... Panduan Kerajinan Kulit Magetan: Inspirasi dan Langkah-langkah DIY

Keindahan Kerajinan Kulit Magetan - Seni Menjahit DIY yang Menginspirasi

6 Fakta Menarik Magetan, Kabupaten Berjuluk The Nice of Java

Salah satu destinasi wisata terkenal di Kabupaten Magetan adalah Gunung Lawu yang berlokasi di tiga Kabupaten.

Diperbarui 07 Jan 2022, 08:30 WIB Diterbitkan 07 Jan 2022, 08:30 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Magetan adalah kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang beribu kota di Magetan. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Ngawi di utara, Kota Madiun dan Kabupaten Madiun di timur, Kabupaten Ponorogo, serta Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Kabupaten Magetan dilintasi jalan raya utama Surabaya-Madiun-Yogyakarta dan jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa, namun jalur tersebut tidak melintasi Kota Magetan. Satu-satunya stasiun yang berada di wilayah kKabupaten Magetan adalah Stasiun Magetan yang terletak di wilayah Kecamatan Barat.

Magetan juga dikenal karena kerajinan kulit (untuk alas kaki dan tas). Di sana ada sentra kerajinan kulit yang berlokasi di Jalan Sawo, Kelurahan Selosari, ramai dikunjungi wisatawan. Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Magetan. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Magetan yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

6 Fakta Menarik Grobogan, Punya Api Abadi dan Air Kolam yang Bisa Bikin Awet Muda

Graha Pusat Literasi Resmi Berdiri di Magetan, Bupati Suprawoto: Mimpi yang Jadi Kenyataan

1. Julukan Magetan

Julukan lainnya adalah Kota Kaki Gunung, karena letak geografisnya yang berada di kaki dan lereng Gunung Lawu. Julukan lainnya adalah The Sunset of East Java, karena letak geografisnya yang berada di ujung paling barat dari Provinsi Jawa Timur.

3. Kerupuk Lempeng

Kerupuk Lempeng merupakan salah satu oleh-oleh khas Magetan yang digemari oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Kerupuk ini memiliki tekstur yang renyah dan rasa yang gurih, membuatnya menjadi camilan yang pas untuk menemani berbagai hidangan.

Dibuat dari bahan-bahan sederhana, Kerupuk Lempeng menawarkan cita rasa tradisional yang khas dan otentik. Proses pembuatannya yang masih menggunakan cara tradisional juga menambah nilai keunikan dan keaslian produk ini.

Untuk saat ini, Kerupuk Lempeng tidak hanya dikenal di daerah Magetan saja. Akan tetapi juga sudah merambah ke berbagai kota lain di Indonesia. Namun yang paling penting, kerupuk ini sering kali dijadikan sebagai buah tangan yang wajib dibawa pulang oleh para wisatawan yang berkunjung ke Magetan.

Lokasi Penyamakan Kulit di Magetan

Akan tetapi, masih ada beberapa kendala untuk pengembangan potensi ini, limbah dari hasil pengolahan kulit sapi ini belum bisa diatasi dengan baik. Tentunya pemerintah Magetan harus lebih memperhatikan hal ini demi kenyaman warga yang tingal di sekitar lokasi tempat pembuangan limbah (Sungai Gandong).

Selain untuk diproduksi di Magetan sendiri, produk kulit samakan dari Magetan juga di pasok ke berbagai daerah lain yang begitu maju untuk produksi kulitnya serta kepada para pengrajin-pengrajin kulit lain di daerah lain di Indonesia.

Bahan baku kulit tersebut bahkan banyak di kirim ke daerah-daerah industri kulit besar seperti Cibaduyut, Bandung dan Tanggulangin, Sidoarjo. Berkat dukungan dari pemerintah Kabupaten Magetan, terdapat lokasi industri pengembangan bahan baku kulit di daerah ini.

Jika kita melihat lagi dari potensi hasil kulit di daerah ini, di Magetan sendiri juga banyak pengrajin-pengrajin kulit kreatif yang bisa mengahsilkan produk kulit berkualitas unggulan. Produk yang dihasilkan seperti dompet kulit, ikat pinggang, jaket kulit, sepatu dan sandal kulit.

Sejarah Dinamis Magetan

Pekerjaan tersebut terus ia lakukan hingga SMA. Dia terpaksa harus membagi fokusnya dalam bersekolah dan bekerja agar dapat terus membiayai sekolahnya dan juga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena pekerjaannya tersebut, tidak jarang Suwarno muda harus bolos sekolah demi mengejar target produksi ataupun mejual produknya ke pasar. Meski begitu, dari sana pula ia mengasah kemampuannya sebagai pengrajin kulit.

Di sekitar tahun 1993-1994, Suwarno mulai merambah ke produksi sandal kulit. Baru beberapa saat memulai usaha baru, Indonesia mengalami penurunan nilai mata uang Rupiah. Penurunan nilai mata uang atau devaluasi ini terjadi dengan persentase yang lumayan besar sehingga membuat dirinya tidak mampu melanjutkan usahanya. Meski begitu, berkat usahanya sendiri, Suwarno mampu bangkit dari kebangkrutan tersebut.

Pada tahun 1995, Suwarno memutuskan untuk berhenti memproduksi sandal dan pergi merantau. Tujuannya adalah untuk belajar mandiri dan menghidupi dirinya sendiri. Menghargai waktu, uang serta apa yang sudah ia miliki saat ini. Jakarta menjadi kota perantauan pertamanya. Disana, ia bekerja sebagai buruh pabrik percetakan dengan gaji 4.000 rupiah per hari selama 6 bulan.

Krisis moneter dan devaluasi rupiah tahun 1998 menjadi pemicu kebangkrutan kedua dari Suwarno. Tidak hanya bagi dirinya sendiri tentunya, tapi juga bagi hampir semua pengusaha di Indonesia. Mencukupi kebutuhan pokok diri sendiri saja sulit, apalagi untuk melanjutkan usahanya yang kini sudah semakin berkembang. Pada akhirnya, Suwarno terlilit hutang yang cukup banyak. Namun, karena dirinya mampu menjaga kepercayaan dengan supplier bahan baku, pelanggan serta teman-temannya, Suwarno akhirnya mampu bangkit dari kebangkrutan. Hubungan baik yang selalu ia jaga membantu usahanya terus berjalan. Ditengah kondisi yang sulit, ia tetap bisa memproduksi sandal kulit dan menjualnya dipasar.

Proses Pembuatan Leather

1. Tahap persiapan

Pada tahap ini akan dilakukan yang namanya curing. Dalam bahasa Indonesia tahapan ini disebut penggaraman. Kulit yang diberi garam akan mampu membersihkan berbagai bakteri yang menyebabkan pembusukan. Sehingga akan lebih awet melalui tahapan selanjutnya.

Proses penggaraman ada beberapa jenis. Pada jenis welt-salting, kulit ditaburi garam dan dipres dengan alat selama 30 hari. Lain halnya dengan brine-curing (larutan air-garam), kulit diaduk dalam kolam air asin selama 16 jam. Proses curing juga bisa dilakukan dalam kondisi suhu sangat rendah. Penyamakan kulit dilanjutkan ke tahap beamhouse.

2. Tahan pre-tanning

3. Tahap tanning

Ada beberapa metode tanning yang biasa digunakan untuk menyamak kulit. Penggolongan ini berdasarkan bahan penyamak yang digunakan. Beberapa jenis tanning dalam industri kulit penyamakan dengan mineral/logam (Mineral tanning, chrome tanning), penyamakan nabati (Vegetable Tanning), penyamakan sintetis (Synthetic Tanning), penyamakan minyak (Oil Tanning), penyamakan kombinasi (Combination Tanning).

4. Tahap finishing

Proses finishing menggunakan kombinasi perlakuan pelapisan (coating). Misalnya saja aplikasi teknik padding, spraying, atau roller coating. Beberapa proses mekanik seperti buffing, staking dan embossing juga dilakukan untuk mendapatkan kulit dengan spesifikasi tertentu.

Tujuan dari tahap finishing adalah meminimalkan cacat tanpa menghilangkan keindahan asli kulit, memunculkan efek mengkilap (gloss) pada tingkatan tertentu, memastikan bahwa kulit lebut, bisa di mal dan dapat dilipat, memberikan pelindung tambahan pada permukaan kulit, membuat permukaan kulit mudah dibersihkan dan memberikan efek tambahan seperti tampak antik dan klasik.


Tags: kerajinan kulit magetan

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia