Kerajinan Suku Baduy - Kekayaan Budaya yang Memukau
Menjelajahi Keunikan Suku Baduy: Catatan Perjalanan Etnografi
Walaupun zaman sudah semakin modern, tetapi suku Baduy masih memegang teguh aturan adat yang berlaku. Suku Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Masyarakat Baduy luar atau urang penamping memiliki penduduk yang berjumlah ribuan orang, sehingga lebih banyak daripada Baduy dalam atau urang dangka yang hanya ratusan orang saja. Masyarakat Baduy luar menempati daerah bagian utara Kanekes yaitu daerah Kaduketuk, Cikaju, Gajeboh, Kadukolot, Cisagu, dan lain-lain. Sedangkan Baduy dalam terletak di bagian selatan dan di pedalaman hutan, tepatnya di daerah kampong Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.
Kehidupan masyarakat Baduy sudah mulai mengenal teknologi modern, walaupun secara adat hal tersebut dilarang dan tidak boleh menggunakan listrik. Dalam menjalankan kehidupannya, masyarakat Baduy luar atau dalam, masih berjalan tanpa alas kaki, tidak menggunakan transportasi, bahkan masyarakatnya tidak boleh meninggalkan Baduy lebih dari 7 hari. Untuk memenuhi kehidupannya, suku Baduy bercocok tanam dan menenun. Berikut adalah penjelasan lebih dalam mengenai perjalanan etnografi saya dalam menjelajahi suku Baduy Luar, dan juga akan dijelaskan sedikit mengenai bagaimana kehidupan suku Baduy Dalam.
Keunikan Suku Baduy :
Keunikan Suku Baduy sangat beragam dan sayang untuk dilewatkan, keunikan ini akan membuat siapa pun berdecak kagum.
- Tradisi Puasa 3 Bulan.
Suku ini juga mengenal tradisi puasa, namun puasa ini dijalankan selama 3 bulan berturut-turut yang disebut dengan Kawulu. Dalam masa Kawulu ini penduduk luar tidak diperbolehkan untuk berkunjung maupun menginap di dalam area Suku Baduy Dalam.
Namun, masih diperbolehkan berkunjung di Suku Badui Luar namun tetap tidak boleh menginap juga di area mereka. Dalam masa Kawulu ini, mereka beribadah dan memanjatkan doa kepada para leluhur atau nenek moyang agar diberikan keselamatan. - Tidak Ada Lahan Khusus untuk Makam.
Suku Baduy juga tidak memiliki lahan khusus yang ditujukan sebagai pemakaman. Mereka menganggap bahwa orang yang sudah meninggal seharusnya kembali ke alam sehingga tidak membutuhkan lahan khusus.
Orang yang sudah meninggal dipercaya masih membutuhkan tempat tinggal dan tempat makan, sehingga yang hidup harus berbagi dengan siapa pun. Termasuk berbagi dengan nenek moyang maupun orang yang sudah meninggal dunia. Tidak jarang tanah yang sudah lama menjadi kuburan akan digunakan kembali sebagai tanah untuk bertani atau bercocok tanam. - Tembikar sebagai Alat Ukur Kekayaan.
Keunikan lain dari suku ini adalah saat rumah bukanlah alat untuk mengukur kekayaan seseorang melainkan benda bernama tembikar. Semakin banyak tembikar yang dimiliki oleh seseorang maka semakin tinggi pula derajat orang tersebut. Susunan dan bentuk rumah di area Suku Baduy memiliki bentuk yang sama sehingga tidak bisa menjadi patokan jumlah kekayaan seseorang.
Tembikar ini juga bukan merupakan tembikar biasa, namun tembikar yang dibuat dari bahan kuningan bukan tanah liat. Jika seseorang memiliki satu tembikar saja maka akan kalah dengan yang memiliki dua atau bahkan puluhan tembikar kuningan. - Peralatan Sehari hari dari bahan Alami.
Karena kehidupan mereka memang menyatu dengan alam, oleh sebab itu seluruhnya juga berasal dari alam. Termasuk peralatan mandi yang mereka gunakan, seperti misal serabut kelapa untuk menyikat gigi. Selain itu, mereka juga menggosokkan batu ke tubuh yang digunakan sebagai pengganti sabun tubuh.
Mereka tidak mau membuat bumi dan alam menjadi celaka sehingga hidup mereka jauh dari produk yang menghasilkan limbah. Mereka tidak pernah menggunakan produk yang mengandung bahan kimia ataupun produk yang menghasilkan sampah plastik.
Kehidupan Suku Baduy Luar
Pemberhentian terakhir kendaraan menuju pemukiman Baduy Luar berada di Tugu Ciboleger. Dari titik ini, Wisatawan diminta untuk berjalan kaki mengunjungi kampung–kampung yang ada di Baduy Luar. Jika kita mulai berjalan, hal pertama yang akan kita lihat adalah kerajinan tangan yang dijual oleh penduduk setempat, berupa gelang, kain tenun, tas terbuat dari kulit kayu teureup, dan lain sebagainya.
Suku Baduy Dalam menjaga ketat adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur. Adat melarang penggunaan alas kaki, deterjen, alat makan, listrik dan perangkat teknologi modern. Anak–anak Suku Baduy Dalam dilarang bersekolah agar pengetahuan yang diterima tetap berupa pengetahuan lisan (tidak tertulis), sebab hal-hal tersebut dianggap pamali (tabu).
Baduy Luar ialah Suku Baduy yang tidak ingin terikat dengan adat istiadat. Namun masih memberlakukan beberapa aturan adat, di antaranya, rumah penduduk Suku Baduy Luar yang berbentuk panggung, terbuat dari bilik bambu yang atapnya berasal dari daun naw yang ditutup dan disatukan dengan ijuk, kemudian diletakkan berdekatan di antara rumah satu dengan rumah lainnya.
Tidak ada perbedaan pada gaya arsitektur rumah masyarakat Baduy secara keseluruhan. Menurut seorang Dosen Agroekologi, bahan untuk membangun rumah seluruhnya berasal dari alam, sedangkan pembangunan rumah dilakukan secara gotong- royong oleh masyarakat setempat.
Jika berhasil mengunjungi kampung terakhir Baduy Luar, wisatawan akan menemui sebuah Jembatan Gantung. Jembatan ini terletak di Kampung Gajebo. Jembatan ini pula yang menghubungkan kawasan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tentu saja, untuk mencapai kawasan Baduy Dalam, wisatawan harus berjalan kaki kembali dengan durasi waktu sekitar 4 jam dengan melewati medan yang berbukit–bukit.
Jembatan ini terbuat dari dua pohon sebagai tiang, bambu sebagai pengikatnya dan ijuk sebagai alas jembatan. Seluruhnya memanfaatkan hasil alam. Di kampung terakhir juga terdapat sebuah rumah yang memiliki tanda khusus berupa lingkaran yang terletak di atap rumah. Menurut informasi yang didapat, rumah tersebut merupakan rumah kepala suku.
Kepercayaan Masyarakat Suku Baduy
Masyarakat Suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan. Memuja arwah nenek moyang (animisme) yang dipengaruhi oleh agama hindu kuno. Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Baduy adalah arca Domas yang dianggap sebagai leluhur mereka. Arca sakral tersebut dipuja setahun sekali di tempat yang misterius dan dirahasiakan lokasinya. Orang Baduy berziarah ke Arca Domas di bulan kelima. Namun, hanya puun (kedua adat) dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang termasuk ke dalam rombongan pemujaan tersebut.
Masyarakat Baduy percaya bahwa jika arwah nenek moyang dihormati, dapat memberikan kekuatan lahir dan batin kepada keturunannya. Oleh sebab itu, pemujaan terhadap nenek moyang atau Arca Domas adalah peristiwa yang sakral.
Inti dari kepercayaan itu ialah pikukuh (ketentuan adat) yang mutlak dianut dalam kehidupan sehari–hari. Konsepnya adalah “Lojor heunteu menang dipotong, pèndèk heunteu menang disambung, kurang henteu menang ditambah, leuwih henteu menang dikurang”. Artinya, “yang panjang tidak boleh dipotong, yang pendek tidak boleh disambung, yang kurang tak boleh ditambah, yang lebih tak boleh dikurangi”.
Ketika salah satu masyarakat Baduy meninggal dunia, maka akan digelar perayaan bernama kapa paitan atau kapa pancenan. Perempuan Suku Baduy akan berkumpul di satu tempat untuk saling bergotong royong membantu keluarga yang ditinggalkan.
Sejarah Suku Baduy :
Untuk mengetahui suku asli Banten ini lebih dalam, ada baiknya untuk melakukan pengecekan terhadap sejarah mereka. Sejarah mengatakan, suku ini memang sudah lama mendiami daerah Banten dan masih ada beberapa para peneliti yang hidup bersama mereka. Hal ini dilakukan agar penulisan sejarah bisa lebih mendalam dan sesuai. Nama Baduy diambil dari kata Baduwi, diberikan oleh peneliti Belanda yang menganggap suku ini mirip dengan masyarakat nomaden di Arab.
Ada beberapa versi tentang asal-usul suku ini di kalangan para peneliti, yang sampai saat ini masih diperdebatkan keabsahannya. Ada sejarah yang mengatakan Banten merupakan daerah penting bagi Kerajaan Sunda yang berpusat di sekitar Bogor pada abad ke-16. Namun upaya Kesultanan Banten untuk merebut tanah Banten dari Kerajaan Sunda mengalami berbagai rintangan. Salah satunya pada saat perintah Raja Kesultanan Banten yang memerintahkan bala tentara menyelamatkan sungai penting di daerah Banten.
Sungai yang dulunya dikuasai oleh Kerajaan Sunda ini harus diambil alih dan menuntut tentara berlindung di dalam Gunung Kendeng. Selanjutnya banyak sejarah yang meyakini jika Suku Badui merupakan bala tentara yang dulu diperintahkan oleh Raja Kesultanan Banten.
Sejarah lain ada juga yang mengatakan bahwa suku ini merupakan orang-orang pelarian atau yang diasingkan dari Kerajaan Sunda. Mereka lebih senang dipanggil dengan orang kanekes atau kanekes dibandingkan dengan nama Baduy.
Tags: kerajinan