Kerajinan Sulawesi Utara - Keindahan dan Kreativitas dalam Kesenian Sulam Tradisional
Palelat
Palelat adalah salah satu budaya khas masyarakat muslim Bolaang Mongondow Utara sejak 1920-an. Kehadirannya dalam rangka memperingati hari kelahiran Rasulullah Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul awal dalam penanggalan tahun hijriah.
Nantinya, Imam pelaku adat dan ibu-ibu dengan penuh antusias menyusun untaian kue tradisional, buah dan bendera lima tiang di dalam wadah palelat sembari mengumandangkan Shalawat Nabi dan Berjanji. Selesai penataan, palelat di arak dalam ruang masjid dan diletakkan di tengah empat tiang masjid, di atas empat tiang masjid dihamparkan kain, yang disebut langit-langit yang bertuliskan Asma Allah dan Rasulullah.
Upacara Adat Kebudayaan Sulawesi Utara
Upacara adat yang ada di Sulawesi Utara ini masih kental dengan agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat Sulawesi sendiri. Upacara adat di Sulawesi Utara dibagi menjadi dua bagian yaitu pertama upacara yang berhubungan dengan daur hidup dan yang berhubungan dengan aktivitas hidup sosial dan lingkungan.
Upacara Pernikahan Adat Minahasa
Ritual Bacoho (Mencuci Rambut)
Ritual ”bacoho” (mencuci rambut) bisa dilakukan dengan dua cara, yaitui cara tradisional atau hanya sekadar simbol.
Bahan-bahan ramuan tradisional yang dibutuhkan untuk ritual bacoho antara lain:
- Parutan kulit lemon atau jeruk nipis atau lemon bacoho (citrus limonellus) sebagai pewangi
- Air lemon popontolen (citrus lemetta) untuk membersihkan lemah kulit kepala
- Bunga menduru (melati hutan), atau bunga melati, bisa juga digunakan bunga mawar yang diremas dengan tangan untuk pewangi
- Pondang (pandan) yang ditumbuk halus juga untuk pewangi
- Minyak buah kemiri untuk melembutkan rambut dicampur sedikit perasan air buah kelapa yang diparut halus.
Untuk membasuh rambut ini bahan ramuan harus berjumlah sembilan (jenis tanaman). Lalu dicuci lagi dengan air bersih kemudian rambut dikeringkan.
Semua bahan di atas dimasukkan ke sehelai kain lalu dicelup ke dalam air hangat. Kain tersebut diremas dan airnya ditampung dengan tangan, lalu digosokkan ke rambut calon pengantin.
Ritual Lumele’ (Mandi Adat)
- Pengantin diguyur dengan air yang sudah diberi bunga-bunga warna putih sebanyak sembilan kali.
- Air itu diguyurkan dari batas leher ke bawah.
- Secara simbolis dapat dilakukan sekadar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri
- Keringkan dengan handuk bersih yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Tags: kerajinan lawe