... Panduan Praktis: Nama Benang Layangan untuk Kerajinan Jahit dan DIY

Seni Merangkai Benang - Mengungkap Misteri "Nama Benang Layangan" dalam Kerajinan Sulam

Bebean

layangan bebean (Dok. Pribadi/Ari Budiadnyana)

Layangan bebean mengambil bentuk seperti ikan, yang dalam Bahasa Bali disebut be. Layangan ini memliki bagian kepala, badan, kaki, dan kepes atau gleber atau kain seperti bendera di bagian sisi kanan dan kirinya. Jika ukurannya besar, layangan bebean akan ditambah dengan unsur suara yang dinamakan guwangan.

Guwangan adalah batang kayu yang diikat menggunakan pita plastik maupun rotan atau penyalin. Guwangan ini akan bersuara jika tertiup angin.

Penilaian layangan bebean berdasarkan gerak atau istilahnya disebut ngelog, bergerak ke kiri dan ke kanan secara harmonis. Selain itu perpaduan warna, keseimbangan bentuk kepala, badan, kaki, kipasan kepes, dan suara guwangan menjadi poin penting dalam penilaian.

Layangan bebean memiliki style atau ciri khas yang berbeda di tiap daerah. Ada beberapa style untuk layangan ini seperti style Badung, Denpasar, dan Sanur.

Kuwir

layangan kuwir atau janggan buntut (Dok. Pribadi/Ari Budiadnyana)

Layangan ini sering juga disebut dengan layangan janggan buntut atau tanpa ekor panjang. Kuwir adalah Bahasa Bali untuk menyebut hewan bebek. Bagian kepala atau tapelnya tidak menggunakan bentuk kepala naga, melainkan menyerupai kepala bebek atau burung.

Kalau layangan janggan, ketika berada di udara akan terdiam tidak bergerak. Sedangkan layangan kuwir memiliki ciri khas seperti layangan bebean yaitu ngelog. Namun ngelog-nya lebih galak seperti seekor bebek yang menyerang musuhnya.

Undagi yang pintar pasti akan membuat layangan kuwirnya ngelog dengan galak di ketinggian, namun ketika mendekati permukaan tanah akah bergerak kalem.

Fungsi [ sunting | sunting sumber ]

Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan (di Sunda dikenal istilah maen langlayangan). Yang paling umum adalah layang-layang hias (dalam bahasa Betawi disebut koang) dan layang-layang aduan (laga). Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin. Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena kuatnya angin berhembus pada saat itu.

Di beberapa daerah Nusantara, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu, kemudian diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga beberapa bentuk layang-layang tradisional asal Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.

Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat lain di Indonesia, layang-layang digunakan sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain misalnya, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.

Rujukan [ sunting | sunting sumber ]

  • Wagner, D. Kites and Culture: The Spirit of IndonesiaDiarsipkan 2015-10-24 di Wayback Machine.
  • Ruhe B. Muna cave painting is hard to date. Diakses 23 Januari 2009.
  1. ^ Dada (2012). "Chinese Inventions - Layang Layang , Abad 4-5 SM". Budaya Tionghoa. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-02-06.
  2. ^"Kaghati, World's First Kite". Go Celebes! . Diakses tanggal 24 July 2019 .
  3. ^ Bieck, Wolfgang (July 2002). " " The First Kiteman" -Proof by a prehistoric cave-painting in Indonesia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-09-08 . Diakses tanggal 24 July 2019 .
  4. ^ Salikha, Adelaida (2 June 2018). "The Top 10 Must-Know Facts About The World's First & Oldest Kite". Seasia . Diakses tanggal 24 July 2019 .

Tags: benang yang nama

`Lihat Lagi
@ 2024 - Tenun Indonesia