Karya Seni Anyaman Keramik Terkenal di Jawa Barat - Jejak Keindahan dan Kreativitas DIY
376 Hot Spot Terpantau di 235 Konsesi Sawit dan HTI di Kalbar, Nihil Proses Hukum
Jujun bercerita, merujuk dari sejarahnya kerajinan keramik itu pertama kali masuk ke Kecamatan Plered sekitar tahun 1904. Awalnya, kata dia, saat itu ada seorang warga yang membuat sebuah barang dari segumpal tanah yang dibentuk sedemikian rupa hingga dapat difungsikan.
"Dulu bahan pembuatannya pakai tanah putih," ujar Jujun, belum lama ini.
Kemudian, Jujun melanjutkan, penemuan dari warga itu pun menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Seiring berjalannya waktu, kerajinan dari tanah ini banyak diminati masyarakat khususnya mereka yang bermukim di Desa Anjun.
Ketertarikan warga membuat kerajinan ini pun semakin masif, hingga pada akhirnya dibangunlah sebuah gedung menyerupai pabrik yang berlokasi tak jauh dari jembatan rel kereta api Kecamatan Plered.
Lambat laun, gedung yang digunakan masyarakat untuk membuat kerajinan keramik itu mulai berkembang. Kemudian, di tahun 1950-an, bangunan yang menyerupai pabrik itu diresmikan oleh Wakil Presiden RI pertama, Mochammad Hatta sebagai sanggar belajar bagi perajin keramik.
"Bangunan ini resmi menjadi tempat sanggar para pengrajin pemula warga sekitar sekitar tahun 1950," jelas dia.
Batik Khas Jawa Barat
Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang berasal dari wilayah Jawa khususnya Jawa Tengah. Namun Jawa Barat juga mempunya batiknya sendiri. Batik Jawa Barat mempunyai corak yang berbeda dengan batik dari daerah lainnya.
Batik Jawa Barat memilki corak flora dan fauna dengan warna-warni yang umumnya cerah. Derah-daerah yang terkenal sebagai penghasil batik di Jawa Barat antara lain Cirebon, Indramayu, Ciamis, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, dan Kuningan.
Batik di Jawa Barat sudah ada sejak zaman kerajaan yaitu pada masa penyebaran agama Islam pada tahun 1422. Diketahui budaya batik ini di bawa oleh orang-orang yang berasal dari Jawa Tengah yang akan menuju ke Batavia.
Sejarah Singkat
❤️
Lalu, pada tahun 1935, gerabah yang diglasir di Plered menjadi industri rumah tangga. Di tahun itu juga, perusahaan Belanda membuka pabrik serupa di Warung Kondang, Plered yang diberi nama Hendrik De Boa.
Karena para penduduk terlibat dalam gerakan perjuangan pada masa kemerdekaan, produksi keramik dan gerabah di lokasi tersebut nyaris terhenti. Tapi, pasca penyerahan kedaulatan akhir Desember 1949, kondisinya berangsur membaik dan aktifitas industri pun bangkit kembali.
Hal itu ditandai dengan dibukanya Induk Keramik di dekat Gonggo oleh Bung Hatta pada tahun 1950. Mesin-mesin pun didatangkan dari Jerman dan pabrik tersebut mencapai masa kejayaannya karena produktifitas yang tinggi.
Tags: kerajinan yang jawa