Pengrajin Wayang Kulit Jogja - Keindahan Seni Sulaman dan DIY
Pusat Kerajinan Kulit Manding
Apabila menyebut nama produsen kerajinan kulit di Jogja, pasti yang terbesit di pikiran Anda adalah Manding. Manding memang dikenal dengan pusat produsen pengrajin kulit terbesar di Jogja. Kerajinan kulit Manding sudah ada sejak tahun 1957 dan mengalami masa jayanya pada tahun 1970 hingga 1980 an.
Meskipun saat ini, pusat kerajinan kulit Manding tidak terlalu ramai seperti pada masa kejayaannya. Namun, pusat kerajinan kulit Manding masih menjadi daya tarik konsumen lokal dan mancanegara untuk berburu kerajinan kulit. Beragam kerajinan kulit dihasilkan di tempat ini meliputi sandal, sepatu, ikat pinggang, dompet, gantungan kunci, souvenir, dan berbagai produk lainnya.
Anda dapat memilih secara bebas beragam jenis produk yang ditawarkan di pusat kerajinan kulit Manding dengan model, warna, kualitas, dan harga yang berbeda. Di sekitar tempat ini, banyak produsen skala home industri yang memproduksi kerajinan kulit sehingga Anda tidak perlu khawatir mengenai harga dan kualitas karena hampir semua produsen di tempat ini menjual harga yang terjangkau dan kualitas dijamin.
Pusat kerajinan kulit Manding secara administrasi masuk dalam wilayah Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tempat ini hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.
Gambar Produk Wayang
Untuk pemesanan wayang silakan hubungi kami di nomer berikut atau isi form pemesanan
Nama : Bapk sigit
Atau isi form permintaan penawaran angklung berikut
Selaian jual wayang kulit kami juga jual gamelan silahkan kunjungi posting kami tentang gamelan atau angklung untuk melengkapi wayang kulit anda.
Sentra Kerajinan Gerabah, Kasongan
Cerita yang banyak beredar tentang Desa Kasongan adalah tentang kuda dan Belanda. Pada masa penjajahan, di area persawahan milik salah satu warga ditemukan seekor kuda yang mati. Diduga kuda tersebut adalah milik seorang reserse Belanda.
Sang pemilik ketakutan, sampai sampai ia langsung pergi dan melepaskan kepemilikan tanah tersebut. Hal ini juga diikuti oleh penduduk lain yang memiliki sawah di sekitarnya.
Begitu banyak tanah yang ditinggalkan hingga datang penduduk dari tempat lain yang kemudian mengakui hak atas tanah tersebut. Para pendatang mulai memanfaatkan sumber alam yang ada di sekitarnya yaitu tanah liat.
Pada awalnya kerajinan gerabah tanah liat yang mereka produksi hanya untuk mainan anak anak dan perabot dapur saja.
Lama kelamaan unsur artistik ditambahkan dan mengalami perkembangan hingga menjadi komoditas artistik yang memiliki nilai jual tinggi.
Sejak dekade 70-an, Desa Wisata Kasongan mengalami kemajuan cukup pesat. Sapto Hudoyo, seorang seniman besar Yogyakarta, turut membantu mengembangkan Desa Wisata Kasongan dengan membina masyarakatnya untuk memberikan berbagai sentuhan seni dan komersial bagi desain kerajinan gerabah.
Kini, gerabah yang dihasilkan tidak menimbulkan kesan yang membosankan dan monoton, tetapi dapat memberikan nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi. Keramik Kasongan dikomersialkan dalam skala besar oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an.
Tags: yang kulit jogja