Pengrajin Sepatu Cibaduyut - Seni Merajut dan DIY yang Memikat
Jam Buka Cibaduyut
Sebagai kawasan wisata yang ramai dan selalu dipadati pengunjung, objek wisata di bandung ini buka mulai pukul 08.00 – 22.00 WIB.
Sahabat traveler’s, alamat sentra kerajinan kulit cibaduyut sendiri lokasinya berada di daerah Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat [ Peta Lokasi ]
Lokasinya hanya berjarak sekitar 2 KM atau bisa ditempuh dengan naik kendaraan bermotor sekitar 10 menitan dari arah Terminal Leuwipanjang,
selanjutnya berjarak sekitar 10 KM dari arah tempat wisata di kota bandung yang terkenal seperti Trans Studio Bandung, Alun – Alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung,
dan berjarak sekitar 20 KM dari arah tempat wisata di bandung utara terkenal seperti Orchid Forest Lembang, Floating Market Lembang, Dago Dream Park dan Dusun Bambu, The Lodge Maribaya dll
dan berjarak sekitar 30 KM atau bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 1 jam-an dari kawasan wisata ciwidey yang terkenal seperti Kawah Putih Ciwidey, Situ Patenggang & Glamping Lakeside dll.
Nah lalu berapakah jarak dan waktu tempuh berkendara menuju ke Cibaduyut dari lokasi anda berada dan tempat – tempat wisata di kota bandung dan sekitarnya yang terkenal ?
untuk mencari tahu jawabannya, silahkan anda bisa melihat di peta lokasi google map yang akan kang dian bagikan di bawah ini lengkap dengan contoh rute jalan menuju ke sana.
Sebarkan ilmu pembuatan sepatu yang berorientasi ekspor
IDN Times/Istimewa
Koku Footwear sendiri belum terlalu lama muncul sebagai salah satu jenama sepatu kulit di Cibaduyut. UMKM ini baru berkecimpung sejak 13 tahun lalu dengan membuat produk di tempat perajin lainnya.
Melihat kondisi para perajin yang kekurangan pemasukan karena produknya kalah bersaing dengan sepatu pabrikan, Indra memutar otak mencari cara agar dia bisa merekrut para perajin dan menghasilkan produk bermutu dengan harga jual tinggi.
"Kebetulan di lingkungan sekitar saya di Cibaduyut ini akan banyak perajin sepatu kulit. Tapi kesejahteraan mereka kurang. Dari situ saya bertekad membuat sepatu sendiri yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan perajin, juga melestarikan yang namanya tradisi sepatu kulit handmade Cibaduyut," ujar Indra.
Dalam membuat sepatu dengan tangan tanpa bantuan mesin canggih memang tidak mudah dan membutuhkan waktu. Untuk sepatu kulit ada tiga cara yang digunakan, yaitu hand welting, blake stitch, san crispino, dan stitch down. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitannya sendiri, tapi bisa memengaruhi kualitas dan harga jual.
Ilmu-ilmu seperti ini yang ingin disebarkan Indra dari satu perajin ke perajin lainnya di kawasan Cibaduyut. Harapannya, teknik pemasangan sepatu ini tidak semakin terdegradasi seiring waktu dan permintaan yang terus bertambah.
"Jadi perajin ini ada yang mengajarkan dari ahlinya. Nah karyawan saya diminta agar bisa mendidik perajin lainnya. Mudah-mudahan teknik membuat sepatu handmande ini terus berlanjut dan tidak mati," kata dia.
Strategi Pengrajin Sepatu Cibaduyut di Tengah Gempuran Impor
foto: Humas Kota Bandung
M asuknya produk-produk sepatu kulit impor memang membuat Cibaduyut sebagai sentra kerajinan sepatu kulit di Indonesia, cukup tertekan. Bahkan dalam waktu sepuluh tahun sejak 2010, pamor sepatu Cibaduyut terus menurun yang akhirnya diperburuk pandemi COVID -19. Syamsuludin selaku salah satu pengrajin sepatu di Cibaduyut pun kepada Republika menjelaskan jika masa kejayaan bisnisnya terasa di tahun 2000an.
Memulai bisnis pada tahun 2006, Syamsuludin tak menampik kalau kebijakan impor membuat pamor sepatu kulit Cibaduyut perlahan meredup lantaran gempuran sepatu-sepatu kulit luar negeri yang harganya cenderung lebih murah. Meski begitu, bukan pengrajin Cibaduyut namanya jika cepat menyerah. Mereka yang sudah menjalankan bisnis konvensional secara bertahun-tahun pun mempelajari digital marketing . Memilih jalur penjualan online , sepatu Cibaduyut pun dikenal oleh generasi-generasi yang lebih muda.
Strategi jualan online baik lewat e-commerce atau media sosial juga dialami oleh Dindin Kurniadi. Generasi kedua pengrajin sepatu kulit yang kini berusia 42 tahun itu mengaku kepada Kompas kalau dirinya sudah menjadi pengrajin selama sejak tahun 2007, sehingga membuat tekadnya untuk terus bertahan makin besar. Bahkan saat ada yang memberi ulasan negatif jika sepatu-sepatu kulit Cibaduyut cepat rusak, Dindin berusaha mempertahankan kualitas produknya.
“Penurunan penjualan itu mulai terasa tahun 2014 dan sampai pandemi. Dulu usaha saya bisa membuat ribuan pasang sepatu tiap Minggu dengan pekerja mencapai 35 orang. Tapi waktu pandemi terpaksa berhenti produksi, bahkan sampai mau bangkrut. Selama dua tahun pandemi itu sangat berat, tapi di 2023 kami mencoba bangkit lagi,” cerita Dindin.
Beruntung bagi Dindin dan para pengrajin sepatu kulit Cibaduyut lainnya, pemerintah Kota Bandung memberikan pendampingan penuh untuk upskilling mulai dari pemasaran produk secara online , dilibatkan dalam sejumlah pameran dan pelatihan kualitas produksi. Dirinya tak menampik kalau pilihannya untuk go online sejak tahun 2019 memberikan dampak efektif. Jika sebelumnya para pembeli datang ke toko, kini sepatu-sepatu Dindin dijual online .
Waspada kepunahan sentra sepatu Cibaduyut
Keinginan Indra untuk melestarikan teknik membuat sepatu yang bagus dan mengajarkannya kepada banyak pengrajin pemula harus didukung banyak pihak. Salah satu alasannya karen pengrajin di sentra sepatu Cibaduyut perlahan berkurang.
Dalam catatan terakhir Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, jumlah perajin sepatu di Sentra Cibaduyut tersisa 50 orang. Minimnya regenerasi membuat jumlah perajin sepatu di kawasan tersebut semakin menurun.
Dia menuturkan keberadaan 50 perajin sepatu Cibaduyut tersebut ternyata sebagai pengusaha baru dan salah satu kendala yang membuat mereka tidak berkembang ialah masalah bahan baku yang diimpor dari Tiongkok. Di sisi lain, banyak usaha sepatu yang sebelumnya dijalankan para orang tua atau generasi leluhurnya, tapi sekarang tidak dilanjutkan oleh anak-anaknya.
"Jadi IKM seperti Cibaduyut ini orang tuanya sendiri yang mendorong anak-anaknya beraktivitas lain. Sudah lah sekolah saja yang benar, sehingga mereka terbawa lingkungan-lingkungan lain. Akhirnya si anak perajin ini enggak melanjutkan usaha orang tuanya," kata Iendra beberapa waktu lalu.
Dia menambahkan permasalahan lainnya yang dihadapi para pelaku industri sepatu di Cibaduyut ialah terkait bahan baku. Walaupun masih bisa mengekspor produknya hingga ke luar negeri, akan tetapi bahan yang mereka dapatkan masih bergantung impor.
"Ini sebagai energi positif budaya ekonomi kreatif di Kota Bandung," tuturnya.
Anggota Komis B DRRD Kota Bandung, Asep Mulyadi menilai, sentra sepatu Cibaduyut layak menjadi perhatian di Indonesia.
"Hasil karyanya bagus. Ada salah satu pengrajin yang produknya sampai Italia. Artinya kreartivitas orang Bandung itu hebat. Tugas kita memberikan fasilitas dan membantu pemasaran agar potensi yang ada itu lebih hebat," katanya.
Sejarah Sentra Kerajinan Sepatu Kulit di Cibaduyut
Untuk bisa mencapai Cibaduyut saat ada di Bandung, bukanlah sesuatu yang sulit. Kawasan yang dekat dengan Terminal Leuwi Panjang ini bahkan bisa dibilang sangat mudah ditemukan, karena terdapat tugu atau monumen berbentuk sepatu kulit yang membuat siapapun sadar wilayah tersebut merupakan Cibaduyut. Dari pusat kota Alun-Alun Bandung, kalian tinggal menempuh jarak sejauh 10 kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan untuk mencapai Cibaduyut.
Dibantu oleh keluarga dan lingkungan sekitar, usaha-usaha produksi skala kecil di sentra kerajinan sepatu kulit itu rupanya makin besar baik dari segi omzet dan cakupan pasar. Dalam waktu 20 tahun atau jelang penjajahan Jepang, industri sepatu kulit di Cibaduyut terus berkembang dan pesanan jadi membludak sehingga membuatnya jadi populer lantaran kualitas produk dan desainnya. Tak main-main di sekitar tahun 1940 itu sudah ada sekitar 89 unit pengrajin sepatu di Cibaduyut.
Terbukti dalam jurnal Strategi Penguatan Citra Cibaduyut sebagai Kawasan Wisata Kerajinan Sepatu di Kota Bandung , disebutkan sudah ada sekitar 250 unit usaha produksi sentra kerajinan sepatu kulit di Cibaduyut. Perjalanan menjadi makin menarik karena tepat pada tahun 1978, Cibaduyut menjelma sebagai sentra kerajinan sepatu kulit terbesar di wilayah Bandung Raya. Demi memaksimalkan potensinya, pemerintah pun melakukan pengkajian dan bimbingan lewat pembentukan UPT (Unit Pelayanan Teknis).
Keberadaan UPT-UPT di Cibaduyut memberi dampak positif karena membuat kerjasama pemerintah lewat departemen LP3ES dan lembaga swasta makin efektif, sehingga pembinaan bagi pengrajin pun jadi maksimal secara jangka panjang. Lalu pada tahun 1980an, pemerintah meluncurkan program BIPIK dari Departemen Perindustrian yang memberi fasilitas bantuan sarana dan prasarana pada UPT sentra kerajinan sepatu kulit di Cibaduyut baik pembangunan gedung, mesin, peralatan dan program kepelatihan seperti dilansir Pikiran Rakyat .
Tags: sepatu cibaduyut