Kerajinan Tangan Papua - Karya Seni Jarum yang Memikat
Proses Pembuatan Kerajinan Ukiran Kayu Asmat Papua
Ada beberapa tahapan yang mesti dilalui para pengrajin untuk menghasilan ukiran kayu suku Asmat yang indah. Pertama, ukiran akan diawali dengan memahat sepotong kayu untuk dibentuk.
Kemudian dilanjutkan dengan memberikan pewarnaan. Dalam pemilihan warna itu sendiri suku Asmat memiliki persepsi yang berbeda, dimana warna merah itu melambangkan daging, warna putih berarti tulang, sedangkan hitam akan melambangkan warna kulit dari suku Asmat.
Mengukir sendiri bagi suku asmat papua merupakan sebuah tradisi kehidupan dan ritual yangsangat terkait erat dengan spiritualitas hidup dan bentuk penghormatan terhadap leluhur. Ketika pengrajin Suku Asmat mengukir, mereka tidak hanya sekedar membuat pola ukiran dalam kayu tetapi juga mengalirkan sebuah spiritualitas hidup.
Walaupun seni ukir merupakan seni yang umum dimiliki oleh suku Asmat, namun tidak semua orang Asmat dapat menjadi pengukir. Mengukir adalah kemampuan yang diturunkan antar generasi dan umumnya hanya dilakukan oleh kaum pria.
Mereka biasanya mengukir sembari para wanita bekerja di ladang. Karena mengukir adalah sebuah warisan, maka bagi keluarga yang tidak memiliki darah pengukir biasanya juga tidak akan memiliki kemampuan ini.
Namun, bagi masyarakat Asmat modern kemampuan ini dapat dipelajari secara khusus. Banyak pria-pria Asmat yang secara khusus mempelajari cara mengukir, apalagi menjadi seorang pengukir kini dapat dijadikan mata pencaharian.
Lukisan di Atas Kulit Kayu
Lukisan kayu di atas kulit kayu ini sudah menjadi tradisi sejak tahun 1600 an. Kerajinan tangan ini berpusat di kampung Asei, Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Tradisi ini dilakukan secara turun menurun dan tidak sembarang orang boleh melakukan tradisi ini. Pada awalnya, tradisi ini merupakan simbol sekaligus peringatan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan di desa tersebut. Mereka menggunakan kayu-kayu ini sebagai pakaian mereka.
Lukisan ini memiliki motif seperti ikan, burung cendrawasih, buaya, tifa, dan karang. Namun seiring berjalannya waktu tradisi ini mulai menghilang karena masyarakat beralih ke pakaian bahan kain. Beruntungnya sejak tahun 1975 tradisi ini dilestarikan kembali oleh seorang antropologi Papua bernama Corry Ohee. Kerajinan ini bahkan menjadi kerajinan tangan yang bernilai tinggi. Peminatnya pun tidak hanya dari domestik tetapi juga mancanegara.
Tags: kerajinan tangan