... Kerajinan Sulawesi Utara: Panduan Lengkap untuk Kerajinan Jahit dan DIY

Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional

Kain tenun

https://www.google.co.id/amp/s/kerajinanindonesia.id

Satu lagi kain Nusantara yang bisa kamu temui di Sulawesi Selatan adalah kain tenun. Kain ini pembuatannya masih tradisional dan beberapa diantaranya merupakakan kain sutra.

Kain tenun yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah tenun Sengkang dan tenun Toraja. Masing-masing kain tenun tersebut memiliki ciri khasnya dan bisa kamu aplikasikan untuk memenuhi selera fashionmu.

Bukan hanya makanan khas, berbagai cendera mata yang unik dan berfilosofi bisa menjadi oleh-oleh dari Sulawesi Selatan. Kerajinan tangan dari manik-manik sampai kayu bisa menambah nilai estetika ketika dipajang dalam ruangan maupun dikenakan. Sementara kain tenun bisa kamu kenakan sebagai item fashion.

Selamat berburu cendera mata di atas!

Kain Tenun Bentenan

Kain Tenun Bentenan adalah salah satu kerajinan tangan yang sangat khas dari Sulawesi Utara. Kain tenun ini berasal dari desa Bentenan, yang terletak di Pulau Bangka, Kabupaten Talaud.

Proses pembuatan Kain Tenun Bentenan dimulai dari memintal benang, yang kemudian diwarnai menggunakan bahan alami seperti akar, daun, dan kulit pohon untuk menciptakan warna-warna alami yang indah.

Selanjutnya, benang-benang ini dianyam menggunakan alat tenun tradisional yang disebut “tamar”. Tamar merupakan alat tenun horizontal yang dioperasikan dengan menggunakan tangan dan kaki, dengan pola dan motif yang ditentukan secara tradisional.

Kain Tenun Bentenan memiliki pola dan motif yang khas, seperti motif bintang, ikan, burung, dan alam sekitar.

Setiap pola dan motif ini mengandung makna dan simbolik yang dalam, seperti perlambangan keberuntungan, kekuatan, atau keseimbangan alam. Keahlian para pengrajin dalam menciptakan kain tenun ini sangat luar biasa, menghasilkan karya seni yang rumit dan indah.

Kain Tenun Bentenan bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Kain tenun ini sering digunakan dalam upacara adat, pernikahan, atau sebagai busana tradisional dalam berbagai acara penting.

Kain Tenun Bentenan merupakan simbol keindahan, keahlian, dan warisan budaya Sulawesi Utara. Setiap kain tenun yang dihasilkan adalah bukti nyata kecerdasan seni dan ketekunan masyarakat Sulawesi Utara dalam mempertahankan tradisi tenun mereka.

Melalui kain tenun ini, kita dapat merasakan kekayaan budaya yang terpancar dari setiap jalinan benang yang indah dan kompleks.

Kerajinan Tangan dari Eceng Gondok

Kerajinan tangan dari eceng gondok (water hyacinth) di Sulawesi Utara adalah contoh yang menarik dari pemanfaatan sumber daya alam untuk menciptakan produk kreatif dan ramah lingkungan.

Kemudian, serat-serat eceng gondok tersebut ditenun, dianyam, atau dipilin menjadi berbagai produk seperti tas, keranjang, tikar, tempat penyimpanan, hiasan dinding, dan aksesori.

Keunikan kerajinan tangan dari eceng gondok terletak pada tekstur dan warna alaminya. Serat eceng gondok memberikan sentuhan alami dan organik pada setiap karya, menciptakan tampilan yang unik dan menarik.

Selain itu, kerajinan dari eceng gondok juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan daur ulang yang tidak merusak lingkungan.

Kerajinan tangan dari eceng gondok tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga memberikan dampak positif pada komunitas lokal. Pengrajin yang terlibat dalam pembuatan kerajinan ini mendapatkan peluang pekerjaan dan sumber penghasilan, sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Selain itu, dengan mengurangi pertumbuhan eceng gondok di perairan, kerajinan ini juga berperan dalam pengendalian gulma invasif yang dapat mengganggu ekosistem air.

Melalui kerajinan tangan dari eceng gondok, kita dapat melihat kreativitas pengrajin Sulawesi Utara dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan produk yang berdampak positif secara sosial dan lingkungan.

Kerajinan ini menggambarkan upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan serta menjalin keseimbangan antara manusia dan alam.

5 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Sulawesi Utara

Karya budaya dari Sulawesi Utara turur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Apa saja?

Diperbarui 14 Des 2021, 08:03 WIB Diterbitkan 14 Des 2021, 08:03 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Keberagaman budaya Nusantara tercermin dalam karya budaya yang hadir beriringan dengan kehidupan masyarakat di daerah tertentu. Begitu pula dengan karya budaya asal Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2021.

Ada sebanyak lima karya budaya Sulawesi Utara yang masuk daftar, seperti keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional, adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan, hingga tradisi lisan dan ekspresi. Simak rangkuman selengkapnya seperti dikutip dari laman Warisan Budaya Kemdikbud, Senin (13/12/2021), berikut ini.

3 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Jambi

4 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Bengkulu

6 Karya Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal DKI Jakarta

1. Nasi Jaha Minahasa

Nasi Jaha merupakan salah satu sajian khas di Minahasa. Sajian ini dapat disantap sebagai penganan atau kue pelengkap minuman teh atau kopi, namun, masyarakat juga dapat juga menyajikannya dengan lauk lainnya.

Keunikan dari Nasi Jaha ini adalah proses pembuatannya dimasak dan dipanggang melalui wadah bambu. Di daerah lain atau luar Minahasa menamakan jenis masakan ini dengan nasi bulu (bambu).

2. Saguer Minahasa

Saguer adalah fermentasi alami dan produk pertama air sadapan dari mayang pohon nira. Oleh warga lokal, pohon ini dikenal dengan pohon seho atau pohon saguer.

Upacara Adat Mamu’a Ton’na

Upacara adat ini merupakan tradisi tahun baru Provinsi Sulawesi Utara. Upacara ini merupakan ucapan syukur dan doa permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi kedamaian, keberuntungan, dan keselamatan di dalam menjalani kehidupan pada tahun yang baru.

Kata mamu’a berarti membuka dan ton’na berarti tahun. Makna simbolisnya berkaitan dengan tradisi Mangunsi’n Ton’na (Mangunsi’n berarti mengunci dan Ton’na berarti tahun). Mangunsi’n Ton’na mengandung pengertian meninggalkan tahun lama, sedangkan Mamu’a Ton’na mengandung pengertian memasuki tahun baru.

Kata mangunsi’n dan kata mamu’a berkonotasi pintu/jalan hidup yang menunjuk pada bumi tempat berpijak atau tempat kehidupan manusia di mana ada jalan menuju pada kebaikan dan juga ada jalan menuju kepada kesengsaraan.


Tags: kerajinan lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia