Kerajinan Khas Sumatera Selatan - Keindahan Budaya yang Terjaga
Tanaman Purun: Emas Hijau dari Rawa, Berikut Ciri, Habitat, dan Manfaatnya
Sebagai negara yang memiliki wilayah lahan gambut terluas di Asia Tenggara, Indonesia diberkahi oleh potensi kekayaan hutan hujan tropis yang sangat besar dan keanekaragaman hayati yang lebih banyak dibandingkan negara-negara lainnya.
Kondisi tanah gambut yang mempunyai tingkat keasaman dan unsur hara yang tinggi, menjadikan rawa-rawa yang ada sebagai rumah yang memungkinkan budidaya dari berbagai macam tumbuhan, termasuk purun.
Tanaman purun adalah komoditas yang sering dimanfaatkan oleh penduduk lokal dalam menunjang perekonomian, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar wilayah gambut di Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jambi, atau Kalimantan Selatan dengan kondisi geografis cukup banyak rawa-rawa yang digenangi air sepanjang tahunnya.
Apa itu Tanaman Purun?
Memiliki nama latin Lepironia articulata, dan termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledoneae, ordo Cyperales, dan famili teki-tekian (Cyperaceae), tanaman purun adalah sejenis semak yang biasanya tumbuh liar di daerah lahan basah atau rawa gambut yang kerap tergenang air.
Berdasarkan penelitian Suprapto dan Yudha (2019), ciri-ciri dari tanaman purun adalah memiliki batang berongga tegak, dan tidak bercabang. Batangnya tidak berdaun karena daunnya tereduksi menjadi pelepah yang berbentuk buluh bagai membran yang menyelubungi pangkal batang.
Umumnya purun mempunyai panjang sekitar 50-200 cm, dan ketebalan 2-8 mm dengan warna keabu-abuan hingga hijau mengkilap. Selain itu, terdapat bunga bulir berbentuk silinder yang majemuk dan bersifat hermafrodit yang terletak di ujung batangnya, dengan panjang 2-6 cm dan lebar 3-6 mm.
Purun dapat tumbuh dengan baik bahkan sepanjang tahun di habitat lahan yang selalu berair seperti tawar tepian danau, saluran tersier, dan terutama di tanah gambut.
Hal ini karena tanaman purun mampu beradaptasi dengan baik pada lahan bersulfur masam dengan pH rendah seperti pada tanah lempung atau humus dengan Ph 6,9-7,3, lalu juga di dataran rendah dengan ketinggian 0-1.350 m di atas permukaan laut, dan juga pada suhu 30-35°C dengan kelembaban tanah 98-100%.
Jenis-Jenis Tanaman Purun
1. Purun Tikus
Bernama latin Eleocharis dulcis, purun tikus adalah jenis tanaman purun yang dikenal berfungsi sebagai sumber bahan organik dan biofilter yang mampu menyerap racun dari logam berat seperti besi (Fe), aluminium (Al), sulfat (SO), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd).
Dengan kemampuan tersebut, purun tikus mampu tumbuh pada kondisi tanah yang buruk dengan pH 3 dan menukar kandungan aluminium, kandungan sulfat larut tinggi, dan kandung besi larut.
2. Purun Danau
Mempunyai nama latin Lepironia articulata Retz. Domin., perbedaan jenis purun danau dengan purun tikus dan purun bajang adalah ukurannya yang jauh lebih besar, yang mana purun danau memiliki daun yang lebih keras menyerupai kayu dan berbuku dengan garis yang lebih jelas dibandingkan jenis purun lain.
Rongga pada bagian batang dari purun danau lebih mirip seperti batang bambu, dan bunga yang tidak terletak pada ujung batang seperti jenis purun tikus ataupun purun bajang.
3. Purun Bajang
Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Harsono (2013) mengemukakan bahwa purun bajang sedikit berbeda dengan jenis purun tikus dan purun danau, yakni dilihat dari segi sifat fisis dan mekanis.
Ditemukan bahwa purun bajang relatif lebih licin dibandingkan jenis tanaman purun lainnya. Kendati demikian purun bajang masih bisa dimanfaatkan dalam usaha anyaman walaupun harus diperhatikan bahwa purun bajang memiliki nilai kuat tarik yang signifikan rendah, sehingga harus dilakukan proses pengeringan tanpa penumbukan.
7 Kerajinan Khas Banyuasin, Ada Gerabah Hingga Tanah Liat
Panen padi hitam di Desa Air Gading Banyuasin (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Setiap kabupaten dan kota di Indonesia memiliki ciri khas sebagai ikon daerah masing-masing. Selain memiliki adat dan budaya istimewa, kerajinan tangan juga menjadi bukti nyata eksistensi sebuah wilayah.
Seperti di Banyuasin, Sumatra Selatan (Sumsel), kabupaten dengan pusat daerah di Pangkalan Balai, memiliki kerajinan khas yang dihasilkan dari masyarakat sekitar. Bahkan karya itu ada yang berbahan dasar tanah liat. berikut IDN Times bagikan informasinya, simak yuk!
Cara Memakai Songket [ sunting | sunting sumber ]
Kain songket pada umumnya dipakai sebagai pakaian adat masyarakat Palembang untuk menghadiri ritual adat antara lain upacara perkawinan, upacara cukur rambut bayi dan sebagai busana penari Gending Sriwijaya. Terdapat perbedaan motif cara memakai kain songket pada pria dan wanita. [6]
- ^ Songket Palembang https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=9
- ^ Rodgers, Susan, Summerfield, Anne, Summerfield, John (2007). Gold Cloths of Sumatra: Indonesia's Songkets from Ceremony to Commodity [Kain Emas Sumatra: Songket, dari Seremoni hingga Komoditas] (dalam bahasa Inggris). Worcester, Massachusetts: Cantor Art Callery. ISBN978-9067183123 . Diakses tanggal 15 January 2012 . [pranala nonaktif permanen]
- ^ ditindb (2014-03-05). "77 karya budaya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2013". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya . Diakses tanggal 2019-02-22 .
- ^"Mengenal Ragam Songket Palembang - Semua Halaman - Bobo.Grid.ID". Bobo.ID . Diakses tanggal 2019-02-22 .
- ^ MAKNA SIMBOLIS MOTIF TENUN SONGKET AESAN GEDE DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT PALEMBANG SUMATERA SELATAN http://repository.isi-ska.ac.id/988/1/Tesis%20Endang%20Tri%20Wahyuni.pdf
- ^ Analisis Karakteristik dan Perilaku Konsumen Tenun Songket Palembang https://media.neliti.com/media/publications/12622-ID-analisis-karakteristik-dan-perilaku-konsumen-tenun-songket-palembang.pdf
Tags: kerajinan dari