Kerajinan Suku Baduy - Kekayaan Budaya yang Memukau
Dibangun menghadap arah mata angin
Rumah Suku Baduy yang dibangun juga harus menghadap Utara-Selatan.
Untuk rumah di beberapa perkampungan Baduy, biasanya diberi tanda dari bambu dan ijuk dengan bentuk lingkaran atau tanduk.
Tanda di bagian atas atap itu memiliki arti khusus.
Tanda bentuk lingkaran berarti penghuninya belum pernah melanggar larangan adat dan memberikan arti ketentraman.
Sedangkan, tanda berupa tanduk menandakan penghuninya pernah berurusan dengan peradilan adat atau pernah melanggar larangan adat.
Seluruh rumah adat Baduy berbentuk panggung karena dipengaruhi kondisi lingkungan setempat yang kerap basah dan lembab.
Dalam membangun rumah ini, warga Baduy tidak mencangkul tanah untuk meratakan, namun bentuk rumah mengikuti dengan kontur tanah.
Ini dilakukan karena ada aturan adat yang melarang warga Baduy untuk merusak alam.
Ukuran rumahnya juga rata-rata hampir sama sekira 9x12 meter.
Rumah ini hanya memiliki satu pintu dan tanpa jendela.
Keunikan Suku Baduy :
Keunikan Suku Baduy sangat beragam dan sayang untuk dilewatkan, keunikan ini akan membuat siapa pun berdecak kagum.
- Tradisi Puasa 3 Bulan.
Suku ini juga mengenal tradisi puasa, namun puasa ini dijalankan selama 3 bulan berturut-turut yang disebut dengan Kawulu. Dalam masa Kawulu ini penduduk luar tidak diperbolehkan untuk berkunjung maupun menginap di dalam area Suku Baduy Dalam.
Namun, masih diperbolehkan berkunjung di Suku Badui Luar namun tetap tidak boleh menginap juga di area mereka. Dalam masa Kawulu ini, mereka beribadah dan memanjatkan doa kepada para leluhur atau nenek moyang agar diberikan keselamatan. - Tidak Ada Lahan Khusus untuk Makam.
Suku Baduy juga tidak memiliki lahan khusus yang ditujukan sebagai pemakaman. Mereka menganggap bahwa orang yang sudah meninggal seharusnya kembali ke alam sehingga tidak membutuhkan lahan khusus.
Orang yang sudah meninggal dipercaya masih membutuhkan tempat tinggal dan tempat makan, sehingga yang hidup harus berbagi dengan siapa pun. Termasuk berbagi dengan nenek moyang maupun orang yang sudah meninggal dunia. Tidak jarang tanah yang sudah lama menjadi kuburan akan digunakan kembali sebagai tanah untuk bertani atau bercocok tanam. - Tembikar sebagai Alat Ukur Kekayaan.
Keunikan lain dari suku ini adalah saat rumah bukanlah alat untuk mengukur kekayaan seseorang melainkan benda bernama tembikar. Semakin banyak tembikar yang dimiliki oleh seseorang maka semakin tinggi pula derajat orang tersebut. Susunan dan bentuk rumah di area Suku Baduy memiliki bentuk yang sama sehingga tidak bisa menjadi patokan jumlah kekayaan seseorang.
Tembikar ini juga bukan merupakan tembikar biasa, namun tembikar yang dibuat dari bahan kuningan bukan tanah liat. Jika seseorang memiliki satu tembikar saja maka akan kalah dengan yang memiliki dua atau bahkan puluhan tembikar kuningan. - Peralatan Sehari hari dari bahan Alami.
Karena kehidupan mereka memang menyatu dengan alam, oleh sebab itu seluruhnya juga berasal dari alam. Termasuk peralatan mandi yang mereka gunakan, seperti misal serabut kelapa untuk menyikat gigi. Selain itu, mereka juga menggosokkan batu ke tubuh yang digunakan sebagai pengganti sabun tubuh.
Mereka tidak mau membuat bumi dan alam menjadi celaka sehingga hidup mereka jauh dari produk yang menghasilkan limbah. Mereka tidak pernah menggunakan produk yang mengandung bahan kimia ataupun produk yang menghasilkan sampah plastik.
Menjelajahi Keunikan Suku Baduy: Catatan Perjalanan Etnografi
Walaupun zaman sudah semakin modern, tetapi suku Baduy masih memegang teguh aturan adat yang berlaku. Suku Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Masyarakat Baduy luar atau urang penamping memiliki penduduk yang berjumlah ribuan orang, sehingga lebih banyak daripada Baduy dalam atau urang dangka yang hanya ratusan orang saja. Masyarakat Baduy luar menempati daerah bagian utara Kanekes yaitu daerah Kaduketuk, Cikaju, Gajeboh, Kadukolot, Cisagu, dan lain-lain. Sedangkan Baduy dalam terletak di bagian selatan dan di pedalaman hutan, tepatnya di daerah kampong Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.
Kehidupan masyarakat Baduy sudah mulai mengenal teknologi modern, walaupun secara adat hal tersebut dilarang dan tidak boleh menggunakan listrik. Dalam menjalankan kehidupannya, masyarakat Baduy luar atau dalam, masih berjalan tanpa alas kaki, tidak menggunakan transportasi, bahkan masyarakatnya tidak boleh meninggalkan Baduy lebih dari 7 hari. Untuk memenuhi kehidupannya, suku Baduy bercocok tanam dan menenun. Berikut adalah penjelasan lebih dalam mengenai perjalanan etnografi saya dalam menjelajahi suku Baduy Luar, dan juga akan dijelaskan sedikit mengenai bagaimana kehidupan suku Baduy Dalam.
Kehidupan Sehari-hari Suku Baduy: Memasak, Berkebun, dan Berdagang
Dalam kehidupan sehari-hari, suku Baduy menjalani beragam aktivitas yang mencerminkan hubungan mereka dengan alam dan cara hidup tradisional mereka. Suku Baduy memasak dengan menggunakan bahan-bahan alami yang mereka dapatkan dari alam sekitar, seperti kayu bakar dan batu bara. Mereka juga menggunakan bahan-bahan alami untuk membuat bumbu dan rempah-rempah, seperti daun pandan, serai, dan jahe. Suku Baduy memiliki sistem pertanian yang berbasis pada kepercayaan terhadap alam dan nenek moyang. Mereka memanfaatkan sumber daya alam seperti tanah, air, dan hutan untuk menanam padi, sayuran, dan buah-buahan untuk kebutuhan sehari-hari. Suku Baduy juga terlibat dalam kegiatan berdagang, dimana mereka menjual hasil pertanian dan kerajinan tangan mereka di pasar-pasar tradisional. Mereka juga menjual hasil kerajinan tangan seperti tikar dan anyaman bambu. Sebelum ramai dikunjungi wisatawan, warga Suku Baduy hidup sebagai petani. Kini sebagian warganya ada yang bekerja sebagai pemandu wisata hingga pedagang. Hal ini terjadi karena banyaknya pengunjung yang datang, sehingga dimanfaatkan oleh warga Baduy sebagai peluang lain. Kepala Desa Kanekes, menyampaikan bahwa ada sejumlah mata pencaharian yang digeluti oleh warga Suku Baduy saat ini, berikut di antaranya:
Mayoritas warga Baduy bermata pencaharian sebagai petani, terutama warga Baduy Dalam. Mereka berkebun atau menanam padi di ladang atau Huma untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian. Selain padi, mereka juga menanam jahe dan kencur untuk kemudian dijual ke pasar. Disamping berkebun, petani Baduy juga membuat gula dari aren serta mencari sarang lebah hutan untuk diambil madunya. Komoditas utama dari sektor pertanian di Baduy antara lain, kencur, jahe, gula aren, durian dan madu.
2. Pemandu Wisata
Sejak wisatawan banyak datang ke Desa Adat Baduy, pekerjaan sebagai pemandu wisata mulai dijalani oleh mayoritas anak-anak muda di Baduy. Tugas mereka mengantar wisatawan yang hendak berkunjung ke Baduy Dalam. Diketahui, wisatawan diwajibkan menggunakan pemandu dari warga lokal untuk menghindari tersesat atau sebagai penerjemah saja dalam berkomunikasi dengan warga Baduy Dalam. Jumlah warga asli Baduy yang bermata pencaharian sebagai pemandu wisata kini mencapai sekitar 30 orang. Saat saya melakukan perjalanan dengan teman-teman saya, kami sempt ditawarkan untuk membeli tongkat agar memudahkan selama penanjakan yang memakan waktu selama kurang lebih 1,5 jam.
Sejarah Suku Baduy :
Untuk mengetahui suku asli Banten ini lebih dalam, ada baiknya untuk melakukan pengecekan terhadap sejarah mereka. Sejarah mengatakan, suku ini memang sudah lama mendiami daerah Banten dan masih ada beberapa para peneliti yang hidup bersama mereka. Hal ini dilakukan agar penulisan sejarah bisa lebih mendalam dan sesuai. Nama Baduy diambil dari kata Baduwi, diberikan oleh peneliti Belanda yang menganggap suku ini mirip dengan masyarakat nomaden di Arab.
Ada beberapa versi tentang asal-usul suku ini di kalangan para peneliti, yang sampai saat ini masih diperdebatkan keabsahannya. Ada sejarah yang mengatakan Banten merupakan daerah penting bagi Kerajaan Sunda yang berpusat di sekitar Bogor pada abad ke-16. Namun upaya Kesultanan Banten untuk merebut tanah Banten dari Kerajaan Sunda mengalami berbagai rintangan. Salah satunya pada saat perintah Raja Kesultanan Banten yang memerintahkan bala tentara menyelamatkan sungai penting di daerah Banten.
Sungai yang dulunya dikuasai oleh Kerajaan Sunda ini harus diambil alih dan menuntut tentara berlindung di dalam Gunung Kendeng. Selanjutnya banyak sejarah yang meyakini jika Suku Badui merupakan bala tentara yang dulu diperintahkan oleh Raja Kesultanan Banten.
Sejarah lain ada juga yang mengatakan bahwa suku ini merupakan orang-orang pelarian atau yang diasingkan dari Kerajaan Sunda. Mereka lebih senang dipanggil dengan orang kanekes atau kanekes dibandingkan dengan nama Baduy.
Tags: kerajinan