Kerajinan Jarum Tradisional Maluku Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Karya DIY
Makanan Khas Maluku Utara
Makanan Khas Maluku Utara terkenal dengan olahan ikan yang pedas. Terdapat banyak pilihan olahan kuliner mulai dari camilan hingga hidangan utama. Makanan khas di Maluku Utara ini biasanya adalah makanan / hidangan utama.
Disajikan sebagai lauk untuk makan. Makanan ini juga termasuk ke dalam makanan tradisional karena sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Maluku Utara, provinsi yang dijuluki sebagai “Negeri Rempah-Rempah” ini memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa.
Perpaduan budaya dan rempah-rempah menghasilkan cita rasa khas yang tak terlupakan. Berikut 15 daftar makanan khas Maluku Utara yang wajib kamu coba:
Pisang Goreng Mulut Bebek
Ternate mungkin bukan satu-satunya daerah yang mengolah buah pisang menjadi keripik. Pasalnya, ada Bandung, Jogja, Semarang dan kota lainnya yang turut mempopulerkan penganan yang identik dengan rasa manis ini. Meskipun begitu, keripik pisang Ternate dibuat dengan ciri khas tersendiri.
Dinamakan pisang mulut bebek, keripik ini memiliki bentuk yang cukup unik, yakni mirip paruh bebek.
Selain itu, cara penyajiannya pun berbeda. Alih-alih dijadikan makanan manis, kudapan ini malah dijadikan santapan berat. Penyajiannya dibarengi dengan sambal colo-colo, semangkuk ikan teri asin serta kacang kenari.
Sayangnya, kalau membelinya sebagai oleh-oleh, Anda hanya mendapatkan keripik pisangnya tanpa sambal colo-colo, ikan teri asin dan kenari.
Sejarah Kain Tenun Tanimbar
Sejak dulu, masyarakat di Tanimbar sudah mengetahui cara menenun. Awalnya, mereka mengolah daun lontar dan seratnya dianyam. Hasil akhirnya menyerupai kain yang berguna sebagai penutup tubuh.
Berbeda dengan daerah Maluku lainnya, leluhur orang Tanimbar sudah mengenakan anyaman daun lontar untuk menutupi tubuh mereka. Seiring perkembangan waktu, mereka memakai kapas. Mereka dapat memintal benang untuk menenun. Pada waktu itu, banyak pohon kapas tumbuh di berbagai wilayah Pulau Yamdena.
Berdasarkan catatan sejarah, Pastor Guertjens pada tahun 1919-1921 menulis tentang pertenunan orang-orang Tanimbar. Dalam tulisannya, Guertjens menyebut penenunan dilakukan oleh semua wanita sebagai kerajinan rumah, dalam bentuk pintalan-pintalan dan ikat celup yang aneh.
Saat ini, penenun di Tanimbar lebih banyak memakai benang yang terdapat di pasaran. Alasannya, benang pasaran yang sudah jadi lebih praktis untuk menenun. Sehingga kain yang dibuat lebih cepat selesai dan cepat bisa dijual, dipakai sendiri atau digunakan untuk keperluan adat.
Sebagai tambahan, informasi tentang keberadaan tenun ikat pada masyarakat di Kepulauan Tanimbar sekarang ini terbukti dengan adanya kelompok-kelompok penenun yang tersebar di seluruh wilayah Tanimbar. Contohnya, di Kecamatan Tanimbar Selatan terdapat kelompok pengrajin tenun Jikar Sembilan, Taisfian, Badar Melar dan Tenun Ampera. Kelompok pengrajin tenun tersebut merupakan gabungan keluarga atau marga. Selain itu, ada pula yang dilakukan oleh marga tertentu yang lebih cenderung melakukan aktifitas penenunan berdasar pada motif kain pusaka mereka sendiri.
5. Tari Bambu Gila
Tidak berbeda jauh dengan tari Salai Jin, tari bambu gila yang berasal dari Ternate ini nyatanya juga menjadi tarian yang sarat akan magis. Hal itu dikarenakan tarian yang satu ini melibatkan kekuatan supranatural.
Tarian yang juga dikenal sebagai permainan rakyat Maluku ini, dibawakan oleh tujuh orang penari yang memegang sebatang bambu. Kemudian, bambu tersebut diberi mantra-mantra oleh seorang dukun.
Kompaknya gerakan para penari, sebagai lambang kebersamaan serta gotong royong, yang tertanam di dalam budaya masyarakat Maluku.
Tags: kerajinan maluku