... Kerajinan Sulawesi Utara: Panduan Lengkap untuk Kerajinan Jahit dan DIY

Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional

Anyaman dari Bambu

Para pengrajin menggunakan bambu sebagai bahan dasar untuk menciptakan berbagai produk seperti keranjang, tempat penyimpanan, tikar, dan alas duduk.

Mereka menguasai berbagai teknik anyaman yang kompleks dan kreatif, menghasilkan pola-pola yang menawan dan detail yang halus. Setiap produk anyaman bambu memiliki karakteristiknya sendiri, baik dalam bentuk, ukuran, maupun motif.

Keunikan anyaman bambu dari Sulawesi Utara tidak hanya terletak pada keindahan visualnya, tetapi juga pada kekuatan dan daya tahan yang luar biasa. Karya-karya ini dibuat dengan memperhatikan keunggulan bambu sebagai bahan yang ringan, fleksibel, dan tahan terhadap cuaca dan serangga.

Selain itu, proses pembuatan anyaman bambu juga memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan pelestarian lingkungan, menjadikannya sebagai kerajinan yang ramah lingkungan.

Anyaman bambu dari Sulawesi Utara tidak hanya menjadi benda dekoratif, tetapi juga memiliki nilai budaya dan tradisional yang tinggi. Masyarakat setempat menggunakan kerajinan ini dalam upacara adat, pernikahan, dan acara penting lainnya.

Selain itu, anyaman bambu juga menjadi produk ekonomi yang penting bagi para pengrajin lokal, membantu mereka untuk menciptakan mata pencaharian dan menjaga keberlanjutan budaya mereka.

Dengan keindahan, ketahanan, dan nilai budayanya yang kaya, anyaman bambu dari Sulawesi Utara adalah contoh sempurna dari kerajinan tangan yang memadukan keahlian tradisional dengan kebutuhan modern.

Melalui setiap anyaman yang tercipta, kita dapat melihat kekayaan warisan budaya dan kecerdasan seni yang melekat dalam masyarakat Sulawesi Utara.

Upacara Adat Kabasaran di Watu Pinawetengan

Upacara adat ini biasa diselenggarakan di kawasan megalit Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowo di Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa. Desa Pinabetengan merupakan suatu desa megalit yang berada sekitar 50 kilometer arah selatan dari Kota Manado. Tujuan dari pelaksanaan ritual tahunan ini adalah untuk melakukan “pembersihan” dari semua yang jelek di tempat pelaksanaan ritual tahunan ini.

Dalam upacara ini tampak iring-iringan pasukan berkuda lengkap dengan segala peralatan perang, seperti: tombak besi, pedang tebal panjang (kolaborasi samurai dan peda – pedangnya orang Minahasa), dan terompet (sebagai alat perintah/penanda).

Selain itu, iring-iringan pasukan tersebut juga membawa simbol-simbol ilmu gaib, antara lain tengkorak kain merah, mulut burung taon (burung alo), dan bendera yang menghiasi pakaian pimpinan para pasukan Kabasaran dari sembilan etnis Minahasa.

Upacara Adat Kebudayaan Sulawesi Utara

Upacara adat yang ada di Sulawesi Utara ini masih kental dengan agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat Sulawesi sendiri. Upacara adat di Sulawesi Utara dibagi menjadi dua bagian yaitu pertama upacara yang berhubungan dengan daur hidup dan yang berhubungan dengan aktivitas hidup sosial dan lingkungan.

Upacara Pernikahan Adat Minahasa

Ritual Bacoho (Mencuci Rambut)

Ritual ”bacoho” (mencuci rambut) bisa dilakukan dengan dua cara, yaitui cara tradisional atau hanya sekadar simbol.

Bahan-bahan ramuan tradisional yang dibutuhkan untuk ritual bacoho antara lain:

  1. Parutan kulit lemon atau jeruk nipis atau lemon bacoho (citrus limonellus) sebagai pewangi
  2. Air lemon popontolen (citrus lemetta) untuk membersihkan lemah kulit kepala
  3. Bunga menduru (melati hutan), atau bunga melati, bisa juga digunakan bunga mawar yang diremas dengan tangan untuk pewangi
  4. Pondang (pandan) yang ditumbuk halus juga untuk pewangi
  5. Minyak buah kemiri untuk melembutkan rambut dicampur sedikit perasan air buah kelapa yang diparut halus.

Untuk membasuh rambut ini bahan ramuan harus berjumlah sembilan (jenis tanaman). Lalu dicuci lagi dengan air bersih kemudian rambut dikeringkan.

Semua bahan di atas dimasukkan ke sehelai kain lalu dicelup ke dalam air hangat. Kain tersebut diremas dan airnya ditampung dengan tangan, lalu digosokkan ke rambut calon pengantin.

Ritual Lumele’ (Mandi Adat)
  • Pengantin diguyur dengan air yang sudah diberi bunga-bunga warna putih sebanyak sembilan kali.
  • Air itu diguyurkan dari batas leher ke bawah.
  • Secara simbolis dapat dilakukan sekadar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri
  • Keringkan dengan handuk bersih yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Kebudayaan Sulawesi Utara

Masyarakat Sulawesi Utara secara garis besar terbagi menjadi beberapa bagian suku besar diantaranya yaitu:

  • Suku Sangihe dan talaud
  • Suku Minahasa
  • Suku Bolaang monggondow.

Ketiga suku atau etnis besar tersebut mempunyai bagian suku yang mempunyai bahasa dan tradisi yang cukup berbeda-beda.

Masyarakat Sulawesi Utara memegang semboyan “torang samua basudara” yang berarti kita semua bersaudara, mereka hidup rukun dan berdampingan meskipun berbeda-beda keyakinan. Masyarakat yang ada di Sulawesi Utara ini menganut beberapa agama yakni:

Masyarakat Sulawesi Utara memegang semboyan “torang samua basudara” yang berarti kita semua bersaudara

Bahasa Daerah Sulawesi Utara

Karena Sulawesi Utara ini mempunyai beragam suku tak heran jika Sulawesi Utara memiliki beberapa bahasa daerah, berikut ini berbagai macam bahasa daerah yang ada di Sulawesi Utara

  • Bahasa Toulour
  • Bahasa Tombulu
  • Bahasa Tonsea
  • Bahasa Tontemboan
  • Bahasa Tonsawang
  • Bahasa Ponosakan
  • Bahasa Bantik (dari Suku Minahasa),
  • Bahasa Sangie Besar
  • Bahasa Siau
  • Bahasa Talaud (dari Sangihe dan Talaud) dan Mongondow,
  • Bahasa Bolaang
  • Bahasa Bintauna
  • Bahasa Kaidipang (dari Bolaang Mongondow)

Berikut ini berbagai macam kebudayaan yang ada di Sulawesi Utara, mari kita bahas satu per satu secara singkat padat dan jelas.


Tags: kerajinan lawe

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia