Kerajinan Sulam Tradisional Maluku - Keindahan dalam Jarum dan Kreativitas
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (kabilano)
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) adalah salah satu kerajinan tangan khas Maluku Utara yang terbuat dari bahan dasar kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat kerajinan ini biasanya berasal dari jenis kayu Nantu yang hanya tumbuh di daerah Maluku Utara.
Proses pembuatan Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) dimulai dengan memilih kayu yang berkualitas dan dipotong dengan ukuran tertentu.
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) dihiasi dengan berbagai motif tradisional seperti motif daun, bunga, dan binatang laut yang berasal dari kearifan lokal masyarakat Maluku Utara.
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) memiliki nilai estetika yang tinggi dan merupakan bagian dari tradisi adat dan budaya Maluku Utara. Tempat pinang dan sirih merupakan simbol dari kesatuan, persatuan, dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Oleh karena itu, Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) menjadi salah satu produk unggulan yang menarik minat wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Selain itu, kerajinan ini juga dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal karena dijadikan sebagai produk komersial yang dijual di pasar lokal maupun internasional.
Makna Kain Tenun Tanimbar sebagai Kain Khas Maluku
Tenun tanimbar berasal dari Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat.
Jika Moms sekilas melihatnya, motif kain khas Maluku ini tampak sederhana.
Akan tetapi, di baliknya penuh dengan makna kehidupan.
Bahkan karena begitu sederhananya, keindahan kain tenun tanimbar kadang sulit dimengerti.
Untuk memahami keindahannya, Moms harus paham terlebih dulu motif-motifnya.
Selain itu, meski setiap daerah di Tanimbar memiliki tenun dengan ciri khasnya masing-masing, tetapi motif tenun tanimbar pada umumnya memiliki filosofi yang sama di baliknya.
Sumber inspirasi motif tenun tanimbar bisa datang dari lingkungan sekitar, seperti dari detail-detail terkecil dalam kehidupan.
Sebab, mereka yakin para leluhur mencoba melihat keindahan dari alam, sekecil apa pun bentuknya.
Mulai dari jentik nyamuk, ulat, hingga hati jagung.
Salah satu daerah penghasil tenun di Kepulauan Tanimbar adalah Yamdena.
Di sana, Moms bisa melihat terdapat empat jenis kain, yakni Tais Matan, Tais Anday, Tais Maran, dan Ule Rati.
Berikut ini penjelasan dari masing-masing motif kain tenun tanimbar:
- Tais Matan identik dengan motif utama di ujung kain. Sementara, sisanya didominasi oleh garis.
- Tais Anday memiliki bagian ujung yang dihiasi garis hitam-putih dan motif utama di tengah.
- Tais Maran menampilkan garis di bagian tengah dan motif utama di ujung.
- Ule Rati hadir dengan motif berbentuk ulat yang tersebar di seluruh kain.
Selain itu empat jenis kain tersebut, ada juga beberapa motif lainnya.
Seperti misalnya motif Lelemuke atau bunga anggrek merupakan salah satu motif utamanya.
Bagi masyarakat Tanimbar, bunga anggrek adalah perlambang kecantikan, keagungan, dan keuletan.
D. Kesenian Tradisional Daerah Maluku
Provinsi Maluku yang dihuni beberapa suku bangsa memiliki beragam jenis tarian. Berikut beberapa jenis tarian yang dapat ditemukan di daerah Maluku.
Tari Cakalele merupakan salah satu tarian tradisional Maluku yang mengekspresikan tarian perang melawan penjajah. Namun tarian Cakalele di banda diekspresikan dalam gerak dan lagu serta kostum yang khas Bangsawan Banda. Tarian Cakalele di daerah lain di Maluku menggunakan gerak dan lagu serta kostum perang.
Tarian ini adalah tarian pergaulan masyarakat Maluku yang biasanya ditampilkan pada acara-acara desa berkaitan dengan upacara pelantikan raja/ kepala desa atau pada acara ramah tamah desa dengan tamu kehormatan yang hadir.
Tarian ini adalah tarian penyambutan tamu kehormatan pada acara-acara desa di Maluku tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira seluruh masyarakat atas kedatangan tamu kehormatan di daerahnya, dan menjadi ungkapan selamat datang.
Tari mamae adalah permainan tradisional yang biasanya dipertunjukkan pemuda-pemudi desa pada hari-hari tertentu, yang diangkat dari permainan bambu gila (Tarian Bambu gila adalah tarian khusus yang bersifat magis dari desa Suli).
Tari Loliyana atau tari panen lola adalah tari kreasi yang mengangkat upacara panen lola ke dalam bentuk pertunjukan dengan berpatok tradisi dan kebudayaan masyarakat kepulauan Teon Nila Serua.
Tari Kabaresi ini diilhami oleh semangat kepahlawanan dari Martha Christina Tiahahu yang secara filosofis berjuang untuk membela hak-hak pribumi dari kekejaman penjajah. Tari ini digarap dalam pola lantai yang lincah dan diiringi bunyi tifa totobuang, rebana, toleng-toleng (kentongan), dan suling bambu.
Tari panah ini mulanya berasal dari tari perang, tetapi pada perkembangannya digarap menjadi tari penyambutan tamu di daerah Maluku Tenggara. Tarian ini menggunakan busur dan anak panah sebagai alat yang dapat menggugah dan mengobarkan keberanian para pria.
E. Upacara Tradisional Daerah Maluku
Seperti halnya masyarakat adat pada umumnya, masyarakat Maluku juga melaksanakan upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan hidup manusia, yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Beberapa bentuk upacara adat masyarakat Maluku, seperti berikut ini.
Nuaulu adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Provinsi Maluku. Mereka mendiami Pulau Seram yang terdapat di daerah Maluku Tengah. Di kalangan mereka ada tradisi yang termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu yaitu upacara yang berkenaan dengan masa peralihan dari masa kandung hingga kelahiran. Upacara tersebut dinamakan "Suu Anaku" yang berarti "Memandikan Anak".
Ada dua versi yang berkenaan dengan tujuan upacara ini. Versi yang pertama mengatakan bahwa tujuan upacara adalah agar bayi, baik ketika masih dalam kandungan maupun ketika lahir tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Sebaliknya upacara Suu Ananku bertujuan untuk menghilangkan pembawaan-pembawaan lahiriyah yang buruk pada sang bayi.
Pada masyarakat Nuaulu terdapat suatu tradisi yang disebut dengan Tihi Huau. Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang mereka yakini. menurut mereka seorang anak laki-laki maupun perempuan mudah disusupi dan sipengaruhi roh-roh jahat. Untuk itu, perlu diadakan suatu upacara agar anak terhindar dari pengaruh tersebut. Pemutusan pengaruh roh jahat itu disimbolkan dengan pemotongan rambut (tihi huau). Menurut kepercayaan mereka, rambut merupakan bagian dari tubuh manusia yang berdaya magis.
Tradisi atau Adat Lainnya di Maluku yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa daerah khususnya daerah pedalaman, diantaranya seperti Buka Sesi Lompa, Antar Sotong, Pukul Sapu (Baku Pukul Menyapu), Naik Kepala Masjid, Pela Ganding.
3. Tari Salai Jin
Tari tradisional yang satu ini kerap kali dinilai sebagai tarian yang sarat akan magis. Pasalnya, tarian ini sering kali digunakan sebagai media komunikasi, oleh nenek moyang masyarakat Ternate dengan bangsa Jin, untuk meminta pertolongan dan menyelesaikan permasalahan hidup manusia.
Oleh sebab itu, tidak heran apabila tarian ini diberi nama tari Salai Jin. Karena, di dalam tarian ini memang mengandung unsur Jin.
Terlebih, melibatkan bangsa Jin dalam tarian sudah menjadi ciri khas dari tari tradisional Maluku yang satu ini.
(Baca Juga: Daftar Kesenian Tradisional Khas Aceh)
Tags: kerajinan maluku