... Kerajinan Sulawesi Utara: Panduan Lengkap untuk Kerajinan Jahit dan DIY

Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional

Kain tenun

https://www.google.co.id/amp/s/kerajinanindonesia.id

Satu lagi kain Nusantara yang bisa kamu temui di Sulawesi Selatan adalah kain tenun. Kain ini pembuatannya masih tradisional dan beberapa diantaranya merupakakan kain sutra.

Kain tenun yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah tenun Sengkang dan tenun Toraja. Masing-masing kain tenun tersebut memiliki ciri khasnya dan bisa kamu aplikasikan untuk memenuhi selera fashionmu.

Bukan hanya makanan khas, berbagai cendera mata yang unik dan berfilosofi bisa menjadi oleh-oleh dari Sulawesi Selatan. Kerajinan tangan dari manik-manik sampai kayu bisa menambah nilai estetika ketika dipajang dalam ruangan maupun dikenakan. Sementara kain tenun bisa kamu kenakan sebagai item fashion.

Selamat berburu cendera mata di atas!

Mapalus

Mapalus merupakan bentuk gotong royong yang ada di Minahasa. Kegiatan ini suatu kebersamaan dalam satu kelompok masyarakat bekerja secara berganti-ganti dengan dasar kerja sama untuk mencapai suatu maksud. Mapalus merupakan fenomena sosial orang Minahasa sejak dahulu hingga sekarang.

Setiap anggota mapalus merasa bersatu dan dipersatukan oleh tujuan, yakni kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Mereka juga merasa terikat oleh kaidah yang ditimbulkan oleh jiwa persaudaraan dan mereka sadar bahwa kepentingan umum di atas segala-galanya melebihi kepentingan pribadi.

5. Batifar

Batifar merupakan salah satu aktivitas masyarakat yang dilakukan kaum lelaki dewasa untuk menyadap atau mengambil air tuak atau saguer dari pohon enauatau aren atau pohon seho. Pohon seho adalah salah satu pohon yang mendapat posisi khusus dalam sejarah dan kebudayaan Minahasa karena manfaatnya yang beraneka ragam mulai dari batang, daun dan buah sampai dengan ijuknya.

Maka dari itu, orang Minahasa mengganggap pohon enau itu adalah pohon yang paling berharga. Anak laki-laki dipersiapkan oleh ayahnya untuk dapat mengenal lapangan pekerjaan, seperti batifar selain pekerjaan lainnya.

Batifar berasal dari kata Portugis, yakni tifar. Material-material yang digunakan dalam menyadap buah nira atau batifar dapat dikategorikan dalam sistem teknologi tradisional karena menggunakan bahan-bahan yang tradisional dan tersedia di alam sekitar seperti bambu atau bulu, ijuk atau gomutu dan tali serta parang yang biasa dibawa oleh petani.

Bambu yang diikat menggantung digunakan sebagai tempat menampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon enau dan bambu panjang digunakan sebagai tangga naik dan turun yang disebut totooren. Ijuk digunakan untuk mengikat (dibuat tali) dan tempat saringan juga untuk melindungi bambu tempat penampungan.

Palelat

Palelat adalah salah satu budaya khas masyarakat muslim Bolaang Mongondow Utara sejak 1920-an. Kehadirannya dalam rangka memperingati hari kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul awal dalam penanggalan tahun hijriah.

Nantinya, Imam pelaku adat dan ibu-ibu dengan penuh antusias menyusun untaian kue tradisional, buah dan bendera lima tiang di dalam wadah palelat sembari mengumandangkan Shalawat Nabi dan Berjanji. Selesai penataan, palelat di arak dalam ruang masjid dan diletakkan di tengah empat tiang masjid, di atas empat tiang masjid dihamparkan kain, yang disebut langit-langit yang bertuliskan Asma Allah dan Rasulullah.

Terompet Bambu

Supaya terompet tahan lama dan berkualitas bagus, terlebih dahulu galah bambu direndam dalam air yang mengalir. Biasanya galah bambu itu direndam di sungai selama sekitar tiga bulan. Kemudian, bambu tersebut dikeringkan dengan cara ditempatkan pada papan di atas nyala api kecil selama sekitar empat bulan. Hanya dengan cara itu bambu siap untuk diolah menjadi terompet.

Kain tenun bentenan merupakan harta peninggalan yang bernilai tinggi. Pertama kali ditemui dan ditenun terkahir di daerah Ratahan pada tahun 1900. Kain itu disebut kain tenun bentenan karena dihubungkan dengan Desa Bentenan yang terletak di pesisir pantai timur Minahasa Selatan, termasuk Ratahan dan Ponosakan.

Sampai saat ini (menurut penelitian), hanya terdapat 28 lembar kain bentenan yang tersisa di dunia. Empat di antaranya terdapat di Museum Nasional Jakarta, empat helai di Tropen Museum Amsterdam, tujuh helai di Museum Wereld Rotterdam, dua helai di Museum Jerman, empat helai di Ethnographical Museum Dresden, dan satu helai di Indonesia Ethnografisch Museum Delf.

Pada mulanya pembuatan kain tenun bentenan sangat sakral. Sebelum benang-benang ditenun, biasanya di penenun menyanyikan lagu Ruata. Ruata artinya Tuhan (meminta kepada Tuhan yang Maha Esa supaya kain tenun itu dapat ditenun dengan sebaik-baiknya), karena kain tenun bentenan pada saat itu khusus ditenun untuk kepala-kepala upacara keagamaan yang disebut Walian dan Tonaas.

Serat kain tenunnya sangat halus dan terbuat dari benang kapas dengan warna-warna yang cerah dan sangat bervariasi. Panjang kain tenun bentenan sekitar 1,67 meter dan lebar 82 centi meter.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


Tags: kerajinan lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia