Mengurai Kekusutan dalam Seni Jahit dan Kerajinan Sendiri - Panduan dan Tips Berguna
Kesimpulan: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar
Memahami disorganisasi sosial adalah langkah pertama untuk membuat perubahan. Ini bukan hanya masalah besar yang dihadapi oleh pemerintah atau lembaga sosial, tapi juga tentang bagaimana kita, sebagai individu, bisa berkontribusi. Mengambil inisiatif dalam kegiatan komunitas, mendukung program pendidikan dan sosial, serta menjadi lebih sadar akan isu-isu di sekitar kita adalah beberapa cara kita bisa membuat perbedaan.
Kita semua berperan dalam membangun masyarakat yang lebih terorganisir dan harmonis. Mulai dari hal kecil, seperti memperhatikan tetangga kita, berpartisipasi dalam kegiatan lokal, atau bahkan hanya dengan menjadi warga negara yang lebih informasi, kita bisa membantu mengurangi dampak negatif dari disorganisasi sosial.
Jadi, ayo mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Setiap tindakan positif, tidak peduli sekecil apa pun, bisa membawa perubahan besar bagi masyarakat kita. Bersama, kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik, lebih terorganisir, dan lebih damai untuk generasi yang akan datang.
Apa itu Teori Disorganisasi Sosial?
Awalnya, 'disorganisasi sosial' terdengar seperti band rock, tapi sebenarnya, ini adalah teori dalam sosiologi yang cukup serius. Teori ini menjelaskan bagaimana struktur sosial yang lemah atau tidak efektif dalam masyarakat bisa menyebabkan norma-norma sosial menjadi kacau. Kita bicara tentang ketika aturan-aturan tidak jelas atau tidak diikuti, sehingga timbul kekacauan sosial.
Di masyarakat yang 'disorganized', kamu akan melihat tanda-tanda seperti tingkat kejahatan yang tinggi, pengangguran, dan ketidaksetaraan. Ini bukan cuma masalah individu, tapi lebih kepada sistem. Kita nggak bisa menyalahkan satu dua orang, karena ini tentang bagaimana masyarakat kita terstruktur.
Menariknya, teori ini bukan hanya sekedar teori. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana disorganisasi sosial ini benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia. Ini adalah fenomena global, yang mempengaruhi kita semua, tidak peduli di mana kita tinggal.
Pendidikan untuk Semua: Idealita vs. Realita dalam Sekolah Inklusi
Tak hanya sebatas momentum Hari Pendidikan Nasional saja, peringatan down syndrome internasionaljuga menjembatani perihal kesetaraan pendidikan. Direktur Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdas Dikmen), Dr. Iwan Syahril, Ph.D., (14/3) tahun lalu, memberikan sebuah statement “Sekolah hadir memberikan kesetaraan hak bagi setiap anak dan menghadirkan pembelajaran yang mengakomodir semua peserta didik termasuk bagi penyandang disabilitas.”
Sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, satuan pendidikan harus mengembangkan kurikulum berdasarkan prinsip diversifikasi. Dalam konteks pendidikan inklusif, hal ini berarti memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik, baik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial maupun yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Hal ini tercantum dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 56/M/2022, yangmenguraikan pedoman implementasi kurikulum dalam Kerangka Pemulihan Pembelajaran. atau keterampilan khusus untuk mendapatkan pendidikan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.Demikian, APBN yang menjadi jatah pendidikan sudah sepatutnya dimaksimalkan untuk menunjang proses belajar-mengajar PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan Khusus).
Namun sangat disayangkan, adanya sekolah inklusi ini belum benar-benar dapat mendukungperkembangan akademik maupun non akademik PDBK. Adanya kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional dengan motif menyetarakan pendidikan, kenyataannya tidak diimbangi dengan pemenuhan sarana & prasarana yang memadai. Banyak pihak sekolah inklusi yang mengeluh karena kurangnya pembekalan untuk pendampingan PDBK, fasilitas seperti akses menuju ruang kelas lantai atas yang tidak ramah disabilitas, termasuk Kurikulum Merdeka saat ini, para guru dituntut untuk bisa mengelompokkan anak sesuai dengan kemampuan belajarnya. Anak kinestetik tentu berbeda cara belajarnya dengan anak audio, berbeda lagi dengan anak visual. Peserta didik ABK karakteristik autis sering kali bertingkah yang mengundang perhatian peserta didik lain. Baik itu duduk didepan, dibelakang atau ditengah, sehingga proses pembelajaran di kelas tidak berjalan dengan baik. Lingkungan sosial yang tidak mendukung emosional ABK, kurangnya keterbukaan siswa-siswi terhadap peserta didik ABK sehingga cenderungmelakukan bullying maupun diskriminasi karena menganggap ABK
Kesalahan Umum Berpikir Logis
Ada beberapa kesalahan berpikir yang sering terjadi di khalayak, baik secara sadar ataupun tidak. Tapi secara umum, kesalahan berpikir dapat terjadi lantaran satu dari dua hal berikut.
Pertama, premis-premis yang dijadikan sebagai dasar berargumentasi mengalami kekeliruan atau cacat dalam susunannya. Sehingga kehadiran premis yang keliru tadi menyebabkan konklusi yang dihasilkan juga menjadi keliru.
Kedua, terdapat problem yang mendasar dari bentuk premisnya, sehingga menyebabkan hasil yang diperoleh juga mengandung kesalahan.
Perhatikan contoh berikut: (1) Joko pergi ke Semarang atau ke Demak [premis minor]. (2) Ternyata Joko tidak ada di Demak [premis mayor]. (3) Berarti Joko berada di Semarang [konklusi].
Menyimpulkan Joko berada di Semarang dengan berdasar premis mayor di atas, merupakan bentuk kesalahan. Karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti keberadaan Joko sedang dimana. Sebab bisa saja Joko sedang tidak berada di Semarang ataupun di Demak.
Anton Muhajir
Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.
Sejujurnya saya tidak tau banyak tentang kasta, setau saya kasta dan warna itu berbeda. Kalau gelar s1, dr, prof, dll itu tergolong warna. Kenapa kasta yang bli sebut gelar itu diturunkan, karna itu bukan gelar profesi, melainkan gelar keturunan. Kasta yang ada sekarang, menurut saya salah satu bentuk “label” atau identitas yang di luhurkan. Jadi kita ingat, leluhur kita siapa? (Maybe) .
memang untuk masalah kasta sendiri masih terlalu kompleks untuk dibahas lebih lanjut. saya sendiri jg masih bingung untuk menjawab pertanyaan seputar kasta, terlebih lagi bila pertanyaan ini terlontar dari teman saya yg notabene bukan orang Bali (berhubung saya merantau). Tapi paling tidak, kembali lagi ke individunya dalam hal memandang kasta dan mengartikan kasta itu sebagai apa. Mengapa? Ini karena sekarang orang2 sudah mulai untuk open minded dan bisa berpendapat tentang hal itu.
Kasta dan juga semua sistem strata sosial yang ada dalam peradaban manusia adalah hasil pemikiran manusia karena itu sifatnya kultural, sama sekali tidak natural. Artinya sistem strata sosial itu tak memiliki nilai esensial sehingga sangat mungkin untuk berubah atau dirubah. Jadi sistem strata sosial itu tak memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis karena murni hasil pemikiran manusia. Pembentukan strata sosial semacam kasta sebenarnya mimiliki kesamaan dengan pembentukan klas-klas dalam masyarakat seperti dalam pemikiran Marxian. Hanya saja Marxian orthodok membagi klas pada dua besar yakni klas borjuasi dan klas buruh. Demikian pula dengan pola-pola pelestariannya hampir sama yakni bagaimana klas-klas berkuasa bekerja keras untuk mempertahankan kekuasaan dan privelege nya.Dalam sistem Kasta pola pelestariannya dilakukan dengan menciptakan mitos-mitos yang distrukturkan dalam teks-teks seperti dalam babad-babad. Penstrukturan mitos ini berlangsung dalam pola hubungan yang tidak seimbang, yakni antara yang berkuasa dan dikuasai sehingga teks yang mengendalikan adalah teks yang dibuat oleh kelas yang berkuasa. Hal ini mengakibatkan bahwa apa yang disebutkan dalam teks tersebut menjadi seolah-olah adalah kebenaran. Dan inilah yang hingga kini menancap kuat di benak manusia-manusia Bali sehingga sistem Kasta bisa demikian lestari. Tetapi dalam beberapa kasus, hubungan antara puri (kerajaan) dengan panjak (rakyat) juga memiliki sejarah hutang budi dimana sekelompok orang pernah ditolong nyawanya oleh raja. Penyelamatan nyawa ini mengikat panjak dan keturunannya dengan Raja yang keturunannya juga. Hal seperti inilah yang juga melanggengkan sistem kasta antara Ksatria dan Sudra. Sementara hubungan antara Brahmana dan Sudra lebih banyak karena adanya ketergantungan dalam persoalan ritual. Penguasaan teks-teks yang menjelaskan ritual hanya pada kelompok Griya (Brahmana) mengakibatkan Sudra tak memiliki banyak pengetahuan tentang pelaksanaan ritual. Hal ini dimanfaatkan kelompok Brahmana untuk menjaga ajegnya kekuasaan dan privelege mereka. Hanya saja, belakangan hal ini sudah mulai dirombak karena adanya keberanian dari beberapa soroh untuk menggunakan pemuput upacara dari soroh mereka sendiri. Misalnya soroh Pande memiliki pendetanya sendiri bukan dari kalangan Pedanda. Begitu juga Soroh Pasek dan Bujangga Waisnawa. Nah nanti kalau semua soroh (sudra) tak lagi menggunakan Pedanda, bisa jadi kekuasaan Klan Ida Bagus sebagai Kasta yang lebih tinggi dari Sudra akan runtuh. Sama dengan relasi-relasi sosial lainnya yang terjadi dalam masyarakat, intinya adalah pada bagaimana kekuasaan itu bisa langgeng/dilestarikan, Dan sistem kasta ini akan runtuh jika terjadi pergeseran-pergeseran nilai-nilai mengenai kelompok-kelompok yang berkuasa. Menurut saya kini hanya menunggu waktu saja, bahwa akan tiba saatnya strata sosial kasta ini tak lagi memiliki nilai. Prosesnya akan berlangsung semakin cepat akibat kemajuan-kemajuan cara-cara berpikir manusia secara cepat pula. Kemajuan teknologi informasi menjadi salah satu penyebabnya.
Tags: benang