... Kerajinan Khas Manado: Panduan DIY untuk Seni Sulam dan Rajutan

Kerajinan Sulam Tradisional Manado - Karya Seni Jarum yang Memikat

9. Bentenan

Bila kamu tak ingin memberikan makanan khas Manado sebagai oleh-oleh, bisa kok memberikan souvenir lain yang juga memberikan karakater maupun nuansa Manado. Salah satunya adalah Bentenan.

Sekilas Bentenan terlihat seperti batik padahal bukan. Bentenan merupakan kain tenun khas Manado yang dibuat oleh masyarakat Minahasa. Motif tiap kain berbeda-beda dan memiliki penggambaran tersendiri.

Pewarna dari kain Bentenan pun masih alami. Rata-rata diambil dari alam, misalnya saja diambil dari serat kulit kayu pohon Sawukuow dan Lahendong. Selain itu diambil juga dari serat nanas, bambu, serta pisang. Kamu bisa membelikan kain Bentenan untuk orang tua sebagai kenang-kenangan.

14. Anyaman Bambu

Anyaman bambu adalah salah satu kerajinan tangan khas Manado yang cukup diminati. Peminatnya tak hanya dari kalangan lokal tapi juga mancanegara, lho. Bahkan eksistensinya sejajar dengan kain Bentenan.

Kamu bisa memilih anyaman bambu khas Manado dalam bentuk lampion, tutup saji, tapian beras, keranjang buah, dan masih banyak lagi. Untuk membelinya pun mudah. Ini karena kerajinan anyaman tanah liat ini berada di sepanjangan jalan Manado-Tomohon, bahkan di tempat jual oleh-oleh.

Kalau kamu ingat ada anggota keluarga atau teman yang memiliki rumah dengan tema rustic atau tradisional, cocok sekali memberikan kerajinan anyaman bambu sebagai souvenir sekaligus hadiah. Menarik, bukan?

Tarian [ sunting | sunting sumber ]

Dari seluruh bentuk kesenian Minahasa, tari-tarian adalah kesenian yang paling banyak jenisnya dan sangat bervariasi. Sejak dahulu, tari-tarian sudah menjadi bagian dari kehidupan orang Minahasa. Selain menari dan berdansa, mereka juga dikenal senang menyanyi. Hingga kini, seni tari di Minahasa cenderung mengadopsi banyak pola-pola kesenian dari luar yang kini menjadi ciri khas tradisional Minahasa. Begitu pula dengan alat musik pengiring tarian juga bersentuhan dengan budaya dari luar Minahasa. Adapun jenis-jenis tarian di Minahasa diantaranya:

Tari Maengket [ sunting | sunting sumber ]

Tarian maengket ini terdiri dari tiga babak, yaitu maowey kamberu, marambak dan lalayaan. [4]

  1. Marambak adalah tarian dengan semangat gotong-royong. Tarian ini sering diadakan pada acara syukuran memiliki rumah baru. Kebiasaan suku Minahasa yang saling membantu dalam membuat rumah yang baru, ketika rumah tersebut selesai dibangun maka diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa Minahasa disebut “rumambak” yang berarti menguji kekuatan rumah baru. Biasanya seluruh masyarakat kampung diundang dalam syukuran ini. [5]
  2. Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana proses mencari jodoh oleh pemuda-pemudi Minahasa pada zaman dahulu. Tari ini juga disebut tari pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa. [6]
  3. Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa karena memperoleh hasil pertanian terutama tanaman padi yang berlipat ganda. [7][8]

Tari Kabasaran [ sunting | sunting sumber ]

Tari Kabasaran merupakan simbol Keberanian Suku Minahasa. Tarian ini awalnya merupakan tarian perang. [9] Tarian Kabasaran hanya dilakukan oleh Waranei yaitu penjaga keamanan desa di Minahasa sekaligus prajurit perang. Dalam kesehariannya mereka dikenal sebagai rakyat biasa namun ketika daerah Minahasa terancam oleh serangan musuh, penari Kabasaran prajurit perang. [10] Berdasarkan adat Minahasa, tidak semua lelaki Minahasa dapat menjadi penari Kabasaran. Yang menjadi penari biasanya keturunan dari sesepuh penari Kabasaran. Karena sifatnya yang turun temurun itulah setiap penari Kabasaran memiliki sebuah senjata warisan. Senjata warisan ini harus dibawa oleh penari ketika pertunjukan tari Kabasaran dimulai. Para penari mengenakan pakaian tenun khas Minahasa berwarna merah dan rias wajah yang terlihat garang. [11] Ketika pertunjukan dimulai, gerak tari Kabasaran dipimpin oleh seorang Tombolu, pemimpin pertunjukan. Seorang Tombolu dipilih berdasarkan kesepakatan para sesepuh adat. Ketika pertunjukan berlangsung, tidak tampak sedikit-pun senyum di wajah para penari. Mulai dari awal pertunjukan, gerakan penari Kabasaran terlihat energik dan menggambarkan sifat keprajuritan. Gerakan mereka semakin terlihat dinamis ketika tabuhan gong dan kulintang terdengar begitu keras. Dengan membawa pedang di tangan kanan dan tombak di tangan kiri, para penari Kabasaran terlihat seperti orang yang hendak berperang. Sesekali, penari Kabasaran mengayunkan kedua senjata yang ada di tangan mereka sambil melompat dan mengayunkan senjata. Mereka-pun memperlihatkan gerakan berjalan maju-mundur dengan penuh semangat. Di daerah Minahasa, gerak tari Kabasaran dijadikan simbol keperkasaan dan keberanian warga Minahasa melawan musuh. Gerak tari Kabasaran terlihat garang namun sesaat sebelum pertunjukan usai, para penari Kabasaran menarikan gerak yang terlihat begitu riang. Gerakan di penghujung pertunjukan ini menjadi simbol kebebasan penari Kabasaran dari rasa amarah usai berperang melawan musuh. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). [12] Babak – babak tersebut terdiri dari:

  1. Babak pertama disebut Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat.
  2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang.
  3. Babak ketiga disebut Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya.

Tags: kerajinan

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia