... Panduan Kerajinan Kulit Magetan: Inspirasi dan Langkah-langkah DIY

Keindahan Kerajinan Kulit Magetan - Seni Menjahit DIY yang Menginspirasi

8. Bumbu Pecel

Rekomendasi oleh-oleh khas Magetan yang berikutnya adalah Bumbu Pecel. Bumbu Pecel Magetan terkenal karena cita rasanya yang khas dan kaya akan rempah-rempah. Makanan ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti kacang tanah, cabai, bawang putih, dan gula merah, bumbu pecel.

Perpaduan dari bahan-bahan tersebut mampu memberikan rasa gurih dan pedas yang nikmat. Selain itu, Bumbu Pecel Magetan juga memiliki aroma yang sangat menggugah selera, menjadikannya pilihan sempurna untuk dinikmati bersama aneka sayuran segar atau lontong.

Sama seperti makanan khas yang sebelumnya, Bumbu Pecel Magetan juga bebas dari bahan pengawet, sehingga aman untuk dikonsumsi. Kelebihan lain dari bumbu pecel ini adalah kemasannya yang praktis dan tahan lama, menjadikannya oleh-oleh yang mudah dibawa pulang dan dinikmati kapan saja.

Sejarah Dinamis Magetan

Pekerjaan tersebut terus ia lakukan hingga SMA. Dia terpaksa harus membagi fokusnya dalam bersekolah dan bekerja agar dapat terus membiayai sekolahnya dan juga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena pekerjaannya tersebut, tidak jarang Suwarno muda harus bolos sekolah demi mengejar target produksi ataupun mejual produknya ke pasar. Meski begitu, dari sana pula ia mengasah kemampuannya sebagai pengrajin kulit.

Di sekitar tahun 1993-1994, Suwarno mulai merambah ke produksi sandal kulit. Baru beberapa saat memulai usaha baru, Indonesia mengalami penurunan nilai mata uang Rupiah. Penurunan nilai mata uang atau devaluasi ini terjadi dengan persentase yang lumayan besar sehingga membuat dirinya tidak mampu melanjutkan usahanya. Meski begitu, berkat usahanya sendiri, Suwarno mampu bangkit dari kebangkrutan tersebut.

Pada tahun 1995, Suwarno memutuskan untuk berhenti memproduksi sandal dan pergi merantau. Tujuannya adalah untuk belajar mandiri dan menghidupi dirinya sendiri. Menghargai waktu, uang serta apa yang sudah ia miliki saat ini. Jakarta menjadi kota perantauan pertamanya. Disana, ia bekerja sebagai buruh pabrik percetakan dengan gaji 4.000 rupiah per hari selama 6 bulan.

Krisis moneter dan devaluasi rupiah tahun 1998 menjadi pemicu kebangkrutan kedua dari Suwarno. Tidak hanya bagi dirinya sendiri tentunya, tapi juga bagi hampir semua pengusaha di Indonesia. Mencukupi kebutuhan pokok diri sendiri saja sulit, apalagi untuk melanjutkan usahanya yang kini sudah semakin berkembang. Pada akhirnya, Suwarno terlilit hutang yang cukup banyak. Namun, karena dirinya mampu menjaga kepercayaan dengan supplier bahan baku, pelanggan serta teman-temannya, Suwarno akhirnya mampu bangkit dari kebangkrutan. Hubungan baik yang selalu ia jaga membantu usahanya terus berjalan. Ditengah kondisi yang sulit, ia tetap bisa memproduksi sandal kulit dan menjualnya dipasar.

Dinamis Magetan di Masa Kini

Saat ini, Dinamis Magetan sudah berkembang menjadi lebih besar. Kini, mereka sudah memiliki rumah produksi sendiri dengan berbagai alat modern untuk memepercepat proses produksi. Rumah produksi ini bertempat di Dusun Jejeruk, Desa Candirejo, RT02 RW04, Kec. Magetan, Kab. Magetan, Jawa Timur. Kalian bisa temukan lokasinya di Google Maps, berikut tautannya : .

Reno Arifigar

Blogger di waktu senggang. Aktif mengikuti perkembangan Video Game, Komputer dan Gadget. Freelance sebagai teknisi komputer (perakitan, maintenance dan troubleshooting).

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.


Tags: kerajinan kulit magetan

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia