Kerajinan DIY Jakarta - Menemukan Keindahan dalam Seni Jahit dan Kreativitas Sendiri
Dari Hulu ke Hilir Penanganan Sampah Jakarta
Keterbatasan lahan di pembuangan akhir Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, membuat Pemprov DKI Jakarta harus berpikir cermat tentang cara memanfaatkan lahan yang tersisa dengan baik dan benar.
Sampah masyarakat Jakarta mencapai 7.500-7.800 ton per hari yang berakhir di Bantar Gebang. Tak heran bila sampah Jakarta menjadi pemasok utama di sana. Namun yang menjadi masalah adalah kian hari lahan Bantar Gebang kian terbatas.
Mengurangi penggunaan sampah adalah salah satu solusi. Mungkin memang terdengar sulit, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Ini yang kemudian menjadi keinginan besar Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, untuk mengurangi penggunaan sampah dari hulu hingga ke hilir.
Produk dari Kulit Menjadikan Anda Semakin Stylish
Saat ini, tidak sedikit orang yang menyukai produk-produk yang berbahan dasar kulit. Penyebabnya tidak lain karena produk kulit dapat menjadikan seseorang semakin percaya diri. Pasalnya mereka bisa tampak semakin stylish. Sebagai contoh, ketika mengenakan sepatu kulit kualitas terbaik, penampilan Anda akan terkesan elegan.
Adanya rasa percaya diri sangat penting untuk tampil di depan publik. Sebab, public speaking yang baik didasarkan atas rasa percaya diri tersebut. Yang mana percaya diri ditunjang dari penampilan. Penampilan yang baik akan mendorong Anda untuk senantiasa percaya diri.
Terkadang, penggunaan barang-barang murah bisa membuat orang minder. Pasalnya, produk murah seringkali buruk kualitasnya. Akan tetapi, tidak dengan pengrajin kulit murah yang juga memperhatikan kualitasnya. Murah disini merujuk pada harga yang rasional, sehingga mereka tetap memperhatikan kualitas dari produk.
Karena itu, pengrajin kulit murah tersebut akan membuat Anda tampil semakin fashionable. Bukan hanya itu, kenyamanan juga menjadi komponen penting dalam berpakaian. Produk yang dihasilkan tidak akan merusak kenyamanan Anda saat memakainya. Oleh karenanya, meskipun dikenakan seharian. Bisa dipastikan Anda akan tetap nyaman.
Pengelolaan Sampah dari Hulu ke Hilir
Sejumlah petugas membersihkan sampah di kolam penampungan air kawasan Muara Angke, Jakarta. Foto: Pemprov DKI Jakarta
Kepala Dinas LH DKI Jakarta Asep Kuswanto menyadari bahwa lingkungan kawasan perusahaan tentu sangat banyak. Jika seluruh sampah di DKI Jakarta tidak lebih dulu dipilah dan dikelola dengan benar, kawasan Bantar Gebang akan segera penuh.tinggal menghitung hari
“Kewajiban pengelolaan sampah di kawasan dan perusahaan,termasuk sampah plastik, pelaku usaha wajib mengelolanya,” kata Asep kepada Kumparan.
Konsep tersebut adalah penanganan dan pengelolaan sampah di hulu. Lalu bagaimana dengan di hilir yang melibatkan masyarakat langsung?
Sejak 2020, Pemprov DKI menerapkan kebijakan zero waste, dengan tidak menggunakan kantong plastik kresek lagi. Pemprov DKI mengarahkan masyarakat untuk menggunakan wadah daur ulang yang tidak membuat sampah semakin menumpuk.
Mengubah Sampah Jadi Bahan Bakar dan Budidaya Maggot
Target Jakarta untuk mengurangi sampah di DKI Jakarta tentu tidak bisa dilakukan sendirian. Dalam hal ini Pemprov DKI melibatkan kehadiran pihak ketiga untuk mengelola sampah.
Ferry Johan salah satunya. Direktur PT Mitra Karunia Indah ini memang beberapa kali terlibat langsung dengan pengelolaan sampah di tengah masyarakat. Bahkan, pemilik salah satu perusahaan di Jakarta Utara tersebut juga turut terlibat dalam pengelolaan sampah mandiri,
“Ini adalah salah satu solusi yang sangat baik ya, untuk mengolah sampah-sampah anorganik. Selama ini kita bermasalah salah satunya dengan plastik. Plastik itu kan hancurnya bisa ratusan tahun. Dengan dibakar melalui proses yang baik seperti ini, plastik bisa habis. Kalau menurut saya sih, (RDF) ini bagus sekali ya,” kata Ferry saat dihubungi Kumparan, Senin (18/7).
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor menunjukkan hasil panen budidaya maggot di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS 3R) DLH, Paledang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/12). Foto: Arif Firmansyah/ANTARA FOTO
Sebuah RDF bisa mengolah 300 kilogram sampah setiap jam. Totalnya, pengelolaan sampah RDF di salah satu kawasan Jakarta Utara itu bisa mengolah hampir dua ton sampah per hari.
Sedangkan untuk sampah anorganik, Ferry menggunakan metode komposting dan biokonversi BSF (Black Soldier Fly) dengan menggunakan maggot. Dengan kemampuannya yang bisa memakan hingga lma kali bobot tubuhnya, maggot ideal digunakan untuk mengolah sisa-sisa makanan.
“Bekas-bekas makanan kita olah pakai maggot. Terus si maggotnya itu kita kasih buat makanan ikan lele. Ada juga yang kita kasih buat peternak. Jadi terbentuk suatu circular economy,” kata Ferry.
Untuk budidaya maggot, Ferry bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). DLH sudah beberapa kali melakukan penyuluhan atau kelas khusus untuk membudidayakan maggot.
“Kebetulan untuk BSF atau maggot ini juga kita masih belajar. Dari DLH itu kadang-kadang suka kasih penyuluhan tentang bikin maggot itu bagaimana. Suka ada pembinaan, kadang juga ada pengecekan,” jelas Ferry.
Tags: kerajinan jakarta