Kreasi Cantik dari Kaleng Rokok Surya - Panduan Kerajinan Tangan DIY untuk Pemula
Rasanya Mirip?
Akan terlalu banyak jika saya sebutkan satu persatu rokok jenis dan merek apa saja yang berusaha mengambil ceruk pasar rokok milik pabrikan mazhab besar. Saya ambil contoh satu saja seperti rokok Tuton SPR dari Semarang, yang bentuk batangannya menyerupai rokok Djarum Super, juga rasanya.
Lantas rokok yang satu ini, Gajah Baru International, yang bentuk batangannya menyerupai batangan rokok Gudang Garam Surya. Hanya menyerupai. Karena jika dilihat secara detail, logo pada batangannya sedikit berbeda. Lalu apakah rasanya juga? Jujur saja, rasanya sebenarnya gak juga mirip mirip banget.
Jika rasa Surya ada rasa rasa gurihnya, Gajah Baru masih terasa kurang gurih. Terutama aromanya yang memang tidak bisa mengejar aroma rokok Surya. Secara alam bawah sadar saja, mungkin, saat anda mengisap batangan rokok Gajah Baru, terasa mirip dengan rokok Surya. Namun, jika dirasakan secara seksama dan mengisap secara bergantian antara rokok Surya dan Gajah Baru, akan terasa sekali bedanya.
Baca Juga: 5 Sigaret Kretek Tangan yang Patut Dicintai Para PendakiPerbedaan itu terletak pada rasa gurih dan aromanya yang lebih wangi dan lebih sedap rokok Surya saat asapnya diembuskan. Aroma asapnya berbeda, juga rasanya. Tapi jika Anda menikmatinya dengan keadaan normal tanpa memperhatikan dan berniat membedakan, rasa sepet dan pedasnya juga gurihnya bisa dibilang mirip. Namun, yang paling berbeda dan tidak bisa dikejar oleh pabrikan lain atas produk rokok mazhab besar adalah aromanya.
Pabrikan rokok kecil yang ingin meniru rasa produk rokok pabrikan mazhab besar kemungkinan bisa saja mendekati rasanya agar lebih menyerupai rasa rokok yang ditirunya. Namun soal aroma, pabrikan rokok kecil sangat sulit untuk menirunya.

Harga Surya 12 dan 16 (Pak, Slop, Kaleng)
Sudah banyak dokter, ahli kesehatan, bahkan sejumlah artikel yang menyebutkan bahwa merokok merupakan kegiatan yang dapat mengganggu kesehatan, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Namun, diakui atau tidak, jumlah perokok aktif di Indonesia masih tergolong tinggi. Walau bukan kebutuhan pokok, rokok digemari banyak orang dan termasuk convenience good atau barang yang sering dibeli terus-menerus oleh konsumen, tanpa banyak melakukan pertimbangan dalam proses pembeliannya. [1]
Meskipun sudah hadir dalam beberapa varian, tetapi varian produk Surya yang paling terkenal adalah Surya 12 dan Surya 16. Secara tampilan, bungkus kedua rokok tersebut mirip, dengan dominasi warna cokelat tua dan outline berwarna emas. Hanya saja, seperti namanya, sebungkus Surya 12 berisi 12 batang rokok sehingga lebih nyaman di kantong, sedangkan Surya 16 berisi 16 batang rokok sehingga terkesan lebih lebar.
Pindah ke bagian dalam, inner frame yang ada berwarna emas, disertai adanya sekat pemisah pada bagian dalam yang membuat rokok ini dapat disebutkan mengusung kemasan model internasional layaknya Dunhill International. Khusus untuk produk isi 16, terdapat dua ruang, yang masing-masing berisi 8 batang di kiri dan 8 batang di kanan. Foil produk juga terpisah di antara bagian kiri dan kanan, menggunakan warna emas dan terdapat pattern diamond serta segitiga bertuliskan GG.
Dibandingkan Gudang Garam International, rokok Surya, baik isi 12 maupun 16, punya batang yang lebih panjang, dengan diameter sama dengan rokok SKM full flavor pada umumnya. Pada bagian burning area, terdapat cetakan logo Surya berwarna merah, logo Gudang Garam berwarna biru, dan tulisan Gudang Garam dengan warna merah. Bagian batasan tipping paper, ditemukan garis emas disertai dengan warna merah, yang memiliki efek shiny dan glossy. Tipping paper rokok Surya menggunakan motif yang cenderung abstrak.
Lalu, bagaimana dengan rasanya? Menurut sejumlah konsumen, rokok Surya 16 punya rasa manis yang kuat. Sementara itu, beberapa pengguna lainnya menyebutkan kalau Surya 16 memiliki keseimbangan rasa antara manis, pekak, dan pedas. Memang, ada rasa manis yang bisa ditemukan, tetapi tidak begitu kuat. Sementara itu, rasa pedasnya cukup terasa, dengan sensasi panas yang tertinggal dan melekat di tenggorokan saat mengisap rokok tersebut, tetapi tetap halus dan tanpa membuat tenggorokan gatal.

Gudang Baru Digugat Gudang Garam
Mengutip berita yang ditayangkan CNN Indonesia pada 21 April 2021, PT Gudang Garam Tbk melayangkan gugatan kepada H. Ali Khosin selaku pemilik perusahaan Gudang Baru di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 22 Maret 2021. Gugatan dilayangkan lantaran merek dagang Gudang Baru dianggap menyerupai produsen rokok Gudang Garam.
Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung, gugatan dari Gudang Garam berhasil. Berita Gudang Garam yang memenangkan gugatan atas Gudang Baru itu tersebar di media masa. CNBC menayangkan berita hasil gugatan tersebut pada 4 Juli 2022.
“Berdasarkan keputusan tersebut maka pihak-pihak terkait diperintahkan untuk segera melaksanakan isi amar putusan tersebut dalam waktu sesingkat-singkatnya,” Demikian isi putusan seperti yang diumumkan di media massa pada hari Senin (4/7/2022).
Lebih lanjut, isi pengumuman yang juga ditayangkan CNBC itu berbunyi:
“Untuk itu, kami mengingatkan kepada khalayak ramai, produsen, pedagang eceran, toko retail, penjual, dan/maupun pengedar untuk segera menghentikan kegiatan produksi pemasaran, penjualan, pendistribusian, dan penggunaan produk-produk rokok atau sejenisnya dengan menggunakan Gudang Baru atau merek-merek lain yang mempunyai persamaan pada pokoknya maupun keseluruhan dengan merek Gudang Garam.”
Apabila ada yang melanggar maka bisa dipidana dengan penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak Rp 2 miliar.
Sumber dari laman resmi Gudang-baru.com mengatakan bahwa perusahaan ini didirikan pada 1973 oleh Saman Hoedi di bawah perusahaan PT Bintang Sayap Insan. Produk pertamanya adalah rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan merek Insan.
Kemudian pada dekade 1980-an, Saman Hoedi mewariskan kepada generasi penerusnya, yakni Ali Khosin.
Pada 1995, perusahaan mulai memproduksi jenis rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM). Selain itu, perusahaan ini juga memperluas distribusi rokoknya tidak hanya di seluruh Indonesia, tetapi juga merambah pasar ekspor ke Asia Pasifik hingga Eropa.

Tags: kerajinan kaleng