Kerajinan Suku Baduy - Kekayaan Budaya yang Memukau
Suku Baduy
Suku Baduy adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Banten dengan populasi yang cukup tinggi di Indonesia. Suku ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar yang keduanya memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan suku ini bisa dibilang sederhana dan menyatu dengan alam, mereka menjaga keseimbangan alam dan manusia di daerah mereka.
Kehidupan yang sederhana dan jauh dari kata serakah, membuat suku ini mampu bertahan hanya dengan memanfaatkan sumber alam. Namun kesederhanaan ini juga memiliki efek samping seperti adanya isolasi diri dan tidak mampu membaur bagi Suku Baduy Dalam. Kehidupan suku Baduy dalam dan luar sama dengan suku lain yaitu hidup secara komunal atau berkelompok. Dalam satu kelompok mereka memiliki ketua yang biasa ditentukan atau dianggap suci.
Mata Pencaharian Suku Baduy Luar
Aktivitas sehari–hari masyarakat Suku Baduy adalah bertani. Menjual buah–buahan hasil panen. Di sepanjang perjalanan dari kampung pertama ke kampung selanjutnya di wilayah masyarakat Baduy Luar, saya menemukan beberapa ladang kosong di area perbukitan. Konsep pertanian yang diterapkan oleh masyarakat Suku Baduy adalah agroforestry. Perpaduan antara tanaman pertanian dan tanaman kehutanan.
Selanjutnya, masyarakat Baduy tidak menanam tanaman pangan dan hortikultura jika waktu tanam tidak tepat atau pada musim tanam yang salah. Ada suatu kepercayaan dari masyarakat Suku Baduy. Jika sumber mata air yang berada di sekitar Arca Domas terlihat jernih, maka saat itu adalah musim yang baik untuk menanam. Namun jika air tampak keruh, masyarakat percaya bahwa ada hal buruk yang akan terjadi.
Buah durian dan kayu Sengon menjadi komoditas unggulan masyarakat Suku Baduy. Di suatu kawasan yang terpisah dengan rumah penduduk, tempat khusus untuk menyimpan padi didirikan, atau yang dikenal dengan lumbung padi. Masyarakat Suku Baduy menyebutnya dengan leuit. Terbuat dari bambu dan daun kelapa yang diikatkan dengan ijuk.
Leuit berbentuk panggung seperti bentuk rumah penduduk, hanya saja, terdapat piringan di bagian alasnya untuk mencegah hama seperti tikus, sehingga gabah dapat tersimpan dengan baik. Gabah dimasukkan melalui pintu yang terletak di bagian atas. Untuk mencapai bagian atas, masyarakat Suku Baduy menggunakan alat bantu berupa tangga. Masyarakat pun akan mengambil gabah bagian atas untuk diolah menjadi beras, sehingga dapat dipastikan bahwa gabah yang terletak di bagian bawah sudah bertahun-tahun tersimpan di sana.
Aktivitas lain yang dilakukan oleh para perempuan selain mengurus rumah adalah menenun. Kami melihat alat tenun tergeletak di teras depan rumah, serta beberapa perempuan yang sedang menenun. Menenun adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya sendiri, keluarganya, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Tags: kerajinan