Pengrajin Batik Pekalongan - Seni dan Keahlian dalam Karya Sulaman DIY
Motif Batik Sawat
Motif batik sawat merupakan motif yang paling diminati banyak orang. Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap kekuatan para leluhur dan dewa memiliki peran dalam mengendalikan alam semesta. Sawat memiliki arti melempar.
Mitosnya, orang Jawa memiliki senjata seperti Batara Indra atau dikenal dengan petir, kilat, atau gledek. Senjata ini digunakan dengan cara dilempar. Sawat memiliki bentuk seperti hewan ular yang memiliki taring atau gigi tajam. Batik sawat seakan memberikan perlindungan alam semesta untuk si pemakai.
Makna mendalam dari setiap motif batik Pekalongan tentunya membuat kita makin cinta dengan warisan budaya Indonesia. Mana motif batik Pekalongan yang paling kamu sukai?
Artikel Terkait
Kendati begitu, Oey Soe Tjoen tak memonopoli pekerjaan para petani. Ketika musim tanam tiba, mereka dibolehkan mengerjakan lahan-lahan garapan mereka. Kembali mencangkul dan menanam.
Tak hanya itu, sikap Soe Tjoen juga tegas. Ia tak membolehkan pekerja yang dilanda masalah mengerjakan kain batik. Sekalipun pekerja itu memohon agar tak diistirahatkan, Soe Tjoen tetap melarangnya. Ia akan merumahkan sementara sampai masalah yang dihadapinya selesai. Begitu juga dengan pekerja perempuan yang sedang datang bulan. Tak dibolehkan menyentuh kain batik yang ia kerjakan.
Tekun ia menuntun pekerjanya. Mendidiknya dengan sepenuh hati agar disiplin. Sampai-sampai tak hanya dalam soal membatik. Para pekerja juga dilatihnya membina hubungan baik dengan para pengrajin peralatan yang dibutuhkan dalam membatik. Seperti tukang canting, pembuat lilin malam, juga juru ramu bahan pewarna kain.
Dari sini, tampak pula bahwa darah pebisnis yang dialirkan dari sang ayah masih terus deras mengalir. Ia tak hanya sebagai desainer batik. Ia juga seorang pebisnis yang sangat mengetahui apa yang dimaui konsumennya. Tentu, konsumen tak mau menerima kualitas barang yang jelek. Apalagi, ketika ia tahu, yang dihadapi adalah orang-orang Eropa yang cenderung detail dalam memandang segala sesuatu.
Bahkan, pada masa peralihan, pada masa Jepang mulai menduduki Indonesia, Soe Tjoen juga tak menutup diri. Ia bersikap terbuka dengan perubahan itu. Baginya, segala sesuatu yang baru adalah tantangan yang harus dijawab.
Maka, pada saat itu, ia mulai mempelajari beragam simbol dalam budaya Jepang. Tercetuslah kala itu untuk membuat kain batik Hokokai. Motif-motif atau ragam hiasnya pun disesuaikan dengan budaya Jepang. Ada merak, bunga, dan kupu-kupu.
Motif Batik Semen
Motif batik Pekalongan yang memiliki corak klasik adalah motif batik Semen. Motinya yang menyerupai motif batik Semen asal Yogyakarta dan Solo, tapi perbedaannya terletak pada unsur motif cecak dan dominasi garis-garis dekoratif yang muncul pada batik Pekalongan. Selain itu, tambahan ornamen lain berupa tumbuhan serta burung Garuda yang berarti gagah perkasa.
Makna batik Pekalongan motif Semen sangat mendalam berdasarkan filosofinya. Berasal dari nama Ramawijayana, motif Semen terdiri dari 7 nasehat yaitu:
- Bayu Brata: arti leluhur yang digambarkan dengan unsur burung
- Agnibrata: arti kekuatan untuk melawan musuh yang disimbolkan dengan unsur lidah api
- Dhanaba Brata: arti kesejahteraan masyarakat yang digambarkan dengan unsur bintang
- Sasi Brata: watak rembulan yang bersifat kesuksesan dan keberuntungan dengan unsur binatang
- Pasabrata: arti mulia tapi berbahaya bagi yang mengabaikan yang digambarkan dengan unsur kapal air
- Suryabrata: watak seseorang yang tabah yang digambarkan dengan simbol garuda
- Endar Brata: pemberi kemakmuran dan pelindung dunia yang digambarkan dengan simbol pohon hayat
Tags: