... Kerajinan Sulawesi Utara: Panduan Lengkap untuk Kerajinan Jahit dan DIY

Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional

Terompet Bambu

Supaya terompet tahan lama dan berkualitas bagus, terlebih dahulu galah bambu direndam dalam air yang mengalir. Biasanya galah bambu itu direndam di sungai selama sekitar tiga bulan. Kemudian, bambu tersebut dikeringkan dengan cara ditempatkan pada papan di atas nyala api kecil selama sekitar empat bulan. Hanya dengan cara itu bambu siap untuk diolah menjadi terompet.

Kain tenun bentenan merupakan harta peninggalan yang bernilai tinggi. Pertama kali ditemui dan ditenun terkahir di daerah Ratahan pada tahun 1900. Kain itu disebut kain tenun bentenan karena dihubungkan dengan Desa Bentenan yang terletak di pesisir pantai timur Minahasa Selatan, termasuk Ratahan dan Ponosakan.

Sampai saat ini (menurut penelitian), hanya terdapat 28 lembar kain bentenan yang tersisa di dunia. Empat di antaranya terdapat di Museum Nasional Jakarta, empat helai di Tropen Museum Amsterdam, tujuh helai di Museum Wereld Rotterdam, dua helai di Museum Jerman, empat helai di Ethnographical Museum Dresden, dan satu helai di Indonesia Ethnografisch Museum Delf.

Pada mulanya pembuatan kain tenun bentenan sangat sakral. Sebelum benang-benang ditenun, biasanya di penenun menyanyikan lagu Ruata. Ruata artinya Tuhan (meminta kepada Tuhan yang Maha Esa supaya kain tenun itu dapat ditenun dengan sebaik-baiknya), karena kain tenun bentenan pada saat itu khusus ditenun untuk kepala-kepala upacara keagamaan yang disebut Walian dan Tonaas.

Serat kain tenunnya sangat halus dan terbuat dari benang kapas dengan warna-warna yang cerah dan sangat bervariasi. Panjang kain tenun bentenan sekitar 1,67 meter dan lebar 82 centi meter.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Pakaian Tradisional Kebudayaan Sulawesi Utara

Pakaian adat Bolaang Mangondow

Bolaang Mangondow adalah salah satu suku di Sulawesi Utara yang dulu pernah berdiri kerajaannya sendiri. Suku ini mempunyai kebudayaan yang maju di masa silam dan menjadi warisan budaya hingga sekarang.

Pakaian yang dikenakan sehari-hari oleh penduduk suku ini yaitu kulit kayu atau pelepah nanas yang diambil seratnya. Serat yang disebut oleh masyarakat di sana dengan nama “lanut” ini lalu ditenun menjadi kain. Kemudian dijahit menjadi busana sehari-hari.

Pakaian adat Sangihe dan Talaud

Pakaian adat dari suku sangihe dan taulud ini umumnya dipakai ketika upacara tulude. Pakaian ini terbuat dari bahan serat kofo atau sejenis tanaman pisang yang mempunyai serat batang yang kuat, kemudian serat ini dipintal, ditenun dan dijahit menjadi pakaian. Pakaian ini dikenal dengan pakaian Laku Tepu.

Laku tepu merupakan baju lengan panjang sampai tumit. Pakaian ini dipakai dengan perlengkapan lain seperti:

  • Popehe (ikat pinggang)
  • Paporong (penutup kepala)
  • Bandang (selendang di bahu)
  • Kahiwu (rok rumbai).

Pakaian dan perlengkapan ini dikenakan baik oleh wanita maupun para priadengan warna dasar yang cerah seperti kuning, merah, hijau dan lain-lain.

Pakaian adat Kohongian

Pakaian adat yang satu ini sifatnya ekslusif atau hanya beberapa golongan masyarakat saja yang mengenakannya. Pakaian adat ini merupakan pakaian yang dikenakan para bangsawan ketika upacara adat pernikahan.

Akan tetapi di zaman sekarang tidak ada lagi pembagian kasta tersebut, semua golongan masyarakat saat ini bisa mengenakan pakaian adat tersebut. Terlebih pakaian adat ini sekarang menjadi objek wisata.

Pakaian adat Minahasa Bajang

5 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Sulawesi Utara

Karya budaya dari Sulawesi Utara turur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Apa saja?

Diperbarui 14 Des 2021, 08:03 WIB Diterbitkan 14 Des 2021, 08:03 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Keberagaman budaya Nusantara tercermin dalam karya budaya yang hadir beriringan dengan kehidupan masyarakat di daerah tertentu. Begitu pula dengan karya budaya asal Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021.

Ada sebanyak lima karya budaya Sulawesi Utara yang masuk daftar, seperti keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan, hingga tradisi lisan dan ekspresi. Simak rangkuman selengkapnya seperti dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Senin (13/12/2021), berikut ini.

3 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Jambi

4 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Bengkulu

6 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal DKI Jakarta

1. Nasi Jaha Minahasa

Nasi Jaha merupakan salah satu sajian khas di Minahasa. Sajian ini dapat disantap sebagai penganan atau kue pelengkap minuman teh atau kopi, namun, masyarakat juga dapat juga menyajikannya dengan lauk lainnya.

Keunikan dari Nasi Jaha ini adalah proses pembuatannya dimasak dan dipanggang melalui wadah bambu. Di daerah lain atau luar Minahasa menamakan jenis masakan ini dengan nasi bulu (bambu).

2. Saguer Minahasa

Saguer adalah fermentasi alami dan produk pertama air sadapan dari mayang pohon nira. Oleh warga lokal, pohon ini dikenal dengan pohon seho atau pohon saguer.

Kerajinan Tangan dari Eceng Gondok

Kerajinan tangan dari eceng gondok (water hyacinth) di Sulawesi Utara adalah contoh yang menarik dari pemanfaatan sumber daya alam untuk menciptakan produk kreatif dan ramah lingkungan.

Kemudian, serat-serat eceng gondok tersebut ditenun, dianyam, atau dipilin menjadi berbagai produk seperti tas, keranjang, tikar, tempat penyimpanan, hiasan dinding, dan aksesori.

Keunikan kerajinan tangan dari eceng gondok terletak pada tekstur dan warna alaminya. Serat eceng gondok memberikan sentuhan alami dan organik pada setiap karya, menciptakan tampilan yang unik dan menarik.

Selain itu, kerajinan dari eceng gondok juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan daur ulang yang tidak merusak lingkungan.

Kerajinan tangan dari eceng gondok tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak positif pada komunitas lokal. Pengrajin yang terlibat dalam pembuatan kerajinan ini mendapatkan peluang pekerjaan dan sumber penghasilan, sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain itu, dengan mengurangi pertumbuhan eceng gondok di perairan, kerajinan ini juga berperan dalam pengendalian gulma invasif yang dapat mengganggu ekosistem air.

Melalui kerajinan tangan dari eceng gondok, kita dapat melihat kreativitas pengrajin Sulawesi Utara dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan produk yang berdampak positif secara sosial dan lingkungan.

Kerajinan ini menggambarkan upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menjalin keseimbangan antara manusia dan alam.

Kain Tenun Bentenan

Kain Tenun Bentenan adalah salah satu kerajinan tangan yang sangat khas dari Sulawesi Utara. Kain tenun ini berasal dari desa Bentenan, yang terletak di Pulau Bangka, Kabupaten Talaud.

Proses pembuatan Kain Tenun Bentenan dimulai dari memintal benang, yang kemudian diwarnai menggunakan bahan alami seperti akar, daun, dan kulit pohon untuk menciptakan warna-warna alami yang indah.

Selanjutnya, benang-benang ini dianyam menggunakan alat tenun tradisional yang disebut “tamar”. Tamar merupakan alat tenun horizontal yang dioperasikan dengan menggunakan tangan dan kaki, dengan pola dan motif yang ditentukan secara tradisional.

Kain Tenun Bentenan memiliki pola dan motif yang khas, seperti motif bintang, ikan, burung, dan alam sekitar.

Setiap pola dan motif ini mengandung makna dan simbolik yang dalam, seperti perlambangan keberuntungan, kekuatan, atau keseimbangan alam. Keahlian para pengrajin dalam menciptakan kain tenun ini sangat luar biasa, menghasilkan karya seni yang rumit dan indah.

Kain Tenun Bentenan bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Kain tenun ini sering digunakan dalam upacara adat, pernikahan, atau sebagai busana tradisional dalam berbagai acara penting.

Kain Tenun Bentenan merupakan simbol keindahan, keahlian, dan warisan budaya Sulawesi Utara. Setiap kain tenun yang dihasilkan adalah bukti nyata kecerdasan seni dan ketekunan masyarakat Sulawesi Utara dalam mempertahankan tradisi tenun mereka.

Melalui kain tenun ini, kita dapat merasakan kekayaan budaya yang terpancar dari setiap jalinan benang yang indah dan kompleks.


Tags: kerajinan lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia