Kota Yogyakarta - Surga Pengrajin Logam bagi Penggemar Kerajinan Tangan dan DIY
Kependudukan
Populasi penduduk Kota Yogyakarta menurut Sensus Penduduk 2020 sebanyak 373.589 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 182.019 jiwa dan perempuan sebanyak 191.570. Jumlah penduduk Kota Yogyakarta tersebut hanya 10,18 persen dari total penduduk DIY.
Secara kewilayahan, penduduk Kota Yogyakarta terkonsentrasi di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman. Sedangkan Kecamatan Ngampilan, Gondomanan, dan Pakualaman merupakan tiga kecamatan urutan terbawah yang memiliki penduduk paling sedikit.
Sebagai kota pelajar, Kota Yogyakarta memiliki jumlah mahasiswa yang besar, baik yang berasal dari area Jawa maupun luar Jawa, bahkan dari luar Indonesia sehingga kota ini juga disebut sebagai salah satu kota yang heterogen di Indonesia.
Mayoritas penduduk Kota Yogyakarta beragama Islam (82,84 persen), berikutnya agama Katolik (10,27 persen). Sementara itu, persentase paling kecil, yaitu kepercayaan lain sebesar 0,01 persen. Persentase lainnya yaitu Kristen (6,44 persen), Budha (0,32 persen), dan Hindu (0,13 persen).
Geografis
Kota Yogyakarta terbentang antara 110°24’19”--110°28’53” Bujur Timur dan antara 07°15’24”--07°49’26” Lintang Selatan. Kota ini terletak di tengah-tengah Provinsi DIY, dengan batas-batas wilayah: di sebelah utara, berbatasan dengan Kabupaten Sleman, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman, di sebelah selatan berbatasan Kabupaten Bantul, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman.
Wilayah Kota Yogyakarta hanya 1,02 persen (32,5 Km 2 ) dari luas wilayah Provinsi DIY. Jarak terjauh dari utara ke selatan kurang lebih 7,5 km dan dari barat ke timur kurang lebih 5,6 km.
Kota Yogyakarta yang terletak di daerah dataran lereng aliran Gunung Merapi memiliki kemiringan lahan yang relatif datar (antara 0--2 persen) dan berada pada ketinggian rata-rata 114 meter dari permukaan air laut (dpa). Sebagian wilayah dengan luas 1.657 hektar terletak pada ketinggian kurang dari 100 meter dan sisanya (1.593 hektar) berada pada ketinggian antara 100--199 meter dpa. Sebagian besar jenis tanahnya adalah regosol.
Secara garis besar, kota ini mempunyai tipe tanah regosol atau tanah vulkanis muda. Komposisi penggunaan tanahnya, 74,92 persen pekarangan, 12,20 persen sawah, 0,07 persen tegalan dan 12,81 persen lain-lain.
Secara umum, jumlah curah hujan tertinggi selama tahun 2019 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebanyak 648,40 mm 3 dan terendah terjadi pada bulan Juni, yaitu sebanyak 1,00 mm 3 . Rata-rata hari hujan per bulan adalah 9.25 hh/rd.
Kelembaban udara rata-rata cukup tinggi, yaitu berada pada kisaran 77--88 persen. Yang terendah terjadi pada bulan September, yaitu sebesar 77 persen. Kelembaban udara tinggi terjadi pada bulan Maret, dan Januari mencapai 88 persen.
Wilayah Kota Yogyakarta dilewati oleh tiga sungai, yaitu Sungai Gajahwong yang mengalir di bagian timur kota, Sungai Code di bagian tengah, dan Sungai Winongo di bagian barat kota.
Pengertian Seni Kriya, Fungsi, dan Jenis-Jenis Seni Kriya Lengkap Contohnya
Pengertian Seni Kriya dan Fungsi Seni Kriya - Salam budaya, pada kesempatan ini Seni Budayaku akan mengulas tentang pengertian seni kriya berikut fungsi seni kriya. Karena dalam pembuatan seni kriya pasti memiliki tujuan, tujuan pembuatan tersebut berkaitan dengan fungsi atau kegunaan benda seni kriya yang dibuat. Lebih jelasnya simak rangkuman kami berikut ini.
Seni kriya atau kerajinan adalah suatu usaha membuat barang-barang hasil pekerjaan tangan atau hasta karya (hand skill) namun tetap memperhatikan aspek fungsional tanpa mengabaikan aspek estetisnya. Karena aspek fungsi dalam seni kriya menempati porsi utama, maka seni kriya harus mempunyai unsur kenyamanan dan keamanan. Kenyamanan dalam hal ini berarti enak dipakai, sedangkan keamanan adalah aman digunakan dan tidak membahayakan penggunanya. Orang yang membuat karya seni kriya atau kerajinan sering disebut dengan istilah kriyawan atau pengrajin.
Seni kria sebenarnya tidak bisa lepas dari seni rupa. Keduanya tumbuh dan berkembang Sejajar. Kalau seni rupa menitikberatkan segi nilai estetika, maka seni kria lebih mengutamakan segi fungsinya (aplikasi). Namun, dalam perkembangannya seni kria tidak dapat melepaskan diri dari unsur rupa. Sentuhan-sentuhan estetika sangat penting untuk mewujudkan karya seni kria yang adiluhung. Hal tersebut dimungkinkan karena kebutuhan manusia akan hasil seni kria tidak melulu hanya untuk digunakan sebagai sarana kehidupan secara fisis saja. Seni kria juga ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan akan keindahan.
Benda-benda hasil pekerjaan tangan atau seni kriya biasanya dibuat untuk keperluan sehari-hari sekaligus melestarikan tradisi kesenirupaan suatu daerah. Karena itu, karya seni kriya biasanya memiliki karakter dan ciri khas daerah dengan aturan, warna dan motif yang mengandung makna-makna tertentu dari daerah tersebut. Seni kriya diminati dengan tujuan yang berbeda-beda sesuai fungsi dari benda tersebut. Hal tersebut disebabkan karena seni kriya diciptakan sebagai sarana untuk menunjang kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Pembuatan karya seni kriya setiap daerah berbeda-beda, tergantung kondisi alam, letak georgafis dan budaya daerah tersebut. Macam-macam seni kriya Nusantara dapat kita lihat dari bahan-bahan yang digunakan seperti, rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, kayu, batu, tanah liat atau keramik, kulit, kain, logam, manik-manik, dan sebagainya.
Kota Yogyakarta: Kota Pelajar, Wisata, dan Budaya
Kota Yogyakarta menyandang berbagai julukan, mulai dari Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Wisata, hingga Kota Perjuangan. Secara historis, kota yang banyak menjajakan masakan gudeg ini lekat dengan sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai jejak sejarah kota ini.
Kota Yogyakarta merupakan ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan menjadi satu-satunya wilayah yang berstatus kota yang dikelilingi empat wilayah lainnya yang berstatus kabupaten. Tak hanya sebagai pusat pelayanan politik dan administrasi, Kota Yogyakarta juga sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, jasa pelayanan, dan sosial budaya.
Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman, baru menjadi Kotapraja atau kota otonom dengan lahirnya UU No. 17 Tahun 1947. Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa kabupaten kota Yogyakarta (Kasultanan dan Pakualaman) dan beberapa daerah dari Kabupaten Bantul (yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo), ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah itu dinamakan Haminte Kota Yogyakarta. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Haminte” diartikan sebagai pemerintahan kotapraja pada masa pendudukan Belanda.
Namun demikian, penyerahan wewenang secara riil baru dapat dilaksanakan pada tahun 1951. Jika melihat keluarnya UU pembentukan haminte Kota Yogyakarta tanggal 7 Juni 1947, Kota Yogyakarta dibentuk sebagai kota praja sebelum clash I. Akan tetapi, jika dilihat penyerahan wewenang secara riil dari DIY baru terjadi tahun 1951, atau sesudah clash II, memerlukan waktu sekitar 4 tahun.
Tags: jenis logam yogya