Seni Sulam Bali - Keindahan Kerajinan Tangan Tradisional untuk DIY yang Memukau
Pia Legong Dan Pia Eiji
Selain Pie Susu, ada satu lagi oleh oleh makanan khas Bali yang terkenal dan tahan lama, namanya Pia Legong. Makanan ringan khas Bali ini dibuat tanpa menggunakan mesin dan hanya dalam jumlah terbatas untuk menjaga kualitas rasa. Tersedia sedikitnya tiga varian rasa yaitu keju, cokelat dan kacang hijau.
Rasanya yang enak dan kulitnya yang renyah tidak keras, membuat kue ini banyak diburu oleh wisatawan. Harga Pia Legong Bali sekitar Rp. 90.000,- per dosnya (isinya sekitar 8 buah). Lokasi dan alamat Pia Legong terletak di Jl. By pass Ngurah Rai, Ruko Kuta Megah 15 Kuta, Bali.
Oya, bagi Anda penggemar kue pia, saya ingin sedikit memberikan info tentang kue pia yang enak selain pia Legong ini. Ada 2 pia lain yang perlu Anda coba yaitu pia Mangkok yang merupakan andalan oleh-oleh khas Malang dan bakpia pathuk ikonnya kuliner Jogja . Untuk bakpia Jogja yang enak dan recommended adalah bakpia pathuk 25, 75, kurniasari, dan bakpia pojok.
Selain Pia Legong, ada juga Pia Eiji yang cukup terkenal dengan cita rasa enak. Varian isi / rasanya ada coklat, kacang hijau, dan keju. Anda bisa membeli Pia Eiji dibeberapa outletnya di Jl. Raya Kuta No.93a, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Jl. Bedahulu VII No.7, Dauh Puri Kaja, Kec. Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, dan Jl. By Pass Ngurah Rai No.39, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Lukisan Kamasan
Tak hanya disuguhkan dengan pemandangan yang cantik, wisatawan Bali pun disuguhkan lukisan-lukisan yang indah di sepanjang jalan Kuta, Sanur, Nusa Dua, Seminyak, dan juga pasar seni.
Lukisan di sana disebut dengan lukisan gaya kamasan karena muncul pada masa keemasan kerajaan Bali Kuno. Tema-tema dari lukisan ini pun bermacam-macam seperti kisah tentang kehidupan dewa-dewa, bangsawan, serta dongen-dongen binatang.
Warna yang digunakan untuk lukisan kamasan terbuat dari bahan-bahan alami seperti warna hitam menggunakan arang. Warna biru menggunakan rumput taum, babakan kayu sunti untuk warna merah, warna putih menggunakan tulang yang dihancurkan, dan minyak kemiri untuk warna kuning.
Pada awalnya lukisan ini tidak untuk diperjualbelikan tetapi hanya untuk pajangan atau hiasan di tempat-tempat suci. Para pelukis menjadi pekerja tetap untuk para raja dan bangsawan Bali.
Tags: kerajinan