wanita muda, biasanya wama yang dipakai adalah warna terang seperti merah dan motifnya agak rapat sehingga bahan dasar kain terlihat sedikit saja. Adapun bagi wanita yang sudah bekeluarga, kain yang digunakan yakni berwarna tua seperti nila atau hijau dan motif yang agak jarang. [36] [2]

Menurut penelitian Ernatip dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Padang, masyarakat Koto Gadang saat ini banyak menekuni sulaman dan menjadikannya sebagai suatu pekerjaan yang menghasilkan uang. Selendang bersulaman Koto Gadang termasuk sulaman yang sangat halus dan rapi bila dibandingkan dengan sulaman daerah lain sehingga harga selendang bersulaman Koto Gadang relatif lebih mahal. [37] [12] Pada saat ini, selendang sulaman suji caia dijual seharga Rp2.000.000 sampai Rp2.500.000 per helai, sedangkan selendang sulaman kapalo samek dijual dengan harga Rp1.750.000 hingga Rp2.250.000 per helai. [12] [7] Namun, karena dikerjakan oleh tenaga manusia, pengerjaan sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu yang lama. Untuk satu helai kain sulaman Koto Gadang membutuhkan waktu penyelesaian setidaknya dua bulan. [a]

Selendang sulaman Koto Gadang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Pengenalan selendang sulaman Koto Gadang ke dunia luar terus dilakukan, terutama oleh pengrajin itu sendiri. Berbagai pameran baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional ikut menampilkan selendang sulaman Koto Gadang sebagai produk kerajinan unggulan. [38] [7] [37] Dikenalnya sulaman Koto Gadang oleh masyarakat luas secara tidak langsung memberi peluang bagi pengrajin sulam untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak. [39]

Dalam gelaran Festival Sulam Bordir di Jakarta pada 2012, ditampilkan karya selendang sulam sepanjang 20 meter yang menggunakan berbagai jenis teknik sulam dari Sumatera Barat, termasuk sulam suji caia dan kepalo samek dari Koto Gadang. Selendang tersebut mendapatkan penghargaan sebagai sulam terpanjang di dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI). [40] [41]

Kerancang, Kerajinan Bordir yang dibawa Belanda ke Sumatera Barat

Bekas tentara itu berasal dari Kalkutta, India dan memilih pergi Ke Pariaman daripada kembali ke daerah asal mereka saat Rafless mengakhiri kekuasaannya di Sumbar tahun 1822.

Dalam buku karya A.Wachid, Hajjah Rosma dan Nukilan Bordir Sumatera Barat tahun 1997, kerajinan bordir mulai berkembang di Sumbar tahun 1960. “Masa kejayaannya dicapai pada 1970 hingga awal 1990. Dan kerajinan yang terkenal itu adalah kerancang,” tulis buku itu.

BacaJuga

Inilah Bujang jo Gadih Bukittinggi 2024

Kabar Duka, Mantan Ketua PWI Bukittinggi Anasrul Tutup Usia

Bordir kerancang sangat unik karena merupakan kreasi bordir halus yang menggunakan metode lubang-lubang pada kain yang dibordir. “Untuk membordir, pada dasarnya semua kain bisa digunakan untuk kerancang, asalkan tidak kain yang berbahan sutra asli,” jelas buku tersebut.

Penggunaan bukan sutra asli untuk bordir kerancang karena proses meregangkan kain dalam kerancang. Hal ini dikhawatirkan merusak kain dan hasilnya tidak maksimal.

Kerajinan Perak dan Songket Koto Gadang

Koto Gadang adalah sebuah desa yang berada di Kabupaten Agam , Sumatera Barat. Desa ini terkenal dengan hasil kerajinan peraknya. Orang-orang di Koto Gadang sudah menjadi pengrajin perak sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Hasil kerajinan mereka tidak hanya menarik masyarakat daerah tetapi juga memikat warga Belanda yang tinggal di sana. Kerajinan yang dihasilkan berupa kalung, gelang, cincin, atribut pakaian, hingga miniature rumah adat Minang. Para wanita Belanda juga banyak yang memaikan kerajinan ini.

Keunikan kerajinan perak Koto Gadang adalah warnanya yang tidak mengkilat seperti warna putih susu dan juga teksturnya yang halus sehingga serasi jika digunakan bersama dengan kain songket.

Kerajinan perak Koto Gadang terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 1911 kerajinan ini banyak dilirik oleh bangsa Eropa. Saat ini jangkauan pasar Koto gadang sudah mencapai Malaysia, Singapura, dan negara-negara tetangga lainnya.

Selain hasil kerajinan peraknya. Koto Gadang juga terkenal dengan kain songketnya. Kain songket Koto Gadang merupakan yang terhalus di dunia. Bahkan baru-baru ini seorang warga Koto Gadang berhasil menggelar pameran kain songket Koto Gadang dan dari daerah Sumatera Barat lainnya di Moscow, Rusia.


Tags: kerajinan dari

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia