Kerajinan Jarum Tradisional Bangka Belitung - Keindahan DIY dan Keterampilan Rajut Lokal
Ukiran Kayu
Keahlian dalam mengukir kayu menjadikan kerajinan ini sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. Beberapa ukiran kayu ini tlah banyak diekspor ke mancanegara.
Harga yang dijual tergantung dari permintaan dari konsumen mulai dari Rp75.000 sampai dengan puluhan juta.
| Sumber: Merah Putih |
Batik Batak
DOK. WONDERFUL IMAGE Motif awan larat (bagian belakang, berwarna merah) menjadi motif batik Batam yang paling terkenal.
Bergeser ke arah tenggara, batik juga bisa dijumpai di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Batik Batam atau batik Kepri identik dengan budaya dari suku Melayu. Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas penduduk Kepri berasal dari suku Melayu. Dari sekian banyak jenis batik Batam, motif awan larat merupakan corak yang paling terkenal. Diberitakan Tribunbatam.id, Kamis (29/10/2020), motif awan larat biasa dipakai untuk membuat tekat, yakni sejenis kerajinan khas Melayu yang digunakan untuk hiasan pelaminan pengantin. Baca juga: Berandai-andai, seperti Apa Gaya Traveling Pascapandemi? Motif tersebut memiliki makna kelemahlembutan budi, kearifan, dan sifat tahu diri. Sifat-sifat ini biasanya ditanamkan oleh leluhur suku Melayu kepada keturunannya. Selain motif awan larat, terdapat jenis corak lain yang patut diketahui, yaitu motif kasih bersambut, bunga hutan, dan rajung bersusun.
DOK. SHUTTERSTOCK Batik Babel identik dengan batik pesisir yang menyimbolkan corak binatang dan tumbuhan.
Tari Campak
Tari campak merupakan tarian Bangka Belitung yang menceritakan tentang kegembiraan dari pergaulan remaja di daerah tersebut. Tarian biasanya dibawakan oleh penari pria dan wanita dengan ekspresi dan gerakan yang semuanya menggambarkan ekspresi kegembiraan. Tarian ini lebih sering ditampilkan dalam acara menyambut tamu besar, pernikahan dan beberapa acara penting lainnya.
Sebenarnya, tarian ini berasal dari Kepulauan Riau yang kemudian dibawa sekaligus dikembangkan di Bangka Belitung oleh Nek Campak sehingga tarian ini lebih dikenal dengan sebutan tari campak. Di zaman penjajahan Portugis, tarian ini mengalami akulturasi budaya yang terlihat dari kostum, gerakan dan juga musik pengiring yang tampak seperti gaya Eropa meski budaya lokal masih sangat terlihat dalam tarian ini seperti kostum untuk penari pria, beberapa alat musik pengiring bergaya melayu dan juga alunan pantun.
Untuk kostum para penari juga merupakan perpaduan dari budaya Eropa dan juga Melayu. Penari wanita akan memakai pakaian ala Eropa berupa gaun dan sepatu hak tinggi. Sedangkan untuk busana pria terlihat seperti busana Melayu yakni celana panjang, kemeja, peci dan selendang. Untuk sekarang, tarian ini sudah menjadi salah satu ikon kesenian tradisional Bangka Belitung yang juga ditampilkan pada pesta rakyat.
Tags: kerajinan beli