Pusat Kerajinan Rajapolah - Surga Kreativitas dalam Kesenian Sulaman dan DIY
Payung Geulis
instagram.com/tilemoto
Bukan hanya kerajinan biasa, payung Geulis merupakan identitas bagi kota Tasikmalaya samapi-sampai payung ini ada dalam lambang Kota Tasikmalaya.
Editor’s picks
Seperti namanya yakni geulis yang diambil dari Bahasa Sunda cantik. Payung yang terbuat dari kayu dan kertas ini memang terlihat cantik dengan adanya lukisan tangan dari para pengerajinnya yang biasanya sudah turun-temurun menekuni pembuatan payung ini.
Sentra pembuatan payung Geulis ini ada ada di daerah Panyingkiran, kjta Tasikmalaya.
5 Kerajinan Tasikmalaya yang Bisa Buat Penampilanmu Makin Kece
instagram.com/tilemoto
Tasikmalaya merupakan nama sebuah kabupaten dan kota yang terletak di arah tenggara Bandung. Selain bisa menikmati #WonderfulIndonesia melalui keindahan alamnya yang bisa jadi pilihan destinasi #DiIndonesiaAja, kamu juga bisa menemukan berbagai kerajinan tangan khas dari Tasikmalaya yang dihasilkan tangan-tangan kreatif warganya.
Berikut 5 kerajinan khas dari Tasikmalaya yang bisa jadi buah tanganmu saat mengunjungi daerah yang satu ini.
Payung Geulis
Payung geulis adalah souvenir khas dari daerah Tasikmalaya. Payung ini digunakan digunakan dalam berbagai acara seni tradisional di Jawa Barat. Payung ini juga seringkali digunakan sebagai dekorasi ruangan. Bahkan pada tahun 1926 para noni Belanda banyak yang menggunakan payung ini.
Geulis dalam bahasa Sunda berarti “cantik” sehingga payung geulis memiliki arti payung cantik. Payung geulis terbuat dari bahan kertas dan kain yang bermotif. Motifnya terbagi menjadi dua macam yaitu motif geometris dan non geometris.
Pada motif geometris gambar yang menonjol adalah gambar garis lurus, lengkung, dan patah-patah. Sedangkan motif non geometris menonjolkan gambar seperti manusia, tumbuhan, ataupun manusia. Rangka dari payung ini terbuat dari bambu.
Untuk menambah kesan menarik bagian dalam payung diberi benang warna-warni. Namun payung ini mengalami penurunan peminat pada tahun 1955 hingga 1968. Pada saat itu Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka.
Dengan begitu produk-produk luar negeri dapat masuk ke Indonesia termasuk produk payung import. Hal ini menggeser posisi payung geulis dan membuat pengrajin payung geulis mengalami kebangkrutan.
Mengetahui hal pemerintah kota Tasikmalaya tidak tinggal diam. Para pengrajin diberi bantuan berupa peralatan dan bahan untuk meningkatkan kualitas produk payung geulis mereka.
Payung geulis pun berangsur-angsur mulai kembali diminati pada tahun 1980 an. Hingga saat ini belum ada inovasi maupun modifikasi terhadap payung geulis sehingga bentuk payung ini masih sangat asli.
Tags: kerajinan pola pusat