... 7 Inspiratif Kerajinan Suku Baduy: Panduan DIY dan Teknik Sulam

Kerajinan Suku Baduy - Kekayaan Budaya yang Memukau

Sejarah Suku Baduy :

Untuk mengetahui suku asli Banten ini lebih dalam, ada baiknya untuk melakukan pengecekan terhadap sejarah mereka. Sejarah mengatakan, suku ini memang sudah lama mendiami daerah Banten dan masih ada beberapa para peneliti yang hidup bersama mereka. Hal ini dilakukan agar penulisan sejarah bisa lebih mendalam dan sesuai. Nama Baduy diambil dari kata Baduwi, diberikan oleh peneliti Belanda yang menganggap suku ini mirip dengan masyarakat nomaden di Arab.

Ada beberapa versi tentang asal-usul suku ini di kalangan para peneliti, yang sampai saat ini masih diperdebatkan keabsahannya. Ada sejarah yang mengatakan Banten merupakan daerah penting bagi Kerajaan Sunda yang berpusat di sekitar Bogor pada abad ke-16. Namun upaya Kesultanan Banten untuk merebut tanah Banten dari Kerajaan Sunda mengalami berbagai rintangan. Salah satunya pada saat perintah Raja Kesultanan Banten yang memerintahkan bala tentara menyelamatkan sungai penting di daerah Banten.

Sungai yang dulunya dikuasai oleh Kerajaan Sunda ini harus diambil alih dan menuntut tentara berlindung di dalam Gunung Kendeng. Selanjutnya banyak sejarah yang meyakini jika Suku Badui merupakan bala tentara yang dulu diperintahkan oleh Raja Kesultanan Banten.

Sejarah lain ada juga yang mengatakan bahwa suku ini merupakan orang-orang pelarian atau yang diasingkan dari Kerajaan Sunda. Mereka lebih senang dipanggil dengan orang kanekes atau kanekes dibandingkan dengan nama Baduy.

Adat Istiadat Suku Baduy

Sama seperti suku lain, Suku Baduy memiliki adat-istiadat yang selalu mereka jaga keasliannya agar tidak punah. Berbagai adat dilakukan untuk menghormati arwah leluhur nenek moyang mereka dan agar dijauhkan dari segala mara bahaya. Suku mereka memiliki adat yang kompleks dan unik seperti adat perjodohan yang sudah tidak relevan di masa ini.

Dalam adat perjodohan ini para orang tua memberikan kuasa penuh pada pemimpin suku atau disebut dengan pu’un. Nantinya pu’un ini yang akan mencarikan jodoh bagi anak mereka yang sudah disesuaikan perhitungannya agar tidak menimbulkan celaka.

Pu’un atau pemimpin suku merupakan seseorang yang dapat menentukan hukum bagi seluruh orang dalam suku tersebut. Adat lain yang tersimpan dalam Suku Badui adalah adat masa tanam dan masa panen. Kedua masa ini harus melewati prosesi adat yang ditentukan oleh pu’un. Keunikan adat istiadat dari suku di Banten ini tidak jarang membuat orang di luar suku tersebut merasa aneh. Namun, inilah keunikan Indonesia yang memiliki beragam suku sehingga kita harus senantiasa menghargai beragam adat istiadat suku yang ada.

Dalam prosesi adat, biasanya mereka mempersembahkan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada nenek moyang. Mereka berpendapat bahwa alam yang asri dan mampu memberikan mereka sumber makanan merupakan hadiah dari nenek moyang. Adat Baduy juga tidak memperbolehkan untuk terlalu sering membunuh hewan termasuk ayam. Oleh karena itu, ayam hanya dipotong ketika ada acara adat maupun pesta pernikahan.

Keunikan adat dari Baduy diharapkan mampu memperkaya Indonesia dalam kebudayaan tradisional yang tidak boleh hilang dimakan waktu.

Rayakan Perbedaan

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG -

LEBAK, KOMPAS.com - Masyarakat yang berkunjung ke kawasan Desa Adat Baduy pasti akan melihat rumah warga Suku Baduy yang seragam.

Rumah berupa panggung ini didominasi dengan kayu, bambu dan atap ijuk atau rumbia.

Hal ini bisa dijumpai sejak memasuki perkampungan Ciboleger, gerbang utama untuk menuju kawasan Desa Adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Rumah adat Suku Baduy disebut dengan Sulah Nyanda.

Sebutan untuk rumah ini merujuk kepada bagian atap rumah yang tidak terlalu tegak.

Bangunan rumah adat Baduy tampil dengan sederhana, namun kaya akan filosofi.

Selain itu, pembangunan rumah ini juga dilakukan tidak secara asal dan penuh perhitungan.

Sebab, warga Baduy memiliki 1001 tabu yang diyakini hingga kini, termasuk untuk membangun sebuah rumah.

"Mereka sangat patuh pada aturan adat, dalam hal pembangunan rumah sangat memperhatikan aturan-aturan seperti kapan akan dibangun, apa materialnya boleh dan tidak boleh digunakan, ke mana bagian depan rumah menghadap itu ada tabunya," kata pengamat budaya Baduy, Uday Suhada kepada Kompas.com.

Mengutip buku Potret Kehidupan Masyararakat Baduy karya Djoewisno, rumah adat Baduy dibangun hanya dengan material yang terdapat dari hutan.

Material untuk membangun rumah ini di antaranya kayu, bambu, ijuk, rotan dan daun rumbia.

Warga Baduy sendiri dilarang menggunakan paku dari besi untuk memperkokoh rumah.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan tali dari kulit atau akar pohon atau pasak dari kayu.

Rumah ini juga tidak boleh dicat dan diberi macam variasi, agar terjaga kealamiannya.

Kendati dengan menggunakan material yang sederhana, namun rumah Adat Baduy mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Hal ini memungkinkan karena bahan yang digunakan memiliki kualitas baik dan diambil saat waktu yang tepat.


Tags: kerajinan

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia