Kerajinan Jarum Tradisional dari Sumatera Barat - Eksplorasi Kreatif dan Kesenian DIY
Batik tanah liek
Prof Gusti Asnan, ahli sejarah dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa batik di Sumatra dipengaruhi oleh orang Jawa yang berada di Minangkabau sebelum masuknya agama Islam. Seni membatik ini masuk sejalan dengan Ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singosari dari Tanah Jawa.
Seperti dilansir Kompas.com, salah satu pelopor pengembangan batik kuno di Kota Padang, Wirda Hanim, mengatyakan bahwa penamaan batik tanah liek ini karena proses pewarnaannya menggunakan tanah liek alias tanah liat. Warna asli tanah liat yang kuning kecokalatan menjadi warna dasar batik tersebut sebelum diberi motif.
Untuk corak batik tanah liek sendiri biasanya menggunakan motif untuk ukiran Rumah Gadang, seperti itiak pulang patang, kaluak paku, dan pucuak rabuang.
Kawa daun Pariangan
Kawa daun biasa disajikan dalam tempurung kelapa dibelah dua menyerupai mangkuk, mengingat zaman dahulu tidak tersedia gelas sebagai tempat minum. Kawa daun juga dapat dinikmati dengan gula dan berbagai kudapan.
Pariangan yang berada di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, merupakan salah satu tempat untuk mencoba minuman kawa daun. Untuk membuat kawa daun, daun kopi dikeringkan dan dijadikan bubuk untuk kemudian diseduh.
Prof. Gusti menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau sejak awal memang tidak mengonsumsi biji kopi untuk minuman. Baru pada akhir abad ke-18, seorang saudagar dari Amerika datang dan membeli biji kopi. Kejadian ini akhirnya menyadarkan masyarakat bahwa biji kopi memiliki nilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Tags: kerajinan dari