"Menelusuri Keindahan Pusat Kerajinan Perak Kota Gede"
HS Silver Kota Gede – Pengrajin Perak Tertua di Kota Yogyakarta
Kerajinan Perak Kota Gede – Kota Gede merupakan daerah di pinggiran kota Yogyakarta. Kota ini terdiri dari jalan-jalan sempit, dengan toko-toko perak tradisional dan rumah berubin mosaik berjajar di tepi jalan, dahulu rumah-rumah ini merupakan rumah para bangsawan dan pedagang kerajaan.
Kawasan ini sekarang terkenal sebagai pusat industri perak di Yogyakarta. Ada sejumlah workshop dimana pengunjung dapat berhenti dan menonton bagaimana perak dibentuk menjadi barang-barang yang unik dan indah.
Perak Yogya memiliki ciri khas yang unik yaitu berbentuk relief dengan warna hitam dan putih yang kontras. Kota Gede menghasilkan kerajinan perak yang indah seperti gelang, kalung, cincin, bros dan kerajinan lainya.
Salah satu pengrajin perak tertua di Kota Gede yaitu HS Silver. HS Silver merupakan perusahaan yang memproduksi perak berkualitas untuk pasar lokal maupun luar negeri. HS Silver menawarkan desain yang unik dengan motif yang khas, menonjol, dan ornament yang bervariasi didukung dengan teknik filigree yang sangat detail.

Destinasi Wisata di Kota Gede Jogja
Masjid Gede Mataram
Masjid Gede Mataram adalah salah satu situs bersejarah yang paling terkenal di Kota Gede. Dibangun pada tahun 1640 oleh Sultan Agung, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta.
Arsitekturnya yang megah dan artistik mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi Jawa.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat wisata yang menarik bagi para wisatawan. Pengunjung dapat melihat langsung keindahan arsitektur dan merasakan suasana religius yang kental.
Masjid Gede Mataram juga sering menjadi lokasi berbagai acara keagamaan dan budaya yang menarik.
Makam Raja-Raja Mataram
Makam Raja-Raja Mataram adalah tempat peristirahatan terakhir bagi para pendiri Kesultanan Mataram. Makam ini terletak di kompleks yang sama dengan Masjid Gede Mataram dan dikelilingi oleh tembok tinggi.
Makam ini menjadi tempat yang sakral dan dihormati oleh masyarakat setempat.
Pengunjung yang datang ke makam ini dapat melihat langsung makam-makam para raja dan kerabat kerajaan yang dihiasi dengan ornamen-ornamen tradisional.
Suasana di makam ini sangat tenang dan khidmat, memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Pasar Tradisional Kota Gede Jogja
Pasar tradisional Kota Gede adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana perdagangan tradisional Jawa.
Pasar ini menawarkan berbagai produk lokal mulai dari bahan makanan segar, pakaian, kerajinan tangan, hingga perhiasan perak.
Berjalan-jalan di pasar ini memberikan pengalaman unik dalam merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Gede.
Wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan para pedagang, mencicipi makanan tradisional, dan membeli oleh-oleh khas Yogyakarta.
Pasar ini juga menjadi tempat yang ideal untuk belajar tentang budaya dan tradisi lokal.
Mengapa berlibur ke Kota Gede
Kawasan Kota gede di Kota Jogja memang mempunyai pesona wisata yang begitu luar biasa yang sayang jika dilewatkan. Sejarah panjang yang ada di Kota Gede membuatnya memiliki banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah yang dapat dinikmati wisatawan yang datang.
Menjelajahi kawasan ini akan terasa lebih menyenangkan saat berjalan kaki. Menelusuri setiap sudut kota yang dihiasi bangunan kuno yang tidak hanya bersejarah namun juga memiliki nilai seni tinggi.
Hingga kini peninggalan-peninggalan bersejarah ini masih terjaga kelestariannya. Tak hanya dipenuhi dengan bangunan-bangunan kuno dan bersejarah, disini juga terdapat kerajinan perak yang sudah cukup dikenal akan keindahannya.
Bahkan hingga ke seluruh pelosok negeri. Apalagi sebagai sebuah daerah wisata, fasilitas-fasilitas yang ada di Kota Gede juga terbilang cukup memadai.
Sehingga diharapkan wisatawan bisa berkunjung lebih nyaman di tempat wisata ini. Mulai dari area parkir di beberapa objek wisata, seperti yang ada di kawasan makan raja-raja Mataram.
Bagi wisatawan muslim yang ingin beribadah, tak perlu pusing karena sudah terdapat Masjid Agung yang lokasinya tak begitu jauh dari kompleks Makam.
Jika ingin mencari oleh-oleh, pengunjung dapat berkunjung ke berbagai toko perak yang berada di beberapa sudut Kota Gede. Wisatawan dapat membeli kerajinan berbahan perak seperti perhiasan maupun perabotan rumah tangga dengan nilai seni yang tinggi.
Jalur Benteng Bokong Semar II kotagede yogya
Sedang sisa benteng yang terletak di antara Kompleks Makam Hasta Rengga dan Kompleks Makam Kota Gede-Masjid Agung (benteng keliling keraton) oleh penduduk dikenal dengan nama Benteng Raden Ronggo. Benteng ini tampak jebol dari atas ke bawah dengan lebar lubang kira-kira selebar bahu orang dewasa. Menurut cerita lisan, benteng tersebut jebol karena ditabrak oleh Raden Ronggo (salah satu putra Senapati). Benteng-benteng Mataram ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1592-1593 Masehi.
Menurut Buku Riwayat Pasareyan Mataram III yang ditulis oleh R. Ng. Martohastono (almarhum), yakni seorang juru kunci Kotagede Mataram, Sendang Saliran konon dibuat oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati. Sendang ini dinamakan saliran karena konon memng dibuat/dikerjakan sendiri oleh Ki Ageng Mataram dan Panembahan Senapati. Menurut buku tersebut Sendang Saliran dibuat pada tahun 1284. Pada masa dulu di dalam sendang itu dipelihara kura-kura dan ikan lele. Kura-kura tersebut dinamai Kiai Duda. Sendang Saliran terdiri atas dua tempat yang masing-masing diperuntukkan bagi pengunjung laki-laki dan perempuan.
Kota Gede Yogya memiliki jalan-jalan yang indah
Menurut De Haen, seorang Belanda yang pernah berkunjung ke Mataram Kota Gede pada tanggal 30 Juni 1623 Mataram Kota Gede merupakan kota yang luas dan penduduknya banyak. Di samping itu, kerajaan ini memiliki jaringan jalan yang indah, lebar dan berbagai pasar serta lumbung padi. Tinggi tembok kota sekitar 24-30 kaki, lebar 4 kaki, dan di luarnya mengalir parit (jagang).
Pada masanya Kota Gede diduga juga dilengkapi dengan taman mengingat ada nama abdi dalem yang bernama Juru Taman. Panembahan Seda Krapyak pun diceritakan pernah membangun taman di Danalaya. Danalaya ini terletak di sebelah selatan kota Kota Gede. Pada masa pemerintahan Panembahan Seda Krapyak ini pula dibangun Prabayeksa dan lumbung padi di Gading. Di samping itu, beliau juga memerintahkan untuk membuat krapyak (tempat perburuan binatang) di Beringan. Pada tempat itu pula beliau kelak menderita sakit dan wafat. Oleh karenanya beliau mendapat gelar anumerta Panembahan Seda Krapyak (nama mudanya Pangeran Jolang).
Tags: kerajinan pusat