Seni Lukis Kaca - Menghidupkan Kisah Mahabarata dalam Kerajinan Jarum dan DIY
Masuknya Lukisan Kaca ke Indonesia
Tidak hanya menerima lukisan kaca impor, seniman di pulau Jawa mulai mempelajari cara untuk membuat lukisan kaca pada awal 1900-an. Mereka menggabungkan teknik lukisan kaca dengan ragam gaya wayang dan kaligrafi Islam. Keterampilan melukis di kaca pun menjadi pengetahuan rakyat yang diwariskan secara turun-menurun. Sayangnya, pada masa itu seniman lukisan kaca Indonesia belum menorehkan nama mereka pada karya. Jadi, tidak banyak yang kita ketahui mengenai mereka.
Seni lukis kaca di Bali sendiri muncul pada tahun 1840-an ketika Belanda menguasai Bali. Pada awalnya, seniman Bali membuat lukisan kaca bertema Putri Cina untuk memenuhi pesanan bangsawan lokal. Ragam gaya Bali sendiri baru muncul pada tahun 1927 ketika seorang pemahat wayang kulit bernama Jero Dalang Diah dari desa Nagasepaha mulai menggabungkan gaya wayang bali dengan teknik lukisan kaca. Nagasepaha kemudian menjadi pusat lukisan kaca Bali hingga sekarang.
Baliseering dan Efeknya
Memasuki awal abad 19, peperangan terjadi antara raja-raja Bali dengan Belanda melalui perang puputan Badung pada 1906, perang puputan Klungkung pada 1908, serta sederetan peperangan di Buleleng, Karangasem, dan masih banyak lagi. Perang membuat kerajaan-karajaan Bali tersebut hancur dan istana-istana terbakar, sehingga Belanda mengalami hujatan dari dunia internasional.
Untuk meredam kecaman internasional, Belanda kemudian menerapkan kebijakan politik untuk mengembalikan kemurnian Bali dalam program yang disebut Baliseering. Program ini kemudian melahirkan banyak dokumenter tentang Bali dan memboyong karya-karya seni lukis Bali ke museum di luar negeri, sehingga banyak wisatawan pun tertarik berkunjung ke Bali.
Proses Panjang
Gaya Kamasan mengalami masa keemasan pada abad ke-16 di bawah pemerintahan Kerajaan Gelgel. Ketika itu cerita yang banyak dilukis diambil dari epik Ramayana dan Mahabharata, dengan membuat tak ada bagian kanvas yang kosong. Seringkali lukisan pun bisa mencapai panjang beberapa meter karena pelukisnya secara detail menggambarkan alur cerita dengan tokoh yang berbeda-beda, sehingga melihat lukisan Kamasan dari zaman itu bagai membaca komik.
Karena lukisan wayang Kamasan tersebar di seluruh Bali, gaya lukisan ini pun kemudian dimodifikasi oleh seniman setempat. Di Tabanan, lukisan ini hadir lebih panjang dengan ornamen pakaian yang dibuat lebih megah dibandingkan yang dihasilkan di daerah lain di Bali.
Perlahan, gaya Kamasan pun mengalami perkembangan dari segi material hingga teknik pengerjaan, selain kisah-kisah yang ditampilkan pada lukisan pun tidak lagi religius, namun juga lebih membumi dengan kerap mengangkat masalah-masalah sosial. Pada lukisan Kamasan karya Ketut Gde pada abad 18, misalnya, menampilkan wajah-wajah orang asing. Di Kabupaten Buleleng, muncul gaya Naga Sepaha (nama sebuah desa di Singaraja), di mana lukisan wayang dibuat di atas bidang kaca, tak lagi pada kanvas. Pada gaya ini, ukuran tokoh-tokoh raksasa dibuat lebih besar dibandingkan tokoh-tokoh dewa-dewi. Hal ini berbeda dengan gaya lukisan wayang di selatan Bali yang proporsi ukuran tokoh raksasanya sama besar dengan tokoh dewa-dewi.
Tags: kerajinan