Kerajinan Sulam Tradisional Maluku - Keindahan dalam Jarum dan Kreativitas
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (kabilano)
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) adalah salah satu kerajinan tangan khas Maluku Utara yang terbuat dari bahan dasar kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat kerajinan ini biasanya berasal dari jenis kayu Nantu yang hanya tumbuh di daerah Maluku Utara.
Proses pembuatan Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) dimulai dengan memilih kayu yang berkualitas dan dipotong dengan ukuran tertentu.
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) dihiasi dengan berbagai motif tradisional seperti motif daun, bunga, dan binatang laut yang berasal dari kearifan lokal masyarakat Maluku Utara.
Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) memiliki nilai estetika yang tinggi dan merupakan bagian dari tradisi adat dan budaya Maluku Utara. Tempat pinang dan sirih merupakan simbol dari kesatuan, persatuan, dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Oleh karena itu, Kerajinan Tempat Pinang dan Sirih (Kabilano) menjadi salah satu produk unggulan yang menarik minat wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Selain itu, kerajinan ini juga dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal karena dijadikan sebagai produk komersial yang dijual di pasar lokal maupun internasional.
2. Tari Lenso
Berikutnya ada tari Lenso, yang masuk sebagai kesenian tradisional khas Maluku. Tari yang memiliki tema serupa dengan tari Tide-Tide ini, awalnya dibuat sebagai perekat hubungan persaudaraan dan kekerabatan masyarakat Maluku dalam berkehidupan sosial.
Tari tradisional ini diciptakan pada saat bangsa Portugis masuk ke Maluku pada 1612. Maka dari itu, nama “Lenso” yang digunakan pada tarian ini pun berasal dari bahasa Portugis, yang artinya sapu tangan.
Di mana, sapu tangan sendiri merupakan properti utama yang digunakan para penari saat menarikan tarian ini. Selain itu, sapu tangan yang digunakan pun umumnya berwarna merah ataupun putih.
C. Pakaian Tradisional Daerah Maluku
Pakaian Tradisional Manimbar
Pada dasarnya pakaian adat masyarakar Manimbar kini tidak lagi digunakan pada kehidupan mereka sehari-hari. Kalaupun ada yang memakai, itupun terbatas pada kaum yang sudah berumur. Pakaian tersebut diantaranya kutang liman malawan, yaitu sejenis kebaya yang berlengan pendek atau panjang, untuk bagian atas, dan bagian bawah mengenakan kain sarung (tais maran).
Pakaian adat wanita Tanimbar terdiri atas kebaya dan kain tenun yang disebut tais matau atau tais wangin. Sementara itu kaum pria Tanimbar memakai kemeja panjang dan celana panjang dengan kelengkapan berupa umpan, yaitu selembar kain tenun yang diikat di pinggang, sinune, tutuban ulu, kain penutup kepala, berhiaskan somalea. Pembahasan lengkapnya silahkan klik Pakaian Adat Maluku Lengkap, Gambar dan Penjelasannya
Tags: kerajinan maluku