... Panduan Praktis: 10 Kerajinan Khas Maluku yang Mudah Dibuat Sendiri

Kerajinan Sulam Tradisional Maluku - Keindahan dalam Jarum dan Kreativitas

D. Kesenian Tradisional Daerah Maluku

Provinsi Maluku yang dihuni beberapa suku bangsa memiliki beragam jenis tarian. Berikut beberapa jenis tarian yang dapat ditemukan di daerah Maluku.

Tari Cakalele merupakan salah satu tarian tradisional Maluku yang mengekspresikan tarian perang melawan penjajah. Namun tarian Cakalele di banda diekspresikan dalam gerak dan lagu serta kostum yang khas Bangsawan Banda. Tarian Cakalele di daerah lain di Maluku menggunakan gerak dan lagu serta kostum perang.

Tarian ini adalah tarian pergaulan masyarakat Maluku yang biasanya ditampilkan pada acara-acara desa berkaitan dengan upacara pelantikan raja/ kepala desa atau pada acara ramah tamah desa dengan tamu kehormatan yang hadir.

Tarian ini adalah tarian penyambutan tamu kehormatan pada acara-acara desa di Maluku tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira seluruh masyarakat atas kedatangan tamu kehormatan di daerahnya, dan menjadi ungkapan selamat datang.

Tari mamae adalah permainan tradisional yang biasanya dipertunjukkan pemuda-pemudi desa pada hari-hari tertentu, yang diangkat dari permainan bambu gila (Tarian Bambu gila adalah tarian khusus yang bersifat magis dari desa Suli).

Tari Loliyana atau tari panen lola adalah tari kreasi yang mengangkat upacara panen lola ke dalam bentuk pertunjukan dengan berpatok tradisi dan kebudayaan masyarakat kepulauan Teon Nila Serua.

Tari Kabaresi ini diilhami oleh semangat kepahlawanan dari Martha Christina Tiahahu yang secara filosofis berjuang untuk membela hak-hak pribumi dari kekejaman penjajah. Tari ini digarap dalam pola lantai yang lincah dan diiringi bunyi tifa totobuang, rebana, toleng-toleng (kentongan), dan suling bambu.

Tari panah ini mulanya berasal dari tari perang, tetapi pada perkembangannya digarap menjadi tari penyambutan tamu di daerah Maluku Tenggara. Tarian ini menggunakan busur dan anak panah sebagai alat yang dapat menggugah dan mengobarkan keberanian para pria.

Tenun Tanimbar Maluku : Sejarah dan Motif Khas Penuh Makna

Kain tenun Tanimbar Maluku memang memikat. Bukan hanya karena harmoni warnanya, namun motif khas penuh makna dan sejarah yang panjang menawarkan pesona yang lebih mendalam. Kain tenun berasal dari daerah Indonesia Timur ini memang mengagumkan.

Pada pandangan pertama, motif kain khas Maluku ini memang terkesan lebih sederhana. Setidaknya, bila kita bandingkan dengan motif tenun Sumba yang penuh motifnya. Namun sebenarnya, dalam kesederhanaannya motif tenun Tanimbar terbersit makna kehidupan yang tersembunyi di dalamnya.

Seperti kita ketahui, tenun Tanimbar berasal dari daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang terkenal dengan sebutan Kepulauan Tanimbar. Kepulauan Tanimbar merupakan bagian dari Provinsi Maluku, terletak di bagian tenggara Provinsi Maluku. Pulau Yamdena merupakan pulau terbesar dengan luas 3.333 km² yang membujur dari utara ke selatan. Pulau besar lainnya yaitu Pulau Larat, Pulau Selaru, Pulau Sera, Pulau Wuliaru, Nitu, Wetar, Labobar, Molu, Maru dan Fordata.

Sejarah Kain Tenun Tanimbar

Sejak dulu, masyarakat di Tanimbar sudah mengetahui cara menenun. Awalnya, mereka mengolah daun lontar dan seratnya dianyam. Hasil akhirnya menyerupai kain yang berguna sebagai penutup tubuh.

Berbeda dengan daerah Maluku lainnya, leluhur orang Tanimbar sudah mengenakan anyaman daun lontar untuk menutupi tubuh mereka. Seiring perkembangan waktu, mereka memakai kapas. Mereka dapat memintal benang untuk menenun. Pada waktu itu, banyak pohon kapas tumbuh di berbagai wilayah Pulau Yamdena.

Berdasarkan catatan sejarah, Pastor Guertjens pada tahun 1919-1921 menulis tentang pertenunan orang-orang Tanimbar. Dalam tulisannya, Guertjens menyebut penenunan dilakukan oleh semua wanita sebagai kerajinan rumah, dalam bentuk pintalan-pintalan dan ikat celup yang aneh.

Saat ini, penenun di Tanimbar lebih banyak memakai benang yang terdapat di pasaran. Alasannya, benang pasaran yang sudah jadi lebih praktis untuk menenun. Sehingga kain yang dibuat lebih cepat selesai dan cepat bisa dijual, dipakai sendiri atau digunakan untuk keperluan adat.

Sebagai tambahan, informasi tentang keberadaan tenun ikat pada masyarakat di Kepulauan Tanimbar sekarang ini terbukti dengan adanya kelompok-kelompok penenun yang tersebar di seluruh wilayah Tanimbar. Contohnya, di Kecamatan Tanimbar Selatan terdapat kelompok pengrajin tenun Jikar Sembilan, Taisfian, Badar Melar dan Tenun Ampera. Kelompok pengrajin tenun tersebut merupakan gabungan keluarga atau marga. Selain itu, ada pula yang dilakukan oleh marga tertentu yang lebih cenderung melakukan aktifitas penenunan berdasar pada motif kain pusaka mereka sendiri.

F. Senjata Tradisional Daerah Maluku

Masyarakat Maluku mengenal beberapa senjata tradisional, misalnya panah, tombak, dan parang salawaku. Sejak zaman dahulu tombak dan panah mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Nuaulu, khususnya untuk berburu dan berperang.

Makanan dan minuman khas daerah Maluku yaitu makanan dan minuman yang dibuat dengan bahan-bahan yang berasal dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan, atau kehutanan. Beberapa makanan dan minuman tradisional Maluku yang dapat ditemukan diantaranya seperti pepeda, kohu-kohu, dabu-dabu, dan beberapa jajanan yang terbuat dari sagu seperti talam manis, talam asin, ongol-ongol, sagu kenari, sagu kelapa, bubur mutiara, sagon kukus, sagu embal, sagu bakar, cendol, dan lain-lain. Pembahasan secara lengkap silahkan klik Makanan Khas Maluku, Lengkap Penjelasannya.

Demikian pembahasan tentang "Mengenal Kebudayaan Daerah Maluku" yang dapat kami sajikan. Artikel ini dirangkum dari buku"Selayang Pandang Maluku: Ir. Nugroho Y". Baca juga artikel kebudayaan daerah di Indonesia lainnya di situs SeniBudayaku.com.


Tags: kerajinan maluku

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia