Seni Kerajinan Gerabah dalam Dunia DIY dan Sulam
Proses Pembuatan Gerabah
Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produksi barang kerajinan gerabah adalah tanah liat. Bahan penolong atau perlengkapan produksi terdiri dari pasir, kayu bakar, simir, kiolin, semen warna, minyak tanah dan cat.
Sedangkan peralatan yang digunakan dalam proses produksi adalah unit pengelolaan bahan baku, tungku pembakaran, alat putar, pompa air, kuas dan pisau gores. Berikut ini penjelasan mengenai proses pembuatan gerabah secara umum:
1. Persiapan Tanah Liat
Bahan baku tanah liat biasanya di ambil dari pegunungan. Menurut pengrajin gerabah, tanah liat terbaik adalah tanah liat yang berasal dari lapisan dalam tanah yang terletak pinggir bukit-bukit kecil.
Warna tanah liat merupakan salah satu dasar dalam mengklasifikasikan jenis gerabah yang dihasilkan. Warna dasar tanah liat akan menghasilkan warna yang berbeda pada gerabah ketika melalui tahap pembakaran
2. Proses Pembentukan Gerabah
Sebelum melakukan proses pengadukan bahan dasar, yang terdiri dari tanah liat, pasir, dan air. Tanah liat terlebih dahulu mengalami proses perendaman selama 2-3 hari. Proses perendaman itu disebut sebagai sistem basah.
Proses ini berguna untuk menyaring tanah liat dari kerikil-kerikil kecil yang masih menempel pada tanah liat. Sementara menunggu rendaman tanah liat selesai, pasir disaring utuk mengasilkan pasir yang benar-benar halus.
3. Pembakaran Gerabah
Secara teknis, proses pembakaran gerabah baru akan dapat dilakukan jika gerabah dalam kondisi benar-benar kering. Proses pembakaran membutuhkan bahan-bahan seperti kayu bakar, serabut kulit kelapa, jerami, daun bambu kering, minyak tanah dan batu bata yang sudah pecah sebagai alas untuk meletakkan gerabah.
Teknik pembakaran seperti ini memiliki keuntungan diantaranya adalah kemudahkan dalam mengeluarkan gerabah dari tungku serta keleluasan gerabah dalam mewarnai atau menambah hiasan/ ornamen pada gerabah saat pembakaran sedang berlangsung.
Pengertian dan Selayang Pandang Sejarah
Merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dilakukan dengan diawali proses pembentukan dan dibakar agar bentuk bisa bertahan lama dan digunakan untuk berbagai kebutuhan. Secara harfiah, berdasarkan penjelasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertianya adalah alat dapur yang digunakan untuk memasak dan lain sebagainya, yang dibuat dari tanah liat dengan cara dibakar.
Oleh karena itu biasanya alat ini sangat mengandung nilai seni, budaya dan sejarah yang tinggi. Bisa digunakan juga sebagai alat yang antik. Bagi Sedulur yang ingin berbeda dan eksentrik, Sedulur bisa menggunakan alat-alat ini untuk penggunaan kebutuhan dapur dan kebutuhan sehari-hari.
Teknik pembuatan tembikar dari masa tersebut masih sangat sederhana, yaitu dengan teknik tangan dan pembakaran tradisional. Pembakaran tradisional adalah pembakaran secara terbuka, dalam lubang dangkal beralas tanah liat dengan api rerumputan menyala. Teknik pembuatan tembikar seperti itu masih digunakan sampai sekarang oleh sebagian perajin keramik di Indonesia.
Untuk mendapatkan tembikar yang menarik, maka salah satu yang dilakukan oleh pembuat tembikar adalah dengan memberikan motif hias pada tembikar. Pada tembikar yang digunakan untuk rumah tangga biasanya bermotif sederhana atau polos, sedangkan untuk kepentingan lain tentunya memerlukan motif yang lebih menarik.
Hal yang membedakan penggunaan wadah untuk berbagai kebutuhan dibedakan dengan motif dan hiasan luarnya. Karena kerajinan gerabah berasal dari tanah liat, ketahanannya sangat lama. Semakin lama dibakar semakin tahan, semakin lama digunakan akan semakin kuat. Oleh karena itu, dalam setiap pertemuan arkeologis, gerabah salah satu peninggalan yang banyak ditemukan.
Sejarah singkat Sentra Keramik Plered
Kerajinan keramik atau gerabah sudah ada sejak beberapa abad yang lalu, di Indonesia sendiri sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Yakni sekitar tahun 1795, di daerah Citalang, yang menjadi pusat pembuatan batu bata dan genteng.
Maka sejak saat itu, rumah penduduk di Kabupaten Karawang yang dulunya beratapkan ijuk atau daun kalapa berubah menjadi genteng. Di Plered sendiri konon katanya sudah ada sejak tahun 1904, dan dijalankan secara turun temurun.
Di Kecamatan Plered terdapat 3 desa yang menjadi sentra pembuatan keramik atau gerabah dengan spesialisasi tersendiri, yakni:
- Desa Citeko dan Desa Pamoyanan, merupakan pusat pembuatan genteng.
- Desa Anjun, lebih difokuskan pada keramik tradisional dan fungsi. Seperti ulekan, kendi, pot bunga, cangkir, gelas, piring, tempat payung, dan yang lain sebagainya.
Bahkan di Desa Anjun terdapat Museum Keramik Plered, merupakan sebuah tempat untuk wisata edukasi dan budaya kerajinan keramik atau gerabah di Purwakarta.
Tags: kerajinan dari