Pengrajin Barongan Kediri - Seni Tradisional yang Menginspirasi
Ciri khas Barongan Blora
Barongan Blora memiliki keunikan tersendiri yang tentunya berbeda dari daerah lain. Tiga ciri khas yang dimiliki Barongan Blora yaitu :
Pertama, gamelan pengiring. Barongan Blora identik dengan pakem bermain dari tempo yang lambat ke tempo yang cepat. Hal ini didasarkan pada sorakan masyarakat saat pegelaran barongan. Selain gamelan, juga terdapat instrument music kendang, gendhuk, boning, saron, demung, dan juga kempul.
Seiring dengan perkembangan jaman, terdapat instrument modern seperti keyboard, drum, kendang besar yang biasanya akan dipadupadakan dengan kesenian campursari. Hal ini menjadikan Barongan tetap eksis dijaman modern dengan kemajuan instrument namun tetap dengan konsep tradisionalnya.
Kedua, alur cerita. Cerita diambil dari kisah Raden Panji Asmarabangun yang kemudian divariasi namun tidak mengubah alur cerita utamanya.
Ketiga, tokoh-tokohnya. Tokoh-tokohnya terdiri dari Singo Barong (Gembong Amijoyo) Gendruwon (Joko Lodro), Penthul (Untub, Noyontko dan Mbok Ginah), Jaranan (Pasukan dari Jenggala) dan Patih Punjangga Anom (Bujangganong).
Dari beberapa tokoh tersebut, yang menjadi cirri khusus Barongan Blora adalah Penthul yang tidak dimiliki oleh tari kreasi macan dari daerah lain.
Sejarah [ sunting | sunting sumber ]
Ranggawarsita mahir memainkan Jathilan karena sering berkumpul dengan para Warok Ponorogo dibandingkan belajar di Pondok, sehingga Ranggawarsita yang memiliki paras rupawan menjadi idola para warok dan mendapatkan kasih sayang serta diajarkan tentang kesenian Jathilan. Untuk mengembangkan kesenian Jathilan atau jaranan yang ada di kediri, para seniman yang mantan Gemblak belajar tari jaranan ke Tulungagung yang merupakan pengasingan dari perkumpulanan Jaranan Thek Ponorogo atau Reyog Thek dari Ponorogo. [1]
Seniman Jaranan Kediri merasa memiliki kesenian Jaranan Sepenuhnya karena pada alur kisah Jaranan menceritakan pula kerajaan Kediri, sehingga mengangap bahwa kesenian Jaranan berasal dari Kediri untuk menutupi adanya sejarah hubungan bahwa banyak remaja kediri era Kolonial dijadikan Gemblak seorang Warok dari Ponorogo. Padahal mula adanya Kesenian Jaranan di kediri karena banyakan remaja Kediri diambil asuh oleh Warok dari Ponorogo sebagai Gemblak, sehingga dalam Jaranan Kediri sangat familiar penyebutan Bopo untuk pawang, yang sejarahnya seorang warok yang mengasuh Gemblak dari Kediri ini.
Peluang Menjadi Pengrajin Barongan
Melihat situasi saat ini, kata pria alumnus Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo tersebut, minat terhadap kesenian ini sangat luar biasa besar. Apalagi di media sosial kerap menjadi perbincangan yang ramai oleh netizen.
Selain itu, kata Taufiq, para pelaku seni yang menampilkan barongan yang sering tampil di berbagai acara di berbagai daerah, merupakan peluang tersendiri baginya.
“Bayangkan saja, di berbagai daerah punya ciri khas masing-masing model barongannya. Bahkan di Hongkong pun ada para pemainnya karena saya pernah ada pesanan di sana. Artinya, kesempatannya sangat luas untuk kita kembangkan lagi,” ucapnya.
Sementara itu, ia mengaku tidak hanya melayani pesanan barongan dengan berbagai karakter, namun juga aneka topeng berbahan dasar kayu juga ia layani, termasuk kuda lumping sampai lukisan.
“Tapi semua itu bisa saya layani sesuai pesanan. Jadi barang yang ada di sini semuanya sudah pesanan, ada yang dari Kediri, Riau, Kalimantan dan lainnya. Kalau mau pesan, bisa lihat TikTok saya Lubis Art, di sana ada nomor saya,” terangnya.
Tags: