Kerajinan Sulam Tradisional Maluku - Keindahan dalam Jarum dan Kreativitas
D. Kesenian Tradisional Daerah Maluku
Provinsi Maluku yang dihuni beberapa suku bangsa memiliki beragam jenis tarian. Berikut beberapa jenis tarian yang dapat ditemukan di daerah Maluku.
Tari Cakalele merupakan salah satu tarian tradisional Maluku yang mengekspresikan tarian perang melawan penjajah. Namun tarian Cakalele di banda diekspresikan dalam gerak dan lagu serta kostum yang khas Bangsawan Banda. Tarian Cakalele di daerah lain di Maluku menggunakan gerak dan lagu serta kostum perang.
Tarian ini adalah tarian pergaulan masyarakat Maluku yang biasanya ditampilkan pada acara-acara desa berkaitan dengan upacara pelantikan raja/ kepala desa atau pada acara ramah tamah desa dengan tamu kehormatan yang hadir.
Tarian ini adalah tarian penyambutan tamu kehormatan pada acara-acara desa di Maluku tengah. Pada umumnya menggambarkan suasana hati yang gembira seluruh masyarakat atas kedatangan tamu kehormatan di daerahnya, dan menjadi ungkapan selamat datang.
Tari mamae adalah permainan tradisional yang biasanya dipertunjukkan pemuda-pemudi desa pada hari-hari tertentu, yang diangkat dari permainan bambu gila (Tarian Bambu gila adalah tarian khusus yang bersifat magis dari desa Suli).
Tari Loliyana atau tari panen lola adalah tari kreasi yang mengangkat upacara panen lola ke dalam bentuk pertunjukan dengan berpatok tradisi dan kebudayaan masyarakat kepulauan Teon Nila Serua.
Tari Kabaresi ini diilhami oleh semangat kepahlawanan dari Martha Christina Tiahahu yang secara filosofis berjuang untuk membela hak-hak pribumi dari kekejaman penjajah. Tari ini digarap dalam pola lantai yang lincah dan diiringi bunyi tifa totobuang, rebana, toleng-toleng (kentongan), dan suling bambu.
Tari panah ini mulanya berasal dari tari perang, tetapi pada perkembangannya digarap menjadi tari penyambutan tamu di daerah Maluku Tenggara. Tarian ini menggunakan busur dan anak panah sebagai alat yang dapat menggugah dan mengobarkan keberanian para pria.
Proses Pembuatan Kain Khas Maluku
Tidak hanya karena motifnya, tetapi juga karena lamanya proses pengerjaan juga.
Lagi pula, awalnya kain tenun ini sebenarnya tidak ditujukan untuk dijual.
Kain khas Maluku ini umumnya menjadi mas kawin yang diberikan keluarga lelaki kepada pihak perempuan.
Kemudian, kain tenun tersebut akan disimpan dan hanya dijual jika memang benar-benar membutuhkan uang.
Proses produksi kain tenun khas Maluku ini juga tidak menggunakan alat modern.
Masyarakat Maluku akan menggunakan pemintal tradisional dengan menggunakan benang dari kapas.
Selain itu, pewarnaannya juga tidak menggunakan pewarna buatan, melainkan menggunakan pewarna alami yang berasal dari akar kayu dan dedaunan.
Namun, ada pantangan bagi masyarakat Tanimbar untuk menenun ketika ada kerabat yang meninggal.
Mereka menganggap bahwa suara yang dihasilkan dari alat tenun diyakini dapat membangkitkan arwah dari liang kubur.
Uniknya lagi, tenun Tanimbar juga bisa dipakai oleh siapa saja tanpa memandang posisi di masyarakat, entah itu raja atau rakyat biasa.
Ini karena masyarakat Tanimbar menganut sistem kekerabatan 'Lebit Lokat' atau 'emas untuk semua' yang bermakna setiap individu memiliki hak dan kewajiban yang setara.
Cara memakai kain khas Maluku ini pun beragam, bisa dijadikan pakaian, atau bahkan kain penutup kepala untuk menyambut tamu.
Itulah beberapa fakta menarik yang bisa disimak dari kain khas Maluku.
Sumber
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/kain-tenun-maluku/
- https://www.daerahkita.com/artikel/144/tais-pet-kain-tenun-khas-tanimbar-maluku
- https://wolipop.detik.com/fashion-news/d-3604772/memahami-keindahan-tenun-tanimbar-yang-sulit-dimengerti
- https://dispar.malukuprov.go.id/project/kain-tenun-ikat-tanimbar/
E. Upacara Tradisional Daerah Maluku
Seperti halnya masyarakat adat pada umumnya, masyarakat Maluku juga melaksanakan upacara-upacara yang berhubungan dengan lingkungan hidup manusia, yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Beberapa bentuk upacara adat masyarakat Maluku, seperti berikut ini.
Nuaulu adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Provinsi Maluku. Mereka mendiami Pulau Seram yang terdapat di daerah Maluku Tengah. Di kalangan mereka ada tradisi yang termasuk dalam upacara lingkaran hidup individu yaitu upacara yang berkenaan dengan masa peralihan dari masa kandung hingga kelahiran. Upacara tersebut dinamakan "Suu Anaku" yang berarti "Memandikan Anak".
Ada dua versi yang berkenaan dengan tujuan upacara ini. Versi yang pertama mengatakan bahwa tujuan upacara adalah agar bayi, baik ketika masih dalam kandungan maupun ketika lahir tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Sebaliknya upacara Suu Ananku bertujuan untuk menghilangkan pembawaan-pembawaan lahiriyah yang buruk pada sang bayi.
Pada masyarakat Nuaulu terdapat suatu tradisi yang disebut dengan Tihi Huau. Tradisi ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang mereka yakini. menurut mereka seorang anak laki-laki maupun perempuan mudah disusupi dan sipengaruhi roh-roh jahat. Untuk itu, perlu diadakan suatu upacara agar anak terhindar dari pengaruh tersebut. Pemutusan pengaruh roh jahat itu disimbolkan dengan pemotongan rambut (tihi huau). Menurut kepercayaan mereka, rambut merupakan bagian dari tubuh manusia yang berdaya magis.
Tradisi atau Adat Lainnya di Maluku yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa daerah khususnya daerah pedalaman, diantaranya seperti Buka Sesi Lompa, Antar Sotong, Pukul Sapu (Baku Pukul Menyapu), Naik Kepala Masjid, Pela Ganding.
Tags: kerajinan maluku