Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional
Kerajinan Tangan dari Eceng Gondok
Kerajinan tangan dari eceng gondok (water hyacinth) di Sulawesi Utara adalah contoh yang menarik dari pemanfaatan sumber daya alam untuk menciptakan produk kreatif dan ramah lingkungan.
Kemudian, serat-serat eceng gondok tersebut ditenun, dianyam, atau dipilin menjadi berbagai produk seperti tas, keranjang, tikar, tempat penyimpanan, hiasan dinding, dan aksesori.
Keunikan kerajinan tangan dari eceng gondok terletak pada tekstur dan warna alaminya. Serat eceng gondok memberikan sentuhan alami dan organik pada setiap karya, menciptakan tampilan yang unik dan menarik.
Selain itu, kerajinan dari eceng gondok juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan daur ulang yang tidak merusak lingkungan.
Kerajinan tangan dari eceng gondok tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak positif pada komunitas lokal. Pengrajin yang terlibat dalam pembuatan kerajinan ini mendapatkan peluang pekerjaan dan sumber penghasilan, sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Selain itu, dengan mengurangi pertumbuhan eceng gondok di perairan, kerajinan ini juga berperan dalam pengendalian gulma invasif yang dapat mengganggu ekosistem air.
Melalui kerajinan tangan dari eceng gondok, kita dapat melihat kreativitas pengrajin Sulawesi Utara dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan produk yang berdampak positif secara sosial dan lingkungan.
Kerajinan ini menggambarkan upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menjalin keseimbangan antara manusia dan alam.
5 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Sulawesi Utara
Karya budaya dari Sulawesi Utara turur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Apa saja?
Diperbarui 14 Des 2021, 08:03 WIB Diterbitkan 14 Des 2021, 08:03 WIB
Liputan6.com, Jakarta - Keberagaman budaya Nusantara tercermin dalam karya budaya yang hadir beriringan dengan kehidupan masyarakat di daerah tertentu. Begitu pula dengan karya budaya asal Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021.
Ada sebanyak lima karya budaya Sulawesi Utara yang masuk daftar, seperti keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan, hingga tradisi lisan dan ekspresi. Simak rangkuman selengkapnya seperti dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Senin (13/12/2021), berikut ini.
3 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Jambi
4 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Bengkulu
6 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal DKI Jakarta
1. Nasi Jaha Minahasa
Nasi Jaha merupakan salah satu sajian khas di Minahasa. Sajian ini dapat disantap sebagai penganan atau kue pelengkap minuman teh atau kopi, namun, masyarakat juga dapat juga menyajikannya dengan lauk lainnya.
Keunikan dari Nasi Jaha ini adalah proses pembuatannya dimasak dan dipanggang melalui wadah bambu. Di daerah lain atau luar Minahasa menamakan jenis masakan ini dengan nasi bulu (bambu).
2. Saguer Minahasa
Saguer adalah fermentasi alami dan produk pertama air sadapan dari mayang pohon nira. Oleh warga lokal, pohon ini dikenal dengan pohon seho atau pohon saguer.
Kesenian Tradisional Kebudayaan Sulawesi Utara
Berikut ini merupakan beberapa kesenian yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Kesenian di Sulawesi Utara di bagi menjadi beberapa kesenian, ada seni tari dan ada seni musik. Mari kita bahas satu per satu.
Seni Tari
Sulawesi Utara terkenal memiliki tarian tradisional daerah Sulawesi Utara yang lumayan banyak jumlah, berikut daftar dan penjelasannya:
- Tari Maengket : Tarian ini gerakan-gerakan nya awalnya sederhana seperti pada saat menanam padi, dan saat ini mengalami kemajuan pada gerakannya.
- Tari Tempurung : Biasanya, tarian ini dilakukan oleh pasangan pria dan wanita. Pada pementasannya, banyak dekorasi yang dibuat dari tempurung kelapa.
- Tari Katrili : Tarian ini merupakan bawaan kebudayaan luar yaitu bangsa Spanyol yang ketika mengekspresikan kesenangan nya dengan tarian
- Tari Kabasaran : Tarian adat ini untuk perang atau tarian ini juga berfungsi untuk mengawal salah satu tokoh adat penting di Minahasa. Tarian adat ini kebanyakan dibawakan oleh pria, lengkap dengan senjata tajam seperti pedang atau tombak.
- Tari Tatengesan : Tari Tatengesan adalah tarian yang diangkat dari cerita rakyat desa Tatengesan.
- Tari Mane’e : Tari Mane’e adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Talaud Sulawesi Utara. Tarian ini diambil dari salah satu tradisi masyarakat Talaud saat menangkap ikan.
- Tari Gunde : Tarian ini pada awalnya merupakan kegiatan ritual agama. Tetapi seiring berjalan waktu tarian ini menjadi tari istana dan menjadi tari tradisonal Sangihe Talaud.
- Tari Lenso : Tarian ini menjadi ajang pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang, di mana ketika Lenso atau selendang diterima adalah tanda cinta diterima. Lenso berarti Sapu tangan.
- Tari Tumatenden : Tarian ini berfungsi sebagai media pertunjukan hiburan sosial dan bisa juga dipakai pada upacara perkawinan (adat Minahasa). Tari Tumatenden terdiri dari 9 wanita dan 1 pria.
- Tari Uwela : Tarian ini dilakukan apabila ada acara-acara khusus, seperti pada saat berkebun, menyambut tamu yang datang dan lain-lain.
- Tari Mesalai : Tarian ini termasuk salah satu tarian yang di angkat ke istana,awal nya tarian ini merupakan bentuk pemujaan dari masyarakat upacara penyempahan.
- Tari Mokosambe : Tari ini diangkat dari cerita rakyat setempat yang mengisahkan tentang tujuh puteri atau bidadari yang turun dari kayangan.
- Tari Pasasanggarroma : Tari ini diangkat dari ceritera masyarakat Talaud yang menggambarkan tentang bagaimana tatanan kehidupan sosial masyarakat Talaud.
- Tari Pisok : Tarian ini terinspirasi dari kehidupan burung pisok. Dan burung ini merupakan burung yang sangat langka di Tanah Minahasa.
- Tari Mahambak Batik : Tarian ini bertujuan untuk merayakan syukuran atas rumah baru dan acara kegiatan lainnya.
Upacara Adat Kebudayaan Sulawesi Utara
Upacara adat yang ada di Sulawesi Utara ini masih kental dengan agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat Sulawesi sendiri. Upacara adat di Sulawesi Utara dibagi menjadi dua bagian yaitu pertama upacara yang berhubungan dengan daur hidup dan yang berhubungan dengan aktivitas hidup sosial dan lingkungan.
Upacara Pernikahan Adat Minahasa
Ritual Bacoho (Mencuci Rambut)
Ritual ”bacoho” (mencuci rambut) bisa dilakukan dengan dua cara, yaitui cara tradisional atau hanya sekadar simbol.
Bahan-bahan ramuan tradisional yang dibutuhkan untuk ritual bacoho antara lain:
- Parutan kulit lemon atau jeruk nipis atau lemon bacoho (citrus limonellus) sebagai pewangi
- Air lemon popontolen (citrus lemetta) untuk membersihkan lemah kulit kepala
- Bunga menduru (melati hutan), atau bunga melati, bisa juga digunakan bunga mawar yang diremas dengan tangan untuk pewangi
- Pondang (pandan) yang ditumbuk halus juga untuk pewangi
- Minyak buah kemiri untuk melembutkan rambut dicampur sedikit perasan air buah kelapa yang diparut halus.
Untuk membasuh rambut ini bahan ramuan harus berjumlah sembilan (jenis tanaman). Lalu dicuci lagi dengan air bersih kemudian rambut dikeringkan.
Semua bahan di atas dimasukkan ke sehelai kain lalu dicelup ke dalam air hangat. Kain tersebut diremas dan airnya ditampung dengan tangan, lalu digosokkan ke rambut calon pengantin.
Ritual Lumele’ (Mandi Adat)
- Pengantin diguyur dengan air yang sudah diberi bunga-bunga warna putih sebanyak sembilan kali.
- Air itu diguyurkan dari batas leher ke bawah.
- Secara simbolis dapat dilakukan sekadar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri
- Keringkan dengan handuk bersih yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Tags: kerajinan lawe