Mengurai Kekusutan dalam Seni Jahit dan Kerajinan Sendiri - Panduan dan Tips Berguna
Tidak Runtutnya Pernyataan
Kesalahan berpikir bisa terjadi pula pada tidak runtutnya penyataan satu dengan pernyataan yang sudah diakui sebelumnya. Misal, Ani menyatakaan “Bangunan rumah baru saya sudah sempurna. Hanya saja perlu melengkapi sedikit kekurangannya.”
Permisalan lain, seperti terdapat pada kesalahan asumsi sebab-akibat yang salah (post hoc fallacy). Yaitu, ketika ada seseorang yang menganggap bahwa setiap kali ia mengenakan baju putih–misalnya, tim favoritnya selalu menang dalam pertandingan.
Oleh karenanya, ia menyimpulkan bahwa baju putih yang ia kenakan membawa keberuntungan bagi timnya itu. Padahal, hanya karena ada korelasi antara dua peristiwa (mengenakan baju putih dan kemenangan tim), tidak berarti baju tersebut menjadi sebab dari kemenangan tim.
Anton Muhajir
Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.
Sejujurnya saya tidak tau banyak tentang kasta, setau saya kasta dan warna itu berbeda. Kalau gelar s1, dr, prof, dll itu tergolong warna. Kenapa kasta yang bli sebut gelar itu diturunkan, karna itu bukan gelar profesi, melainkan gelar keturunan. Kasta yang ada sekarang, menurut saya salah satu bentuk “label” atau identitas yang di luhurkan. Jadi kita ingat, leluhur kita siapa? (Maybe) .
memang untuk masalah kasta sendiri masih terlalu kompleks untuk dibahas lebih lanjut. saya sendiri jg masih bingung untuk menjawab pertanyaan seputar kasta, terlebih lagi bila pertanyaan ini terlontar dari teman saya yg notabene bukan orang Bali (berhubung saya merantau). Tapi paling tidak, kembali lagi ke individunya dalam hal memandang kasta dan mengartikan kasta itu sebagai apa. Mengapa? Ini karena sekarang orang2 sudah mulai untuk open minded dan bisa berpendapat tentang hal itu.
Kasta dan juga semua sistem strata sosial yang ada dalam peradaban manusia adalah hasil pemikiran manusia karena itu sifatnya kultural, sama sekali tidak natural. Artinya sistem strata sosial itu tak memiliki nilai esensial sehingga sangat mungkin untuk berubah atau dirubah. Jadi sistem strata sosial itu tak memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis karena murni hasil pemikiran manusia. Pembentukan strata sosial semacam kasta sebenarnya mimiliki kesamaan dengan pembentukan klas-klas dalam masyarakat seperti dalam pemikiran Marxian. Hanya saja Marxian orthodok membagi klas pada dua besar yakni klas borjuasi dan klas buruh. Demikian pula dengan pola-pola pelestariannya hampir sama yakni bagaimana klas-klas berkuasa bekerja keras untuk mempertahankan kekuasaan dan privelege nya.Dalam sistem Kasta pola pelestariannya dilakukan dengan menciptakan mitos-mitos yang distrukturkan dalam teks-teks seperti dalam babad-babad. Penstrukturan mitos ini berlangsung dalam pola hubungan yang tidak seimbang, yakni antara yang berkuasa dan dikuasai sehingga teks yang mengendalikan adalah teks yang dibuat oleh kelas yang berkuasa. Hal ini mengakibatkan bahwa apa yang disebutkan dalam teks tersebut menjadi seolah-olah adalah kebenaran. Dan inilah yang hingga kini menancap kuat di benak manusia-manusia Bali sehingga sistem Kasta bisa demikian lestari. Tetapi dalam beberapa kasus, hubungan antara puri (kerajaan) dengan panjak (rakyat) juga memiliki sejarah hutang budi dimana sekelompok orang pernah ditolong nyawanya oleh raja. Penyelamatan nyawa ini mengikat panjak dan keturunannya dengan Raja yang keturunannya juga. Hal seperti inilah yang juga melanggengkan sistem kasta antara Ksatria dan Sudra. Sementara hubungan antara Brahmana dan Sudra lebih banyak karena adanya ketergantungan dalam persoalan ritual. Penguasaan teks-teks yang menjelaskan ritual hanya pada kelompok Griya (Brahmana) mengakibatkan Sudra tak memiliki banyak pengetahuan tentang pelaksanaan ritual. Hal ini dimanfaatkan kelompok Brahmana untuk menjaga ajegnya kekuasaan dan privelege mereka. Hanya saja, belakangan hal ini sudah mulai dirombak karena adanya keberanian dari beberapa soroh untuk menggunakan pemuput upacara dari soroh mereka sendiri. Misalnya soroh Pande memiliki pendetanya sendiri bukan dari kalangan Pedanda. Begitu juga Soroh Pasek dan Bujangga Waisnawa. Nah nanti kalau semua soroh (sudra) tak lagi menggunakan Pedanda, bisa jadi kekuasaan Klan Ida Bagus sebagai Kasta yang lebih tinggi dari Sudra akan runtuh. Sama dengan relasi-relasi sosial lainnya yang terjadi dalam masyarakat, intinya adalah pada bagaimana kekuasaan itu bisa langgeng/dilestarikan, Dan sistem kasta ini akan runtuh jika terjadi pergeseran-pergeseran nilai-nilai mengenai kelompok-kelompok yang berkuasa. Menurut saya kini hanya menunggu waktu saja, bahwa akan tiba saatnya strata sosial kasta ini tak lagi memiliki nilai. Prosesnya akan berlangsung semakin cepat akibat kemajuan-kemajuan cara-cara berpikir manusia secara cepat pula. Kemajuan teknologi informasi menjadi salah satu penyebabnya.
Social Disorganization: Mengurai Benang Kusut di Masyarakat
Social Disorganization: Mengurai Benang Kusut di Masyarakat - Hey, pernahkah kamu mendengar tentang 'disorganisasi sosial'? Istilah ini mungkin terdengar asing, tapi sebenarnya, kita sering melihat gejalanya di sekitar kita. Artikel ini akan mengajak kamu menyelami dunia disorganisasi sosial, sebuah fenomena yang mungkin lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari daripada yang kita sadari.
Disorganisasi sosial bukan cuma jargon akademis, lho. Ini tentang kehidupan nyata, tentang bagaimana lingkungan dan masyarakat kita berinteraksi dan kadang kala, sayangnya, berantakan. Yuk, kita selami lebih dalam!
Apa itu Teori Disorganisasi Sosial?
Awalnya, 'disorganisasi sosial' terdengar seperti band rock, tapi sebenarnya, ini adalah teori dalam sosiologi yang cukup serius. Teori ini menjelaskan bagaimana struktur sosial yang lemah atau tidak efektif dalam masyarakat bisa menyebabkan norma-norma sosial menjadi kacau. Kita bicara tentang ketika aturan-aturan tidak jelas atau tidak diikuti, sehingga timbul kekacauan sosial.
Di masyarakat yang 'disorganized', kamu akan melihat tanda-tanda seperti tingkat kejahatan yang tinggi, pengangguran, dan ketidaksetaraan. Ini bukan cuma masalah individu, tapi lebih kepada sistem. Kita nggak bisa menyalahkan satu dua orang, karena ini tentang bagaimana masyarakat kita terstruktur.
Menariknya, teori ini bukan hanya sekedar teori. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bagaimana disorganisasi sosial ini benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia. Ini adalah fenomena global, yang mempengaruhi kita semua, tidak peduli di mana kita tinggal.
Peran Pemerintah dalam Mengatasi Disorganisasi Sosial
Pemerintah memainkan peran krusial dalam mengatasi disorganisasi sosial. Langkah pertama adalah dengan mengakui dan memahami masalahnya. Dari situ, pemerintah bisa mengembangkan kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan, meningkatkan akses pendidikan, dan memperkuat lembaga-lembaga sosial.
Kebijakan yang fokus pada pengembangan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan, dan program-program sosial dapat sangat membantu. Selain itu, pemberdayaan masyarakat dan partisipasi aktif warga dalam perencanaan dan pengembangan kota juga sangat penting.
Penting juga bagi pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk LSM, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Pendekatan multi-stakeholder ini bisa menciptakan solusi yang lebih holistik dan berkelanjutan untuk mengatasi disorganisasi sosial.
Nah, itulah sedikit pembahasan tentang disorganisasi sosial. Semoga artikel ini bisa memberi kamu wawasan baru dan membantu kita semua memahami dunia di sekitar kita dengan lebih baik. Ingat, kita semua punya peran dalam menciptakan masyarakat yang lebih terorganisir dan harmonis!
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Disorganisasi Sosial
1. Bagaimana cara mengenali gejala disorganisasi sosial di lingkungan sekitar kita?
Gejala disorganisasi sosial bisa dilihat dari beberapa indikator, seperti meningkatnya tingkat kejahatan, ketidakstabilan keluarga, pengangguran, dan penurunan kualitas pendidikan. Kamu mungkin juga melihat peningkatan konflik antarkelompok dan perasaan ketidakamanan dalam masyarakat.
2. Apakah disorganisasi sosial hanya terjadi di kota besar?
Tidak selalu. Meskipun lebih sering terjadi di kota besar karena urbanisasi dan ketidaksetaraan ekonomi, disorganisasi sosial juga bisa terjadi di daerah pedesaan, terutama jika ada perubahan sosial ekonomi yang cepat atau ketidakstabilan politik.
3. Bagaimana dampak disorganisasi sosial terhadap anak-anak dan remaja?
Anak-anak dan remaja di lingkungan yang disorganized cenderung mengalami masalah pendidikan dan sosial. Mereka mungkin lebih rentan terhadap pengaruh negatif, seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan zat, dan kesulitan dalam pengembangan sosial yang sehat.
Tags: benang